Di tengah derasnya arus konsumsi modern, manusia tidak lagi membeli barang semata karena kebutuhan, melainkan juga karena simbol, gaya hidup, dan dorongan psikologis. Fenomena ini semakin menarik ketika terjadi pada mahasiswa, kelompok intelektual yang secara teoritis memiliki kemampuan berpikir rasional dalam mengambil keputusan ekonomi. Namun, benarkah pengetahuan ekonomi selalu berbanding lurus dengan perilaku konsumsi yang bijak?
Pertanyaan tersebut menjadi titik pijak penelitian Muhammad Afif Iqomudin (2017) yang mengkaji pengaruh literasi ekonomi, pendidikan ekonomi dalam keluarga, dan latar belakang sosial-ekonomi orang tua terhadap pengambilan keputusan berkonsumsi mahasiswa Pendidikan IPS Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Penelitian ini tidak hanya menarik dari perspektif ekonomi, tetapi juga memberikan ruang refleksi yang luas dalam kerangka filsafat ilmu.
Ontologi: Hakikat Perilaku Konsumsi Mahasiswa
Dalam perspektif ontologi, penelitian ini berupaya memahami hakikat realitas yang dikaji, yaitu perilaku konsumsi mahasiswa. Perilaku konsumsi tidak dipandang sebagai tindakan ekonomi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai hasil interaksi berbagai faktor yang membentuk kesadaran individu.
Mahasiswa hidup dalam ruang sosial yang kompleks. Mereka menerima pengetahuan ekonomi di bangku kuliah, memperoleh nilai-nilai ekonomi dari keluarga, dan tumbuh dalam kondisi sosial-ekonomi tertentu. Ketiga faktor tersebut menjadi realitas yang diyakini berpengaruh terhadap cara mereka mengambil keputusan dalam berkonsumsi.
Menariknya, penelitian ini juga memasukkan perspektif ekonomi Islam yang memandang konsumsi bukan sekadar aktivitas memenuhi kebutuhan, tetapi bagian dari upaya mencapai falah atau kesejahteraan dunia dan akhirat. Dengan demikian, hakikat konsumsi dalam penelitian ini memiliki dimensi material sekaligus spiritual.
Epistemologi: Bagaimana Pengetahuan Diperoleh?
Dari sisi epistemologi, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatif untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat antarvariabel. Sebanyak 127 responden dipilih dari populasi 503 mahasiswa melalui teknik sampling yang mengacu pada pendapat Arikunto.
Pengetahuan mengenai fenomena konsumsi diperoleh melalui instrumen angket dan tes literasi ekonomi, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS. Melalui pendekatan ini, peneliti berusaha menghasilkan pengetahuan yang objektif, terukur, dan dapat diuji secara empiris.
Namun, hasil penelitian menghadirkan sebuah paradoks epistemologis yang menarik. Literasi ekonomi ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan berkonsumsi. Temuan ini mengundang pertanyaan mendasar: apakah pengetahuan selalu menghasilkan tindakan?
Filsafat ilmu sejak lama membedakan antara knowing dan doing. Seseorang dapat mengetahui apa yang benar, tetapi belum tentu melakukannya. Mahasiswa mungkin memahami konsep kebutuhan, kelangkaan, atau efisiensi ekonomi, tetapi tetap terjebak dalam perilaku konsumtif akibat pengaruh lingkungan sosial, tren digital, tekanan kelompok sebaya, atau dorongan emosional.
Di sinilah penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh pengetahuan rasional. Ada dimensi afektif, sosial, dan kultural yang turut membentuk tindakan ekonomi seseorang.
Aksiologi: Untuk Apa Pengetahuan Ini Digunakan?
Dalam perspektif aksiologi, nilai utama penelitian ini terletak pada kontribusinya bagi pendidikan ekonomi dan pembentukan karakter konsumsi generasi muda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan ekonomi dalam keluarga memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan berkonsumsi. Temuan ini menegaskan bahwa keluarga merupakan sekolah pertama dalam membentuk perilaku ekonomi individu. Nilai tentang kesederhanaan, pengelolaan keuangan, prioritas kebutuhan, hingga etika penggunaan uang lebih banyak dipelajari melalui keteladanan orang tua daripada melalui teori di ruang kelas.
Selain itu, latar belakang sosial-ekonomi orang tua juga terbukti berpengaruh. Kondisi ekonomi keluarga membentuk cara pandang mahasiswa terhadap uang, kebutuhan, dan gaya hidup. Lingkungan sosial-ekonomi yang berbeda menghasilkan pengalaman yang berbeda pula dalam memaknai konsumsi.
Dari sudut pandang pendidikan, temuan ini memberikan pesan bahwa peningkatan literasi ekonomi tidak cukup hanya dilakukan melalui transfer pengetahuan. Pendidikan ekonomi perlu diarahkan pada pembentukan kebiasaan, karakter, dan kesadaran reflektif agar peserta didik mampu menghubungkan apa yang mereka ketahui dengan apa yang mereka lakukan.
Refleksi Filosofis
Penelitian ini memberikan pelajaran penting bahwa manusia bukan sekadar makhluk rasional sebagaimana diasumsikan dalam teori ekonomi klasik. Dalam praktiknya, keputusan konsumsi lebih sering dipengaruhi oleh nilai yang ditanamkan keluarga dan pengalaman sosial yang dialami sejak kecil.
Temuan bahwa literasi ekonomi tidak berpengaruh signifikan justru menjadi pintu masuk bagi penelitian lanjutan. Mungkin persoalannya bukan pada kurangnya pengetahuan, tetapi pada ketidakmampuan mentransformasikan pengetahuan menjadi perilaku nyata. Dalam konteks pendidikan abad ke-21, tantangan terbesar bukan lagi membuat peserta didik mengetahui sesuatu, melainkan membantu mereka menghidupi pengetahuan tersebut dalam tindakan sehari-hari.
Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa pendidikan ekonomi yang ideal tidak berhenti pada penguasaan konsep, tetapi harus mampu membentuk manusia yang bijak dalam mengelola keinginan, bertanggung jawab dalam menggunakan sumber daya, dan mampu menempatkan konsumsi sebagai sarana mencapai kemaslahatan, bukan sekadar pemenuhan hasrat sesaat. Di sinilah ilmu pengetahuan menemukan makna terdalamnya: bukan hanya untuk dipahami, tetapi untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna.












