Abstrak
Pelayanan merupakan salah satu unsur penting dalam keberhasilan organisasi. Kualitas pelayanan tidak hanya ditentukan oleh prosedur, fasilitas, dan standar operasional, tetapi juga oleh kemampuan sumber daya manusia dalam memahami kebutuhan, membangun hubungan, mengelola emosi, serta menyelesaikan persoalan yang dihadapi pengguna layanan. Artikel ini bertujuan mengkaji pemikiran Lynn Van Der Wagen dalam buku Customer Service Intelligence: Perspectives for Human Resources and Training, khususnya mengenai hubungan antara kecerdasan pelayanan, pengembangan kompetensi, perilaku individu, kepemimpinan, dan pembelajaran organisasi. Penulisan menggunakan pendekatan kualitatif melalui kajian pustaka dengan metode analisis deskriptif-kritis terhadap sebelas bab buku. Hasil kajian menunjukkan bahwa kecerdasan pelayanan merupakan kemampuan multidimensional yang terbentuk melalui perpaduan pengetahuan, keterampilan, sikap, kecerdasan emosional, pengalaman, dan dukungan lingkungan organisasi. Pelayanan juga tidak dapat dipandang semata-mata sebagai tanggung jawab petugas yang berhadapan langsung dengan pengguna layanan, melainkan sebagai hasil interaksi antara individu, sistem, aturan, teknologi, budaya organisasi, dan pembagian kerja. Artikel ini menyimpulkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan memerlukan pendekatan pengembangan sumber daya manusia yang kontekstual, berkelanjutan, dan berorientasi pada pembelajaran organisasi.
Kata kunci: kecerdasan pelayanan, kompetensi sumber daya manusia, kecerdasan emosional, kualitas pelayanan, pembelajaran organisasi.
1. Pendahuluan
Pelayanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan organisasi. Dalam aktivitas ekonomi, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, maupun sektor jasa lainnya, pelayanan menjadi ruang pertemuan antara organisasi dan masyarakat. Melalui pelayanan, masyarakat tidak hanya menerima produk atau fasilitas, tetapi juga mengalami bagaimana sebuah organisasi memperlakukan manusia.
Dalam praktiknya, kualitas pelayanan sering kali diukur melalui kecepatan, ketepatan, keramahan, ketersediaan fasilitas, dan kesesuaian prosedur. Ukuran tersebut penting, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan kompleksitas pelayanan. Seseorang dapat memahami prosedur kerja, tetapi belum tentu mampu menghadapi keluhan dengan bijaksana. Organisasi dapat memiliki standar pelayanan yang baik, tetapi pelaksanaannya belum tentu konsisten apabila tidak didukung kompetensi dan budaya kerja yang memadai.
Persoalan tersebut menjadi dasar pentingnya memahami pelayanan dari perspektif pengembangan sumber daya manusia. Pelayanan bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan proses yang melibatkan pengetahuan, emosi, perilaku, interaksi sosial, kepemimpinan, dan lingkungan organisasi.
Lynn Van Der Wagen melalui buku Customer Service Intelligence: Perspectives for Human Resources and Training menawarkan pendekatan multidisipliner untuk memahami dan mengembangkan kemampuan pelayanan. Buku ini menggabungkan berbagai perspektif manajemen dan pendidikan, antara lain desain pelatihan, pemasaran jasa, kecerdasan emosional, teori penguatan perilaku, kepemimpinan, pelatihan berbasis kompetensi, pembentukan keahlian, perspektif sosiokultural, teori aktivitas, serta kesadaran dan perhatian penuh (mindfulness).
Salah satu gagasan penting dalam buku tersebut adalah bahwa tidak terdapat satu pendekatan pelatihan yang dapat diterapkan secara seragam pada seluruh organisasi dan individu. Kebutuhan pelatihan harus dipahami berdasarkan konteks pekerjaan, karakteristik peserta, tujuan organisasi, serta jenis pelayanan yang diberikan.
Berdasarkan pemikiran tersebut, artikel ini membahas tiga persoalan utama. Pertama, bagaimana konsep kecerdasan pelayanan dipahami dalam pengembangan sumber daya manusia. Kedua, bagaimana berbagai teori perilaku, kompetensi, kepemimpinan, dan pembelajaran organisasi berkontribusi terhadap kualitas pelayanan. Ketiga, bagaimana gagasan tersebut dapat dimaknai dalam pengelolaan pelayanan organisasi, termasuk pada institusi pelayanan publik.
2. Metode Penulisan
Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka (literature review). Sumber utama kajian adalah buku Lynn Van Der Wagen berjudul Customer Service Intelligence: Perspectives for Human Resources and Training, yang diterbitkan oleh Butterworth-Heinemann, imprint Elsevier.
Analisis dilakukan melalui pembacaan tematik terhadap sebelas bab buku. Setiap bab diidentifikasi berdasarkan gagasan utama, perspektif teoritis, dan relevansinya terhadap pengembangan sumber daya manusia dalam pelayanan.
Tahapan analisis meliputi: (1) identifikasi konsep-konsep utama dalam buku; (2) pengelompokan gagasan berdasarkan tema pelayanan dan pengembangan kompetensi; (3) analisis hubungan antarkonsep; dan (4) penarikan implikasi konseptual bagi pengelolaan pelayanan organisasi.
Artikel ini merupakan kajian konseptual terhadap satu sumber utama, bukan penelitian lapangan. Oleh karena itu, kesimpulan yang dihasilkan bersifat analitis dan interpretatif, serta tidak dimaksudkan sebagai generalisasi empiris terhadap seluruh organisasi.
3. Hasil Kajian dan Pembahasan
3.1. Pelayanan sebagai Proses yang Berorientasi pada Manusia
Buku Van Der Wagen menempatkan pelayanan sebagai aktivitas yang memerlukan pemahaman terhadap hubungan antara penyedia layanan dan pengguna layanan. Dalam perspektif pemasaran jasa, pelayanan memiliki karakteristik yang berbeda dari produk berwujud, antara lain tidak berwujud (intangibility), memiliki variasi dalam pelaksanaannya (variability), serta sering kali berlangsung bersamaan dengan proses konsumsi (inseparability).
Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa kualitas pelayanan tidak sepenuhnya dapat dipastikan hanya melalui perencanaan sebelum pelayanan diberikan. Pengalaman pengguna layanan turut ditentukan oleh interaksi yang berlangsung pada saat pelayanan dilaksanakan.
Dalam pembahasan mengenai kualitas pelayanan, buku ini juga menguraikan dimensi SERVQUAL, yaitu:
- Tangibles, berkaitan dengan fasilitas fisik, perlengkapan, dan penampilan lingkungan pelayanan.
- Reliability, berkaitan dengan kemampuan memberikan pelayanan secara tepat dan dapat diandalkan.
- Responsiveness, berkaitan dengan kesediaan dan kecepatan membantu pengguna layanan.
- Assurance, berkaitan dengan pengetahuan, kesopanan, dan kemampuan membangun kepercayaan.
- Empathy, berkaitan dengan perhatian dan pemahaman terhadap kebutuhan pengguna layanan.
Kelima dimensi tersebut memperlihatkan bahwa kualitas pelayanan tidak hanya berhubungan dengan tersedianya fasilitas, tetapi juga menyangkut keandalan, respons, kepercayaan, dan kepedulian.
Dengan demikian, pelayanan perlu dipahami sebagai proses sosial yang mempertemukan kebutuhan manusia dengan kapasitas organisasi dalam memberikan respons.
3.2. Kecerdasan Emosional sebagai Fondasi Perilaku Pelayanan
Salah satu pembahasan penting dalam buku ini adalah kecerdasan emosional (emotional intelligence). Dalam konteks pelayanan, kemampuan mengelola emosi menjadi penting karena petugas berhadapan dengan beragam karakter, kebutuhan, harapan, dan kemungkinan konflik.
Van Der Wagen membahas lima unsur kecerdasan emosional, yaitu kesadaran diri (self-awareness), pengendalian diri (self-regulation), motivasi, empati, dan pengelolaan hubungan (relationship management).
Kesadaran diri memungkinkan seseorang mengenali kondisi emosional dan pengaruhnya terhadap perilaku. Pengendalian diri membantu individu merespons situasi secara proporsional. Motivasi memberikan dorongan untuk menjalankan pekerjaan dengan kesungguhan. Empati membantu memahami perspektif orang lain, sedangkan pengelolaan hubungan memungkinkan terbangunnya interaksi yang konstruktif.
Dalam praktik pelayanan, kemampuan tersebut dapat menentukan bagaimana seseorang menghadapi keluhan, ketidakpuasan, perbedaan pendapat, maupun situasi yang menuntut keputusan cepat.
Namun, buku ini juga memberikan perhatian terhadap keterbatasan penggunaan kecerdasan emosional sebagai satu-satunya dasar untuk menilai atau memilih sumber daya manusia. Artinya, kecerdasan emosional perlu ditempatkan bersama kompetensi teknis, pengetahuan pekerjaan, pengalaman, dan kemampuan profesional lainnya.
Kecerdasan emosional bukan pengganti kompetensi, melainkan salah satu unsur yang memperkuat kualitas perilaku pelayanan.
3.3. Pembentukan Perilaku melalui Penguatan dan Keteladanan
Buku ini membahas teori penguatan perilaku (reinforcement theory) dan pembelajaran melalui pengamatan atau pemodelan (modelling).
Dalam perspektif tersebut, perilaku kerja dapat dibentuk melalui pengalaman, konsekuensi tindakan, pengamatan terhadap orang lain, serta umpan balik yang diterima individu. Pegawai tidak hanya belajar melalui instruksi formal, tetapi juga melalui perilaku yang dicontohkan oleh pimpinan dan rekan kerja.
Ketika suatu perilaku memperoleh penguatan positif, terdapat kemungkinan perilaku tersebut diulang. Sebaliknya, perilaku yang tidak memperoleh dukungan atau umpan balik yang tepat dapat sulit berkembang.
Meskipun demikian, penguatan perilaku tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai pemberian penghargaan dan hukuman. Buku ini mengingatkan bahwa penghargaan eksternal yang berlebihan berpotensi mengurangi motivasi intrinsik. Seseorang dapat bekerja bukan lagi karena memahami makna pelayanan, melainkan semata-mata karena mengejar imbalan.
Oleh sebab itu, pengembangan perilaku pelayanan membutuhkan keseimbangan antara pembinaan, keteladanan, umpan balik, pengakuan, dan penumbuhan kesadaran profesional.
3.4. Kepemimpinan, Motivasi, dan Lingkungan Kerja
Kualitas pelayanan juga berkaitan dengan kemampuan organisasi mengelola manusia melalui kepemimpinan dan motivasi. Van Der Wagen membahas pendekatan kepemimpinan situasional, teori kontingensi, teori harapan (expectancy theory), serta orientasi tujuan.
Perspektif tersebut memperlihatkan bahwa tidak semua pegawai dapat dikelola dengan pendekatan yang sama. Tingkat pengalaman, kemampuan, kebutuhan, motivasi, dan karakteristik pekerjaan dapat memengaruhi respons individu terhadap pola kepemimpinan.
Kepemimpinan yang efektif karena itu memerlukan kemampuan membaca situasi. Dalam kondisi tertentu, pegawai membutuhkan arahan yang jelas. Dalam kondisi lain, mereka memerlukan kepercayaan, ruang mengambil keputusan, dukungan, dan kesempatan mengembangkan kemampuan.
Dalam organisasi pelayanan publik, motivasi juga tidak selalu dapat dijelaskan melalui imbalan material. Dorongan untuk membantu masyarakat, memberikan manfaat, dan menjalankan tanggung jawab sosial dapat menjadi sumber motivasi intrinsik.
Hal ini memberikan pemahaman bahwa pimpinan tidak cukup hanya mengawasi kepatuhan terhadap prosedur. Pimpinan juga perlu membangun lingkungan kerja yang memungkinkan pegawai memahami tujuan pelayanan dan merasakan makna dari pekerjaan yang dilaksanakan.
3.5. Pelatihan Berbasis Kompetensi dan Pengembangan Keahlian
Van Der Wagen membahas pelatihan berbasis kompetensi (competency-based training) sebagai salah satu pendekatan dalam pengembangan sumber daya manusia.
Kompetensi tidak hanya berhubungan dengan pengetahuan mengenai sesuatu, tetapi juga kemampuan menerapkannya dalam pekerjaan. Dalam pembahasannya, buku ini membedakan dimensi mengetahui sesuatu (knowing that), mengetahui cara melakukan sesuatu (knowing how), serta kemauan untuk terus mengetahui dan belajar (wanting to know).
Ketiga dimensi tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi memiliki unsur kognitif, keterampilan praktis, dan dorongan pengembangan diri.
Pelatihan yang hanya memberikan pengetahuan teoritis belum tentu menghasilkan perubahan perilaku kerja. Peserta pelatihan perlu memperoleh kesempatan mempraktikkan kemampuan, menghadapi persoalan nyata, menerima umpan balik, dan menerapkan hasil pembelajaran dalam lingkungan pekerjaan.
Pengembangan keahlian juga berlangsung secara bertahap. Individu membutuhkan pengalaman, bimbingan, kesempatan mencoba, serta dukungan lingkungan agar mampu bergerak dari penguasaan dasar menuju kemampuan profesional yang lebih kompleks.
Dengan demikian, keberhasilan pelatihan tidak seharusnya hanya dinilai dari kehadiran peserta atau penyelesaian kegiatan. Hal yang lebih penting adalah perubahan kemampuan dan penerapannya dalam pekerjaan.
3.6. Pembelajaran Sosial dan Budaya Organisasi
Perspektif sosiokultural dalam buku ini memberikan perhatian pada proses pembelajaran yang berlangsung melalui interaksi sosial. Pengetahuan tidak selalu diperoleh melalui pelatihan formal, tetapi juga terbentuk melalui percakapan, pengalaman bersama, pengamatan, dan keterlibatan dalam komunitas kerja.
Konsep communities of practice menunjukkan bahwa kelompok kerja dapat menjadi ruang berbagi pengetahuan dan mengembangkan kemampuan profesional.
Dalam organisasi pelayanan, pegawai dapat belajar dari pengalaman menghadapi pengguna layanan, membahas kasus yang sulit, mengidentifikasi kesalahan, dan menemukan cara penyelesaian yang lebih baik.
Pendekatan ini memperluas pemahaman mengenai pelatihan. Pelatihan bukan hanya kegiatan yang berlangsung di ruang kelas, tetapi juga proses pembelajaran yang terus berjalan dalam aktivitas organisasi.
Budaya organisasi menjadi penting karena menentukan apakah pengalaman dan pengetahuan dapat dibagikan secara terbuka atau justru terhambat oleh sikap saling menyalahkan, ketakutan terhadap kesalahan, dan lemahnya komunikasi.
Organisasi yang mendorong keterbukaan, kerja sama lintas fungsi, dan pertukaran pengalaman memiliki peluang lebih besar untuk membangun pembelajaran berkelanjutan.
3.7. Teori Aktivitas: Pelayanan sebagai Hasil Kerja Sistem
Salah satu kontribusi penting buku ini adalah penggunaan teori aktivitas (activity theory) untuk memahami pelayanan sebagai aktivitas yang berlangsung dalam suatu sistem sosial.
Dalam perspektif ini, aktivitas melibatkan beberapa unsur yang saling berhubungan, yaitu subjek, objek atau tujuan, alat, aturan, komunitas, dan pembagian kerja.
Kerangka tersebut membantu menjelaskan bahwa hasil pelayanan tidak hanya ditentukan oleh individu yang berhadapan langsung dengan pengguna layanan. Petugas dapat memiliki kemampuan dan niat yang baik, tetapi kualitas pelayanan tetap dapat terganggu apabila sistem pendukung tidak berjalan.
Sebagai contoh, keterlambatan pelayanan dapat berkaitan dengan prosedur yang terlalu panjang, keterbatasan sarana, sistem teknologi yang tidak memadai, koordinasi antarbagian yang lemah, atau pembagian kewenangan yang tidak jelas.
Karena itu, menyalahkan petugas sebagai penyebab tunggal persoalan pelayanan merupakan pendekatan yang tidak memadai.
Organisasi perlu melihat pelayanan secara menyeluruh dengan mengidentifikasi hubungan antara individu, aturan, teknologi, lingkungan kerja, dan struktur organisasi. Pendekatan ini menggeser perhatian dari sekadar mencari kesalahan individu menuju pemahaman terhadap penyebab persoalan dalam sistem kerja.
3.8. Kesadaran dan Mindfulness dalam Pelayanan
Buku ini juga mengangkat pendekatan Zen dan mindfulness dalam pengembangan kualitas pelayanan. Pembahasan tersebut memberikan perspektif bahwa pelayanan membutuhkan kemampuan untuk hadir secara sadar dalam interaksi.
Kesadaran membantu seseorang menghindari respons yang terlalu cepat berdasarkan prasangka, stereotip, atau penilaian yang belum tentu benar. Dalam pelayanan, kemampuan mendengarkan dan memahami situasi secara utuh menjadi bagian dari profesionalisme.
Seseorang yang mampu memperhatikan keadaan dengan lebih tenang memiliki peluang lebih baik untuk memahami persoalan sebelum memberikan tanggapan.
Pendekatan ini tidak berarti bahwa pelayanan harus berjalan tanpa aturan atau standar. Sebaliknya, kesadaran membantu individu menerapkan aturan secara lebih bijaksana dengan tetap memperhatikan konteks dan kebutuhan manusia.
Dengan demikian, profesionalisme pelayanan tidak hanya ditentukan oleh apa yang diketahui dan dapat dilakukan seseorang, tetapi juga oleh kualitas perhatian dan kesadaran ketika berinteraksi dengan orang lain.
3.9. Pembelajaran Organisasi dan Perbaikan Berkelanjutan
Pada bagian penutup, buku ini menekankan bahwa tidak terdapat satu model pelatihan yang sesuai untuk seluruh situasi. Organisasi perlu mengembangkan pendekatan yang mempertimbangkan dimensi analitis, perilaku, dan organisasional secara bersamaan.
Pengembangan pelatihan dapat menghadapi hambatan operasional, manajerial, maupun budaya dan struktural. Oleh karena itu, perbaikan pelayanan tidak cukup dilakukan melalui kegiatan pelatihan yang berdiri sendiri.
Pembelajaran organisasi membutuhkan beberapa unsur penting, antara lain kesadaran bahwa pembelajaran merupakan kebutuhan organisasi, visi bersama, kerja sama lintas fungsi, keterbukaan terhadap gagasan baru, serta kebiasaan berbagi pengalaman.
Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan merupakan proses yang berlangsung secara terus-menerus. Organisasi harus mampu mempelajari pengalaman, mengenali perubahan kebutuhan, mengevaluasi pendekatan yang digunakan, dan memperbaiki sistem kerja.
Pelatihan dengan demikian bukan tujuan akhir, melainkan salah satu instrumen untuk membangun organisasi yang mampu belajar dan beradaptasi.
4. Implikasi Konseptual bagi Pengelolaan Pelayanan Publik
Pemikiran Van Der Wagen memiliki relevansi bagi organisasi pelayanan publik karena pelayanan pemerintah tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan prosedur administratif, tetapi juga menyangkut kepercayaan masyarakat dan tanggung jawab institusi.
Dalam konteks pelayanan pendidikan, misalnya, hubungan antara institusi pendidikan dan masyarakat tidak dapat dibangun hanya melalui surat, petunjuk teknis, atau penyampaian kebijakan. Pelayanan membutuhkan komunikasi, pendampingan, pemahaman terhadap kebutuhan sekolah, dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara bersama.
Pertama, pengembangan sumber daya manusia perlu diarahkan pada keseimbangan kompetensi teknis dan kompetensi interpersonal. Penguasaan regulasi dan prosedur harus berjalan bersama kemampuan berkomunikasi, mendengarkan, berempati, serta memberikan respons yang tepat.
Kedua, pelatihan perlu berangkat dari kebutuhan nyata. Permasalahan pelayanan harus diidentifikasi terlebih dahulu sebelum menentukan materi, metode, dan bentuk pendampingan. Dengan demikian, pelatihan tidak hanya menjadi kegiatan administratif, tetapi menjadi sarana memperbaiki kinerja.
Ketiga, pimpinan perlu membangun keteladanan dan budaya kerja yang mendukung pelayanan. Perilaku pelayanan yang baik sulit tumbuh apabila tidak memperoleh contoh dan dukungan dari lingkungan organisasi.
Keempat, evaluasi pelayanan perlu menggunakan perspektif sistem. Ketika terjadi persoalan, organisasi perlu memeriksa prosedur, koordinasi, sarana, teknologi, pembagian tugas, dan kompetensi petugas secara bersamaan.
Kelima, organisasi perlu membangun kebiasaan belajar dari pengalaman. Keluhan masyarakat, hambatan pelayanan, dan keberhasilan penyelesaian masalah dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pelayanan berikutnya.
Implikasi tersebut menegaskan bahwa pelayanan publik yang berkualitas memerlukan perubahan cara pandang: dari pelayanan yang sekadar berorientasi pada penyelesaian administrasi menuju pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan manusia dan perbaikan organisasi.
5. Kritik dan Keterbatasan Pemikiran
Buku Customer Service Intelligence memiliki kekuatan pada keluasan perspektif yang digunakan. Penulis tidak membatasi pelayanan pada satu teori, tetapi menghubungkan berbagai pendekatan psikologi, pendidikan, manajemen, perilaku, dan interaksi sosial.
Kekuatan lainnya terletak pada perhatian terhadap manusia sebagai pusat pelayanan. Kompetensi, emosi, motivasi, pengalaman, kepemimpinan, dan budaya organisasi ditempatkan sebagai unsur yang saling berhubungan.
Namun, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penerapannya.
Pertama, buku ini diterbitkan pada 2007/2008, sehingga pembahasannya perlu dibaca kembali dengan mempertimbangkan perkembangan pelayanan digital, kecerdasan buatan, dan perubahan pola interaksi masyarakat. Perkembangan tersebut merupakan konteks tambahan yang tidak menjadi fokus utama buku.
Kedua, sebagian contoh dan konteks pembahasannya berasal dari lingkungan industri jasa dan pelatihan di negara Barat. Penerapannya pada organisasi publik di Indonesia memerlukan penyesuaian terhadap regulasi, budaya kerja, karakteristik masyarakat, dan kapasitas kelembagaan.
Ketiga, keluasan teori yang digunakan membutuhkan kerangka penerapan yang jelas. Organisasi perlu menentukan kebutuhan kompetensi, indikator keberhasilan, metode evaluasi, dan mekanisme tindak lanjut agar gagasan-gagasan tersebut dapat diterjemahkan menjadi perbaikan nyata.
Dengan demikian, kontribusi utama buku ini terletak pada kerangka pemahaman dan pilihan pendekatan, sedangkan penerapannya tetap membutuhkan analisis kontekstual.
6. Kesimpulan
Kajian terhadap buku Customer Service Intelligence: Perspectives for Human Resources and Training menunjukkan bahwa kecerdasan pelayanan merupakan kemampuan multidimensional yang terbentuk melalui hubungan antara kompetensi, kecerdasan emosional, perilaku, motivasi, kepemimpinan, pengalaman, dan budaya organisasi.
Kualitas pelayanan tidak dapat dibangun hanya melalui prosedur dan pelatihan teknis. Pelayanan juga membutuhkan kemampuan memahami manusia, mengelola interaksi, membangun kepercayaan, dan merespons persoalan secara tepat.
Pembahasan teori penguatan perilaku, pelatihan berbasis kompetensi, perspektif sosiokultural, teori aktivitas, dan mindfulness memperlihatkan bahwa pengembangan pelayanan perlu dilakukan secara menyeluruh. Individu harus dikembangkan, tetapi sistem organisasi juga harus diperbaiki.
Dengan demikian, pelayanan yang berkualitas bukan semata-mata hasil dari petugas yang ramah atau prosedur yang tertib. Kualitas pelayanan merupakan hasil dari organisasi yang mampu mengembangkan manusia, membangun budaya belajar, memperkuat kerja sama, dan memperbaiki sistem secara berkelanjutan.
Gagasan utama yang dapat ditarik dari kajian ini adalah bahwa pelayanan yang baik tidak hanya membutuhkan orang yang mampu melayani, tetapi juga organisasi yang memungkinkan setiap orang memberikan pelayanan secara bermakna, profesional, dan bertanggung jawab.
Daftar Pustaka
Van Der Wagen, L. (2008). Customer service intelligence: Perspectives for human resources and training. Butterworth-Heinemann, an imprint of Elsevier.
Sofian
Pemerhati ekonomi, sosial dan pendidikan














