Rabu, 01 Oktober 2014

HAKIKAT MANUSIA




Pengantar
Sungguh beruntunglah kita karena diciptakan oleh Tuhan sebagai seorang manusia. Kita diciptakan sempurna dengan bentuk tubuh yang lengkap dan juga diberikan akal fikiran yang membuat manusia beda dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya.

Sebagai manusia, kita mempunyai hakikat dalam menjalani kehidupan kita didunia ini. Adapun hakikat dari kehidupan manusia yaitu makhluk, mulia, mempunyai beban, bebas, dan mendapatkan pembalasan.

Sehebat-hebat kita, kita hanyalah makhluk ciptaan Tuhan yang lemah. Kita hanyalah makhluk yang tidak dapat berjalan sendiri tanpa pertolongan dari Tuhan. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah dalam menjalani kehidupan ini, kita harus meminta pertolongan dari Tuhan sebagai penguasa kehidupan yang kita jalani saat ini.


Walaupun sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia merupakan makhluk yang diciptakan oleh Tuhan berbeda dari makhluk lainnya. Tuhan menjadikan manusia sebagai makhluk yang mulia karena diberikan akal fikiran kepadanya dengan tujuan agar manusia bisa menggunakan akal fikiran tersebut guna menjadi manusia yang taat pada Tuhan sebagai sang pencipta.


Sebagai makhluk yang mulia, manusia juga diberikan beban oleh Tuhan. Menjadi perwakilan Tuhan  di bumi, guna mengelola kekayaan bumi ini untuk kemakmuran manusia itu sendiri dan juga kemakmuran makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya.

Hakikat Manusia

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara yang lainnya karena kita dikaruniai akal, pikiran dan perasaan oleh Tuhan. Maka akan selalu memilih keputusan yang terbaik diantara yang kita putuskan.

Secara hakikat manusia memiliki beberapa pengertian sesuai dengan ke’diri’anya, meliputi:
  1. Makhluk yang memiliki tenaga untuk menggerakan hidupnya guna memenuhi berbagai kebutuhannya. 
  2. Individu yang rasional, bertanggungjawab atas tingkah laku intelektual dan sosial. 
  3. Mampu mengarahkan dirinya ke tujuan positif, mengontrol dirinya, dan mampu menentukan nasibnya sendiri. 
  4. Makhluk yang berproses, menjadi berkembang, dan terus berkembang, sampai dititik akhir kehidupannya. 
  5. Individu yang selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain, dan menjadikan kehidupan dunianya/lingkungannya menjadi berkualitas. 
  6. Individu yang memiliki ‘potensi’ baik dan dan tidak baik. 
  7. Individu yang ‘dipengaruhi dan mempengaruhi’ lingkungan sosialnya.

Kewajiban dan hak, merupakan indikator bahwa manusia sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupan, hak dimaknai sebagai sesuatu yang menyenangkan, sedangkan kewajiban dimaknai sebagai beban. Tapi menurut (Drijar Kara, 1978) kewajiban bukan beban, tetapi keniscayaan sebagai manusia, mengenal berarti mengingkari kemanusiaan, sebaliknya melaksanakan kewajiban berarti kebaikan. Pemenuhan akan hak dan pelaksanaan kewajiban berkaitan erat dengan keadilan, dapat dikatakan kedilan terwujud bila hak sejalan dengan kewajiban. Kemampuan menghayati kewajiban sebagai keniscayaan tidak lahir dengan sendirinya, tetapi melalui suatu proses pendidikan (disiplin)

Kehadiran manusia pertama tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Asal usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi.

Evolusi menurut para ahli paleontology dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu : Pertama, tingkat pra manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg Afrika Selatan pada tahun 1942 yang dinamakan fosil Australopithecus. Kedua, tingkat manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut. pithecanthropus erectus. Ketiga, manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu Homo walaupun spesiesnya dibedakan. Fosil jenis ini di neander, karena itu disebut Homo Neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo (Homo Soloensis). Keempat, manusia modern atau Homo sapiens yang telah pandai berpikir, menggunakan otak dan nalarnya.


Aspek-aspek hakikat manusia:


Sebagai Makhluk Tuhan
Manusia adalah subjek yang memiliki kesadaran (consciousness) dan penyadaran diri (self-awarness). Karena itu, manusia adalah subjek yang sadar akan keberadaannya, mampu membedakan dirinya atas segala sesuatu yang ada diluar dirinya (objek/alam) lain, dan sadar akan pemikirannya. Namun, manusia menyadari perbedaannya, bahwa dalam konteks keseluruhan alam semesta, manusia merupakan bagian dari padanya. 

Manusia berkedudukan sebagai makhluk Tuhan, maka dalam pengalaman hidupnya melalui fenomena kemakhlukan (MI Soelaeman; 1998). Fenomena ini, antara lain, adanya pengakuan atas kenyataan adanya perbedaan kodrat dan martabat manusia dari Tuhan-Nya. Manusia merasakan dirinya begitu kecil dan rendah di hadapan Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Tinggi. Manusia mengakui keterbatasan dan ketidakberdayaannya dibanding Tuhan-Nya Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Manusia serba tidak tahu, sedangkan Tuhan Serba Maha Tahu. Manusia bersifat fana, sedangkan Tuhan Bersifat Abadi. Manusia merasakan kasih sayang Tuhan-Nya, namun ia pun tahu pedih siksaNya.

Semua melahirkan rasa cemas dan takut pada diri manusia terhadap Tuhan-Nya. Tetapi dibalik itu, diiringi pula dengan rasa kagum, rasa hormat, dan rasa segan, karena Tuhan-Nya begitu luhur dan suci. Semua itu menggugah kesediaan manusia untuk bersujud dan berserah diri kepada Pencipta-Nya. Selain itu, sadar akan Maha Kasih Sayang Pencipta-Nya, maka manusia berdoa. Dengan demikian, dibalik rasa cemas dan takut, muncul adanya harapan yang mengimplikasikan kesiapan untuk tindakan dalam hidup dan kehidupannya.
 

Sebagai Makhluk Individu
Kesadaran manusian akan dirinya sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia. Manusia sebagai individu atau pribadi merupakan kenyataan yang paling riil dalam kesadaran manusia. Sebagai individu, manusia adalah satu kesatuan yang tak dapat dibagi, memiliki perbedaan dengan manusia lainnya sehingga bersifat unik, dan merupakan subjek yang otonom.
Setiap manusia mempunya dunianya sendiri, tujuan hidupnya sendiri. Masing-masing secara sadar berupaya menunjukkan eksistensinya, ingin menjadi dirinya sendiri atau bebas bercita – cita untuk menjadi seseorang tertentu dan masing – masing mampu menyatakan “inilah aku” ditengah segala yang ada. Setiap manusia mampu mengambil distansi, menempati posisi, berhadapan, menghadapi, memasuki, memikirkan, bebas mengambil sikap, dan bebas mengambil tindakan atas tanggung jawabnya sendiri atau otonom. Karena itu, manusia adalah subjek dan tidak sebagai objek.


Sebagai Makhluk Sosial
Manusia adalah makhluk individual, namun demikian ia tidak hidup sendirian, tak mungkin hidup sendirian, dan tidak pula hidup untuk dirinya sendiri. Manusia hidup dalam keterpautan dengan sesamanya. Dalam hidup bersama (bernasyarakat) setiap individu menempati kedudukan (status) tertentu. Disamping itu, setiap individu mempunyai dunia dan tujuan hidupnya masing-masing, mereka juga mempunyai dunia bersama dan tujuan hidup bersama dengan sesamanya. Selain dengan adanya kesadaran diri, terdapat pula kesadaran sosial pada manusia. Melalui hidup dengan sesamanyalah manusia akan dapat mengukuhkan eksistensinya. Sehubungan dengan ini Aristoteles menyebut manusia sebagai makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat.


Sebagai Makhluk Berbudaya

Manusia memiliki inisiatif dan kreatif dalam menciptakan kebudayaan, hidup berbudaya, dan membudaya. Kebudayaan bukan sesuatu yang ada diluar manusia, bahkan hakikatnya meluputi perbuatan manusia itu sendiri. Manusia tidak terlepas dari kebudayaan, bahkan manusia itu baru menjadi manusia karena dan bersama kebudayaannya (C.A. Vanpeursen,1957). Sejalan dengan ini Ernt Cassirer menegaskan bahwa “manusia tidak menjadi manusia karena sebuah faktor didalam dirinya, misalnya naluri atau akal budi, melainkan fungsi kehidupannya, yaitu pekerjaannya, kebudayaanya. Demikianlah kebudayaan termasuk hakikat manusia” (C.A. Vanpeursen, 1988).

Kebudayaan tidak bersifat statis, melainkan dinamis. Kodrat dinamika pada diri manusia mengimplikasiakn adanya perubahan dan pembaharuan kebudayaan. Hal ini tentu saja didukung pula oleh pengaruh kebudayaan masyarakat atau bangsa lain terhadap kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Selain itu, mengingat adanya dampak positif dan negatif dari kebudayaan terhadap manusia, masyarakat kadang-kadang terombang ambing diantara 2 relasi kecenderungan. Disatu pihak ada yang mau melestarikan bentuk lama (tradisi), sedang yang lain terdorong untuk menciptkan hal-hal yang baru (inovasi).


Sebagai Makhluk Susila
Sebagai makhluk yang otonom atau memiliki kebebasan, manusia selalu dihadapkan pada suatu alternatif tindakan yang harus dipilihnya. Adapun kebebasan berbuat ini juga selalu berhubungan dengan norma-norma moral dan nilai-nilai moral yang juga harus dipilihnya. Karena manusia mempunyai kebebasan memilih dan menentukan perbuatannya secara otonom maka selalu ada penilaian moral atau tuntunan pertanggung jawaban atas perbuatannya.


Sebagai Makhluk Beragama
Aspek keberagamaan merupakan salah satu karakteristik esensial eksistensi manusia  yang terungkap dalam bentuk pengakuan atau keyakinan akan kebenaran suatu agama yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku. Hal ini terdapat pada manusia manapun, baik dalam rentan waktu (dulu-sekarang-akan datang) maupun dalam rintang geografis dimana manusia berada. Keberagamaan menyiratkan adanya pengakuan dan pelaksanaan yang sungguh atas suatu agama. 
Dilain pihak, Tuhanpun telah menurunkan wahyu melalui utusan-utusanNya, dan telah menggelar tanda-tanda di alam semesta untuk dipikirkan manusia agar manusia beriman dan bertaqwa kepadaNya. Manusia hidup beragama karena agama menyangkut masalah-masalah yanag bersifat mutlak maka pelaksanaan keberagamaan akan tampak dalam kehidupan sesuai agama yang dianut masing-masing individu. Hal ini baik berkenaan dengan sistem keyakinannya, sistem peribadatan maupun berkenaan dengan pelaksanaan tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan manusia serta hubungan manusia dengan alam.

Kesimpulan
Manusia, adalah individu, bersosial, berbudaya, beretika, dan berAgama, yang terus berkreativitas dan berinovasi, didaratan dan lautan kehidupannya. Demi kebaikan, demi dunia-Nya.

(sumber: dari berbagai sumber)
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar