Rabu, 01 Oktober 2014

FILSAFAT DAN MANUSIA YANG TIDAK PERNAH SELESAI



Bila kita berbicara mengenai tentang makna hidup maka itu berarti pula kita membicarakan mengenai arti menjadi manusia, karena hidup yang kita maksud disini bukanlah hidup dalam konteks vegetatif (nutritive, reproduksi dan tumbuh) maupun hidup dalam konteks animalia (instingtif,sensasional dan mobile) tetapi lebih dari itu, yaitu hidup sebagai hewan yang dapat berpikir - kalau kita meminjam istilah manusia menurut Aristoteles - atau hidup sebagai suatu makhlukh yang memiliki kesadaran.


Memikirkan manusia sama saja memikirkan sesuatu yang lebih luas dari pada ruang angkasa dan lebih dalam daripada samudera manapun. Manusia sampai sekarang adalah sesuatu yang tetap menjadi misterius, lebih misterius dibanding legenda manapun yang pernah di kuak oleh Arkeologi dan ilmu sejarah modern. Semakin banyak spesialisasi bidang ilmu pengetahuan yang objek materialnya adalah manusia semakin tebal pula hijab kemisteriusan manusia.


Dalam tradisi Ilmu Pengetahuan dan filsafat ada kesamaan tujuan saat melakukan penelitian, pembedahan ataupun penjelasan terhadap manusia yaitu mengetahui hakikat, essensi ataupun hukum yang merupakan intisari dari manusia sesuai dengan asumsi-asumsi serta metodologi yang mendasarinya. Hakikat manusia ini disebut dengan The Real I, setiap bidang pengetahuan ataupun aliran pemikiran memiliki interpretasi tersendiri terhadap the Real I.


Ironisnya semakin cabang-cabang ilmu dan pemikiran tersebut mengeksplorasi tema manusia secara tidak sadar telah terjadi proses detachment (penjarakan/pengelakan) yang berlapis (stratified) terhadap manusia dan kemanusiaan. Hal ini disebakan karena The Real I adalah sesuatu yang abstrak dan murni ide sedangkan dalam aktivitas pengkonsepsian dan teoritisasinya menggunakan bahasa yang sifatnya konkrit dan kondisional. Sehingga hakikat manusia dan kemanusiaan yang sifatnya universal telah terkotak-kotak dan terpotong-potong ke dalam manusia dan kemanusiaan yang relatif.
 

Tapi itulah tragedi dalam bidang pemikiran, kita harus rendah hati mengakui keterbatasan kita dalam membangun diskursus ataupun konsepsi tentang manusia, sebab sudah menjadi takdir kita terlempar dalam dunia dimana kita berada dalam struktur dan jejaring teks atau tanda. Tetapi hal itu tidak menjadikan kita orang yang pesimis dan tidak melakukan pengkonsepsian apapun terhadap manusia dan kemanusiaan kita, sebab pengkonsepsian kita adalah salah satu bentuk keterlibatan kita dalam kemanusiaan kita, sebab apalah artinya kita sebagai manusia tetapi kita absen dalam drama kemanusiaan.


Maka dari itu tulisan ini adalah hasil proses refleksi atau pemaknaan terhadap kemanusiaan. Proses pemaknaan adalah sesuatu yang memelihara kedirian manusia. Maka tidak selayaknya bila sebuah pemaknaan di paksakan pada pihak lain, hal ini hanya akan menghancurkan otonomi orang lain bahkan diri kita sendiri.


Sejak kita menjadi manusia, maka seringkali disadari ataupun tidak kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar seperti “Apakah Tujuan Hidup Kita ?”,”Apa perbadaan mendasar antara Manusia dengan Binatang ?”, “Apa makna kita hidup dalam dunia ini?” dan sebagainya.  

Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya disebut dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada beberapa cara yang dapat di tempuh apakah melalui dogma-dogma agama yang tertuang dalam teks-teks suci kegamaan, apakah melalui metode ilmiah atau biasa kita sebut dengan sains atau kita melakukan penalaran filsafatis.


Bila kita mencari jawabannya melalui dogma-dogma agama maka jalan ini tidak akan membawa pada kepuasan intelektual dikarenakan Religions way of knowledge yang seringkali tidak menggunakan argumentasi yang kritis di samping dominannya klaim kebenaran (truth claim) apalagi bila kita dihadapkan dengan pluralitas paham keagamaan, bayangkan apabila setiap agama memberikan jawaban yang dogmatik, maka hal ini akan membawa kita kepada kebingungan.


Sedangkan jika kita melalui jalan sains maka jawaban yang diperoleh adalah jawaban yang positivistik, alih-alih mengungkapkan sisi kemanusiaan kita yang dinamis malah yang terjadi adalah gambaran manusia yang operasionalistik mekanistik dan ini akan mereduksi kompleksitas dimensi keberadaan manusia. 


Untuk mengantisipasi kedua hal di atas maka kita dapat menggunakan penalaran filsafatis, filsafat dapat mengatasi cara berpikir dogmatik dari agama dan cara berpikir positivistik dari sains, dengan tidak menafikan fungsi dari agama dan sains, agama dan sains dapat dijadikan titik pangkal yang kemudian diperluas dan di elaborasi lanjut dengan pisau filsafat.


Tapi sekali lagi saya tekankan bahwa walaupun kita menggunakan pisau filsafat ini tidak berarti bahwa kita secara mutlak telah sampai kepada gambaran manusia apa adanya. Filsafat tidak bertendensi untuk mencari jawaban final tetapi untuk mencari kemungkinan pertanyaan-pertanyaan baru.


Salah satu titik pangkal (initial point) dari semua pembahasan filsafat adalah pengakuannya akan realitas, tergantung pada aliran filsafat yang bersangkutan apakah realitas yang dimaksud di sini hanyalah realitas material atau juga termasuk realitas ide, abstrak atau yang immaterial. Tapi di sini kita tidak akan mempertajam membahas hal tersebut.


Kita mungkin telah mengetahui apakah secara teoritif ataupun secara intuitif bahwa hal yang paling mendasar dari segala realitas apakah itu diri kita ataupun benda-benda yang ada disekitar kita atau realitas imajianal yang kita beri pengakuan padanya adalah keberadaan/wujud/eksisten. Keberadaan adalah fondasi atau prasyarat dari segala hal yang terjadi dalam realitas. Kalau kita membawanya ke dalam bahasa yang agak religius, keberadaan adalah limpahan anugerah paling awal yang diterima oleh realitas ini sebelum realitas tersebut melakukan atau dikenai kejadian apapun. 


Apalah artinya keharuman bunga mawar jika bunga mawrnya tidak memiliki kebaradaan, apalah artinya ketampanan apabila menusia yang dapat menyandang predikat tersebut belum menyandang keberadaan. Bahkan sebelum kita berpikir apa-apa yang sifatnya teoritik konseptual kesadaran akan keberadaan diri kita adalah sesuatu yang sifatnya primordial jadi sifatnya lebih intuitif dibanding hasil dari penalaran. Saya ada dulu sebelum saya membahas keberadaan dalam tulisan ini. Menurut saya kesadaran akan keberadaan adalah kesadaran yang tertua atau paling purba, kita tidak akan memakan makanan kalau kita tidak yakin jika diri kita ada dan objek makanan kita ada pula.


Setelah kita mengetahui bahwa diri kita ada, pertanyaan yang muncul adalah apakah ada perbedaan antara beradanya manusia dengan beradanya benda-benda dan makhlukh lain selain manusia. Jawabannya adalah positif. Secara intuitif pula kita dapat membedakan diri kita sebagai manusia dengan benda-benda mati di sekitar kita semisal batu, pasir dan meja begitu pula dengan tumbuhan dan binatang atau hewan. Kita sebagai manusia selalu merasa sewot dengan sekitar kita, kita sewot dengan tatanan rumah kita, kita sewot dengan cita rasa makanan kita, kita sewot dengan penampilan kita, kita sewot dengan kebradaan tumbuhan dan binatang disekitar kita, kita adalah makhlukh yang selalu ingin campur tangan terhadap alam ini.
 
Kita merasa bukan sebagai manusia yang utuh apabila kita hanya makan, buang air dan istirahat, kita membutuhkan sesuatu yang lain yaitu mengotak-atik secara kognitif dan pragmatis realitas disekitar kita. Itulah manusia tidak hanya eksisten/ ada secara sederhana/ ada dalam realitas tapi manusia melampaui itu, manusia bereksistensi/ ada secara dinamis/ bersama dalam realitas.


Manusia menyadari selalu ada perubahan pada dirinya dan lingkungannya apakah itu cepat atau lambat dengan kata lain manusia bukan hanya ada tetapi mansia selalu mengalami proses menjadi (becoming) dan ingin campur tangan dengan proses kemenjadiannya itu, dia ingin mengarahkan kemenjadiannya, dialah yang ingin meciptakan apa jadinya dirinya di masa depan. Itulah sebabnya mengapa manusia dalam filsafat perennial disebut dengan teomorfis atau makhlukh penjelmaan Tuhan di muka bumi, karena dia ingin menandingi kesibukan Tuhan.


“Kesibukan”, merupakan ciri manusia menurut Martin Heidegger. “Kesibukan” membuat manusia selalu resah dan tidak tenang. Dunia bagi manusia bukanlah sesuatu yang ‘apa adanya” tetapi keberadaanya selalu di “apakan” dan di “bagaimanakan”. Dunia bagi manusia bukanlah dunia yang telanjang, tetapi dunia yang dibungkus dengan persepsi-persepsi kemanusiaan.


Antara manusia dan dunia terjalin hubungan yang sangat mesra. Tanpa manusia kita tidak bisa membayangkan kata “dunia” sekalipun bisa lahir, karena “dunia” merupakan penanda yang sifatnya manusiawi terhadap petanda dunia riil yang berada diluar manusia, walaupun begitu penanda ini takkan bisa berhasil mewakili referensi objektifnya dengan transparan, selalu ada distorsi makna.Tanpa dunia manusia tidak akan ada, karena dunia merupakan rahim eksistensi manusia. Dunia membuat manusia menubuh, sekaligus panggung untuk menampakkan daya ruhaninya. 

Kesibukan manusia tidaklah hanya pada tataran pragmatis, tetapi juga terjadi pada tataran kognitif spiritual. Setiap saat manusia melakukan pemaknaan terhadap dunianya, menyanyakan ulang pemaknaan sebelumnya, manyangsikan dan membongkarnya. Dan pada saat manusia tak henti-hentinya memaknai dunianya, saat itu pula dia memkanai dirinya. Memaknai dunia secara terus-menerus berarti mereposisi dirinya secara terus menerus dalam jejaring dunia, dan menggali potensi kemanusiaanya secara terus-menerus.


Filsafat ada untuk membantu manusia memaknai dirinya dan dunianya. Filsafat akan terus menerus melahirkan pertanyaan-pertanyaan untuk mendeteksi kemungkinan-kemungkinan pemaknaan yang tiada batasnya. Kemungkinan-kemungkinan pemaknaan ini merupakan cermin bagi kemungkinan-kemungkinan cara mengada dari manusia. Dan ini tak, akan pernah selesai.
 

Sumber:

 
 




 


 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar