Kamis, 16 Mei 2013

Kutetesi Gitarku Dengan Airmata




Gratisan Musik



disini aku mainkan sebuah gitar
tiba tiba terdiam dan aku berhenti
jemariku tak kuasa memetik senar
terasa kaku disetiap ruas ruas jari
aku teringat sebuah kisah masa lalu
tak terasa perlahan airmataku mengalir
jatuh menetes tepat pada fret ke tujuh
angka tahun yang sama setelah aku lahir
almarhum ayahku seorang petani pinggiran
dibelakang rumah secuplik tanah pekarangan
ditanami  singkong, buah  dan aneka sayuran
hasilnya dijual kekota agar kami bisa makan
kemana mana ayahku pergi naik sepeda
peninggalan kakek dari jaman belanda
demi menghemat daripada naik angkutan
sepeda itu juga membawa hasil penenan
ayahku tahu aku suka sekali menyanyi
sambil bekerja membantu ayah diladang
selalu kudendangkan lagu tanpa henti
agar penat dan lelah di tubuhku hilang
aku ingin sekali punya gitar
untuk kumainkan sambil bernyanyi
tapi ayahku tak punya cukup uang
membuatku hanya bisa bermimpi
diam diam ayahku merasa kasihan
didalam hatinya telah berjanji
ingin memenuhi apa yang kuinginkan
bisa bermain  gitar sambil bernyanyi
waktu itu hari masih pagi buta
ayah sudah bersiap pergi kekota
diikatnya beberapa tundun pisang
disisi kiri dan kanan sepedanya
seperti biasa sehabis panen buah-buahan
ayah selalu menjualnya sendiri ke pasar
akupun ikut serta membantu merapikan
kuikat kesana kemari sampai kuat benar
Aku lihat ayahku mengayuh sepeda
yang sarat dan penuh dengan muatan
kasihan juga aku saat melihatnya
sepeda terseok berjalan perlahan
setelah seharian berjualan pisang
sore hari aku melihat dari kejauhan
sambil mengayuh sepeda ayahku pulang
dibalik punggungnya ada barang tersimpan
aku penasaran pada barang bawaannya
kulihat ayahku melambaikan tangan
kemudian menunjuk dibalik punggungnya
woww.. sebuah gitar !!!
akupun seketika meloncat kegirangan
tak jauh ada jalur rel persimpangan kereta
yang harus diseberangi untuk sampai kerumah
aku lihat ayahku nampak sudah tak sabar
diayunnya pedal agar cepat roda berputar
namun bersamaan dengan turunnya palang pintu
kulambaikan tangan agar ayah berhenti dulu
tapi ayah tak  hiraukanku dan nampak terburu
ayah mengayuh sepeda agar lebih cepat melaju
sesaat kulihat ujung gitar itu
tersangkut pada palang pintu
tak mampu menjaga keseimbangan
kemudian ayah jatuh sempoyongan
gitar itupun terpelanting ke jalan
menyaksikan ayahku terjatuh
akupun berteriak, “ayaaaahhhhhh…….”
kulihat tubuhnya tergeletak tak jauh dari rel
akupun berlari sekuat tenaga menghampirinya
seakan berpacu melawan kencangnya kereta
seolah tak mau tahu ada ayahku disana
langkah langkah kecilkupun tak berarti apa apa
kereta besi itu datang dan menerjangnya
ayahku menghindar tapi kepalanya terbentur
darah segar keluar dari kepalanya mengucur
sejenak ayahku berada dalam pelukan
airmataku berderai berhamburan
membasihi baju yang semburat darah
terisak kubicara, ” jangan pergi, ayah….”
kuraih tangannya yang dingin membeku
kudengar hembusan nafasnya melambat
kulihat matanya perlahan menutup
kelima jarinya menggenggam tanganku erat
akupun terjaga dari lamunan
leher gitar masih kupegang
seakan tak ingin kulepaskan
wajah ayahku kembali terbayang
sementara aku menangis tersedu
teringat betapa ayah mencintaiku
memenuhi permintaanku punya gitar
hingga rela mengorbankan jiwanya
ayah,
gitarmu kini selalu kumainkan
dendang laguku berlirik do’a
beristirahatlah dengan tenang
semoga engkau bahagia disisiNya

pustaka:
 http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2013/05/16/kutetesi-gitarku-dengan-airmata-556819.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar