Kamis, 16 Mei 2013

Puspa Indah Taman Jati




Gratisan Musik



Bengawan solo, airnya yang mengalir sampai jauh akhirnya menyentuh kaki Tina dimalam yang dipenuhi bintang. Gemerisik daun jati yang tengah meranggas disertai guguran daun lebar yang menekuk karena kering, menciptakan suara sentuhan lembut bibir daun saat menyentuh aliran sungai yang nampak keperakan memantulkan cahaya langit malam.
Tepian bengawan solo adalah tempat yang indah dimalam hari, meski di sepanjang sungai itu berjajar rumah-rumah desa yang tergolong minus penghidupannya, yang hanya menyalakan satu lampu pijar berpendar redup setiap malam karena begitulah kemampuan mereka menikmati listrik desa. Silhuet perjalanan hidup penghuni tepi sungai seperti membayang dalam layar dinding sungai menceritakan betapa sungai tua di bumi jawa itu menyimpan sejuta peristiwa sejak dulu kala, suka maupun duka.
Disebuah bilah kayu jati yang tertopang dua tiang berbentuk cagak, duduk seorang anak dan bapaknya yang tengah asyik memandang langit dengan bulan yang bersembunyi di balik tipisnya awan.
“Hari ini bapak seolah baru menyadari bagaimana kamu saat ini telah tumbuh besar dan menjadi gadis pujaan desa ini. Meski bapak tak merasa hina dalam kemiskinan ini, tetapi bapak pantas mengucap maaf padamu ,nduk (panggilan pada anak perempuan)!” Tina menghela nafas panjang dan memandang ke samping pada pria yang bertahun-tahun membesarkannya, yang ia tak tahu persis guratan wajahnya malam itu karena tertutup bayangan tingginya pohon jati.
Tina sibuk memainkan air yang menyentuh ujung jari kakinya. Malam itu bengawan solo tengah pasang, dan biasanya beberapa hari lagi akan merendam desa di mana Tina tinggal tanpa ibu. Desa itu mengiris hati, rumah-rumah berlantai tanah dengan derik setiap pintu yang berbunyi nyaring saat angin menghempas-hempas daunnya dan sinar matahari menerobos tiap-tiap kamar dalam rumah karena hanya terbalut bilik bambu tua. Hampir seluruh penghuni desa mengharapkan penghidupan mereka pada hutan jati yang kian lama kian punah, dengan beragam kerajinan yang mereka kerjakan tanpa tahu pasti kapan pembeli kerajinan mereka datang. Kadang satu minggu belum tentu pengumpul datang dan menjemput hasil kerajinan mereka. Untuk menutup biaya hidup dan makan sehari-hari, mereka memetik daun jati dan menjualnya ke kota terdekat ditambah beberapa ekor ayam peliharaan yang tak cukup makan. Ulat jati menjadi makanan mereka sehari-hari sebagai lauk, ulat yang tinggal dipohon jati menjadi santapan lezat dan menopang gizi hidup mereka. Di tempat yang ratusan tahun minyak mengalir menghidupi Negara masih ada tempat seperti desa ini, desa yang tertinggal dan desa yang tak tersentuh kejayaan dunia perminyakan.
“Pikirkanlah kembali jika kamu hendak pergi ke kota besar Surabaya atau Jakarta, apa yang kamu bisa lakukan disana selepas sekolah SMA mu nanti, kamu tahu betapa bapak menyayangimu, namun kamupun tahu bapak juga tak ingin kamu meneruskan kehidupan kita yang sulit di desa ini.” Sang bapak menatap wajah anaknya. Sorot mata Tina indah meski hidup di desa yang tak banyak memberinya kemudahan merawat diri. Tuhan mungkin kerap melindunginya dari segala keadaan serba kekurangan dan memberinya kecantikan alami yang tak perlu pulasan, dan ia sanggup mengundang kerepotan tersendiri ketika banyak lelaki mulai dari pengusaha beristri dan pemuda desanya mulai menunjukkan minat untuk memperistri Tina selepas SMA.
“Apakah jika aku memilihkanmu salah satu dari mereka yang datang untuk melamar akan membahagiakanmu?” Tanya bapaknya pada Tina. Tina menggeleng kecil dan tak ingin itu benar-benar terjadi.
“Bapak, Aku tak punya banyak pilihan, bukan?, bila semua membuat bapak bahagia di hari tua maka aku akan menurutinya.” Seru Tina, meski menggeleng ia menyadari siapa dirinya.
“Tidak, Nduk.. bapak tidak akan menukar kebahagiaan bapak dengan kebahagiaanmu. Carilah kebahagiaanmu sendiri, tentukanlah sendiri!” ujar sang bapak , pria yang kulitnya coklat tua, dengan gigi yang masih rapih namun telapak dan jarinya penuh goresan kasar karena pekerjaannya sehari-hari mengukir kayu jati menjadi sebuah kerajinan.
“Hari ini aku melihat ukiran bapak belum ada yang diambil pedagang, sementara kita tak punya lagi persediaan uang belanja. Besok sekolah libur, aku akan menjualkannya di kota cepu, banyak tamu yang akan datang karena ada beberapa acara orang-orang perminyakan dari Jakarta yang akan diadakan,” urai Tina.
“Ndak usah nduk, biar bapak yang menawarkan ke kios-kios disana, kamu jaga adikmu, ia juga kena flu berat seperti bapak!” pinta bapaknya yang tersengal karena flu yang mendera sejak dua hari sebelumnya.
“Biar kali ini bapak istirahat, aku akan membawa ukiran alas kitab suci untuk dijual di kota, cukup bawa empat atau lima. Bapak istirahat saja, lagipula kalau kita hanya membawanya ke kios, mereka hanya membantu menjualkannya di tempat mereka tanpa kita mendapat uang terlebih dahulu !” pinta Tina pada bapaknya, ia menyisihkan beberapa daun kering kecil yang menimpa pundak bapaknya.
“Maafkan bapakmu ini ya, nduk!” bapaknya memeluk anak perempuan satu-satunya yang ia besarkan tanpa seorang ibu sejak masih balita, kala itu banjir bengawan solo menebarkan penyakit diare yang tak mampu ditahan oleh ibu Tina.
“Bapak tak punya salah apa-apa, bapaklah harta yang berharga yang Tina punya selain adik di desa ini,”
“Maafkan bapak yang tak mampu memberi masa depan kepadamu, Nduk!” Tina menyandarkan kepalanya pada pundak bapaknya, wajah cantiknya yang oval memantulkan cahaya perak dari bulan malam itu, bibirnya yang ranum dibasahi aliran air mata hingga bulir-bulirnya berpendar dan jatuh mengairi sungai bengawan solo, sungai yang senantiasa berwarna kecoklatan dengan segala riwayatnya.
Sementara saya dan willy, di malam yang sama kala itu tengah mengarungi ratusan kilometer jalan besi dari Jakarta dengan gemeretak hantaman roda kereta mutiara utara yang mengalunkan irama hentakan be-ritme dari penyangga rel kereta dan deru roda besi kereta.
“Kapan kamu akan menikah?” Tanya willy pada saya.
“Entahlah, masih banyak hal yang harus saya lakukan, mungkin nanti diusia dua puluh lima sampai dua puluh delapan, bagaimana dengan kamu?” jawab saya.
“Harusnya tahun ini,” willy membuang wajahnya keluar jendela.
“Lalu?” tanya saya.
“Lulus kuliah kemarin, seharusnya aku menikah dengan teman satu kampus. Aku tak harus bekerja karena ayahnya punya pabrik kuningan di Palembang dan aku diminta untuk bekerja pada ayahnya. Lalu karena tak ingin bergantung pada orang tua apalagi pada mertua, aku melamar ke perusahaan minyak ini dan sekarang harus bersekolah bersama sama dengan kamu di cepu,” Willy tetap memandang keluar jendela. Ia salah satu pegawai baru di perusahaan yang berbeda dengan saya dan sebentar lagi akan selesai menjalani sekolah khusus perminyakan di cepu Jawa tengah seperti juga saya.
“Dia tetap menunggu kamu?”Tanya saya, Willy menggeleng.
“Ia memilih menikah dengan orang lain karena menganggap aku tidak konsisten dan tidak mencintainya, padahal aku hanya ingin mandiri dulu, itu saja,” tegas willy.
“Semudah itu?” Tanya saya
“Ya…. semudah itu, padahal sudah sekian tahun kami berpacaran selama kuliah” willy mendengus, kaca kereta mutiara nampak mengembun oleh nafasnya, dibaliknya kilatan cahaya rumah penduduk sepanjang rel berkelebat ditengah gelap.
Tiga bulan lagi kami akan menamatkan pendidikan khusus di kota yang berada di tepian bengawan solo, Cepu. Dan kami baru saja kembali setelah mendapat libur seminggu untuk kembali ke daerah masing-masing.
Karena beberapa daerah dilanda banjir, maka kereta masuk stasiun cepu terlambat tiga jam lebih dari seharusnya dan baru setelah subuh pengumuman dari loud speaker memberi tahu bahwa kami sudah harus turun di stasiun cepu.
Dengan satu tas jinjing masing-masing kami merambati emplasemen stasiun yang dipenuhi beberapa hasil bumi dari kota cepu, lalu kami berdua menyerahkan karcis pada petugas peron stasiun di pintu keluar.
“Lalu apa rencana kamu setelah selesai sekolah disini nanti selain bekerja?” Tanya saya pada willy.
“Yang pasti aku akan fokus menyelesaikan ini semua, sama seperti kamu!” jawabnya.
“Bagaimana rencana menikahnya?”
“Entahlah…yang pasti aku akan tetap mencari seseorang yang baik untuk aku ajak menikah, usiaku lebih tua dua tahun dari kamu dan mungkin kalau aku boleh bilang, jika ada perempuan cantik yang pagi ini tersenyum tulus padaku dan dia pantas untukku maka aku akan menjadikannya calon istriku!” seru willy tegas, sambil tertawa.
“Mudah-mudahan ada kuda betina penarik delman lewat dan tersenyum manis padamu pagi ini, willy!” Kami berdua tertawa lepas sambil baranjak melewati lobby stasiun dan mencari dokar yang biasanya banyak menyediakan diri untuk mengantar kami.
“Selamat pagi, Assalumalaikum mas, selamat datang ke kota cepu, mau beli oleh-oleh kota cepu, saya punya tatakan Alqur’an berukir hasil karya desa kami!” seorang gadis cantik dengan empat tatakan alas kitab suci masing-masing dua ditangan kanan dan kirinya. Senyumnya pagi itu bukan alang kepalang merampas kelelahan kami yang semalam hanya tidur sedikit waktu, matanya yang berbinar dan pipi yang segar sesegar pagi di muka stasiun kota cepu yang rindang oleh pepohonan.
Kami saling pandang, dan kembali melihat senyum gadis itu, Tak dinyana sikap kami membuat gadis itu tersipu, tangannya yang semula membentangkan alas ukiran kembali surut.
“Apakah dia tersenyum pada aku atau pada kamu?” Tanya willy menoleh ke arahku.
“Kayaknya senyum pada saya kok,” ujar saya, willy menyikut perut saya sambil tertawa.
“Boleh tanya siapa yang buat?” Tanya willy.
“Bapak saya, Ini dibuat oleh bapak saya sendiri,” kini penjual ukiran itu tertunduk, tiba-tiba ia menyadari bahwa dirinya tak pantas menyapa orang dari Jakarta seperti itu.
“Kalau harganya pantas,saya beli dua..dia juga akan beli dua!” ujar willy sambil menunjuk pada saya. Sekenanya saja dia menunjuk padahal saya tak sedikitpun berencana membeli tatakan berukir itu.
Si penjual memberikan harga yang ditawarkannya, tuturnya yang lembut membuat kami tak ingin menawar lebih jauh dan bersedia membeli keempat tatakan ukiran yang ada di tangannya.
“Sebelum membayar, boleh aku Tanya siapa nama kamu?” Tanya willy.
“Kalau tidak boleh tidak apa-apa!” willy melanjutkan demi melihat si penjual ukiran tidak menjawab segera dengan pipi merah merona.
“Saya Tina..Tina Rafina!” sambil satu tangannya mendekap dadanya.
“Saya williardo dan ini..tanya saja sendiri!” ujar willy kembali menunjuk saya. Tina tersenyum kembali dan menyambut anggukan kepala saya. Lalu ia memberi salam berpamitan setelah menerima uang dari kami. Langkahnya yang teratur tak menceriminkan ia penjaja ukiran biasa bahkan meski tanpa wewangian, tubuhnya menebar wangi yang mengusik hati.
“Willy..bukankah kamu berikrar bahwa jika ada perempuan cantik yang pagi ini tersenyum tulus padamu dan dia pantas untukmu maka kamu akan menjadikannya calon istrimu, Kalau tidak minat, saya akan mengejarnya?” cetus saya.
Willy berlari kearah gadis yang punggungnya tengah menjauhi kami, tas jinjing diletakkan di samping saya.
“Boleh saya mengenal kamu lebih jauh, ukiran bapak kamu bagus sekali, dimana beliau membuat ini..saya ingin melihat!” kejar Willy pada Tina. Tina memilin ujung pakaiannya dan memandang ragu pada Willy dan sekilas menoleh juga pada saya.
“Bapak dan saya tinggal di desa kecil kearah kawengan, rasanya tak pantas mas datang kesana.” Jawab Tina.
“Beritahu saja, kamu tak perlu menilai pantas atau tidak pantas..salam buat bapak kamu!” seru willy.
Tina memberi tahu nama desanya, dan pergi membawa bekal harapan hidup beberapa hari untuk keluarganya dengan uang penjualan ukiran dari kami.
“Pantaskah dia untuk aku?” Tanya willy setelah tak melihat tubuhTina di muka stasiun.
“Tergantung dari cara pandang kamu terhadap profesi seseorang, jika profesi menjadi patokanmu untuk menentukan derajat seseorang maka ia menjadi tidak pantas untukmu karena dimata kita ia hanya penjaja ukiran keliling. Tapi jika kamu selalu bersedia menyediakan waktu untuk mengetahui apa alasan orang melakukan sesuatu maka kebesaran hatimu akan mampu memilih mana manusia yang baik sesungguhnya,” Willy terdiam menyimak.
“Besok kita datang ke desa tempat Tina!” ajak willy
“Secepat itu?” Tanya saya
“Ya secepat itu, kenapa tidak!” ujar willy bersemangat.
Hari berikut dan setelahnya, ketika Tina terkejut bukan kepalang menemui kami yang muncul di rumahnya, kami mendapati bahwa betapa timpangnya hidup ini. Betapa menyakitkannya kami sebagai calon orang perminyakan kala itu melihat ribuan rumah masih compang-camping di tengah manisnya jutaan Barrel hasil bumi Indonesia. Bunga-bunga indah kadang tumbuh ditengah tandusnya karang dan Tina menjadi bunga yang tumbuh indah, menanti dipetik oleh siapa saja lelaki yang mengagumi kecantikannya. Namun Tina tak sekedar bunga yang mudah dipetik, ia adalah penebar benih kekuatan hati untuk tidak menyerah pada keadaan. Selepas SMA Tina membuka beberapa kios di dua kota di jawa tengah dan jawa timur yang menjual kerajinan dari desanya, bekerja sama dengan willy.
“Pantaskah aku yang lahir di desa miskin ini menjadi pendampingmu, willy?” Tanya Tina, ketika willy dengan gemetar memintanya untuk menjadi calon istrinya setelah lewat enam belas purnama dari pertemuan mereka di stasiun kereta.
“Lebih dari pantas, Tina. Kamu memberi inspirasi pada aku bahwa hidup tak mesti menyerah pada ketidak adilan. Hidup itu untuk mencari kebahagiaan dan mencarinya bukan dengan menyesali siapa kita dimasa lalu melainkan melihat apa yang bisa kita lakukan di masa kini dan masa depan. Seperti air bangawan solo, manfaat hidup kita akan selalu mengaliri setiap daerah yang kita lalui. Terimalah aku sebagai suamimu!” pinta willy. Sementara angin menghempas daun jendela yang kini tak lagi berderik karena telah terganti dengan hasil dari semangat pantang menyerah.
Willy membuktikan ucapannya, enam bulan kemudian ia menikahi Tina sebagai seorang gadis yang hadir karena ucapannya sendiri, yaitu gadis cantik yang pagi itu tersenyum tulus padanya dan dia pantas untuknya maka ia menjadikan Tina sebagai istrinya!
Tuhan bukan memberikan yang terbaik pada apa yang kita minta, tetapi pada apa yang baik menurutNya untuk kita dan Willy beruntung mendapatkannya.
-
He has let loosed the two seas (the salt water and the sweet) meeting together. Between them is a barrier which none of them can transgress. Then which of the Blessings of your Lord will you both (jinns and men) deny?. Out of them both come out pearl and coral – QS 55 :19-22

pustaka:
http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/05/16/puspa-indah-taman-jati-560691.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar