Kamis, 18 Juli 2013

AL-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan (7)


Sains Islam
Sains adalah produk manusia seperti halnya musik, film, lukisan, patung, bangunan, dan banyak lagi lainya. Begitu mendengar alunan suara musik, seseorang dapat langsung mengenali apakah ia tipe musik keroncong, dangdut, pop, jaz, rock, klasik, atau lainya. Demikian pula bila melihat film, lukisan, patung, atau bangunan, orang juga dapat segera mengidentifikasi tipe  apa objek yang dilihatnya. Bahkan, orang dapat mengenali lebih jauh, misalkan musik pop yang didengarnya kategori menghibur, indah, dan mendidik atau murahan sekedar bunyi, cengeng, atau seronok.

Setiap produk, apapun jenisnya pasti membawa tata nilai dan pandangan hidup atau pandangan dunia dari produsenya. Contoh ekstrem dan gamblang adalah majalah play boy yang pernah diterbitkan di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia. Play boy adalah produk yang ssekaligus membawa pesan masyarakat penganut hidup bebas, termasuk freesex di dalamnya. Majalah ini pelan tapi pasti akan mengiring pada tradisi dan kehidupan mesum, membangun masyarakat bebas bagai masyarakat hewan.
“Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan binatang-binatang ternak, ada yang bermacam-maccam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun (QS Fatir [35];28).

Suatu tata nilai yang asing dan bertentangan dengan tata nilai muslim sebagai mayoritas masyarakat Indonesia.

Sains sebagai produk manusia tidak dapat dikecualikan atau diistimewakan. Ia membawa pandangan-dunia tertentu dari kreatornya. Bedanya, dibanding dengan produk lainya seperti disebut di depan, sains selain lebih abstrak juga relatif tidak memiliki bandingan. Di dunia musik, orang mengenal musik barat, india, musik padang pasir, atau musik lokal, sedangkan untuk sains, sampai hari ini kita hanya punya satu sains dominan, yakni sains modern atau sains barat.

Peradaban modern telah telah mencapai kemajuan material yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama telah melahirkan krisis kemanusiaan yang cukup akut. Biang kerok semua kejadian itu dituduhkan justru pada sains sebagai panglima peradaban modern. Apa yang salah dari sains sekarang sehingga perlu dibangun sains alternatif yang holistik, dan di antaranya adalah sains Islam? Bila sains Islam memang ada, apa perbedaan utamanya dibanding dengan sains modern?

Secara sederhana, sains dapat dikatakan sebagai produk manusia dalam menyibak realitas. Terkait dengan pengertian ini, sains juga menjadi tidak tunggal atau dengan kata lain akan ada lebih dari satu sains, dan sains satu dengan yang lain dibedakan pada apa makna realitas dan cara apa yang dapat diterima untuk mengetahui realitas tersebut. Setiap bangunan ilmu pengetahuan atau sains selalu berpijak pada tiga pilar utama, yaitu pilar ontologis, aksiollogis, dan epistemologis.

Tiga pilar sains Islam jelas harus dibangun dari prinsip tauhid yang tersari dalam kalimat, lȃ ilȃhȃ illallah dan terdeskripsi dalam arkȃnul imȃn dan  arkȃnul Islam. Pilar ontologis yakni hal yang menjadi subjek ilmu, Islam harus menerima realitas material maupun nonmaterial sebagaimana dikatakan QS Al-Hȃqqah (69): 38-39
Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat, dan demi apa yang tidak kamu lihat.

Makhluk tidak dibatasi oleh yang material dan terindra tetapi juga yang imaterial. Tatanan ciptaan atau makhluk terdiri atas tiga keadaan fundamental, yaitu keadaan material, psikis, dan spritual. Dalam bahasa kaum sufi, tiga keadaan ini masing-masing disebut alam nasut, malakut, dan jabarut. Perhatikan fenomena yang terjadi antara laik-laki dan perempuan sebagaimana direkam oleh Al-Qur’an.
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir (QS Ar-Rūm [30]:21)

Tinggi dan berat badan seseorang baik laki-laki maupun perempuan merupakan kuantitas material, pertumbuhanya juga dapat dipengaruhi oleh upaya-upaya material, seperti peningkatan kualitas makanan dan keteraturan olahraga. Selain aspek material, manusia juga mempunyai aspek lain, seperti kecenderungan, perasaan tentraam, dan kasih sayang antara lawan jenis laki-laki dan perempuan. Bila kecenderungan ini sekedar insting material belaka, perkawinan sepasang suami-istri sulit dipertahankan, khususnya bila keduanya mengalami perpisahaan secara geografis dalam waktu relatif lama. Perpisahaan lama akan menyebabkan masing-masing mencari pasangan baru yang lebih dekat secara fisik, tetapi kenyataanya tidak demikian. Sepasang suami istri atau kekasih yang belum menikah mampu bertahan sebagai pasangan meski keduanya dipisah cukup jauh dalam waktu lama. Ada rasa kasih sayang, rasa setia yang imaterial dan inilah keadaan psikis. Sains modern hanya menerima realitas materi dan pikiran, dan keduanya dipandang sebagai dua substansi yang sepenuhnya berbeda dan terpisah. 

Pilar kedua bangunan ilmu pengetahuan adalah pilar aksiologis, terkait dengan tujuan ilmu pengetahuan dibangun atau dirumuskan. Tujuan utama ilmu pengetahuan Islam adalah dikenalnya Sang Pencipta melalui pola-pola ciptaan-Nya, sebagaimana dalam QS Ali ‘Imrȃn (3):191:
Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka  memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha-suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”

Tujuan sains Islam adalah mengetahui watak sejati segala sesuatu sebagaimana yang diberikan oleh Tuhan. Sanis Islam juga bertujuan memperlihatkan kesatuan hukum alam, kesinambungan seluruh bagian dan aspeknya sebagai refleksi dari kesatuan prinsip Ilahi. Mengenal alam dan hukum setiap spesies tersebut pada Kehendak Ilahi karena menurut Al-Qur’an, seluruh makhluk selain manusia adalah muslim. Dengan pemahaman ini, sang ilmuwan menjadi lebih dekat dan tunduk kepada Sang Pencipta sebagaimana disebutkan dalam QS Fȃtir (35): 28. Tujuan kemaslahatan bagi umat berupa produk-produk material adalah derivatif dari tujuan final digapainya Sang Pencipta. Inilah basis aksiologi Islam.

Sains modern telah bergerak menuju deisme, kepercayaan bahwa Tuhan memulai alam semesta, tetapi kemudian membiarkanya berjalan sendiri. Jika dianalogikan dengan jam, peran Tuhan seolah-olah dibatasi sebagai pembuat jam belaka, setelah itu diam dikejauhan dan membiarkan jam berjalan sendiri sampai rusak. Tuhan yang pensiun, deus otiosus, karena Tuhan tidak mempunyai pekerjaan lagi!

Fisiksa Newton berhasil secara spektakuler menjelaskan sejumlah besar fenomena fisis. Keberhasilan ini memunculkan perasaan yakin bahwa fisika Newtonian mampu menjelaskan semua peristiwa. Para ilmuwan yakin bahwa thr ultimste theory telah didapatkan. Keyakinan ini direpresentasikan oleh James Clerk Maxwell saat tampil memberi kuliah inaugurasi di Universitas Cambridge pada 1871. Mawll menyatakan optimismenya bahwa dalam waktu dekat, semua konstanta akan terestimasi. Alasanya, mekanika klasik dan elektrodinamika, persamaan mendasarnya selain dipandang mampu menggambarkan semua fenomena fisis juga telah memicu revolusi industri.

Konsep fisika Newtonian juga atelah diperluas hingga menjadi metafisika materialisme yang mencakup segala sesuatu. Selain itu, konsep ini juga menegaskan determinisme yang mengklaim bahwa jika kita mengetahui posisi dan kecepatan setiap partikel di alam, kita mampu memprediksi semua kejadian di masa depan. Pandangan yang didukung oleh Pierre Laplace ini bersifat reduksionis karena berasumsi bahwa entitas keseluruhan ditentukan sepenuhnya oleh perilaku komponen-komponen terkecilnya. Semua ini meneguhkan deisme dan secara agak ekstrem dinyatakan oleh Laplace saat menjawab pertanyaan Napoleon.

Suatu ketika Napoleon menemui Laplace dan berkata, “Tuan Laplace, orang-oang mengatakan sepada saya bahwa Anda telah menulis buku besar mengenai sistem alam semesta dan Anda tidak pernah menyebut Sang Pencipta.” Laplace memberi jawaban yang sangat terkenal, “Saya tidak membutuhkan hipotesis itu.” Bila sekedar hipotesis peran saja tidak diperlukan, jelas muskil berharap Tuhan menjadi tujuan dalam sains modern.

Pilar ketiga dan terpenting adalah bagaiamana atau dengan apa kita mencapai pengetahuan pilar epistemologis. Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar Nabi Saw, sekaligus merupakan sumer intelektuallitas dan spritualitas Islam. Ia merupakan pijakan bukan hanya bagi agama dan pengetahuan spritual, melainkan juga bagi semua jenis pengetahuan. Manusia mempunyai fakultas pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai alat memperoleh pengetahuan.
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS An-Nahl [16]: 78).

Manusia melalui fakultas tersebut memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber. Meskipun demikian, sumber dari segala sumber pengetahuan tidak lain adalah Tuhan yang Maha Mengetahui. Salah satu sumber pengetahuan adalah Al-Qur’an. Meski bukan kitab sains, Al-Qur’an mempunyai fungsi sebagai petunjuk bagi umat manusia secara keseluruhan sebagaimana dinyatakan dalam surah Al-Baqarah ayat 185:
Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda ....   

Al-Qur’an juga berfungsi sebagai penerang bagi seluruh umat manusia tanpa pandang bulu sebagaimana dinyatakan dalam QS Ali ‘Imrȃn (3): 138:
(Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

Fungsi petunjuk Al-Qur’an ini juga berlaku bagi kontstruksi ilmu pengetahuan dengan memberi petunjuk tentang prinsp-prinsip sains, khususnya selalu dikaitkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual. Artinya, dalam epistemologi Islam, wahyu dan Sunnah dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi bangunan ilmu pengetahuan. Jelas, hal ini bertentangan dengan sains modern yang pada awal kelahiranya dengan terang-terangan memproklamasikan perlawanan terhadap doktrin religius, gereja dan wahyu tidak mendapat tempat dalam bangunan sains.

Sains modern bahkan mengabaikan dan menyangkal segala aspek metafisik, spritual, dan estetis, jagat raya. Eddington dan Whitehead menyatakan dengan tepat bahwa sains modern adalah jenis pengetahuan yang dipilih secara subjektif karena hanya berurusan dengan aspek-aspek realitas alam semesta yang dapat dipelajari oleh metode ilmiah. Sains modern dibangun hanya dengan satu metodologi, yakni metodologi ilmiah yang di ddalamnya terkandung unsur logika, observasi, dan eksperimentasi.

Logika bukanlah khas sains modern, jauh sebelumnyapara ilmuwan dan filsuf muslim senantiasa menggunakan logika dan memandangnya sebagai suatu bentuk hikmah, bentuk pengetahuan yang sangat diagungkan Al-Qut’an. Di dalam penggunaan logika di kalangan sarjana muslim, terdapat istilah burhȃn, istilah yang menunjukan metode ilmiah demonstrasi atau bukti demonstratif. Al-Ghazali menyatakan bahwa istilah mizȃn yang biasa diterjemahkan sebagai timbangan, merujuk antara lain pada logika. Artinya, logika adalah timbangan yang dengannya manusia menimbang ide-ide dan pendapat-pendapat untuk sampai pada penilaian yang benar.

Seperti halnya logika, observasi dan eksperimentasi sudah tersebar luas di kalangan sarjanaa muslim jauh sebelum masa sains modern. Sebagaimana luasnya penggunaan logika tidak membawa pada rasionalisme sekuler yang memberontak kepada Tuhan, luasnya praktik eksperimental tidak mengiring pada empirisme yang memandang pengalaman indriawi  sebagai satu cara empiris untuk mengetahui sesuatu, metode ilmiah sains modern sulit dibedakan dari metode ilmiah sains Islam.

Sejarah ilmu pengetahuan modern sering menyebutkan bahwa peralihan dari pendekatan metafisis silogististik Aristotelian dalam tradisi Yunani ke observasi dan eksperimen terjadi pada masa renaisans Eropa dan ditandai oleh Novum Organon (logika baru) dari Francis Bacon. Penyelidikan yang cermat dan jujur akan mengakui bahwa observasi dan eksperimen telah menjadi bagian dari aktivitas yang tak terpisahkan dari para sarjana muslim enam atau tujuh abad sebelumnya.

Kenyataan tersebut memperlihatkan bahwa para sarjana muslim klasik bukan sekedar penerjemah dan penerus tradisi dan pola pemikiran Yunani. Para ilmuwan muslim juuga memberi kontribusi yang signifikan bagi ilmu pengetahuan, yakni observasi dan eksperimen. Pertanyaan yang relevan adalah apabila tradisi Yunani hanya mewariskan satu pola pendekatan atas berbagai fenomena yakni pendekatan metafisis silogistik, dari manakah para ilmuwan muslim mendapat ide orisinal yakni penggunaan observasi dan eksperimen dalam memahami ciptaan? Satu-satunya jawaban yang mungkin dan masuk akal adalah pesan yang berulang-ulang dengan redaksional yang berbeda-beda di dalam kitab Suci Al-Qur’an, seperti alam tarȃ, afalȃ taqilūn, afalȃ tubsirūn, afalȃ tatazakirūn, dan afalȃ tanzurūn untuk memahami feno-mena alam. Redaksional yang berbeda ini dapat saja dipahami secara estetis sebagai unsur keindahan dan variasi ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, pemahaman untuk pengembangan metode observasi dan eksperimen seperti yang telah dilakukan sarjana muslim terdahulu juga bukanlah hal yang aneh atau mengada-ada. Satu hal yang jelas bahwa semua itu telah menjadi jiwa, spirit, dan kerangka berpikir (frame of mind) para sarjana muslim generasi awal.

Dalam tatanan ini, epistemologi sains Islam adalah epitemologi sains modern plus atau diperluas, yakni plus penerimaan wahyu sebagai sumber informasi dan plus metodologi yang tidak tunggal atau kemajemukan metodologi seperti penerimaan  metode ta’wil. Metode terakhir ini terkait dengan upaya penyingkapan realitas lebih tinggi, yang hanya mungkin jika pikiran tercerahkan oleh cahaya iman dan disentuh oleh keberkatan yang tumbuh dari wahyu karena ruh ditiupkan pada yang menginginkanya. Bagi ilmuwan muslim, adalah hal yang niscaya untuk sering berdoa meminta pertolongan Tuhan dalam memecahkan masalah-masalah masalah maupun filosofisnya. Karena itu, dapat dimengerti mengapa penyucian jiwa dipandang sebagai bagian yang terpadu dari metodologi pengetahuan Islam.

..............

Pustaka:
Sofyan Abdul Rosyid (2011).Al-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan PT Mizan Publishing House. Bandung 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar