Rabu, 17 Juli 2013

Manajemen Strategik Dalam Pengembangan Daya Saing Organisasi (4)



Organisasi Dan daya Saing
Organisasi adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama dan sepakat bekerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan. Berdasarkan definisi tersebut, karakteristik sebuah organisasi adalah memiliki tujuan berbeda dari organisasi lainya, berisi orang-orang yang sepakat terhadap tujuan, dan ada pembagian tugas yang tercermin dalam sebuah struktur. Dalam literatur manajemen, secara umum pengertian organisasi banyak dikemukakan oleh para ahli, diantaranya Webster yang mendefinisikan organisasi sebagai suatu struktur eksekutif dari bisnis atau sebagai suatu keseluruhan termasuk di dalamnya fasilitas, material, dan orang dengan prilakunya, yang diatur menurut posisi berdasarkan tugas atau pekerjaan yang ditetapkan.

Pada zaman modern ini, keberadaan organisasi sangat diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan bersama secara efisien di tengah situasi yang semakin kompleks. Keberadaan organisasi memungkinkan pencapaian tujuan-tujuan yang sulit dicapai oleh individu secara perorangan-menjadi lebih mudah karena adanya kerja sama antar individu yang memungkinkan terjadinya sinergi antarpotensi  individual. Sinergi adalah akumulasi kekuatan kelompok yang besarnya melebihi penjumlahan masing-masing individu jika bekerja secara sendiri-sendiri.

Saat ini dikenal beragam sifat organisasi menurut tujuan masing-masing orang yang berhimpun dalam organisasi tersebut, yaitu organisasi bisnis yang ditujukan untuk pencapaian laba dari pemilik atau pemegang saha; organisasi sosial seperti Yayasan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau organisasi massa yang ditunjukan untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial; dan organisasi pemerintahan yang berbentuk departemen ataupun badan serta organisasi politik yang ditujukan untuk memperjuangkan aspirasi konstituennya dalam dunia politik.

Setiap organisasi, baik organisasi yang bersifat profit seperti perusahaan maupun organisasi yang bersifat non profit seperti organisasi massa, yayasan, dan lain-lainya tentu menginginkan adanya pertumbuhan dan keberlanjutan dalam setiap aktivitasnya. Perusahaan-perusahaan, baik dalam skala kecil, menengah maupun bersar, tentu ingin terus meningkatkan keuntunganya, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan pegawai dan melakukan ekspansi bisnisnya menjadi lebih besar lagi.

Meskipun hampir seluruh organisasi di dunia menginginkan keberlanjutan, sayangnya tidak semua organisasi mampu menciptakan pertumbuhan dan mempertahankan keberlanjutan aktivitasnya. Hanya sedikit perusahaan besar hidup yang hidup walaupun hanya setengah dari umur manusia. Dalam tahun 1983, survei Royal Durch/Shell menemukan bahwa sepertiga dari perusahaan menurut uraian 500 perusahaan versi Fortune dalam tahun 1970 telah lenyap. Shell memperkirakan bahwa rataan maasa hidup perusahaan besar kurang dari 40 tahun.

Secara alamiah organisasi pasti mengalami siklus hidup (Gambar 1.1) yang dapat digambarkan sebagai daur hidup organisasi. Dalam siklus hidup organisasi terlihat adanya organisasi yang mampu memperpanjang kehidupanya dan yang tidak mampu bertahan, serta organisasi yang mampu hidup sampai ratusan tahun, di samping yang gagal mempertahankan eksistensinya sebelum masa pertumbuhan dimulai. Untuk itu, diperlukan penelitian dan pengembangan (litbang) yang berkesinambungan. 









Gambar 1.1 Siklus Hidup Organisasi

                                   
Banyak hal yang menyebabkan suatu perusahaan gagal, baik karena faktor internal seperti buruknya manajerial perusahaan, ketersediaan modal yang terbatas, kurangnya daya inovasi, dan lain sebagainya maupun faktor eksternal seperti situasi persaingan yang sangat tinggi yang tidak mampu dihadapi, perubahaan-perubahaan dalam lingkungan bisnis yang tidak dapat diantisipasi, dan lain sebagaianya. Pertumbuhan, keberlanjutan ataupun kejatihan sebuah organisasi saat ini bukan lagi sekedar disebabkan oleh persoalan-persoalan teknis semata. Persoalan strategik sering kali memainkan peranan nyata dalam pertumbuhan maupun kejatuhan organisasi/perusahaan.

Pada abad ke-21, ketika masing-masing neagra di bumi ini sudah tidak memiliki batas ruang dan waktu, kecenderungan orientasi bisnis mengalami perubahan-perubahan yang fundamental, yang diperlihatkan dengan mengalirnya investasi ke tempat yang paling menguntungkan. Jika sebelumnya produsen dapat memaksakan kehendaknya kepada konsumen, yang terjadi selanjutnya adalah sebaliknya, konsumen memaksakan kehendaknya kepada produsen.

Saat ini, produsen dipaksa membuat produk yang sesuai dengan nilai dan keinginan konsumen. Keberadaan organisasi di zaman ini sangat ditentukan oleh kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen secara memuaskan dari segi ketersediaan, harga, ketepatan pengiriman dan mutu. Padahal permintaan konsumen saat ini cenderung semakin kompleks seiring dengan semakin banyaknya alternatif yang tersedia di pasar. Organisasi bisnis yang gagal membangun loyalitas konsumennya akan sulit menjaga keberlanjutannya.

Situasi persaingan yang begitu tinggi saat ini telah memaksa perusahaan untuk lebih meningkatkan daya saingnya hingga mencapai tingkatan superior competitive advantage di antara pesaing-pesaingnya. Hal lainya, perusahaan dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas dalam usaha memuaskan kebutuhan konsumenya. Selain itu, pada saat yang sama, perusahaan juga bertanggung jawab pada profitabilitas yang memadai guna memuaskan para pemegang sahamnya. Dalam situasi ini, perusahaan dituntut untuk senantiasa sadar dan berusaha memahami perubahan-perubahaan yang terjadi pada struktur pasar dan persaingan yang tengah dihadapi (fundamental, inkremental, atau radikal) sehingga upaya untuk memuaskan konsumen dan pemegang saham dapat dilakukan secara simultan.

Menyerahkan tanggung jawab pendapatan sepenuhnya pada bagian pemasaran saat ini dianggap telah ketinggalan zaman karena seorang pemasar tidak akan mampu berbuat banyak dalam meningkatkan nilai produknya di mata konsumen jika bagian pembelian, bagian litbang, bagian produksi, dan bagian-bagian lainya tidak terlibat secara intensif. Saat ini, produk-produk yang membanjiri pasar begitu variatif dan umumnya memiliki siklus hidup yang pendek. Pada saat ini kemunculan produk baru selalu diikuti oleh kemunculan produk-produk baru lain yang memiliki keunggulan lebih baik dalam waktu relatif singkat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa daya saing produk di pasar sangat ditentukan oleh hasil kerja sama semua bagian dalam perusahaan secara terpadu. Dalam hal ini konsep value chain memiliki relevansi dalam implementasi strategi, sebagai upaya untuk mengidentifikasi kompetensi langka yang didukung oleh keahlian tertentu dan sumber-sumber yang dimilikinya.

Banyak perusahaan mengalami kepanikan ketika menghadapi situasi persaingan yang sangat tinggi karena tantangan bisnis yang dihadapi saat ini jauh lebih besar dari yang pernah dihadapi masa lalu. Globalisasi ekonomi, yang membuat produk barang ataupun jasa mengalir secara bebas antarnegara telah memberikan tekanan lebih tinggi kepada perusahan-perusahan untuk memiliki daya saing. Untuk itu diperlukan pendekatan manajemen strategik, yaitu pendekatan manajerial yang komprehensif dan berorientasi jangka panjang dalam mengelola pertumbuhan perusahaan di tengah situasi persaingan yang mengandung resiko dalam suasana ketidakpastian sehingga mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan. Proses manajemen strategik membantu perusahaan mengidentifikasi apa yang ingin dicapai dan bagaimana mencapai hasil kerja yang bernilai sesuai dengan faktor pendorong (sumber daya alam,  manusia, dan buatan) dan faktor penarik (pembeli, dan lembaga keuangan).

Pustaka:
Musa Hubeis dan Mukhamad Najib (2008), Manajemen Strategik dalam Pengembangan Daya Saing Organisasi, PT Alex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta.
.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar