Ada masa ketika pertumbuhan ekonomi hampir selalu dibaca melalui angka investasi, produksi, dan pendapatan. Semakin banyak modal ditanam, semakin besar kapasitas produksi; semakin besar produksi, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi.
Cara pandang itu tidak sepenuhnya salah. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan membuat kita menyadari bahwa di balik modal, investasi, teknologi, dan industri selalu ada satu unsur yang menentukan: manusia.
Mesin tidak menciptakan nilai dengan sendirinya. Teknologi tidak berjalan tanpa manusia yang menguasainya. Investasi tidak otomatis menghasilkan produktivitas apabila tidak tersedia sumber daya manusia yang mampu mengelola modal dan pengetahuan.
Pertanyaan pembangunan kemudian bergeser.
Bukan hanya:
“Berapa besar investasi yang masuk?”
tetapi juga:
“Seberapa siap manusia menerima, menguasai, dan menciptakan nilai dari investasi tersebut?”
Pertanyaan inilah yang membuat sebuah penelitian yang dilakukan lebih dari satu dekade lalu tetap menarik untuk dibaca kembali.
Membaca Kembali IPM, Investasi, dan PDB
Soemartini, dalam penelitian “Menentukan Model Ekonomi Berstruktur melalui Analisis Vector Auto Regression (VAR) dalam Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Periode 1996–2009”, mencoba melihat hubungan antara Indeks Pembangunan Manusia (IPM), investasi PMDN, dan PDB Indonesia. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan VAR untuk melihat hubungan dinamis antarketiga variabel tersebut.
Pertanyaan dasarnya sangat penting: apakah pembangunan manusia hanya merupakan akibat dari pertumbuhan ekonomi, atau justru manusia yang berkualitas ikut mendorong pertumbuhan ekonomi?
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara IPM dan investasi. IPM memiliki hubungan Granger terhadap investasi, sementara investasi juga memiliki hubungan Granger terhadap IPM. Penelitian itu juga menemukan hubungan Granger dari IPM terhadap PDB pada tingkat signifikansi 10 persen.
Angka tersebut tentu tidak dapat begitu saja digunakan untuk menggambarkan perekonomian Indonesia hari ini. Data penelitian hanya mencakup 1996–2009 dan jumlah observasinya relatif kecil. Bahkan penulis sendiri menyarankan penggunaan ukuran sampel yang lebih besar.
Namun, ada satu gagasan yang tetap relevan:
Manusia bukan hanya penerima manfaat pembangunan. Manusia juga merupakan salah satu penggerak pembangunan.
Dari Tenaga Kerja Menjadi Human Capital
Di sinilah perkembangan ilmu ekonomi membawa perubahan besar.
Dalam perspektif lama, manusia sering diposisikan sebagai tenaga kerja. Ia menyediakan waktu, tenaga, dan keterampilan untuk menghasilkan barang dan jasa.
Perkembangan teori human capital mengubah cara pandang tersebut.
Manusia memiliki modal.
Modal itu tidak selalu berbentuk uang atau mesin. Ia dapat berupa:
- pendidikan;
- keterampilan;
- pengalaman;
- kesehatan;
- pengetahuan;
- kemampuan berpikir;
- kreativitas;
- kemampuan memecahkan masalah.
Dengan demikian, investasi pendidikan sebenarnya mempunyai dimensi ekonomi yang sangat kuat.
Ketika seseorang memperoleh pendidikan yang lebih baik, yang meningkat bukan hanya pengetahuannya. Yang meningkat juga adalah kapasitasnya untuk menghasilkan nilai.
Karena itu hubungan pembangunan dapat dibaca:
pendidikan → kompetensi → produktivitas → pendapatan → pertumbuhan ekonomi.
Tetapi hubungan tersebut dapat bergerak sebaliknya:
pertumbuhan ekonomi → pendapatan → investasi pendidikan dan kesehatan → peningkatan kualitas manusia.
Kita kembali menemukan sebuah lingkaran.
Pembangunan Manusia Tidak Boleh Menjadi Sekadar Angka
IPM sering hadir dalam laporan pemerintah sebagai sebuah angka.
Angka memang penting.
Tetapi di balik angka IPM terdapat manusia nyata.
Ada anak yang memperoleh pendidikan.
Ada guru yang mengajar.
Ada keluarga yang mendapatkan pelayanan kesehatan.
Ada pekerja yang meningkatkan keterampilan.
Ada masyarakat yang memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya.
Karena itu, peningkatan IPM seharusnya tidak hanya dipahami sebagai keberhasilan statistik.
Ia merupakan indikator bahwa kapasitas manusia untuk menjalani kehidupan dan berpartisipasi dalam pembangunan sedang meningkat.
Penelitian Soemartini sendiri mengacu pada pemikiran pembangunan manusia sebagai proses memperluas pilihan manusia melalui kesehatan, pendidikan, pengetahuan, dan kemampuan memperoleh kehidupan yang layak.
Pandangan ini semakin penting ketika ekonomi memasuki era pengetahuan.
Ketika Pengetahuan Menjadi Faktor Produksi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kemudian melahirkan perubahan yang lebih besar.
Jika pada era industri mesin menjadi simbol utama produktivitas, pada ekonomi modern pengetahuan semakin menjadi sumber produktivitas.
Sebuah perusahaan dapat memiliki mesin yang sama dengan perusahaan lain.
Tetapi hasilnya dapat berbeda karena manusianya berbeda.
Teknologi yang sama dapat menghasilkan produktivitas berbeda karena kemampuan organisasi dalam menggunakannya berbeda.
Data yang sama dapat menghasilkan keputusan berbeda karena kualitas analisis manusianya berbeda.
Di sinilah kita memasuki ekonomi berbasis pengetahuan.
Knowledge is no longer merely something people possess. Knowledge becomes something organizations create, share, apply, and transform into value.
Manusia kemudian berkembang dari sekadar worker menjadi knowledge worker.
Knowledge Worker: Wajah Baru Tenaga Kerja
Seorang knowledge worker tidak hanya menjual tenaga.
Ia menjual kemampuan berpikir.
Ia menggunakan pengetahuan untuk:
- menganalisis persoalan;
- menciptakan solusi;
- melakukan inovasi;
- mengembangkan teknologi;
- mengambil keputusan;
- memperbaiki proses;
- menciptakan pengetahuan baru.
Karena itu, ekonomi masa depan membutuhkan manusia yang mampu belajar sepanjang hayat.
Ijazah tidak lagi menjadi akhir proses belajar.
Ijazah justru menjadi awal.
Sebab teknologi berubah.
Pekerjaan berubah.
Kompetensi berubah.
Bahkan profesi yang hari ini dianggap penting dapat mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun ke depan.
Manusia yang berhenti belajar akan semakin cepat tertinggal.
Sekolah Harus Berubah Menjadi Learning Organization
Perubahan tersebut membawa konsekuensi besar bagi dunia pendidikan.
Jika ekonomi membutuhkan knowledge workers, maka sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat menyampaikan materi pelajaran.
Sekolah harus menjadi learning organization.
Organisasi yang belajar.
Guru belajar.
Peserta didik belajar.
Kepala sekolah belajar.
Tenaga kependidikan belajar.
Bahkan organisasi sekolah harus belajar dari kesalahan, pengalaman, data, dan perubahan lingkungan.
Sekolah tidak boleh hanya bertanya:
“Apa yang harus diajarkan?”
Tetapi juga:
“Bagaimana peserta didik belajar?”
“Bagaimana guru terus berkembang?”
“Bagaimana pengetahuan baru diciptakan?”
“Bagaimana teknologi digunakan untuk memperkuat pembelajaran?”
Inilah pergeseran dari teaching organization menuju learning organization.
AI Mempercepat Perubahan
Kemunculan kecerdasan buatan membuat perubahan tersebut semakin cepat.
AI mampu membantu manusia mengolah informasi, menganalisis data, menghasilkan teks, membuat visualisasi, menerjemahkan bahasa, membantu pemrograman, dan menyelesaikan berbagai pekerjaan kognitif.
Ini bukan berarti manusia menjadi tidak penting.
Justru sebaliknya.
Semakin canggih teknologi, semakin penting kemampuan manusia untuk menentukan:
apa yang benar, apa yang penting, apa yang etis, dan apa yang seharusnya dilakukan.
AI dapat membantu menghasilkan jawaban.
Tetapi manusia tetap harus menentukan pertanyaan.
AI dapat membantu menganalisis data.
Tetapi manusia harus memahami konteks.
AI dapat membantu menghasilkan keputusan.
Tetapi manusia tetap bertanggung jawab terhadap konsekuensinya.
Karena itu pendidikan masa depan tidak cukup menghasilkan manusia yang mampu menggunakan teknologi.
Pendidikan harus menghasilkan manusia yang mampu berpikir bersama teknologi tanpa kehilangan kemanusiaannya.
Hilirisasi: Jangan Hanya Mengolah Mineral, Olah Juga Pengetahuan
Perspektif ini menjadi sangat penting bagi daerah yang sedang mengalami industrialisasi.
Sulawesi Tengah merupakan salah satu contoh menarik.
Ketika investasi dan industrialisasi berkembang, pertanyaan pembangunan tidak berhenti pada berapa banyak modal yang masuk atau berapa besar nilai produksi yang dihasilkan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah masyarakat lokal ikut naik kelas bersama pertumbuhan industri?
Jika industri berkembang tetapi kompetensi masyarakat tidak berkembang, maka terjadi ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan kapasitas manusia.
Sebaliknya, jika pertumbuhan industri diikuti peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan, teknologi, inovasi, dan kewirausahaan lokal, maka terjadi proses yang jauh lebih strategis.
Sumber daya alam tidak hanya menghasilkan komoditas.
Ia menghasilkan:
pengetahuan → keterampilan → teknologi → inovasi → industri → nilai tambah.
Inilah yang dapat disebut sebagai hilirisasi pengetahuan.
SMK dan SMA Bukan Sekadar Institusi Pendidikan
Dalam konteks tersebut, pendidikan menengah mempunyai posisi strategis.
SMK tidak boleh hanya menjadi sekolah yang menghasilkan lulusan siap kerja.
SMK harus berkembang menjadi pusat pengembangan kompetensi dan inovasi yang terhubung dengan dunia industri.
Sementara SMA tidak cukup hanya mempersiapkan peserta didik masuk perguruan tinggi.
SMA harus membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi, literasi digital, literasi data, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan kemampuan memecahkan masalah.
Sebab dunia kerja masa depan tidak hanya membutuhkan:
orang yang tahu.
Ia membutuhkan:
orang yang mampu menggunakan apa yang diketahuinya.
Dan lebih jauh lagi:
orang yang mampu menciptakan pengetahuan baru.
Dari Investasi Fisik Menuju Investasi Manusia
Di sinilah kita dapat membaca kembali hubungan yang ditawarkan penelitian Soemartini.
Penelitian tersebut memperlihatkan hubungan antara:
IPM ↔ Investasi ↔ PDB.
Perkembangan ilmu membawa kita untuk memperluasnya menjadi:
Pendidikan → Human Capital → Knowledge Worker → Produktivitas → Investasi → Inovasi → Pertumbuhan Ekonomi.
Dan kemudian:
Pertumbuhan Ekonomi → Kesejahteraan → Investasi Pendidikan → Human Capital.
Artinya, pembangunan manusia dan pembangunan ekonomi bukan dua agenda yang terpisah.
Keduanya merupakan bagian dari satu sistem pembangunan.
Ukuran Kemajuan Tidak Cukup Lagi dengan Pertumbuhan
Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara bertanya tentang pembangunan.
Jangan hanya bertanya:
Berapa persen pertumbuhan ekonomi?
Tetapi juga:
Berapa banyak manusia yang menjadi lebih terampil?
Berapa banyak tenaga kerja yang naik kelas menjadi knowledge worker?
Berapa banyak inovasi yang lahir dari sekolah dan perguruan tinggi?
Berapa banyak teknologi yang dikuasai oleh tenaga kerja lokal?
Berapa banyak nilai tambah industri yang tinggal di daerah?
Dan yang paling penting:
Apakah pertumbuhan ekonomi meningkatkan kemampuan manusia untuk membangun kehidupannya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa pembangunan dari sekadar growth menuju human-centered development.
Masa Depan Ada pada Manusia yang Mau Belajar
Pada akhirnya, teknologi dapat berubah.
Industri dapat berubah.
Model bisnis dapat berubah.
Kebijakan dapat berubah.
Tetapi kemampuan manusia untuk belajar, berpikir, beradaptasi, berkolaborasi, dan menciptakan pengetahuan akan selalu menjadi sumber kekuatan pembangunan.
Karena itu, pendidikan tidak boleh ditempatkan sebagai urusan sektoral semata.
Pendidikan adalah bagian dari strategi ekonomi.
Guru bukan hanya pelaksana pembelajaran.
Guru adalah pembentuk modal manusia.
Sekolah bukan hanya tempat belajar.
Sekolah adalah infrastruktur pengetahuan.
Peserta didik bukan sekadar penerima materi.
Mereka adalah calon knowledge workers, inovator, pemimpin, dan pencipta nilai.
Dan investasi pendidikan bukan sekadar belanja pemerintah.
Ia adalah investasi terhadap kapasitas ekonomi masa depan.
Maka kita dapat membaca kembali pesan penting dari hubungan IPM, investasi, dan PDB tersebut:
Pertumbuhan ekonomi membutuhkan investasi, tetapi investasi membutuhkan manusia yang mampu mengubah modal menjadi nilai.
Di era ekonomi berbasis pengetahuan, manusia bukan lagi sekadar faktor produksi.
Manusia adalah sumber pengetahuan.
Pengetahuan adalah sumber inovasi.
Inovasi adalah sumber produktivitas.
Produktivitas adalah sumber daya saing.
Dan pendidikan adalah salah satu tempat utama di mana seluruh proses itu dimulai.
Pada akhirnya, masa depan pembangunan bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak sumber daya yang kita miliki, tetapi oleh seberapa banyak pengetahuan yang mampu kita ciptakan dari sumber daya tersebut.
Dan di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling strategis:
Membangun manusia bukan hanya untuk menghadapi masa depan, tetapi untuk menciptakan masa depan.
