Rabu, 17 Juli 2013

Manajemen Strategik Dalam Pengembangan Daya Saing Organisasi (4)



Organisasi Dan daya Saing
Organisasi adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama dan sepakat bekerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan. Berdasarkan definisi tersebut, karakteristik sebuah organisasi adalah memiliki tujuan berbeda dari organisasi lainya, berisi orang-orang yang sepakat terhadap tujuan, dan ada pembagian tugas yang tercermin dalam sebuah struktur. Dalam literatur manajemen, secara umum pengertian organisasi banyak dikemukakan oleh para ahli, diantaranya Webster yang mendefinisikan organisasi sebagai suatu struktur eksekutif dari bisnis atau sebagai suatu keseluruhan termasuk di dalamnya fasilitas, material, dan orang dengan prilakunya, yang diatur menurut posisi berdasarkan tugas atau pekerjaan yang ditetapkan.

Pada zaman modern ini, keberadaan organisasi sangat diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan bersama secara efisien di tengah situasi yang semakin kompleks. Keberadaan organisasi memungkinkan pencapaian tujuan-tujuan yang sulit dicapai oleh individu secara perorangan-menjadi lebih mudah karena adanya kerja sama antar individu yang memungkinkan terjadinya sinergi antarpotensi  individual. Sinergi adalah akumulasi kekuatan kelompok yang besarnya melebihi penjumlahan masing-masing individu jika bekerja secara sendiri-sendiri.

Saat ini dikenal beragam sifat organisasi menurut tujuan masing-masing orang yang berhimpun dalam organisasi tersebut, yaitu organisasi bisnis yang ditujukan untuk pencapaian laba dari pemilik atau pemegang saha; organisasi sosial seperti Yayasan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau organisasi massa yang ditunjukan untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial; dan organisasi pemerintahan yang berbentuk departemen ataupun badan serta organisasi politik yang ditujukan untuk memperjuangkan aspirasi konstituennya dalam dunia politik.

Setiap organisasi, baik organisasi yang bersifat profit seperti perusahaan maupun organisasi yang bersifat non profit seperti organisasi massa, yayasan, dan lain-lainya tentu menginginkan adanya pertumbuhan dan keberlanjutan dalam setiap aktivitasnya. Perusahaan-perusahaan, baik dalam skala kecil, menengah maupun bersar, tentu ingin terus meningkatkan keuntunganya, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan pegawai dan melakukan ekspansi bisnisnya menjadi lebih besar lagi.

Meskipun hampir seluruh organisasi di dunia menginginkan keberlanjutan, sayangnya tidak semua organisasi mampu menciptakan pertumbuhan dan mempertahankan keberlanjutan aktivitasnya. Hanya sedikit perusahaan besar hidup yang hidup walaupun hanya setengah dari umur manusia. Dalam tahun 1983, survei Royal Durch/Shell menemukan bahwa sepertiga dari perusahaan menurut uraian 500 perusahaan versi Fortune dalam tahun 1970 telah lenyap. Shell memperkirakan bahwa rataan maasa hidup perusahaan besar kurang dari 40 tahun.

Secara alamiah organisasi pasti mengalami siklus hidup (Gambar 1.1) yang dapat digambarkan sebagai daur hidup organisasi. Dalam siklus hidup organisasi terlihat adanya organisasi yang mampu memperpanjang kehidupanya dan yang tidak mampu bertahan, serta organisasi yang mampu hidup sampai ratusan tahun, di samping yang gagal mempertahankan eksistensinya sebelum masa pertumbuhan dimulai. Untuk itu, diperlukan penelitian dan pengembangan (litbang) yang berkesinambungan. 









Gambar 1.1 Siklus Hidup Organisasi

                                   
Banyak hal yang menyebabkan suatu perusahaan gagal, baik karena faktor internal seperti buruknya manajerial perusahaan, ketersediaan modal yang terbatas, kurangnya daya inovasi, dan lain sebagainya maupun faktor eksternal seperti situasi persaingan yang sangat tinggi yang tidak mampu dihadapi, perubahaan-perubahaan dalam lingkungan bisnis yang tidak dapat diantisipasi, dan lain sebagaianya. Pertumbuhan, keberlanjutan ataupun kejatihan sebuah organisasi saat ini bukan lagi sekedar disebabkan oleh persoalan-persoalan teknis semata. Persoalan strategik sering kali memainkan peranan nyata dalam pertumbuhan maupun kejatuhan organisasi/perusahaan.

Pada abad ke-21, ketika masing-masing neagra di bumi ini sudah tidak memiliki batas ruang dan waktu, kecenderungan orientasi bisnis mengalami perubahan-perubahan yang fundamental, yang diperlihatkan dengan mengalirnya investasi ke tempat yang paling menguntungkan. Jika sebelumnya produsen dapat memaksakan kehendaknya kepada konsumen, yang terjadi selanjutnya adalah sebaliknya, konsumen memaksakan kehendaknya kepada produsen.

Saat ini, produsen dipaksa membuat produk yang sesuai dengan nilai dan keinginan konsumen. Keberadaan organisasi di zaman ini sangat ditentukan oleh kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen secara memuaskan dari segi ketersediaan, harga, ketepatan pengiriman dan mutu. Padahal permintaan konsumen saat ini cenderung semakin kompleks seiring dengan semakin banyaknya alternatif yang tersedia di pasar. Organisasi bisnis yang gagal membangun loyalitas konsumennya akan sulit menjaga keberlanjutannya.

Situasi persaingan yang begitu tinggi saat ini telah memaksa perusahaan untuk lebih meningkatkan daya saingnya hingga mencapai tingkatan superior competitive advantage di antara pesaing-pesaingnya. Hal lainya, perusahaan dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas dalam usaha memuaskan kebutuhan konsumenya. Selain itu, pada saat yang sama, perusahaan juga bertanggung jawab pada profitabilitas yang memadai guna memuaskan para pemegang sahamnya. Dalam situasi ini, perusahaan dituntut untuk senantiasa sadar dan berusaha memahami perubahan-perubahaan yang terjadi pada struktur pasar dan persaingan yang tengah dihadapi (fundamental, inkremental, atau radikal) sehingga upaya untuk memuaskan konsumen dan pemegang saham dapat dilakukan secara simultan.

Menyerahkan tanggung jawab pendapatan sepenuhnya pada bagian pemasaran saat ini dianggap telah ketinggalan zaman karena seorang pemasar tidak akan mampu berbuat banyak dalam meningkatkan nilai produknya di mata konsumen jika bagian pembelian, bagian litbang, bagian produksi, dan bagian-bagian lainya tidak terlibat secara intensif. Saat ini, produk-produk yang membanjiri pasar begitu variatif dan umumnya memiliki siklus hidup yang pendek. Pada saat ini kemunculan produk baru selalu diikuti oleh kemunculan produk-produk baru lain yang memiliki keunggulan lebih baik dalam waktu relatif singkat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa daya saing produk di pasar sangat ditentukan oleh hasil kerja sama semua bagian dalam perusahaan secara terpadu. Dalam hal ini konsep value chain memiliki relevansi dalam implementasi strategi, sebagai upaya untuk mengidentifikasi kompetensi langka yang didukung oleh keahlian tertentu dan sumber-sumber yang dimilikinya.

Banyak perusahaan mengalami kepanikan ketika menghadapi situasi persaingan yang sangat tinggi karena tantangan bisnis yang dihadapi saat ini jauh lebih besar dari yang pernah dihadapi masa lalu. Globalisasi ekonomi, yang membuat produk barang ataupun jasa mengalir secara bebas antarnegara telah memberikan tekanan lebih tinggi kepada perusahan-perusahan untuk memiliki daya saing. Untuk itu diperlukan pendekatan manajemen strategik, yaitu pendekatan manajerial yang komprehensif dan berorientasi jangka panjang dalam mengelola pertumbuhan perusahaan di tengah situasi persaingan yang mengandung resiko dalam suasana ketidakpastian sehingga mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan. Proses manajemen strategik membantu perusahaan mengidentifikasi apa yang ingin dicapai dan bagaimana mencapai hasil kerja yang bernilai sesuai dengan faktor pendorong (sumber daya alam,  manusia, dan buatan) dan faktor penarik (pembeli, dan lembaga keuangan).

Pustaka:
Musa Hubeis dan Mukhamad Najib (2008), Manajemen Strategik dalam Pengembangan Daya Saing Organisasi, PT Alex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta.
.........

Senin, 15 Juli 2013

AL-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan (6)



Al-Qur’an Tampilan Khusus (6)
Kelalaian dan pengabaian pada sains di Dunia Islam terjadi secara luas dan meliputi semua lapisan umat, termasuk juga para elitnya. Fenomena ini terus berlangsung, seperti telah disebutkan di depan, karena ulama dan umat Islam masih berkutat dan menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan dana untuk perkara fiqih. Syair-syair dan maknanya semisal al-fiqhu anfusu syai’in (“fiqih adalah ilmu yang paling berharga”), iza matazza zu ilmin bi ilmin fa ilmul fiqhi aula bitizazin (“bila orang berilmu mulia lantaran ilmunya, maka ilmu fiqih membuatnya lebih mulia”), masih sangat dominan di masyarakat kita.

Meski hanya berjumlah seperlima dar ayat kauniyah, ayat hukum telah menyodot hampir semua energi ulama dan umat Islam. Sebaliknya, ayat-ayat kauniyah meskipun berjumlah sangat banyak, tetapi terabaikan. Sains sebagai perwujudan normatif dari ayat-ayat kauniyah seolah-olah tidak terkait dan tidak mengantar orang Islam ke surga atau neraka sehingga tidak pernah dibahas, baik di wilayah keilmuwan maupun pengajian-pengajian.

Keprihatinan dan gugatan Syaikh Thanthawi telah dilontarkan pada awal abad ke-20, tetapi memasuki milenium ketiga, keadaan sains di kalangan umat dan Dunia Islam tidak mengalami perubahan yang berarti. Umat tetap abai terhadap ayat-ayat kauniyah dan fenomena alam. Pertanyaan yang patut dikemukakan adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran bahwa Allah Swt, melalui Al-Quran telah mengingatkan betapa urgenya memahami fenomena alam fisis dan membangun sains.

Pikiran sederhana segera melintas. Jumlah 750 ayat kauniyah memang banyak, tetapi bila terselip di antara 6.236 ayat lainya bisa jadi ayat-ayat tersebut tidak terlihat dan pada giliranya tidak diperhatikan. Dus, sebaliknya ayat-ayat kauniyah tersebut ditampilkan dengan cara berbeda, misalnya dengan warna tertentu yang berbeda dari ayat-ayat lainya. Tujuanya ayat-ayat kauniyah mendapat perhatian khusus, kemudian dibicarakan, didiskusikan, dan ditindaklanjuti dengan penelitian atas kandungannya.

Dengan membaca langsung Al-Qur’an dan terjemah, kemudian mengambil ayat yang memuat istilah atau kata air, api, batu, bulan, bumi, langit, matahari, zarrah, dan seterusnya ditemukan hasil 1.108 ayat. Angka yang berbeda secara signifikan dari yang diperoleh Syaikh Thanthawi.

Selanjutnya dilakukan pemilahan atay-ayat yang merupakan “ayat kauniyah” dan menuntun kepada kontruksi ilmu kealaman dan mana yang bukan. Pertimbangan ini didasari oleh orientasi yang kuat untuk membangun sains Islam, sains dengan basis Kitab Suci. Hasilnya, tidak semua ayat yang memuat kata elemen alam seperti langit dan bumi merupakan ayat kauniyah yang membawa pada bangunan ilmu kealaman. Sebagai contoh, “Kepunyaan-Nya apa yang dilangit dan apa yang di bumi. Dan Dialah yang Mahaagung, Mahabesar. (QS, Asy-Syūrȃ [42]:4)

Langit dan bumi di dalam ayat tersebut di atas tidak memberi informasi apa-apa selain menerangkan kekayaan dan kepemilikan Allah Swt. Ayat-ayat seperti ini, meskipun memuat kata langit dan bumi, disini tetap dimasukkan sebagai ayat kauniyah sehingga tidak ditampilkan dengan warna biru. Bandingkan dengan ayat: “Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian bila Dia memanggilmu sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar. (QS Ar-Rūm [30];25).

Di dalam ayat tersebut di atas terdapat spesifikasi dari langit dan bumi yang dapat diekplorasi lebih lanjut, yakni keadaan berdirinya dengan iradah Allah Swt. Pertanyaan sederhana yang dapat diajukan adalah bagaimana poses dan mekanisme berdiri tersebut, memerlukan waktu berapa lama dan kapan, dan iradat Allah muncul dalam bentuk apa. Pertanyaan ini sengaja diarahkan pada kuantifikasi masalah. Para ilmuwan eksakta sepakat bahwa suatu ilmu belum dikatakan kukuh bila belum dirumuskan secara matematis.

Beberapa ayat yang mendeskripsikan keadaan setelah kiamat juga diambil sebagai ayat kauniyah. Sebagai contoh, “Dan di dalam surga itu mereka diberi minum segelas minuman bercampur jahe (QS Al-Insȃn [76];17).

Di sini kita tidak tertarik pada penggambaran surganya, tetapi pada jahe sebagai campuran minuman. Apa keistimewaan jahe dibanding dengan tanaman lain sehingga dipilih sebagai campuran minuman penghuni surga? Mengapa Allah Swt, tidak memilih minuman lain, misalnya kelapa muda atau jus avokad? Untuk mengetahuinya, jelas diperlukan kajian terhadap jahe dan beberapa tanaman lain yang serumpun, seperti kunyit, kencur, dan temulawak. Ayat ini diklasifikasi sebagai ayat kauniyah karena memicu dan menumbuhkan rasa ingin tahu (curiosity) dan memotivasi ahli biologi muslim untuk melakukan penelitian.

Pemilihan ini memberikan jumlah akhir ayat kauniyah sebanyak 800 ayat, dan ayat-ayat ini dan terjemahanya di tampilkan dengan warna biru di dalam Al-Qur’an ini. Meskipun demikian, harus diakui bahwa angka 800 bukanlah angka mati, tetapi juga bukan angka asal-asalan. Perbedaan tetap saja akan terjadi, tetapi tidak akan jauh dari angka tersebut, yakni bisa bertambah atau berkurang. Hal yang terpenting adalah kenyataan bahwa jumlah ayat kauniyah benar-benar banyak sehingga tidak layak diabaikan.

Islam, kita yakini bahkan sering kita dengung-dengungkan sebagai ajaran yang komprehensif dan sempurna, tetapi kita jugalah yang selama ini telah mereduksi ke satu-dua aspek tertentu sehingga misi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam hanya eksis dalam bentuk jargon. Kesempurnaan Islam, termasuk aspek sains, sudah terlalu lama diabaikan dan harus segera ditampilkan kembali. Al-Qur’an telah memberi pesan cukup lengkap tentang hal ini.  
..............

Pustaka:
Sofyan Abdul Rosyid (2011).Al-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan PT Mizan Publishing House. Bandung 

Sabtu, 13 Juli 2013

AL-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan (5)



Sains: Syarat Kebangkitan
Produk riil dari akal adalah sains yang terbukti sangat ampuh dan digdaya. Dalam rentang waktu pendek, Afganistan dan Irak yang terbelakang luluh lantak oleh produk sains negara-negara Barat, khususnya Amerika dan Inggris. Negara-negara maju yang menjadi kiblat peradaban saat ini  baik di Barat maupun Timur adalah mereka yang menguasai sains dan teknologinya.

Negara-negara Islam atau negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Indonesia umumnya memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Tetapi, melimpahnya sumber daya alam tersebut tidak membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat  muslim. Indonesia yang dikenal sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia justru terlilit utang dan menjadi pemasok tenaga kerja kasar. Sumber daya laut yang sedemikian besar terabaikan dan sumber daya tambang baik minyak maupun emas tidak terkelola sendiri, tetapi meminta bantuan orang asing. Sebabnya satu, kita Islam tidak menguasai ilmu pengetahuan, baik teoritis maupun praktis.

Sebagai ilustrasi, pada tahun 2000 lalu, Islamic Educational Scientifik and Cultural Organization (SESCO) melaporkan bahwa sebanyak 57 negara Islam yang tergabung dalam OKI dan memiliki sekitar 1,1 miliar penduduk atau 20 persen penduduk dunia, mendiami wilyah seluas 26,6 juta kilometer persegi, dan menyimpan 73 persen cadangan minyak dunia, memiliki GNP hanya sebesar 1,016 miliar dolar AS. Suatu angka yang sangat kecil bila dibandingkan dengan GNP negara maju seperti Prancis yang berpenduduk kurang dari 60 juta jiwa dan mendiami wilayah sekitar setengah juta kilometer persegi serta mempunyai GNP sebesar 1,293 miliar dolar AS.

Kenyataan tersebut terjadi karena negara-negara maju, termasuk Prancis, mendasarkan pertumbuhan ekonominya pada ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara negara-negara Islam hanya bergantung pada input yang bersifat kualitatif semata. Dunia Islam yang pernah  menjadi raksasa di bidang sains dan teknologi sampai abad pertengahan, kini memasuki melenium ketiga hanya tampil sebagai bangsa-bangsa pinggiran dan serpihan belaka.

Globalisasi dunia yang telah memasuki tahap tiga juga tidak dinikmati oleh mayoritas negeri berpenduduk muslim, kecuali Malaysia. Padahal, globalisasi, khususnya globalisasi tahap tiga, membuka kesempatan luas kepada setiap negara untuk bermain di dalamnya asalkan dapat memengaruhi pasar. India yang terkenal sebagai negara dengan kemiskinannya, kini mulai bisa bersaing dengan Amerika yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini terjadi setelah pada tahun 2000 India menanam investasi besar-besaran dalam bidang teknologi informasi, pemasangan kabel optik bawah laut dan satelit dengan harga komputer yang makin murah dan menjamur di mana-mana. Penemuan search engine seperti Google, penemuan perangkat lunak baru, pemakaian internet dan sistem operasi Windows yang melanda hampir seluruh bumi memungkinkan negara seperti India tumbuh dan bersaing dengan Amerika.

Orang India tidak harus pergi ke Amerika untuk dapat bekerja pada perusahaan Intel atau IBM. Ribuan orang terpilih bekerja di Bangalore untuk memenuhi order perusahaan perusahaan di bidang teknologi informasi ataupun pembuat perangkat lunak dari Eropa maupun AS. Pemberian order dapat dilakukan lewat surat elektronik (e-mail) atau telepon. Pertemuan dengan mitra kerja dapat dilakukan lewat telekonferensi tanpa haru melakukan perjalanan ke luar negeri. Orang-orang India, dengan gaji yang lebih rendah dan kualitas pekerjaan yang sama, telah mencuri lapangan kerja orang AS tanpa harus berpindah ke Amerika. Perusahan-perusahaan swasta, seperti Intel, HP, dan IBM, lebih memilih orang-orang India untuk mendapatkan untung.

Cina telah tumbuh menjadi negara pengekspor terbesar kedua setelah AS. Sebelumnya posisi ini diduduki Meksiko, tetangga terdekat AS yang menikmati keuntungan geografis dalam mengekspor barangnya. Cina telah memenuhi pasar AS dengan produk komponen komputer, komponen elektrik, tekstil, barang-barang kebutuhan olahraga, dan mainan anak-anak. Para pemain globalisasi dari Asia masih terbatas dari India, Cina, Taiwan, Korea, Singapura, dan Malaysia, yakni negara-negara yang sangat memerhatikan sains.

Cina dan India, yang sering digambarkan sebagai negeri yang kumuh karena kepadatan penduduknya, merupakan negara yang mempunyai tradisi ilmu yang kukuh. Keduanya merupakan negeri kontributor yang signifikan dalam dunia ilmu fundamental khususnya fisika. Chen Ning yang kelahiran Heffei, Cina, tahun 1922 dan Tsung Dao Lee kelahiran Saghai tahun 1926 menerima Nobel Fisika pada 1957. Sedangkan Chein-Shiung Wu yang lahir di Shanghai pada 1912 merupakan ahli fisika wanita penemu penyimpangan paritas pada peluruhan beta inti dan mendapat anugerah Wolf  pada tahun 1974. C.V. Raman adalah ahli fisika India yang mendapat hadiah Npbel fisika tahun 1930. M.K.Bose, namanya diabadikan bersama Einstein dalam fungsi distribusi statistika untuk partikel berspin bulat, yaitu statistik Bose-Einstein. Homi Jehangir Bhaba, yang lahir di Bombay pada 1909, dikenal dengan teori hamburan elektron-positron, sedangkan Saraj Narayan Gupta kelahiran Haryana dikenal di dalam teori elektrodinamika kuantum.

Perhatain negara-negara Islam terhadap sains dari pengembanganya masih sangat rendah. Merujuk data Science Citation Index 2004, 46 negara Islam memberi kontribusi 1,17 persen pada penerbitan karya ilmiah dunia. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan dengan sumbangan satu negara seperti India dan Spanyol yang masing-masing 1,66 persen dan 1,48 persen. Sebanyak 20 negara Arab menyumbang 0,55 persen dari total karya ilmiah dunia, sedangkan satu Israel saja menyumbang 0,89 persen. Sementara negara-negara maju seperti Jerman, Inggris, atau Jepang berturut-turut menyumbang 7,1 persen, 7,9 persen, dan 8,2 persen, apalagi Amerika yang 30,8

Masalah tersebut terkait dengan anggaran yang disediakan untuk kepentingan pengembangan sains dan teknologi, termasuk kegiatan riset dan pengembangan serta dukungan atas aktivitas ilmiah lainya. Negara-negara Islam hanya mengalokasikan anggaran belanja sebanyak 0,45 persen dari GNP, sedangkan negara-negara maju yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menghabiskan dana sebanyak 2,30 persen dari GNP untuk keperluan yang sama. Ketersediaan sumber daya manusia untuk mendukung kegiatan riset dan pengembangan di negara-negara Islam juga terbatas. Secara rata-rata, negara-negara Islam memiliki 8,8 ilmuwan, insinyur, dan teknisi per 1.000 penduduk, dibandingkan dengan negara-negara OECD yang memiliki 139,3 atau 40,7 di negara-negara maju di luar OECD.

Angka-angka terakhir yang juga kurang menggembirakan ini diperparah oleh kenyataan lain, yaitu terjadinya migrasi tenaga ahli (brain drain) ke negara-negara maju. Dalam tiga dekade terakhir, lebih dari 500 ribu ilmuwan dari negara-negara Dunia Ketiga berimigrasi ke Eropa, Amerika, Kanada dan Australia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 55 persen berasal dari Asia, Iran, Pakistan, dan Turki adalah tiga negara Islam di kawasan Asia yang paling banyak kehilangan ilmuwan akibat brain drain ini. Hal yang sama dialami oleh Mesir, Aljazair, dan Maroko yang mewakili kawasan Afrika. Demikian pula Suriah, Lebanon, dan Yordania yang menjadi representasi negara Arab. Dua ilmuwan muslim terkemuka, Dr.Abdus Salam dan Dr.Ahmed Zeweil, masing-masing meraih hadiah Nobel Fisika dan Kimia, setelah hijrah dari Pakistan ke Inggris dan dari Mesir ke Amerika. Mereka sebagian ilmuwan, tidak tumbuh dan berkembang di negeerinya sendiri, tetapi di negara Barat.

Singkat kata, Barat, Jepang, India, dan Cina maju karena ilmu pengetahuan. Dunia Islam masih memerlukan banyak ilmuwan dari berbagai bidang. Hanya  dengan ilmilah, selain iman, harga diri muslim dapat kembali ditegakkan.

Hai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapanngan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan bila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Mujadilah [58]; 11)

Tanpa sains, umat Islam tidak akan mampu mengelola sumber daya alam yang umumnya melimpah di negeri-negeri muslim. Tanpa sains, umat Islam hanya menjadi konsumen yang bergantung dan akhirnya mudah didikte orang lain.

.........

Pustaka:
Sofyan Abdul Rosyid (2011).Al-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan PT Mizan Publishing House. Bandung 

Rabu, 10 Juli 2013

AL-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan (4)




Paradigma Fikih (4)
Kejayaan umat Islam sekarang tinggal kenangan karena negeri-negeri muslim umumnya masih terbelakang, bodoh, dan miskin. Akhir abad 14 Hijriah, Dunia Islam sempat menggaungkan abad 15 hijriyah sebagai abad kebangkitan muslim. Gaung kebangkitan ini terus terdengar sampai hampir dua dasawarsa awal abad ke-15.

Di kota-kota besar di Indonesia diselenggarakan berbagai kegiatan, seperti festival seni muslim. Kisah kehebatan para sarjana muslim generasi awal juga mendominasi panggung cerita untuk menumbuhkan motivasi umat. Tetapi sayang, cerita-cerita kehebatan para ilmuwan muslim masa lalu tersebut seperti tidak berdampak sedikit pun dan seolah menjadi cerita pengantar tidur, bahkan sampai saat ini. Artinya, umat Islam tetap tertidur dan terbelakang setelah berulang-berulang mendengar cerita tersebut. Alih-alih umat berubah sikap dan melangkah maju, yang terjadi malah kecenderungan sebaliknya. Kisah dan tayangan irasional serta mengingkari akal sehat di media cetak dan elektronik justru digandrungi masyarakat.

Diskusi dan seminar yang membahas masalah keterbelakangan umat Islam pun telah banyak dilakukan. Bila dicermati dengan seksama, tema, isi dan kesimpulan seminar atau konferensi seolah-olah membenarkan pernyataan yang bernada menggugat dari Syaikh Jauhari Thanthawi, guru besar Universitas Kairo. Di dalam tafsirnya, Al-Jawahir, Syaikh Thanthawi menulis bahwa di dalam Kitab Suci Al-Qur’an terdapat lebih dari 750 ayat kauniyah, ayat tentang alam semesta, dan hanya sekitar 150 ayat fiqih. Anehnya, para ulama telah menulis ribuan fiqih, tetapi nyaris tidak memerhatikan serta menulis kitab tentang alam raya dan isinya.  
Umat dan para ulama banyak menghabiskan waktu, pikiran, tenaga, dan dana untuk membahas persoalan fiqih, dan sering berseteru serta bertengkar karenanya. Mereka lalai atas fenomena terbitnya matahari, beredarnya bulan, dan kelap-kelipnya bintang. Mereka abaikan gerak awan dilangit, kilat yang menyambar, listrik yang membakar, malam yang gelap gulita, dan mutiara yang gemerlap. Merka juga tak tertarik pada aneka tumbuhan di sekitarnya, binatang ternak maupun binatang buas yang bertebaran di muka bumi, dan aneka fenomena serta keajaiban alam lainya.

Selain disibukkan dengan urusan fiqih, pengalaman dan pengamalan keagamaan kita memang cenderung esoteris dan mengabaikan serta meremehkan akal. Padahal secara empirik, akal sangat powerful. Al-Qur’an sendiri tidak kurang dari 43 kali menggunakan kata akal dalam bentuk verbal, seperti afalaˉta’qilūn, “apakah engkau tak berpikir”. Sepuluh ayat lainya menggunakan kata verbal pikir, seperti la’allakum tafakkarū “agar engkau memikirkanya”. Teguran agar manusia menggunakan akalnya seoptimal mungkin.

.........

Pustaka:
Sofyan Abdul Rosyid (2011).Al-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan PT Mizan Publishing House. Bandung