Kamis, 09 Oktober 2014

Implementasi Fisika Kuantum dalam Self Developement



Saat ini dunia telah memasuki abad Quantum. Segala sesuatu bisa terjadi secara instan dan begitu cepat. Banyak istilah Quantum yang bermunculan. Di dunia pendidikan kita mengenal Quantum Learning dan  Quantum Teaching yang merupakan suatu metode  percepatan dalam pembelajaran. Metode Quantum ini mengarah kepada cara memaksimalkan penggunaan otak kiri dan kanan, yaitu bagaimana membuat suatu lompatan proses belajar yang lebih cepat daripada metode konvensional.

Namun, ketenaran istilah Quantum ternyata tidak hanya dimonopoli oleh dunia pendidikan, tapi hampir segala bidang seperti dunia bisnis, manajemen, dunia anak, termasuk dunia spritual, sehingga kita mengenal perpaduan istilah Quantum dengan beragam kata-kata lain seperti Quantum Bisnis, Manajemen Quantum, Quantum do’a, Quantum Power, Quantum Energi, Quantum Ikhlas, dan lain sebagainya.

Pada tulisan ini, penulis akan membahas korelasi antara Ilmu  Sains dan Ilmu Sosial (Humanistis) yaitu Fisika Quantum dalam pengembangan kepribadian diri (Self Development) dengan pendekatan metode Quantum Ikhlas. Metode Quantum Ikhlas sendiri diperkenalkan oleh Erbe Sentanu yang merupakan suatu metode pengembangan diri dan meraih kesuksesan melalui manajemen gelombang frekuensi jantung dan perasan hati serta mengeksplorasi kesadaran kuantum agar bisa merasakan kebahagiaan dan mewujudkan impian secara cepat.

Terlebih dahulu penulis akan membahas tentang latar belakang perkembangan fisika kuantum dan selanjutnya membahas korelasi antara fisika kuantum dengan kehidupan dan hal-hal yang bersifat humanistis dan bagaimana pengaruh hukum tarik-menarik. Dan penulis juga membahas sekilas tentang Quantum Ikhlas.  Harapan penulis, semoga pembaca dapat mengambil manfaat dari tulisan ini.

Fisika Klasik vs Fisika Kuantum
Di dalam fisika terdapat dua pandangan, yaitu fisika klasik dan fisika kuantum. Fisika klasik dipelopori oleh Newton, sehingga disebut juga dengan pandangan fisika Newtonian. Konsep dari fisika Newtonian  adalah analitik, mekanistik dan deterministik. Dimana fenomena fisika yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari dan yang ada di semesta dibahas secara makroskopis (dalam skala makro) dan dapat diuraikan secara analitik berdasarkan hukum-hukum fisika yang pasti.   Bila keadaan awal diketahui dan semua medan gaya yang berpengaruh diperhitungkan maka perilaku suatu benda (posisi dan momentum, energi, dst) untuk waktu berikutnya dapat ditentukan. Hukum fisika ini dapat diterapkan mulai dari hal sederhana seperti jatuhnya buah apel hingga untuk perhitungan posisi planet-planet dalam tatasurya. Salah satu contoh yang menakjubkan dari hasil perhitungan Fisika Newtonian ini adalah ramalan tentang waktu gerhana bulan atau matahari sampai dalam orde detik dan ternyata cocok dengan hasil pengamatan.

Cara berfikir fisika klasik ini telah memicu kemajuan teknologi yang dimulai dengan revolusi industri di Eropa. Mesin-mesin dirancang dengan disain berdasarkan perhitungan analitik-mekanismitik yang pasti. Dan dalam tatanan filosofi, alam semesta merupakan mesin raksasa yang berputar secara terus menerus dan dapat diprediksi.

Pada akhir abad ke 19, para ilmuwan mulai membuat peralatan untuk investigasi benda-benda atom yang sangat kecil. Mereka menemukan sesuatu yang membingungkan.  Konsep fisika Newtonian tidak mampu lagi menjelaskan atau memprediksi apa yang mereka temukan di laboratorium. Ternyata kesuksesan fisika Newtonian hanya berlaku pada dunia makroskopis sebatas benda yang kasat mata dan bergerak dengan kecepatan jauh di bawah kecepatan cahaya. Fisika klasik terbukti gagal untuk menjelaskan fenomena mikroskopik pada skala atom. Sejak itu, muncul  ilmu fisika modren yang meliputi fisika kuantum yang dipelopori oleh Bohr, Heisenberg, Schodinger dan lain-lain,  dan teori  relativitas yang diungkapkan Einstein.

Fisika kuantum mempunyai implikasi yang sangat luas pada perubahan peradaban manusia. Penjelasan tentang atom, molekul dan zat padat telah melahirkan material semikonduktor, laser, dan chips mikroskopis yang menghasilkan akselerasi kemajuan di bidang teknologi dan informasi. Implikasi filosofis fisika kuantum lebih dasyat diantaranya tentang prinsip ketidakpastian Heisenberg  dan participating observer (hasil eksperimen tergantung pada pengamat dan suatu realitas tidak akan terjadi sebelum kita benar-benar mengamatinya) sehingga pada dunia subatomik, hukum fisika tidak lagi merupakan suatu kepastian, tetapi gerak partikel diatur oleh konsep probabilitas.

Dalam teori kuantum setiap keadaan partikel (posisi, momentum, energi, dst) dihubungkan berdasarkan suatu eksperimen. Ketika formulasi telah dirumuskan maka perilaku partikel dapat diprediksi. Schrodinger menunjukan bahwa perilaku partikel dapat ditunjukan oleh sebuah persamaan matematis gelombang. Namun, persamaan ini tidak memberikan informasi apapun tentang keadaan partikel sebelum suatu eksperimen benar-benar dilakukan, dengan kata lain persamaan tersebut meramalkan dua hasil kemungkinan secara sepadan. Dalam percobaan celah ganda, tampak bahwa hasil pengamatan tergantung kepada cara eksperimen dilakukan. Partikel tersebut tidak punya sifat ”asli”. Dan dalam  sebuah eksperimen lain yang dikenal dengan kucing Schrodinger (Dewiit, 1970) bahwa partikel mempunyai sifat dualisme yaitu bisa dipandang sebagai partikel dan sebagai gelombang yang disebut dengan dualisme gelombang partikel merupakan konsekuensi pengembangan teori Kuantum.

Pandangan yang menunjukan indeterminisme ini menimbulkan kontroversi yang cukup ramai di kalangan ilmuwan. Bahkan Einstein yang pada awal turut serta membangun teori Kuantum (pada kasus efek fotolistrik) menentang konsekuensi filosofis teori Kuantum ini, sampai-sampai dia berucap ”Tuhan tidak bermain dadu”. Dalam debat melawan Bohr dan kawan-kawan, argumentasi Einstein tentang determinisme selalu dapat dipatahkan. Sehingga sampai saat ini teori Kuantum yang meskipun ”agak edan” tetapi terbukti merupakan teori yang dapat menerangkan dunia mikroskopis dan mempunyai manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Memasuki Realitas Kuantum
”Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) baik di bumi dan di langit” (QS. Yunus : 61).
Apa sebenarnya yang akan terjadi ketika sebuah benda dibelah terus-menerus hingga ke tingkat materi yang sangat kecil. Dan materi terkecil itu pun terus dibelah dengan alat pemecah atom partikel accelerator ?. Berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan fisika kuantum, dapat dijelaskan bahwa suatu benda padat merupakan kumpulan dari molekul. Sementara molekul itu berasal dari semua atom dan partikelnya. Dan partikel subatom yang sangat kecil itu berasal dari suatu energi vibrasi (getaran) halus yang dinamakan quark, string atau biasa disebut quanta yang ”tak tampak” wujudnya.
Segala sesuatu di seluruh alam semesta ini merupakan bagian dari energi quanta. Apapun yang kita lihat di sekeliling kita tersusun dari energi quanta. Di level quanta semua benda sebenarnya menyatu dan tidak terpisah. Jika semua benda diinvestigasi dari dekat-dengan mikroskop nuklir misalnya-maka tampak jelas bahwa mereka tidaklah padat sama seklai, melainkan terdiri dari rongga-ronga yang berisi getaran energi quanta yang bergerak sedemikian cepatnya sehingga ”terlihat” padat oleh indra penglihatan kita dan ”terasa” padat oleh indra peraba kita. Seperti film kartun yang tampak bergerak di layar TV padahal sebenarnya merupakan kumpulan gambar tak bergerak yang dipaparkan secara cepat sehingga terlihat hidup. Inilah yang disebut ilusi atau kefanaan.

Hal yang menarik dari realitas kuantum ini adalah bahwa pada level yang semakin dalam dan halus, energi yang dikandungnya justru semakin besar. Energi nuklir yang lebih halus misalnya, berjuta-juta kali lebih dahsyat dibandingkan energi kimia. Kekuatan kuantum adalah kekuatan alam yang belum banyak dimanfaatkan secara tepat oleh kebanyakan orang. Padahal realitas kuantumlah yang harus kita ubah sebelum realitas fisiknya bisa kita lihat dan nikmati. Dan realitas kuantumlah ini sebenarnya yang kita akses dan kita olah dalam kehidupan keseharian kita. Kemudian, muncul pertanyaan bagaimana unsur quanta ini memberi andil bagi kehidupan kita, bagaimana cara kerjanya pada pikiran, perasaan dan terkabulnya pengharapan kita pada sesuatu hal? Bisakah kita mengatur energi ini untuk mengubah nasib menuju lebih baik?

 Quantum Connectin. Hubungan Alam Perasaan dan Alam Kuantum



Hukum Tarik Menarik (The Law of Attraction)
“Aku sesuai dengan prasangka hambu-Ku kepada-Ku” (hadist Qudsi).
Seperti yang telah dijelaskan oleh Fisika Kuantum, seluruh isi alam pada intinya hanyalah getaran vibrasi semata. Getaran gelombang vibrasi bertingkat dari getaran yang paling lambat sampai getaran yang paling cepat. Benda memiliki gelombang yang paling lambat getarannya adalah semua yang bisa diraba, dilihat, dikecap, dicium dan didengar. Dan benda yang gelombang getarannya paling cepat ialah realitas yang ghaib (tidak tampak) dan hanya bisa dirasakan seperti kebahagiaan, cinta dan kasih sayang. Semua benda yang tidak tampak seperti pikiran dan perasaan memiliki getaran vibrasi yang lebih cepat dan lebih kuat. Dan siapa yang terampil menggunakannya akan memiliki kehidupan yang lebih mudah dan lebih baik keadaannya.

Untuk  meraih dan menikmati sukses hidup yang total tanpa hambatan, kita perlu menyadari bahwa  hidup dapat  dianalogikan  seperti  seorang pelukis yang dihadiahi sebuah kanvas maha besar lengkap dengan semua peralatan gambar yang dibutuhkan.  Kita  bebas melukiskan apa saja yang ingin kita buat. Apakah lukisan yang indah dan bermakna atau lukisan yang jelek dan tidak bermakna.

Demikian pula halnya dengan alam semesta, sesuai dengan teori quantum bahwa inti dari alam semesta pada dasarnya adalah getaran vibrasi semata. Apa yang kita pikirkan dan yang kita lakukan akan memancarkan getaran yang nantinya akan menciptakan gelombang kepada alam semesta dan selanjutnya alam akan merespon sesuai dengan yang kita pancarkan. Hukum daya tarik menarik (The Law of Attraction) menyatakan bahwa ” Sesuatu akan menarik pada dirinya segala hal yang satu sifat dengannya.” Dan Elizabeh Towne juga menyatakan bahwa manusia adalah magnet, dan setiap detail peristiwa yang dialaminya datang atas daya-tarik (undangan) nya sendiri.  Ini menjelaskan bahwa diri kita adalah sebuah magnet besar yang selalu menarik apa saja sesuai dengan fokus dari apa yang sedang kita pikirkan dan rasakan. Sehingga jika kita berpikir kesulitan, kita tidak akan bisa menarik kemudahan Jika kita berfikir kekurangan, kita tidak bisa menarik kekayaan. Jika kita berpikir gemuk, kita tidak bisa menarik kurus. Oleh karena hal tersebut bertentangan dengan hukum tarik-menarik yang berlaku. Jadi biasakanlah diri kita dengan hukum tarik-menarik sehingga kita dapat menggunakan dengan sengaja untuk menarik segala sesuatu yang kita inginkan.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kita sebenarnya ikut menciptakan kenyataan hidup kita sendiri, apapun kenyataan yang terjadi. Melalui kekuatan hukum tarik-menarik kita menarik apa pun yang paling sering kita pikirkan, apakah kita menginginkannya atau tidak.

Jadi, jika kita selalu memikirkan apa ”yang kita suka”, hidup kita akan dipenuhi oleh hal itu. Dan sebaliknya, jika kita selalu memikirkan hal-hal ”yang tidak kita suka” maka yang akan terjadi dalam hidup kita pun akan mencerminkan hal itu.

Tuhan selalu mengabulkan doa setiap orang. Dan Ia mengabulkan doa yang ada di hati manusia, bukan yang terucap di mulut. Yang ada di hati adalah sama dengan apa yang selalu kita pikirkan (fokuskan). Jadi, ketika kita memikirkan sesuatu (positif atau negatif) terus menerus, artinya kita sedang mengarahkan energi vibrasi kita ke sana. Oleh karena sifat pikiran kita yang luar biasa, energi tersebut mulai berkumpul untuk akhirnya mewujudkan (menarik) sesuatu yang sesuai dengan fokus pikiran kita.

Quantum Ikhlas
Kebanyakan orang meyakini bahwa dalam hidup ini ia harus berjuang meraih keinginannya dengan berusaha keras, membanting tulang hingga tetes darah penghabisan. Tuntunan agama menjanjikan berbagai kemudahan atau kesuksesan akan datang menghampiri jika dalam ikhtiarnya manusia berhasil bersyukur, menikmati prosesnya, dan menyerahkan seluruh urusan dan kepentingan hanya kepada Tuhan. Inilah kompetensi ikhlas.

Ikhlas sebagai keterampilan atau skilI, yang lebih bercirikan  silent operation dari pikiran dan perasaan yang ”tak tampak” memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Ikhlas bukan hanya diucapkan di bibir atau dipikirkan di kepala, melainkan keterampilan untuk menciptakan ”peristiwa keikhlasan” di dasar hati yang terdalam.

Nasib seseorang mencerminkan karakternya. Sementara karakter itu berasal dari semua kebiasaan serta tindakannya. Dan tindakannya berasal dari pikirannya yang bermuara dari perasaannya. Nasib, karakter, kebiasaan dan tindakan adalah sesuatu ”yang tampak”. Sementara pikiran dan perasaan adalah energi kuantum ”yang tak tampak”. Dan kenyataan kuantum ini mengatakan bahwa kita bisa ”mengatur” perasaan untuk mengubah nasib kita.
Di dalam buku terbarunya, The Spees of Trust, Stephen M.R. Covey menuliskan: untuk meraih tujuan hidup pribadi dan bahkan di dunia korporat ”tidak ada sesuatu yang bisa melebihi kecepatan trust”. Memang benar, sifat percaya kepada orang lain berasal dari rasa percaya terhadap diri sendiri dan Tuhan adalah salah satu unsur utama ikhlas. Sehingga aplikasinya tentu akan mengaktivasi gerakan kuantum yang memiliki daya dorong, daya pukul, dan tenaga yang sangat dahsyat menuju tercapainya tujuan secara cepat. Kita mungkin pernah melihat disekitar kita, ada beberapa orang yang terampil menerapkan sikap ikhlas dalam hidupnya. Kita mendengar keajaiban yang mereka alami dalam lingkungan sosial dan keluarganya, keberuntungan yang mereka temukan dalam bisnis dan berbagai hal lain yang sepertinya tak masuk akal. Tapi semua itu bisa dimengerti, karena begitu kita mengikhlaskan sesuatu,  maka kita telah menyerahkan hal itu kepada Yang Maha Kuasa sehingga kecerdasan Tuhanlah yang bekerja pada diri kita dengan mekanisme yang sulit dipahami oleh pikiran manusia.

Ketika manusia benar-benar ikhlas, saat itulah doa atau niatnya ”berjabat tangan” melakukan kolaborasi dengan energi vibrasi quanta. Sehingga, melalui mekanisme kuantum yang tak terlihat, kekuatan Tuhanlah yang sebenarnya sedang bekerja. Inilah arti dari quantum ikhlas.

Seperti diriwayatkan oleh Imam Ja’far dalam kitab Al Bihar : ”Apabila seorang hamba berkata : ”Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allaah’ maka Allah menjawab, ’Hai para malaikat-Ku, hamba-Ku telah ikhlas berpasrah diri, maka bantulah dia, tolonglah dia dan sampaikan (penuhi) hajat keinginannya.”’

Metode quantum ikhlas merupakan suatu metode menata  (meMANAJEMEN) gelombang pikiran (otak) dan jantung (hati) untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan hidup yang optimal. Gelombang otak dapat dibagi menjadi :
  1. Beta (14 – 100 Hz). Dalam frekuensi ini seseorang sedang dalam kondisi terjaga atau sadar penuh dan didominasi oleh logika. Di kondisi ini otak kiri aktif digunakan untuk berfikir dan kosentrasi sehingga merangsang otak untuk mengeluarkan hormon kortisol dan norefinefrin yang menyebabkan cemas, khawatir, marah dan stress. 
  2. Alfa (8 – 13, 9 hz). Orang yang sedang rileks, melamun, atau berkhayal gelombang otaknya berada dalam kondisi ini. Dalam kondisi alpha otak memproduksi hormon serotin dan endorfin yang menyebabkan seseorang merasa nyaman, tenang dan bahagia. Hormon ini membuat imunitas tubuh meningkat, pembuluh darah terbuka lebar, detak jantung stabil dan kapasitas indra kita meningkat. Kondisi inilah kita dapat merasakan rasa ikhlas yang membuka akses menuju realitas kuantum 
  3. Theta (4-7,9 Hz). Pada frekuensi ini pikiran menjadi sangat kreatif dan inspiratif. Seseorang yang berada dalam gelombang ini berada dalam kondisi khusyuk, relaks yang dalam, ikhlas, pikiran sangat hening dan intuisi muncul. Hal ini dikarenakan otak mengeluarkan hormon melatonin, catecholamine dan AVP (arginine-vasopressin). Di gelombang ini akses ke realitas kuantum akan terasa semakin nyata.
4.    Delta (0,1 – 3,9 Hz). Frekuensi ini memancar saat seseorang tertidur pulas tanpa mimpi, tidak sadar dan tidak berfikir. Di gelombang ini otak mengeluarkan HGH (human Growth Hormon/ hormon pertumbuhan) yang bisa membuat sesorang awet muda. Bila sesorang tidur dalam keaadaaan Delta yang stabil, kualitas tidurnya sangat tinggi, meski hanya tidur beberapa menit, ia akan bangun dengan tubuh tetap merasa segar.

Kehidupan kita ditentukan oleh pikiran dan perasaan. Pikiran dibagi pada pikiran sadar dan bawah sadar. Pikiran sadar menyumbang 12 % dari kekuatan pikiran kita, sedangkan sisanya 88 % kekuatan pikiran adalah dari pikiran bawah sadar. Pikiran sadar diasosiasikan dengan gelombang Beta. Dan bawah sadar diasosiasikan dengan gelombang alfa dan theta.

Sayangnya, kita tidak terampil untuk menggunakan kekuatan bawah sadar kita. Betapa tidak, setiap hari kita hanya bergerak di dalam gelombang Beta (bangun tidur langsung berfikir tentang rencana kerja hari ini, kemudian bekerja dan menjalankan aktivitas harian) dan Delta (pulang kerja merasa lelah, mengantuk dan akhirnya tertidur) tanpa melalui Alfa dan Theta.

Kesuksesan kita untuk melakukan perubahan sangat ditentukan oleh kualitas frekuensi otak alfa dan theta kita. Karena dalam kondisi gelombang ini kita bisa membuka akses kekuatan bawah sadar yaitu kekuatan hati (perasaan) kita. Dan saat terbuka itulah kita bisa memasukkan program-program kita yaitu niat dan doa-doa kita.  Karenanya semakin pandai kita masuk ke alfa dan theta semakin mudah pula hidup kita. Kemudahan dalam urusan bisnis dan karier, percepatan proses belajar, penyembuhan diri sendiri, hubungan baik dengan semua orang termasuk mengamalkan perintah agama untuk meraih ketenangan. Inilah mekanisme keikhlasan yang terjadi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar