Rabu, 30 Januari 2013

Asal Mula Penciptaan Wanita




Gratisan Musik
Ketika Tuhan menciptakan wanita, DIA lembur pada hari ke-enam. Malaikat datang dan bertanya,”Mengapa begitu lama, Tuhan?”
Tuhan menjawab: “Sudahkan engkau lihat semua detail yang saya buat untuk menciptakan mereka?"
“Tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik. Setidaknya terdiri dari 200 bagian yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga banyak anak saat yang bersamaan. Punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan… , dan semua dilakukannya cukup dengan dua tangan ini ”
Malaikat itu takjub.
“Hanya dengan dua tangan?....impossible!“
Dan itu model standard?!
“Sudahlah TUHAN, cukup dulu untuk hari ini, besok kita lanjutkan lagi untuk menyempurnakannya“.
“Oh.. Tidak, SAYA akan menyelesaikan ciptaan ini, karena ini adalah ciptaan favorit SAYA”.
“O yah… Dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri, dan bisa bekerja 18 jam sehari”.
Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita-ciptaan TUHAN itu.
“Tapi ENGKAU membuatnya begitu lembut TUHAN ?”

“Yah.. SAYA membuatnya lembut. Tapi ENGKAU belum bisa bayangkan kekuatan yang SAYA berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa.“
“Dia bisa berpikir?”, tanya malaikat.
Tuhan menjawab:
“Tidak hanya berpikir, dia mampu bernegosiasi."
Malaikat itu menyentuh dagunya....

“TUHAN, ENGKAU buat ciptaan ini kelihatan lelah & rapuh! Seolah terlalu banyak beban baginya.”
“Itu bukan lelah atau rapuh....itu air mata”, koreksi TUHAN
“Untuk apa?”, tanya malaikat
TUHAN melanjutkan:
“Air mata adalah salah satu cara dia mengekspressikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan kebanggaan.”
“Luar biasa, ENGKAU jenius TUHAN” kata malaikat.
“ENGKAU memikirkan segala sesuatunya, wanita- ciptaanMU ini akan sungguh menakjubkan!"
So pastiiii....!!!
Wanita ini akan mempunyai kekuatan mempesona laki-laki. Dia dapat mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki.
Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri.
Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.
Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya.
Mampu berdiri melawan ketidakadilan.
Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik.
Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya. Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat.
Cintanya tanpa syarat.
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang.
Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa .
Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.
Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan kematian.
Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup.
Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.
Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita:
Mereka tidak mengerti betapa berharganya mereka,,


sumber:
 http://kehadiran-makna.blogspot.com/2012/03/asal-mula-penciptaan-wanita.html

Dalam Sadar, Aku, Mencarimu!




Gratisan Musik

Syahdan…!
Kata “orang,” keyakinan itu seperti menikmati buah – buahan. Yang kau butuhkan adalah realita untuk merasakan. Sehingga meskipun pedang merobek tenggorokan dan jiwamu hilaang melayang, kau tetap bertahan! Bagaimana mungkin ketika kau t’lah mengenal rasa mangga, dengan sensasi yang menyegarkan ; bisa berubah hanya karena todongan revolver, yang memaksamu untuk mengakui bahwa rasa mangga, tak ubahnya seperti Ricinus comunis yang mematikan!

Munafik, jika kau berkata “YAKIN” dengan segala sesuatu, sedangkan kau tak mengenalinya! Roman selalu mengajarkan hal yang sama. Yaitu kisah cinta eksklusif penuh misteri! Saat kau mengungkap rasa, frekuansi getaran terlontar menuju otak sang penerima. Maka yang merasa menangkap energy “sama,” yang kau pancarkan lewat kata! Sedangkan kata adalah kosong!

Suara bersatu dalam gelombang, yang berjalan menelusuri hutan, lereng pegunungan, serta lautan. Mencari receiver yang meminta datang. Entah pada hewan yang ber-insting, manusia yang berakal, maupun mesin yang kau ciptakan. Kau mengatakan memiliki pandangan ini, kau pun mengatakan pemilik pandangan itu. Namun sialnya, kau tak pernah tahu tentang realita dari apa yang kau pikirkan. Selalu saja kau amati buah mangga itu, dan kau pun tak merasakan sensasi yang terkandung!

Sang materi bernama aku, tercipta dari atom, membentuk senyawa dalam raga! Namun aku ragu, apakah inti materi benar - benar ada? Dan jika inti materi benar – benar kosong, lalu siapakah gerangan yang menggerakkan? Maka berhentilah menyalahkan alam! Alam, yang ”katanya” menghukummu. Sebab ia adalah harmoni yang tercipta dari tanah dimana kau dikuburkan!

Maka ber-tranformasilah ia menjadi air; uap dan udara, racun dan obat, baik dan buruk, salah dan benar, positif serta negatif! Maka semuanya dikembalikan kepadamu, untuk memilah, memilih dan meraskan. Sekali lagi wahai fulan, jangan pernah salahkan alam! Siapakah aku, dan siapakah engkua? Hanya kau dan aku, yang mampu menjawabnya!
1356936301409294597
My Lord show me right from wrong
Give me light make me strong
I know the road is long
Make me strong
Sometimes it just gets too much
I feel that I’ve lost touch
I know the road is long
Make me strong


Source : Make Me Strong
kompas, opini sofyan salim, 30/03/2013

sunyi..




Gratisan Musik
sunyi..
sunyiiiiii..... dlm kesendirian..
aku sudah melupakan tangis, kesedihan, dan air mata..
yg ada saat ini....hanya gemercik AIR dan keharumana ALAM.........
...menyatu bersama keharuman tubuhmu..
... ..HARUM...
........ di keharuman alam...
................SORE.alias SENJA......


@aku, keharumanmu dan alam... sulawesi tengah...

Redenominasi: Dari Sisi Para Koruptor


Persetan dengan hitung-hitungan ekonomi.  Karena tergantung siapa ekonomnya.  Karena hanya utak-atik untuk kelompok tertentu.  Dan rakyat akan selalu terpuruk.  Termasuk saat redenominasi rupiah kembali digulirkan.  Dan digembar-gemborkan dan menyita begitu banyak energi bangsa.

Oh, iya, saya hanya ingin melihat sisi lain redenominasi.  Ternyata, redenominasi akan menguntungkan para koruptor.  Para koruptor kakap akan mengubah dirinya menjadi koruptor teri dan akan terbebas dari jerat hukum.  Karena, mereka yang mengorupsi uang negara hingga ratusan milyar, akan menjadi koruptor ratusan juta saja saat redenominasi tiba.

Betulkan?

Kalau saya koruptor, saya akan mati-matian membela redenominasi.  Saya akan sumbangkan uang saya untuk menggolkan undang=undangnya.  Membiayai sosialisasinya (tentunya sesuai dengan misi saya).  Karena saya akan mendapat keuntungan berlipat.  Juga terhindar dari jerat.

Redenominsai, paling pertama diuntungkan adalah para koruptor.  Sedang rakyat, akan tetap miskin.  Bahkan bertambah miskin.  Karena akan muncul inflasi darai permainan harga para kapitalis.

Masih perlukan tenaga bangsa ini untuk memikirkan redenominasi?

Sementara narkoba, kerusuhan sosial, dan banyak lagi masalah lain yang lebih penting tak juga tersentuh dengan sepenuh hati.  Di mana hati nurani negeri ini?


sumber:
kompasiana, opini Mochamad Syafei, 30/01/2013

Inovasi Teruslah Berinovasi

Siapa penentu terjadinya inovasi pada sebuah organisasi atau usaha bisnis? 
Para penganut aliran ‘manusia adalah roh organisasi’, akan menjawab SDM-nya. 
Para penganut strukturalisme organisasi, akan menjawab departemen penelitian dan pengembangan (Litbang) atau unit R&D (research and development). 
Para penganut otokrasi, akan menjawab ”Bos”. Karena Bos adalah penentu inovasi satu-satunya dan segala-galanya. 

< “Inovasi manajemen: Kebebalan, disasosiasi dan perubahan” ~ James W. Sasongko >

Inovasi wajib dipahami dan dilaksanakan para pelaku bisnis jika ingin usahanya eksis dan sukses di pasar. Tanpa inovasi rasanya kurang keren, mati gaya, sulit maju dan ketinggalan jaman alias jadul (jaman dulu). Apakah perusahaan Anda ingin maju? Lakukan Inovasi, Inovasi dan Inovasi, segera!!!

Menurut wikipedia, inovasi berasal dari bahasa Inggris Innovation, dan dalam kosakata baku bahasa Indonesia disebut reka baru. Inovasi adalah proses/hasil pengembangan pemanfaatan/mobilisasi pengetahuan, keterampilan (teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk (barang/jasa), proses/sistem baru yang memberikan nilai signifikan pada bidang ekonomi dan sosial. 

Dalang Inovator
Ki Enthus Susmono, disebut “dalang kontemporer”, karena menampilkan wayang berwajah Tukul Arwana, Presiden Amerika Barack Obama, Almarhum Gus Dur, Superman dan beberapa tokoh terkenal lainnya. Di acara Bukan Empat Mata (Episode 886), Tukul Arwana bertanya, mengapa ia dijuluki dalang kontemporer, ’’Kalau saya tampil sebagai dalang biasa, berapa lama waktu saya untuk dikenal luas masyarakat? Sekarang jamannya orang dituntut berinovasi dan berprestasi, makanya saya harus menampilkan sesuatu yang beda.” jawabnya. Lebih lanjut dikatakan, “Ada satu pertanyaan yang mengganjal pikiran saya, apakah 20 tahun mendatang, wayang masih disukai penonton? Kalau hanya menyuguhkan cerita wayang seperti saat ini, saya khawatir tidak ada satu orangpun yang suka dan wayang akan ditinggalkan penontonnya.”

Seorang dalang konvensional akan taat pada pakem perwayangan. Artinya bentuk wayang, tutur bicara dalang, urutan tampil, alur cerita, tata bahasa serta nyanyian para sinden ~~ nyaris serupa walau tak sama. Ki Enthus sengaja memasarkan personal “dalang” branding nya melalui ’’bertutur kata kasar’’. Menurut harian Suara Merdeka Semarang (8 Juli 2002), Ki Enthus Susmono adalah dalang inovator yang identik dengan ”Dalang Asu” (asu bahasa jawa = anjing, Red). Setiap kali menggelar pertunjukan, dia sering menggunakan kata “asu” sebagai sapaan akrab kepada penonton. Julukan itu melekat dan menjadi ciri khas yang membedakannya dari dalang lain. Inovasi dan kreasi yang diciptakannya memang berkonotasi negatif tetapi bagi penonton justru karakter ”pasaran” tersebut menarik dan bisa diterima. Gaya bicara ”kasar” membuat dirinya terkenal di tingkat lokal, nasional bahkan internasional. Sukses Ki Enthus ditentukan oleh selera masyarakat penonton, bukan oleh pakar-pakar pewayangan yang mengacu kepada pakem baku yang cenderung satun, mendidik dan beradab.

Inovasi dan Followers
Sebuah langkah inovasi yang sukses selalu diikuti oleh followers (pengikut, peniru, penjiplak, pembonceng atau apapun namanya). Siapa yang tidak kenal dengan rokok mild pertama? Saat pasar belum mengenal rokok mild, perusahaan rokok ini mengedukasi pasar dengan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Serta menyedot banyak energi dan sumber daya perusahaan. Berkat ketekunan dan kegigihan yang konsisten, langkah inovasi ini akhirnya dapat menggugah rasa penasaran konsumen untuk mengenal dan jatuh cinta. Mereka hadir menawarkan nilai life style baru “merokok mild lebih aman dibanding merokok reguler atau konvensional”. Mereka seolah berkata, “Teruslah merokok tetapi dengan cara yang lebih sehat”. 

Sebagai inovator rokok mild pertama, sukses yang diraih tidak identik dengan dominasi pasar. Mengapa? Rokok mild ini hadir mengambil porsi sebagai produk premium dengan harga jual eceran tinggi. Kendala harga ditambah luasnya jangkauan pasar, membuat mereka tidak mampu mendominasi semua potensi pasar. Bagi followers peluang ini terbuka tuk masuk dan bermain di level “rokok murah” (low price). Mereka berlomba masuk pasar, mengekor, menguntit, mengincar dengan tanpa rasa sungkan. Konon beberapa brand justru sukses merebut pasar dan eksis sampai sekarang. 

Berapa jumlah followers yang ikut bermain di pasar mild saat ini? Banyak sekali, melebihi hitungan seluruh jari kaki ditambah jari tangan. Siapakah mereka? Pemodal besar dan kecil. Mereka berlomba adu cepat memperebutkan pasar rokok Mild. Dan dalam sekejab, pasar penuh sesak. Seakan tidak ada lagi sisa ruang bagi mereka yang datang terlambat. “Pat pat gulipat, kedua tangan dilipat. Siapa suruh datang terlambat, Anda sudah kehabisan tempat”. Pantun yang tepat tuk mengingat bahwa pepatah mengatakan, “siapa cepat dia dapat” yang artinya kalau terlambat sudah pasti kehabisan tempat (pasar).

Dari sini bisa dipetik hikmah, kalau ingin melangkah sebagai inovator, berkreasilah melalui produk/jasa yang belum pernah ada. Hadirlah sesuai dengan selera konsumen. Kuasai pasar seluas-luasnya untuk meraih keuntungan sebanyak banyaknya. Sadarilah, bahwa sukses inovasi (produk/jasa) tidak akan berselang lama. Para pesaing (followers) akan segera masuk dan meniru semuanya. Prinsip mereka, kalau bisa meniru (followers) kenapa bersusah payah menjadi pelopor (trend setter)?. Mengapa (Why)?

Sebagai pelaku bisnis, apapun jualannya yang penting profit. Soal etika “di cap” sebagai peniru, penjiplak, plagiat, pengekor dll bisa diselesaikan belakangan. Kalau digugat si pelopor utama, ya diusahakan jalan damai. Kalau tidak di gugat yah … dilanjutkan!. Intinya, kalau bisa dipermudah mengapa dipersulit? Kalau bisa sederhana mengapa dibikin rumit? Ini hanya sebuah ulasan, bagaimana pendapat Anda?



 sumber:
kompasiana, opini, Empu Swarnam, 30/01/2013

Redenominasi Rupiah = Dilema Masyarakat

Redenominasi adalah penyederhanaan pecahan  mata uang menjadi lebih sedikit

Dengan mengurangi digit pada suatu mata uang (misalnya Rp 100.000 menjadi Rp 100). Hal ini lah menjadi isu hangat yang  konon akan dilakukan pemerintah pada mata uang rupiah. salah satu tujuan dari redenominasi adalah untuk menyederhanakan mata uang agar lebih efisien dan mudah dalam melakukan transaksi. Selain itu redenominasi bertujuan untuk menyetarakan tingkat ekonomi masyarakat Indonesia dengan negara maju maupun berkembang. Karena jika kita perhatikan tingkat ekonomi negara sangat bergantung pada inflasi dan berdasar pada kurs mata uang Rupiah denga mata uang asing seperti Dollar Amerika. 

Jika kita mencoba menerawang dampak Redenominasi pada masyarakat sesungguhnya menimbulkan banyak pertanyaan. sebenarnya Redenominasi tidak akan mempengaruhi harga pasar, karena daya beli akan dirasa sama. Namun yang menjadi masalah besar adalah bagaimana merubah kebiasaan masyarakat Indonesia yang telah terbiasa dengan kegiatan transasksi dengan nominal saat ini. Sebuah spekulasi memang harus dilaksanakan dengan bijak sehingga kebijakan atau keputusan yang nantinya keluar tidaklah dirasa sebagai hal yang mendiskriminasi masyarakat, walau pada intinya hal tersebut berupaya untuk menstabilkan perekonomian nasional.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kebijakan redenominasi ini belum tentu dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat menengah kebawah. karena sekali lagi kebijakan ini tidak berdampak pada peningkatan atau pengurangan harga suatu produk, namun hanya menyederhanakan nominal mata uang, jadi sama sekali tidak berefek pada masyarakat.

permasalahan selanjutnya adalah bagaimana kegiatan ekonomi pasar yang akan mengalami masa-masa transisi atau masa perubahan, dimana masyarakat dan semua elemen termasuk privat dan pemerintah dituntut untuk bisa beradaptasi cepat dalam menyikapi kebiasaan penggunaan mata uang dengan nominal yang baru.

Karena hal ini terkait dengan kebiasaan masyarakat maka sosialisai dan penerapan konsep redenominasi haruslah melalui tahapan sistematis yang dapat diterima langsung oleh kalangan masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah kebawah. Mengingat luas wilayah Indonesia yang akan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam mensosialisaikan konsep Redenominasi mata uang rupiah ini.


sumber:
kompasiana, opini Tri wibowo, 30/01//2013



Anomali Rezeki

Sudah tidak terhitung berapa kali saya melakukan “ritual” sarapan makanan khas Bandung: kupat tahu dan lontong kari yang terletak di Jalan Cicendo, Bandung. Ada sebuah anomali dari warung kupat tahu ini bahwa letaknya bersebelahan dengan tempat pembuangan sampah sementara. Namun, sedikit pun tak tercium bau sampah dan semua orang merasa nikmat belaka menikmati sajian yang dijajakan.
akan bangunan sederhana semipermanen, dengan papan menjadi dindingnya. Yang tersedia hanya meja tripleks dan bangku kayu. Sekali lagi, orang-orang yang datang meski bermobil mewah, tetap saja menikmatinya. Dan rezeki pun mengalir ke kocek sang pemilik yang sudah puluhan tahun mangkal di sana. Apa yang menarik adalah disediakannya nomor antrean untuk mereka yang minta dibungkus atau bahasa kerennya take away. Artinya, orang harus bersabar untuk bisa menikmati kupat tahu dan lontong kari yang dijajakan karena sering terjadi lonjakan pemesan.

Anomali rezeki itulah yang terpikirkan. Kejadian yang tidak biasa dan mungkin dalam ilmu marketing untuk pemilihan lokasi sebuah usaha kuliner, sang pengusaha sudah dicap salah besar. Namun, siapa nyana orang-orang pun meski berpikiran waras tidak peduli ada bak sampah besar dan hilir mudik truk sampah di sampingnya. Hal serupa juga terjadi ketika ada usaha kuliner yang berada di gang kecil, tetapi tetap diburu orang. Rezeki yang menjadi rahasia Allah pun menjadi nyata bahwa tiada yang dapat menghalangi jika sudah menjadi kehendak Allah mengalirkannya dari arah yang tidak disangka-sangka.

Wirausaha memang persoalan ikhtiar yang didukung kemantapan hati untuk menjalankannya dan keyakinan mendapatkan rezeki dari sana. Teori marketing yang menjadi penelitian dan kajian para ahli hanya sebagai tools. Kadang betul juga joke bahwa “orang pintar bisa kalah sama orang bejo (beruntung)” atau teori yang bukan teori dari Bob Sadino: “Belajar goblok”. Orang goblok kalau berbisnis tidak mikir dulu, tetapi aksi lebih dulu. Namun, orang pintar kalau berbisnis pasti mikir dulu (business plan dan marketing plan), akhirnya malah nggak jalan-jalan.

Joke-joke seperti ini memang menunjukkan bahwa kewirausahaan (entrepreneurship) itu adalah persoalan keyakinan dan keikhlasan menjalaninya dengan mengukur diri. Kalau memang mampu menjadi pengusaha kuliner, ya jadilah pengusaha kuliner. Kalau mampu menjadi pengusaha otomotif, ya jadilah pengusaha otomotif. Kalau tidak mampu, tentu akan berakibat buruk bagi kelancaran bisnis, terutama dalam hal melayani pelanggan. Karena itu, bisnis berkah salah satunya karena bisnis itu disukai, dicintai, dan dinantikan para pelanggan karena memberi benefit (manfaat) yang besar.

Dalam bahasa lebih relijius mungkin bisa disebutkan “orang pintar kalah sama orang yang diberkahi”. Kalau sudah rezekinya dan ia pun sudah mengoptimalkan ikhtiarnya di samping doa, tentu tidak ada yang dapat menghalangi rezeki meskipun terasa naif. Boleh jadi kita memandangnya sebagai keganjilan (anomali) seperti kasus warung kupat tahu di samping tempat pembuangan sampah. Namun, jelas tidak ada yang ganjil dalam soal rezeki; pikiran kitalah yang memandangnya sebagai anomali.

Suatu waktu tukang mie bakso langganan saya pun berpindah tempat. Saya bertanya tentang asistennya yang sudah tidak tampak lagi. Ia mengatakan sudah memecat asistennya karena mengurangi bumbu dan para pelanggannya komplain soal rasa serta pelayanan yang lama. Bisnis yang tadinya dipercaya kepada asisten, diambil alih kembali. Sang asisten ternyata membuka sendiri usaha mie bakso yang mirip di tempat awal sebelum “mie bakso yang asli” berpindah. Ternyata banyak pelanggan yang masih berkunjung ke tempat awal dan oleh sang asisten digiring ke usaha mie bakso barunya. Apa yang terjadi? Pelanggan yang membeli pun merasa tertipu karena “beda rasa dan beda pelayanan” dan akhirnya mereka tetap mencari sang penjual bakso yang asli. Rezeki tetap dialirkan dan mengarah ke sang pemilik yang asli. Rezekinya yang “disalip” sang asisten tidak bertahan lama karena sudah melakukan kebohongan pada pelanggan dengan mengatakan mie baksonya adalah sama.

Tidakkah rezeki itu memang istimewa dan memang terkadang anomali? Namun, yang pasti rezeki pun tidak akan tertukar pada pemilik sejatinya sesuai dengan pengaturan Allah Swt. Soal kewirausahaan mari kita menelisik lebih jauh rahasia rezeki ini tanpa memandang ganjil atau tidak ganjil dalam mata awam kita.[]

sumber:
 kompasiana/OPINI | 08 January 2013 | 18:02