Kamis, 16 Mei 2013

Tumpangsari Tanaman Sawit-Gaharu



Tumpangsari artinya adalah menanam dua atau lebih jenis tanaman pada satu lahan. Cara ini memang lebih efektif untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan. Selain itu, memiliki dua produk pertanian adalah lebih aman untuk mengantisipasi jika salah satu produk harganya terjun bebas di pasaran.

Kelapa sawit sebagai salah satu produk pertanian skala ekspor, pernah beberapa kali harganya jatuh hingga hampir tidak ekonomis untuk dijual, karena biaya pemanenan dan ongkos angkutnya lebih mahal daripada harga jual perkilogram TBS-nya. Untung saja hal ini berlangsung tidak terlalu lama. Namun efeknya cukup parah juga. Banyak petani sawit yang kehilangan sepeda motor atau mobil, karena ditarik oleh dealer kreditor akibat petani konsumen tak mampu membayar angsurannya.
Karena itu, tumpang sari menjadi pilihan yang harus dipertimbangkan saat anda akan mulai berkebun sawit.

Ada dua jenis tumpangsari kelapa sawit. Yang pertama adalah tumpangsari sementara, yaitu hanya sebelum kelapa sawit berbuah. Jenis tanaman yang biasa ditumpangkan penanamannya ini adalah : padi gogo, kedelai, jagung, ubi kayu, ubi jalar, cabai, keladi, pisang, dll. Tumpangsari dengan tanaman jenis ini hanya dapat dilakukan selama 30 bulan sejak kelapa sawit mulai ditanam.
Jenis tumpangsari kedua adalah tumpangsari sepanjang tahun. Jenis tanaman yang dapat ditumpangsarikan dengan cara ini adalah pohon gaharu dan pinang.

Tumpangsari sawit-gaharu ini sudah dilakukan oleh Balai Penelitian Hutan Penghasil Serat (BPHPS) Kuok, Kab.kampar, Riau. Balitbang milik Kemenhut ini menerapkan tumpangsari sawi-gaharu sejak tahun 2006.

Tumpangsari sawit-gaharu ini memiliki keuntungan lain selain keuntungan ekonomis. Tanaman gaharu dipecaya dapat memperbaiki struktur hara tanah, dan juga bisa membantu menahan air tanah saat musim hujan.

Gaharu merupakan hasil hutan non kayu yang terdiri dari gumpalan padat kecoklatan dan berbau harum. Gaharu mempunyai bermacam khasiat selain sebagai nutfah juga dimanfaatkan untuk bahan dasar pembuatan parfum, kosmetik hingga bahan dasar pengobatan penyakit.

BPHPS mengujicobakan program ini atau disebut dengan areal model Gaharu di antara Sawit di Desa Kembangdamai, Kecamatan Pagaran Tapah Darusalam, Kabupaten Rokan Hulu, Riau. BPHPS membuktikan tanaman gaharu yang telah mereka bibitkan dapat ditanam bersandingan dengan kelapa sawit dan tidak mengganggu pertumbuhan kedua tanaman tersebut. Terbukti, sawit dan gaharu  menunjukkan perkembangan yang baik di areal tersebut.

Syahrul Donie, Kepala BPHPS Rohul, menjelaskan bahwa perawatan tanaman gaharu di antara sawit tidak memerlukan teknik khusus. Bahkan, tambahnya, limbah dari pohon sawit bisa dijadikan pupuk bagi gaharu dan sawit sendiri. Yakni dengan memanfaatkan limbah pelepah sawit menjadi arang yang dijadikan pupuk sawit maupun gaharu.

“Pada areal tanah yang dikembangkan untuk sawit ini, memiliki PH asam dan kesuburan rendah. Untuk mengatasinya, kami melakukan percobaan agar pertumbuhan gaharu dan sawit bisa terus membaik. Kami menjadikan limbah arang pelepah sawit sebagai pupuk untuk sawit dan gaharu, dengan kapasitas enam kilogram arang per batang gaharu. Hasilnya cukup baik, hal ini ditunjukkan dengan indikator pertumbuhan gaharu yang semakin baik dan kenaikan pH tanah dari yang tadinya 3-4 menjadi 5-6,” papar Syahrul.

Edi Nurohman, tenaga teknisi BPHPS, lebih lanjut menjelaskan proses percobaan mereka di Desa Kembangdamai tersebut. Lahan sepuluh hektar yang berisi kebun sawit itu, menurutnya, dibagi dalam tiga kelompok. Masing-masing bagian dibuat konsep pelakuan jarak tanam. Bagian pertama terdiri dari 4 hektar dengan jarak tanam antara gaharu dan sawit sejauh 2 meter. Bagian kedua seluas 4 Ha, jarak tanamnya dibuat 3 meter, dan pada area ketiga, sisanya ditanami dengan jarak 2-3 meter.
Pelakuan jarak tanam dan pemberian pupuk arang pelepah kelapa sawit, menurut Edi, membuktikan dapat memberi efek yang sangat baik pada tanaman gaharu. Hal itu, katanya, terlihat dari pertambahan tinggi gaharu yang berumur 30 bulan atau 2,5 tahun dari enam bulan masa pemberian limbah arang pelepah sawit. Tanaman gaharu mengalami pertumbuhan hingga 70 persen sementara pertambahan diameter batang tanaman gaharu dengan umur yang sama bisa mencapai 72,20 persen.

Perawatan gaharu di antara sawit, tambah Edi, bisa dilakukan secara bersamaan. Edi menyebutkan gaharu tidak memerlukan cara perawatan khusus. Hanya saja membutuhkan kehati-hatian petani ketika membersihkan pelepah sawit agar pohon gaharu yang ada di bawahnya tidak rusak tertimpa pelepah. Selain itu kebersihan gaharu dari rumput liat di sekitarnya juga perlu diperhatikan.

BPHPS berharap upaya mereka membangun areal model gaharu di antara sawit di Desa Kembangdamai, Kecamatan Pagaran Tapah Darusasalam, Rokan Hulu ini dapat menjadi pilihan cerdas masyarakat..

Adapun tumpangsari sawit-pinang dapat dilakukan juga, hanya saja sudah hampir sepuluh tahun terakhir harga biji pinang jatuh dan tak bangkit-bangkit lagi, sehingga tidak direkomendasikan.

Tumpangsari jenis ketiga adalah sawit-jati putih. Namun penanaman jati putih hanya dilakukan di sekeliling lahan sawit. Selain fungsi ekonomi, tanaman jati putih juga melindungi kelapa sawit dari terpaan angin keras, hingga jati putih ini sering disebut tanaman pemecah angin.

pustaka:
http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2013/05/12/tumpangsari-tanaman-sawit-gaharu-555196.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar