Jumat, 19 April 2013

Petani Oh Petani





siapa yang bercita-cita jadi petani??
pertanyaan inilah yang muncul pertama kali di benak ini. Dari badan pusat statitstik di yogyakarta menyebutkan bahwa jumlah penduduk di yogyakarta adalah 3457491 jiwa. Dari sekian banyak orang, diperkirakan sekitar delapan persen berprofesi sebagai petani.

Indonesia merupakan negara agraris. Pertanian dulu merupakan sektor utama. Masih ingatkah kita ketika Indonesia pernah mencapai swasembada beras. Lalu bagaimana sekarang? Sebagian besar anak petani pasti berusaha untuk tidak menjadi petani. Banyak yang kuliah dan mendapatkan pekerjaan baik guru, engineer, sales, karyawan swasta atau pun karyawan bumn. Beberapa lainnya yang tidak berkesempatan menjalani dunia perkuliahan memilih mengadu nasib di kota besar seperti Jakarta atau menjadi buruh. Jika kehidupan petani semakin tidak menjanjikan maka beberapa tahun lagi mungkin 15-20 tahun lagi petani tidak akan ada lagi.

Selama Maret 2013, dijumpai 6 observasi (24,00 persen) harga gabah di bawah HPP baik di tingkat petani maupun di tingkat penggilingan. (sumber bps yogyakarta)
Bahkan disebutkan bahwa nilai jual gabah pada bulan maret mengalami penurunan sekitar 11% dibanding bulan februari. Kebutuhan hidup semakin tinggi tetapi jumlah pendapatan tidaklah naik secara signifikan. Bahkan menurut situs wartapedia 5 maret 2012 disebutkan bahwa 50% pendapatan petani di yogyakarta berpenghasilan 500 ribu per bulan. Sebuah nilai gaji yang jika dibandingkan dengan UMR tentu masih kurang.

Sebagian anak muda mungkin sudah tidak tahu istilah pertanian terutama pertanian padi seperti ani-ani, tandur, daud, dll. Bahkan mungkin proses menanamnya pun tidak tahu. Semisal berapa hari benih harus ditanam, berapa jumlah pupuk per/m2, dll. Mungkin banyak lulusan sarjana pertanian tetapi belum tentu mau juga mengaplikasikannya secara langsung. Hal ini logis saja karena pertanian memang kurang menjanjikan.

Semoga di masa datang beberapa faktor yang menyusahkan petani seperti harga jual gabah yang kecil, permainan tengkulak, hama petani, susahnya pupuk berhasil diatasi.

sumber:
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2013/04/18/petani-oh-petani-552757.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar