BEDAH BUKU
Brand Management: Research, Theory and Practice
Tilde Heding, Charlotte F. Knudtzen,
dan Mogens Bjerre Routledge
Pendahuluan
Brand Management: Research, Theory and Practice merupakan buku yang berusaha menjelaskan manajemen merek bukan sebagai satu teori yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bidang ilmu yang berkembang melalui berbagai pendekatan dan tradisi pemikiran.
Gagasan utama buku ini terletak pada identifikasi tujuh pendekatan manajemen merek, yaitu economic, identity, consumer-based, personality, relational, community, dan cultural approach. Ketujuh pendekatan tersebut diperoleh melalui analisis terhadap lebih dari 300 artikel penelitian manajemen merek yang diterbitkan pada berbagai jurnal utama dalam periode 1985–2006.
Yang menarik, penulis tidak berusaha mencampurkan seluruh teori tersebut ke dalam satu model besar. Sebaliknya, setiap pendekatan dibedah berdasarkan asumsi, landasan teori, metode penelitian, data, serta implikasi manajerialnya. Dengan cara ini, pembaca dapat memahami perbedaan cara berpikir yang mendasari masing-masing teori.
Bab 1 – Introduction
Bab pertama berfungsi sebagai pintu masuk untuk memahami keseluruhan buku.
Penulis menjelaskan bahwa literatur manajemen merek berkembang dari berbagai disiplin ilmu, antara lain ekonomi, manajemen strategis, perilaku organisasi, penelitian konsumen, psikologi, dan antropologi.
Karena berasal dari berbagai tradisi ilmiah, manajemen merek menjadi bidang yang multidimensional.
Persoalannya, buku teks manajemen merek pada umumnya cenderung menggabungkan berbagai perspektif ke dalam model yang komprehensif. Cara tersebut memang membantu praktisi melihat banyak aspek sekaligus, tetapi menurut penulis dapat mengaburkan perbedaan asumsi dan cara berpikir antarpendekatan.
Buku ini mengambil jalan berbeda: pendekatan-pendekatan tersebut justru dipisahkan terlebih dahulu agar karakter masing-masing dapat dipahami secara lebih jelas.
Dengan demikian, tujuan buku bukan sekadar memberikan daftar teori tentang merek, tetapi membantu pembaca memahami mengapa teori-teori tersebut menghasilkan cara pandang dan implikasi manajerial yang berbeda.
Bab 2 – Key Words in Brand Management
Bab kedua membangun dasar konseptual melalui istilah-istilah penting dalam manajemen merek.
Bab ini penting karena istilah seperti brand, branding, brand management, brand equity, brand identity, dan brand image tidak selalu digunakan dengan pengertian yang sama dalam berbagai literatur.
Penulis menunjukkan bahwa cara mendefinisikan merek sangat dipengaruhi oleh perspektif teoretis yang digunakan.
Karena itu, sebelum membahas tujuh pendekatan, pembaca perlu memahami kata-kata kunci yang membentuk bahasa akademik manajemen merek.
Secara konseptual, bab ini menyiapkan pembaca untuk memahami bahwa perbedaan definisi merek sebenarnya mencerminkan perbedaan asumsi mengenai apa itu merek, di mana nilai merek berada, dan bagaimana nilai tersebut terbentuk.
Bab 3 – Overview: Brand Management 1985–2006
Bab ketiga memberikan gambaran historis perkembangan manajemen merek sejak pertengahan 1980-an sampai 2006.
Inilah jembatan menuju tujuh pendekatan yang dibahas dalam bab-bab berikutnya.
Penulis menggunakan perspektif perkembangan ilmu pengetahuan yang dipengaruhi pemikiran Thomas Kuhn. Dengan pendekatan tersebut, perkembangan teori tidak dilihat sekadar sebagai penambahan teori baru, tetapi sebagai munculnya cara pandang atau paradigm yang memiliki asumsi berbeda.
Perkembangan manajemen merek kemudian dilihat sebagai proses munculnya perspektif baru yang memberikan perhatian terhadap aspek-aspek yang sebelumnya kurang mendapat perhatian.
Dari sinilah kemudian muncul tujuh pendekatan yang menjadi inti buku.
PART II – SEVEN BRAND APPROACHES
Bab 4 – The Economic Approach
Pendekatan ekonomi merupakan pendekatan paling awal dalam taksonomi buku.
Dalam pendekatan ini, merek ditempatkan sebagai bagian dari traditional marketing mix. Fokus utamanya adalah bagaimana merek digunakan dalam aktivitas pemasaran dan bagaimana merek berkontribusi terhadap posisi perusahaan dalam pasar.
Cara pandang terhadap konsumen cenderung rasional. Teori ekonomi, transaction cost theory, dan konsep economic man menjadi bagian dari landasan pemikirannya.
Merek terutama dilihat melalui fungsi ekonominya: membantu diferensiasi, mengurangi ketidakpastian, serta memengaruhi pertukaran antara perusahaan dan konsumen.
Dengan demikian, titik perhatian pendekatan ini terutama berada pada produk, pasar, dan keputusan perusahaan.
Inti pendekatan
Merek → bagian dari bauran pemasaran → diferensiasi → keputusan pasar.
Kelebihan pendekatan ini adalah kejelasan orientasi ekonominya. Namun, keterbatasannya muncul ketika perilaku konsumen tidak dapat dijelaskan hanya melalui asumsi rasionalitas ekonomi.
Bab 5 – The Identity Approach
Pendekatan identitas menggeser perhatian dari produk menuju organisasi.
Merek tidak lagi semata-mata dilihat sebagai alat pemasaran, tetapi sebagai sesuatu yang berkaitan dengan identitas perusahaan.
Konsep pentingnya mencakup corporate identity, organizational identity, image, dan reputation.
Salah satu perhatian utama pendekatan ini adalah hubungan antara strategic vision, organizational culture, dan stakeholder image.
Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya bagaimana perusahaan ingin dilihat, tetapi juga apakah identitas yang ingin dibangun konsisten dengan budaya organisasi dan bagaimana stakeholder benar-benar melihat organisasi tersebut.
Pendekatan ini memperkenalkan pemahaman bahwa merek memiliki dimensi internal sekaligus eksternal.
Bab 6 – The Consumer-Based Approach
Bab keenam memindahkan pusat perhatian kepada konsumen.
Premis penting pendekatan ini adalah bahwa merek pada dasarnya berada dalam pikiran konsumen.
Karena itu, perhatian diberikan kepada brand knowledge, brand associations, memory, cognition, dan customer-based brand equity.
Konsumen dipahami sebagai pemroses informasi. Apa yang diketahui, diingat, diasosiasikan, dan dipersepsikan konsumen mengenai suatu merek menjadi sangat penting.
Konsekuensinya, manajemen merek harus memahami bagaimana konsumen membentuk pengetahuan dan asosiasi terhadap merek.
Namun, penulis juga memberikan kritik penting. Pendekatan berbasis konsumen dapat menjadi terlalu luas karena hampir semua bentuk pengetahuan mengenai merek dapat dimasukkan ke dalam konsep brand knowledge. Pendekatan-pendekatan berikutnya kemudian memberikan perhatian terhadap aspek emosional, relasional, sosial, dan budaya yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh perspektif kognitif.
Bab 7 – The Personality Approach
Pada bab ini merek dipahami sebagai karakter yang menyerupai manusia.
Pendekatan kepribadian berangkat dari gagasan bahwa konsumen dapat menghubungkan karakter manusia dengan suatu merek.
Konsep pentingnya antara lain:
- brand personality;
- consumer self;
- brand–self congruence;
- simbolisme;
- archetypes.
Merek dengan demikian tidak hanya mempunyai atribut fungsional, tetapi juga karakter simbolik.
Hubungan antara kepribadian konsumen dan kepribadian merek menjadi perhatian penting. Konsumen dapat memilih merek karena merasa karakter merek tersebut sesuai dengan dirinya atau dengan identitas yang ingin ditampilkan.
Metode penelitian dalam pendekatan ini juga memperlihatkan perpaduan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, termasuk penggunaan skala untuk mengidentifikasi dimensi kepribadian merek.
Bab 8 – The Relational Approach
Bab kedelapan membawa konsep merek ke tingkat hubungan.
Merek dipandang sebagai viable relationship partner, bukan sekadar objek yang dimiliki perusahaan.
Penulis mengembangkan pembahasan mengenai hubungan antara konsumen dan merek, termasuk brand relationship quality.
Hubungan tersebut dapat memiliki kedalaman, stabilitas, sejarah, dan dinamika tertentu.
Pendekatan ini dipengaruhi oleh fenomenologi dan berusaha memahami pengalaman konsumen secara lebih mendalam.
Karena itu, metode yang digunakan berbeda dari pendekatan kognitif. Wawancara mendalam, life-story method, dan eksplorasi pengalaman konsumen menjadi penting.
Perubahan mendasarnya adalah:
Konsumen tidak lagi hanya dipandang sebagai penerima informasi tentang merek, tetapi sebagai pihak yang mengalami dan membangun hubungan dengan merek.
Bab 9 – The Community Approach
Pendekatan komunitas memperluas hubungan yang sebelumnya bersifat dua arah antara konsumen dan merek menjadi hubungan sosial yang lebih luas.
Merek menjadi titik pusat interaksi sosial.
Konsep brand community, brand triad, brandfests, subkultur konsumsi, dan komunitas berbasis internet menjadi bagian penting pembahasan.
Di sini, konsumen tidak lagi berdiri sendiri. Mereka berinteraksi dengan konsumen lain berdasarkan hubungan mereka dengan merek.
Konsekuensinya bagi perusahaan cukup besar.
Komunitas dapat:
- memperkuat loyalitas;
- menghasilkan informasi;
- memberikan umpan balik;
- membantu inovasi;
- menciptakan aktivitas sosial di sekitar merek.
Namun komunitas juga tidak sepenuhnya dapat dikendalikan perusahaan.
Inilah salah satu hal menarik dari pendekatan ini: perusahaan bukan satu-satunya pihak yang menentukan makna merek.
Metodologi yang menonjol adalah ethnography dan netnography, karena peneliti perlu memahami perilaku komunitas dalam konteks sosialnya.
Bab 10 – The Cultural Approach
Bab kesepuluh merupakan perluasan paling besar terhadap konsep merek.
Merek ditempatkan sebagai bagian dari broader cultural fabric atau jaringan budaya yang lebih luas.
Pendekatan ini tidak berhenti pada hubungan perusahaan dan konsumen. Pertanyaannya berkembang menjadi:
Bagaimana merek memperoleh makna dalam masyarakat dan budaya?
Pembahasan mencakup:
- cultural branding;
- iconic brands;
- popular culture;
- globalization;
- semiotics;
- cultural consumption;
- citizen-brand perspective.
Merek tertentu dapat berkembang menjadi ikon budaya karena memiliki makna yang melampaui fungsi produknya.
Pendekatan ini banyak menggunakan analisis budaya, semiotika, dan kajian terhadap konteks sosial yang lebih luas.
Dengan demikian, merek dipahami bukan hanya sebagai objek ekonomi atau psikologis, tetapi sebagai fenomena budaya.
PART III – TAXONOMY
Bab 11 – Taxonomy of Brand Management 1985–2006
Bab kesebelas merupakan sintesis dari seluruh buku.
Penulis menyusun taksonomi berdasarkan analisis sistematis terhadap lebih dari 300 artikel penelitian manajemen merek periode 1985–2006. Analisis tersebut menggunakan logika Dynamic Paradigm Funnel yang berakar pada pemikiran Thomas Kuhn.
Tujuh pendekatan kemudian dibandingkan berdasarkan berbagai karakteristik, seperti:
- waktu kemunculan;
- artikel atau karya kunci;
- konsep utama;
- pandangan terhadap konsumen;
- pandangan terhadap merek;
- tradisi ilmiah;
- metode penelitian;
- peran manajer.
Yang sangat penting, penulis menegaskan bahwa tujuh pendekatan tersebut ditampilkan sebagai ideal types. Artinya, perbedaan antarpendekatan sengaja dibuat jelas agar karakter masing-masing dapat dipahami, meskipun dalam praktik batas antarpendekatan dapat menjadi lebih kabur.
Empat paradigma manajemen merek
Bab 11 kemudian memperlihatkan empat paradigma yang membantu membaca perkembangan tersebut:
Keempat paradigma ini menunjukkan perubahan cara memahami pertukaran antara merek dan konsumen. Dari diam, kemudian monolog, bergerak menuju mendengarkan, dan akhirnya percakapan.
Perubahan tersebut menjadi salah satu inti intelektual buku.
Pembacaan Utama Buku
Jika keseluruhan buku dibaca sebagai satu kesatuan, terdapat suatu perkembangan pemikiran yang jelas:
Merek sebagai produk
↓
Merek sebagai identitas organisasi
↓
Merek sebagai pengetahuan dalam pikiran konsumen
↓
Merek sebagai kepribadian
↓
Merek sebagai hubungan
↓
Merek sebagai komunitas
↓
Merek sebagai fenomena budaya
Namun, penulis tidak mengatakan bahwa pendekatan terakhir otomatis menghapus pendekatan sebelumnya.
Justru salah satu pesan penting buku adalah bahwa berbagai pendekatan memiliki asumsi, kekuatan, keterbatasan, metode, dan implikasi yang berbeda.
Karena itu, memahami manajemen merek berarti memahami perbedaan paradigma, bukan sekadar menghafalkan istilah-istilah branding.
Kekuatan Buku
Kekuatan utama buku ini terletak pada tiga hal.
Pertama, buku tidak menyederhanakan manajemen merek menjadi satu teori.
Kedua, buku menghubungkan teori dengan tradisi ilmiah dan metode penelitian yang melahirkannya.
Ketiga, buku memberikan kerangka komparatif melalui taksonomi sehingga pembaca dapat melihat perkembangan disiplin manajemen merek secara historis.
Penulis secara eksplisit menjelaskan bahwa buku ini dapat digunakan sebagai buku teks mandiri maupun sebagai pelengkap bagi buku-buku manajemen merek lain.
Catatan Kritis
Buku ini memiliki pendekatan yang kuat secara akademik, tetapi konsekuensinya adalah pembaca harus memahami perbedaan epistemologis di antara pendekatan yang dibahas.
Taksonomi juga merupakan hasil kategorisasi. Karena itu, penulis sendiri mengingatkan bahwa penyajian tujuh pendekatan sebagai ideal types merupakan penyederhanaan untuk kepentingan analisis. Dalam praktik, pendekatan-pendekatan tersebut dapat saling beririsan dan berkembang dari waktu ke waktu.
Kritik lain yang dapat dibaca dari struktur buku adalah bahwa perkembangan teori tidak selalu berarti pendekatan lama kehilangan relevansinya. Pendekatan baru dapat membuka dimensi yang sebelumnya kurang diperhatikan, sementara pendekatan lama tetap dapat berguna untuk persoalan tertentu.
Kesimpulan Bedah Buku
Buku Brand Management: Research, Theory and Practice pada dasarnya bukan sekadar buku tentang cara membangun merek.
Lebih dalam dari itu, buku ini adalah kajian mengenai bagaimana ilmu manajemen merek berkembang dan bagaimana para peneliti memahami hakikat merek dari perspektif yang berbeda.
Tujuh pendekatan yang ditawarkan memperlihatkan perubahan pusat perhatian:
produk → organisasi → konsumen → kepribadian → hubungan → komunitas → budaya.
Perubahan tersebut kemudian dirangkum melalui empat paradigma: product, projective, adaptive, dan relational.
Dengan demikian, kontribusi utama buku ini bukan hanya memberikan teori branding, tetapi memberikan peta intelektual tentang disiplin manajemen merek. Pembaca diajak memahami bahwa ketika definisi tentang merek berubah, maka berubah pula cara melihat konsumen, metode penelitian, peran manajer, serta cara memahami penciptaan makna dan nilai merek.
Pada akhirnya, kekuatan buku ini justru berada pada ajakannya untuk tidak melihat brand management sebagai satu teori tunggal. Merek dapat dipahami secara berbeda tergantung pada paradigma yang digunakan untuk melihatnya.






