Sabtu, 25 Mei 2013

Menghadapi Rotasi dengan Percaya Diri





Terlalu lamanya karyawan di satu unit kerja berpotensi munculnya kejenuhan yang dapat berakibat fluktuasi pada kinerja. Hal ini tentunya tidak sehat ditinjau dari perspektif pengembangan sumberdaya manusia pada suatu organisasi, misalnya peningkatan produktivitas, mutu kerja, dan profesionalisme. Rotasi jabatan merupakan salah satu solusi yang diharapkan mampu menyehatkan iklim organisasi.

Perspektif dan pemahaman seperti itulah yang saya coba terapkan saat mengalami 3 kali rotasi jabatan dalam masa kerja 15 tahun di Universitas Paramadina. Bagi saya, rotasi jabatan merupakan tantangan, apresiasi sekaligus berkah. Mengapa demikian? Tantangan, karena saya adalah tipikal penyuka tantangan dan mudah jenuh dengan hal-hal bersifat monoton atau biasa-biasa saja. Apresiasi, organisasi tentunya telah mempertimbangkan banyak hal saat memindah karyawan dari unit kerja yang satu ke unit kerja lain di antaranya prestasi dan kompetensi karyawan. Berkah, sekilas tampak berlebihan namun saya merasakan betul aktualisasi diri dan passion saya terhadap pengetahuan dan peningkatan potensi diri terpenuhi melalui rotasi jabatan.

Universitas Paramadina mulai beroperasi pada Agustus 1998. Kala itu, jumlah karyawan masih minim, pekerjaan kurang terdeskripsi dengan baik, dan kebijakan pendukung seperti prosedur, tata tertib, dan instruksi kerja belum tersedia. Selain tugas utama, karyawan juga mendapat tugas tambahan yang terkadang jumlahnya melebihi tugas utama. Uniknya, kami tetap enjoy menjalankan tugas-tugas tersebut. Pada masa itu, karena keterbatasan personalia, pendistribusian tugas dilakukan kurang memperhatikan kapasitas, kompetensi, dan infrastruktur yang diperlukan karyawan. Seiring dengan berkembangnya organisasi, tata kelola yang baik (good governance) pun mulai terwujud.

Pengalaman paling berkesan adalah saat saya terlibat pada aktivitas Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) angkatan pertama. Saya dan seorang rekan kerja bertugas merespon telepon masuk terkait informasi PMB. Kami melayani puluhan telepon masuk dengan beragam pertanyaan-pertanyaan sama setiap harinya. Aktivitas tersebut berlangsung selama 2 bulan, dan alhasil mulut terasa “kebas” dan “berbusa” setiap selesai memenuhi tugas. 

Rotasi Jabatan I (tahun 2003)
Organisasi memindah saya ke unit kerja Keuangan dengan tugas utama sebagai kasir, pengelola dana tunai dan anggaran organisasi. Penyesuaian di unit kerja baru relatif mudah karena saya memiliki pengetahuan dan kompetensi yang diperlukan.
Rotasi Jabatan II (tahun 2008)
Organisasi menugaskan saya di unit kerja Fasilitas, sebuah unit kerja yang baru dibentuk, dengan tugas utama mengelola aset organisasi serta pengadaan barang atau jasa di lingkungan organisasi. Saya mengikuti pelatihan bersertifikasi untuk memperoleh kompetensi yang relevan, sisanya mengandalkan self learning (diskusi dengan orang-orang terkait, mempelajari beragam literatur, dan konsultasi dengan para senior).
Rotasi Jabatan III (tahun 2011)
Kali ini organisasi mempercayakan saya bergabung di unit kerja Manajemen Pengetahuan, Riset, dan Pengabdian Masyarakat yang bertanggung jawab atas pengelolaan aktivitas manajemen pengetahuan, yang mencakup pembelajaran, e-Learning, perpustakaan, laboratorium audio visual, studio fotografi, laboratorium bahasa, riset (dosen dan mahasiswa), penerbitan jurnal, dan pengabdian masyarakat (dosen dan mahasiswa). Pekerjaan di unit kerja ini beragam dan memiliki kompleksitas cukup tinggi. Peningkatan kompetensi dilakukan melalui aktivitas pelatihan, magang, dan self learning.
Perpindahan karyawan ke unit kerja baru yang memiliki latar belakang dan sifat pekerjaan berbeda, menuntut kompetensi relevan agar tujuan pindah ke unit kerja baru tercapai optimal. Namun demikian, rotasi kerap juga membuat resah karyawan, di antaranya karena kekhawatiran-kekhawatiran tentang (1) bagaimana pekerjaannya? (2) apakah lebih berat atau ringan? (3) bagaimana suasana dan iklim kerjanya? (4) bagaimana karakter orang-orang di tempat baru?
Saya pun mengalami situasi di atas, namun berhasil mereduksi semua keresahan tersebut melalui tips berikut ini.
1. Bersikap positif dengan mengembangkan positive thinking dan open mind. Bersikap positif memudahkan kita menghadapi perubahan atau menerima sesuatu yang baru, membuat kita lebih bijak dalam bersikap dan bertindak, meningkatkan motivasi, meningkatkan harga diri dan citra diri, dan terhindar dari stres.
2. Mencintai pekerjaan dapat membuat kita lebih bahagia, lebih produktif, dan menjadi inspirasi bagi lingkungan tempat kerja kita. Pekerjaan berat pun akan menjadi terasa ringan.
3. Tingkatkan wawasan dan pemahaman yang relevan dengan unit kerja baru melalui self learning, orientasi (peraturan, deskripsi pekerjaan, kultur, subordinat, rekan kerja, atasan), dan pembekalan (pelatihan, pendidikan, dll) yang disiapkan oleh organisasi. Inisiatif, kesabaran, dan ketekunan sangat diperlukan dalam melaksanakan 3 aktivitas ini.
4. Menyusun target jangka pendek dan bertahap, serta memberi apresiasi kepada diri sendiri untuk setiap kemajuan-kemajuan kecil yang berhasil diraih.
5. Menjadi seseorang yang dapat diandalkan melalui komitmen, ketekunan, keseriusan, dan mutu kinerja yang optimal.

Idealnya, kebijakan rotasi jabatan/pekerjaan diselenggarakan berkala berbasis kompetensi, didukung dengan data dan informasi yang akurat mengenai (1) kinerja karyawan; (2) pengalaman kerja di unit; (3) pelatihan dan pendidikan yang pernah diikuti karyawan; (4) perilaku karyawan. Organisasi perlu menyiapkan masa orientasi, pelatihan, dan pendidikan bagi karyawan agar mampu beradaptasi di unit kerja, lebih kompeten dan qualified dalam mencapai target organisasi. Tak kalah pentingnya adalah sosialisasi agar karyawan tidak merasa diperlakukan secara tidak adil.

Saya tidak pernah memaknai rotasi jabatan sebagai sebuah hukuman. Keinginan saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berpotensi, mendorong saya lebih berani bergerak menjauhi “zona aman”, meskipun terdapat aktivitas berulang setiap kali pindah unit kerja, yaitu proses belajar. 

Bagi saya, memfokuskan diri pada benefits yang akan diperoleh lebih utama daripada memikirkan beragam kesulitan yang akan ditemui akibat rotasi jabatan. Suatu kebanggaan tersendiri manakala ide, kreativitas, dan inovasi yang dihasilkan memperoleh pengakuan, apresiasi, dan memberi manfaat bagi unit kerja lain.

pustaka:
http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2013/05/23/menghadapi-rotasi-dengan-percaya-diri-562331.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar