Minggu, 12 Mei 2013

Kisah Sebatang Pensil




Gratisan Musik



Seorang anak lelaki melihat dengan heran ayahnya yang sedang menulis. Tampak dalam raut wajah ayahnya sedang bahagia. Sesekali ayahnya tersebut melihat ke anaknya dengan rekahan senyuman yang lebar. Kemudian anak tersebut menghampiri ayahnya kemudian bertanya,
“Apakah ayah sedang menulis cerita tentang ku?”
Si ayah pun berhenti menulis dan memangku anaknya dan menjawab
“Ayah memang sedang menulis tentang kita, tetapi ada yang lebih penting dari kata-kata yang hendak ayah tulis nanti, yaitu pensil yang ayah gunakan untuk menulis. Semoga engkau akan menjadi seperti sebatang pensil ini.”
Si anak heran dan mengamati pensil yang digunakan ayahnya itu dan berkata
“Tetapi pensil ini sama saja dengan pensil-pensil lain yang pernah ku gunakan untuk menggambar.:
“Itu tergantung bagaimana engkau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok penting dalam sebuah pensil, dan kalau engakau berhasil menerapkannya, engkau akan senantiasa merasa damai dalam menajalani hidupmu.” kata ayahnya sembari mengelus kepala anaknya.
dengan tergesah-gesah si anak kemudian menjawab
“apa lima pokok penting yang hendak sebuah pensil sampaikan kepada ku, yah?”
“Pertama, engaku sanggup melakukan hal-hal besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing disetiap langkah mu anakku. Kita menyebutnya dengan Tangan Tuhan dan Dia selalu membimbing kita.
“Kedua, sesekali ayah akan meraut pensil ini, untuk ayah gunakan kembali. pensil ini akan tumpul dan kita harus marautnya agak kembali tajam. Begitupula dengan mu anakku ada titik di mana dalam hidupmu akan merasa tumpul, sedih, merasakan penderitaan, sebab penderitaan dan kesedihan itu akan menjadikan mu orang yang lebih baik.
“Ketiga, terdapat sebuah karet penghapus di ujung pensil ini, kita dapat menggunakannya untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang kita telah perbuat. Ini berarti, sebuah kesalahan adalah hal manusiawi yang menjadi pembelajaran bagi kita untuk menuju kebahagiaan yang hakiki. Namun, sebuah kesalahan walupun dihapus sedemikian rupa tetap akan berbekas untuk mengingatka kita tidak mengulanginya lagi.
“Keempat, yang paling penting pada sebuah pensil bukanlah bagian luarnya yang terbuat dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu ada yang sedang berlangsung dalam dirimu.
“Kelima, pensil ini akan meninggalkan bekas, yaitu torehan tulisan mu anakku. Jadi engkau harus tahu bahwa segala sesuatu yang engkau lakukan dalam hidup mu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakan mu. menulislah seakan tangan mu berusaha melepaskan ikatan dari pikiran mu untuk mencapai kebahagiaan.”
Entah mengapa, Si anak pun tertidur dengan pulasnya dipangkuan ayahnya. Si ayah pun menggendongnya ke tempat tidur sembari mengucapkan doa untuk anaknya kelak.

pustaka:
http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/05/12/kisah-sebatang-pensil-559459.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar