Selasa, 17 Desember 2013

Duniaku ANGKA


 duniaku angka


Menulis angka adalah hal yang lazim dilakukan seseorang yang bergelut di bagian yang membutuhkan perhitungan.Bahkan,menulis angka adalah sebuah kewajiban bagi siapa saja untuk bisa hidup dengan baik di masyarakat. Bagaimana jadinya seseorang kalau ingin melakukan sesuatu tanpa tau cara menulis angka?Tentunya seseorang tersebut akan disebut orang buta, tepatnya buta angka. Sekarang kita akan kembali ke topik kita yaitu Mengetahui/Menebak Kepribadiaan Seseorang dari Caranya Menulis Angka.

Setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda dalam menulis angka dari angka 1 sampai 9.Menurut ilmu logis,ada cara tertentu yang bisa dipakai seseorang untuk lebih mengenal sosok orang lain dengan hanya melihat angka yang ditulisnya.Berikut,kami sajikan ilmu rahasia kami.
Cara menulis angka 1;
Jika seseorang menulis angka satu hanya sebuah garis lurus saja,berarti orang tersebut adalah orang yang pemalas dan tidak mau ribet.Orang seperti ini,biasanya adalah tipe yang tidak begitu suka terhadap segala sesuatu yang rumit. Jika seseorang menulis angka satu lengkap,maka orang tersebut adalah tipe orang yang formal,serius,dan selalu memperhatikan hal kecil dalam hidupnya.
Cara menulis angka 3;
Jika seseorang menulis angka tiga,dimana bulatan diatas lebih kecil dari bulatan dibawah,maka orang tersebut adalah tipe orang yang kurang cerdas dalam hal percintaan.
Jika seseorang menulis angka tiga dengan baik,tanpa ada coretan berlebih,maka orang tersebut bisa ditebak sebagai orang yang bakal memiliki 3 hal baik dalam hidup.
Cara menulis angka 4;
Jika seseorang menulis angka empat dimana sudut bagian atasnya tidak miring menutup,tetapi malah terbuka maka orang tersebut adalah orang yang terbuka dan selalu free n joy dalam hidup. Jika seseorang menulis angka empat dengan baik,dengan ujung yang menempel dan berbentuk miring,maka orang tersebut biasanya adalah orang yang suka dengan sesuatu yang cepat.
Cara menulis angka 9;
Jika seseorang menulis angka sembilan tetapi nampak seperti huruf g,maka orang tersebut adalah tipe orang baik,peduli terhadap sesama,mudah tertawa dan terkadang sangat ceroboh. Jika seseorang menulis angka sembilan tampak biasa,maka orang tersebut adalah orang yang tidak begitu peduli terhadap hal diluar dirinya,apalagi yang menyangkut dirinya.

Demikian rahasia menebak kepribadian orang lewat cara mereka menulis angka.Kenapa hanya ada 4 angka yang kami tunjukkan disini?Itu karena hanya keempat angka inilah yang paling sering berkarakteristik pada setiap orang.Ada juga angka tujuh,sebagai angka yang unik,kami tidak akan membeberkan rahasia tersebut.Oh iya,tulisan ini semata-mata hanya untuk menebak kepribadian orang,bukan merupakan patokan apalagi pedoman dalam menentukan dan menilai seseorang.

Semoga Bermanfaat 

Pustaka:
http://peluang-limatigaempat.blogspot.com/2012/05/melihat-kepribadian-seseorang-dari-cara.html/unduh/17/12/13




Senin, 16 Desember 2013

Pagi di Keseimbangan

Keseimbangan


Work & Life Balance Itu Riil, Bukan Kebohongan



“Saya menemukan bahwa yang utama dari work & life balance [WLB] adalah tentang keseimbangan di dalam pikiran dan jiwa, bukanlah keseimbangan fisik dan waktu”  Certain  wisdom Any balance, harus dilihat dengan sudut pandang yang lebih tinggi, a certain wisdom,  bukan  sekedar “bagi-bagi waktu” antara urusan kerja dan keluarga atau kerja dan urusan spiritual atau antara  kerja dan urusan diri sendiri. Jika Anda menganut prinsip WLB sebagai prinsip bagi waktu seperti ini, tak akan pernah bisa “adil.”  WLB adalah tentang manajemen diri dan wisdom diri, dan manajemen diri serta wisdom itu riil, bukan kebohongan.
Jika Anda mendefinisikan  the balance sebagai kombinasi antara  “enjoyment of life”  dan  “achievement of work” itu mak-sense.  Jika Anda mengatakan WLB adalah  “giving life to work,” supaya hidup itu tidak diperbudak oleh “hanya kerja,” alias workaholic,   juga bisa.  Jika Anda berpendapat bahwa WLB adalah totality of life and the universe,  itu oke. Jika agak sedikit matematis,  Anda yang dari HR, akan berfikir WLB adalah urusan  keseimbangan hak antara employee dan employer, itu fair.  Dan penganut  yang terakhir ini, sedang banyak di Amerika.  Sehingga disana,  hak cuti hamil, hak cuti sakit, hak cuti bepergian,  semua diatur melalui standing-instruction atau SE perusahaan, dst.
No time division
Jim Bird dari worklifebalance.com, berpendapat, manusia “tidak” mungkin bisa membagi waktu secara benar-benar equal, adil dan persis sama diantara banyak urusan dalam hidup dan kerja, maksudnya antara kesibukan di pekerjaan dan quadrant hidup lainnya.  Saya sependapat dengan Jim Bird dan dengan Anda.  Seorang  ibu rumah tangga yang bekerja,  “tak akan” pernah bisa mengatakan kepada diri sendirinya, ” Aku akan menaruh semua urusan  pekerjaanku  di depan pintu rumah, ketika aku masuk rumah dan bertemu keluargaku. Dan sebaliknya, “aku akan menaruh semua  urusan keluarga di depan pintu kantor, ketika aku akan bekerja.”  Itu tak mungkin,  bukan?  Ternyata, tanpa disadari oleh ibu tsb., ia  malah bermimpi tentang  nasabah tua yang marah-marah tadi siang di kantor, di dalam tidurnya.  Wisdomnya adalah,  terimalah anugerah mimpi itu.
Manusia berkecenderungan secara alami untuk membuat ketidak-seimbangan, menjadi seimbang kembali.   Keseimbangan itu alamiah saja. Siang - malam, hitam dan putih, kenyang dan lapar,  keluar dan masuk,  bekerja dan tidur,  bisnis dan sosial,  tua dan muda,  benar dan salah, utara dan selatan, adalah keseimbangan alam-semesta yang diatur secara natual oleh Tuhan, Kekuatan Maha Besar.  “Terimalah” apa adanya, model  keseimbangan seperti 2 muka koin itu  dan biarkanlah kekuatan alami itu berjalan apa adanya.   Maksudnya,  jangan  sampai Anda  “membunuh”  mimpi malam tentang nasabah marah-marah itu.  Atau Anda mencoba  membenturkan  kepala ke dinding karena tidak bisa konsentrasi kerja di kantor,  karena memikirkan anak sakit di rumah.   Contoh lain,  jika Anda mencoba menyemir rambut habis-habisan, itu mengganggu keseimbangan. Toh kita tak bisa menyemir  wajah kita  jadi muda kembali  atau merubah  umur jadi  muda lagi.  Jika rambut mulai 2 warna, terimalah.  Jika hidung agak pesek, terimalah. Karena jika Anda mulai menyuntik silikon ke wajah, itu merusakkan keseimbangan.  Jika kulit agak gelap, terimalah, jangan dioperasi. Jika rambut sangat keriting, terimalah, jangan direbonding. Percayalah, alam dan Tuhan akan membantu kita menikmati keseimbangan hidup.  Nasabah yang marah, ternyata karena ia sayang dan loyal dengan perusahaan kita dan ia ingin kita memberi layanan yang baik. Jika kita rendah hati dan mau melakukan perbaikan, maka layanan kita segera lebih baik. Positif bukan?  Jika rambut kita agak memutih, justru itu menandakan kematangan dan wisdom. Baik bukan?  Wisdomnya adalah, terimalah pergerakan irama alami kehidupan kita [life acceptance], tetapi  bukan menyerah.

Balanced life quadrant
Paling tidak, saya menganut  5 quadrant [urusan] hidup yang harus kita urusi setiap saat, agar kehidupan kita seimbang, damai, tenang dan tidak stressful. Mereka adalah quadrant  “Faith, Finance, Family, Friends dan Fit” [5Fs].  Jim Bird mengatakan ada 4 quadrant,  Work, Family,  Friends dan Self.  Siapa saja bisa membagi quadrantnya masing-masing, sesuai selera dan wisdomnya.   Anda mungkin tipe pribadi yang suka njelimet dan presisi, Anda bisa membaginya menjadi 10 quadrant.  It is fair. Jika Anda tipe pribadi  simple-life, semua hal disederhanakan,  Anda silahkan membaginya menjadi  3 quadrant saja,  Faith, family dan finance.  It is so simple.   Kenyataan dan realitanya, 3 atau 10 quadrant,   kita tidak pernah bisa membagi waktu secara adil terhadap 3 atau 10 urusan itu, bukan?  Karena kehidupan ini mengalir seperti cairan, fluid.    Untuk itu,  saya sepakat dengan Jim, bahwa otak kita tak bisa dibagi-bagi dan dikotak-kotakkan menurut quadrant-quadrant seperti itu, kerja dan keluarga, kerja dan sosial, kerja dan ibadah, kerja dan hobi, kerja dan kebahagiaan, dst dst.
Lalu keseimbangan kerja dan kehidupan itu sebaiknya seperti apa? Bagaimana memanagenya?  Saya lebih mengatakan, WLB adalah memberi perhatian proportional [seimbang] terhadap semua quadrant hidup kita,  dan itu bukan pembagian waktu yang adil.  Memberi “perhatian” adalah jangan sampai ada satu quadrant hidup  kita  yang “bolong,”  terlantar,  tak terurusi.
Jika itu terjadi,  hidup kita tidak seimbang.  Degree atau tingkat, dimana satu quadrant terlantar  dibandingkan quadrant lainnya,  berbeda  satu orang dengan lainnya.   It is normal.

How to manage it
Karena keseimbangan esensinya  adalah sebuah seni bukan eksakta matematika, maka managemen keseimbangan adalah upaya yang sederhana, simple dan mudah, tidak serumit matematika dan ilmu kimia.  Fokusnya dan kuncinya ada di kendali PIKIRAN Anda sendiri, saya sebut sebagai  dimensi perhatian, porsi atau sentuhan.  Keseimbangan adalah memperhatikan keseluruhan, sampai Anda sendiri merasa “semua hal  terkendali dengan baik,  happy, tenang, nyaman dan damai.”   Ia adalah kombinasi antara kinerja alam, kinerja wisdom [hikmat] dan mind-set [pengaturan pikiran].
Karena melibatkan kerja wisdom dan pikiran,  yang menentukan ukurannya adalah Anda sendiri.  Ya,  WLB adalah subyektif, unik dan specific, tapi dapat diukur.  Sebagai contoh,   jika quadrant  ibadah kita sedang “bolong” dalam waktu yang cukup lama, misalkan 5 tahun,  maka wisdom Anda akan mengatakan “something wrong must be corrected soon.”      Jika ternyata Anda kelewat sibuk dengan pekerjaan,  maka  alarm WLB akan  berdering di otak Anda, “hey, berhenti bekerja dan ingatlah aku disini.”   Jika Anda tetap membandel,  maka bukan lagi alarm keseimbangan yang datang mengingatkan Anda,  jiwa dan roh spiritual Anda sendiri  akan terasa “sakit.”  Hidup spiritual  Anda akan terasa hampa, kering, kosong dan tak bermakna. Ini adalah  tandanya,  indikatornya, signalnya.   Ini  adalah hukum keseimbangan alami.   Keseimbanganlah yang  akan  bekerja sendiri,  otomatis,  menjaga  total hidup kita harmoni dan selaras.
Sekali lagi, WLB,  bukanlah tentang membagi waktu, melainkan memberi perhatian, atensi, porsi, sentuhan  dan mengendalikan quadrant hidup kita.  Itu  2 hal yang berbeda, yang satu  tentang  atensi/kendali  [wisdom]  dan yang satunya  tentang  bagi-bagi waktu.   Setelah Anda “tersadar” bahwa jiwa spiritual Anda “kosong dan sakit,”  saat itulah Anda harus memberi perhatian khusus [atensi, energi sentuhan] terhadap kehidupan spiritual Anda [quadrant Faith, ibadah], agar kembali dalam kondisi harmonis dan selaras.   Indikatornya mudah diamati dan dirasakan, jiwa Anda  kini menjadi  tenang dan damai kembali,  apa saja yang Anda lakukan kini menjadi lebih bermakna dan berarti.  Itulah kerja quadrant Faith atau ibadah, keimanan Anda.  Teknisnya, ya benar,  Anda  tentu  akan  membutuhkan  “dimensi waktu”  [alokasi waktu] tertentu  untuk  menegakkan ibadah Anda. Waktu hanyalah media, sarana dan alat di dalam menjaga keseimbangan.  Karena bersifat subyektif, unik dan specific, maka level kecukupan pencerahan [charging spiritual] tsb, tentu berbeda-beda antar individu.  Pak Anwar membutuhkan waktu pemulihan iman 2 tahun, tetapi ibu Anwar, istrinya, hanya butuh waktu 1 tahun.

Life art
Contoh lainnya,  bagi pak Roy hanya butuh waktu 1 bulan untuk memulihkan kekosongan hubungannya dengan anaknya [quadrant Family].  Tetapi bagi  ibu Roy butuh 6-12 bulan untuk memulihkan kembali  hubungan yang  “terputus”  dengan anaknya yang sudah lama ia tinggalkan dengan baby sitter dan memanjakannya dengan uang berlimpah. Hukum keseimbangan akan bekerja mengirimkan “alarm WLB”  lebih lambat  kepada ibu Roy.   Ibu Roy, akan  melewati proses pemulihan sbb.:  menyesali  gaya hidupnya,  merenungi kesalahannya,  menangisi dosanya dan  mencari cara terbaik sebagai langkah iman.  Ia mulai pelan-pelan mendekati sang anak. Disini ia membutuhkan adaptasi waktu yang lebih lama ketimbang pak Roy.
Bagi pak Roy,  WLB itu masalah  mudah saja  untuk diatasi, sekali sentuh, anaknya langsung “terobati”  [dipulihkan].   At the end, setelah ibu Roy melewati proses pemulihan yang  “berdarah-darah” tsb,  hubungan dengan anaknya,  dipulihkan.  Ia tak belajar itu semua dari bangku sekolah.   Ia menemukannya sendiri, meramunya sendiri dan meraciknya sendiri.  It is an art of life.   Ia lalu menata-ulang pola hidupnya, hingga keseimbangan antara urusan  kerja dan  urusan keluarga menjadi baik.  WLB itu seni hidup, benar-benar tentang sebuah seni. Ia bisa dirasakan, dijiwai dan dipelajari dari alam semesta dan dipraktekkan.
WLB atau keseimbangan adalah kerja alam, wisdom [hikmat] dan kinerja pikiran. Oleh karenanya keseimbangan adalah tentang sebuah seni hidup [life art,  a basic life-skill],  bukan eksakta matematika, apalagi hanya soal bagi-bagi waktu.”  WLB bisa dilatih dan dikembangkan [acquired] oleh siapa saja,  sesuai kedewasaan dan kematangannya.
Jika seandaninya  Anda membutuhkan bantuan khusus, Anda bisa mulai membaca buku-buku atau mencari teman,  mengikuti komunitas yoga atau meditasi di kota Anda  atau bertanya kepada seseorang yang lebih senior atau kepada fasilitator/mentor. 
.....
harry purnama, coach/mentor WLB
harry.uncommon@yahoo.co.id atau 0821.3147.7119

pustaka:



Mitra




Entah pagi, entah siang, entah sore yang hanya tersisa selembar, terlebih malam dengan segala rahasia pada gelapnya, mereka selalu menggigilkan ujung matamu. 
Ada yang terpagut begitu lama. Berdiri dengan seluruh ingatan yang berjejalan. Membuatmu menjadi pemetik bulir-bulir yang perlahan jatuh, mengaduh di pipimu. 
Kemudian kau pergi ke dapur, menyeduh secangkir kopi. Katamu, ini kupersembahkan untuk kesunyian yang selalu ada menemani. Kau sambut dengan diam. Lalu mendadak ada yang menusuk dadamu. 
Ternyata diam itu seperti pisau yang mencabik dirinya sendiri. 
Kau pun tercabik (catatan senja mitra bisnis)








Minggu, 15 Desember 2013

Bermain dgn Rasa yg SAMA


Rendra dan Manaba
Bermain dengan rasa yang sama



Pustaka:
kompasiana.com/bisnis/2013/11/24/unduh 16/12/2013

Aset






Akses








Keterkaitan Antara Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif






Permasalahan perekonomian yang melanda Indonesia begitu kompleks. Satu diantara berbagai permasalahan tersebut adalah begitu besarnya angka pengangguran di Indonesia. Lapangan pekerjaan yang tersedia masih jauh dari cukup untuk menampung jumlah tenaga kerja yang begitu banyak.  Hal ini sudah menjadi pekerjaan rumah pemerintah sejak lama yang sampai sekarang belum dapat dituntaskan. Berbagai usaha telah ditempuh untuk mengatasi masalah ini, salah satunya adalah sosialisasi tentang pembudayaan kewirausahaan (enterpreneurship) yang marak dilakukan lewat berbagai cara, mulai dari pendidikan sekolah, hingga melalui seminar-seminar dan penyuluhan di berbagai tempat dengan peserta dari berbagai golongan, mulai dari pelajar.

Lalu sebenarnya, apakah kewirausahaan itu? Berbagai pendapat berbeda pun timbul dari para ahli untuk mendefinisikan kewirausahaan. Richard Cantillon (1775) misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Definisi lain di ungkapkan Harvey Leibenstein (1968-1979) yakni kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.

Singkat kata, Kewirausahaan bisa diartikan sebagai  kemampuan mandiri dan bekerja independen untuk mencapai kesejahteraan. Kewirausahaan juga merupakan sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.

Seorang yang mengaplikasikan konsep dari kewirausahaan yaitu bekerja dengan independen dan menciptakan lapangan kerja sendiri dengan menjalankan usahanya berdasarkan idenya sendiri,dan menggunakan sumber daya yang tersedia secara kreatif dan inovatif, atau istilah populernya berbisnis disebut wirausaha. Kewirausahaan tidak mutlak dimiliki oleh wirausaha dalam dunia bisnis saja. Kenyataannya, sifat kewirausahaan juga banyak dimiliki karyawan, baik swasta ataupun pemerintah. Sifat kewirausahaan, itu sendiri muncul ketika seseorang berani mengembangkan ide-idenya dengan usaha-usaha tertentu. Tidak mudah untuk memiliki jiwa kewirausahaan. Kewirausahaan mencakup:
A.Sikap-sikap kewirausahaaan:
Disiplin: Memiliki kedisiplinan yang tinggi atas ketepatan terhadap waktu, kualitas pekerjaan, sistem kerja.
Komitmen Tinggi: Komitmen adalah kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Seorang wirausahawan harus memiliki komitmen yang jelas, terarah dan bersifat progresif (berorientasi pada kemajuan).
Jujur: Kejujuran mengenai karakteristik produk (barang dan jasa) yang ditawarkan, kejujuran dalam promosi, kejujuran pelayanan yang dijanjikan dan kejujuran dalam  kegiatan terkait dengan penjualan produk yang dilakukan.
Kreatif dan Inovatif: Untuk memenangkan persaingan, harus memiliki daya kreativitas tinggi dilandasi oleh cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang telah ada.

Mandiri: Dapat melakukan keinginan dengan baik tanpa ketergantungan pihak lain dalam mengambil keputusan termasuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Realistis: Mampu menggunakan fakta/realita sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan atau perbuatannya.

B.Tahap Kewirausahaan:
Tahap memulai: niat untuk usaha, melihat peluang usaha yang mungkin, menentukan jenis usaha.
Tahap melaksanakan usaha: mengelola pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil resiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
Tahap mempertahankan usaha: melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindak lanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Tahap mengembangkan usaha: jika hasil yang diperoleh mengalami perkembangan atau dapat bertahan, perluasan usaha mungkin dilakukan.

C. Ciri-ciri wirausaha  yang berhasil:
1.  Memiliki visi dan tujuan yang jelas.
2. Inisiatif dan selalu proaktif tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetapi lebih   dahulu memulai dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan.
3. Berorientasi pada prestasi. Mutu produk, pelayanan yang diberikan, serta kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama.Setiap waktu segala aktifitas usaha yang dijalankan selalu dievaluasi dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.
4.  Berani mengambil risiko.
5. Kerja keras. Jam kerja tidak terbatas pada waktu, di mana ada peluang dia datang.
6.  Bertanggungjawab terhadap segala aktivitas yang dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Tanggung jawab seorang pengusaha tidak hanya pada segi material, tetapi juga moral kepada berbagai pihak.
7.  Komitmen pada berbagai pihak.
8. Mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun tidak, antara lain kepada: para pelanggan, pemerintah, pemasok, serta masyarakat luas.

Bercermin dari negara-negara maju di dunia, seperti di Negara-Negara Eropa,Amerika,dan Kanada yang sudah mendapat pendidikan kewirausahaan sejak tahun 1950, di Indonesia saat ini di pendidikan tentang kewirausahaan sangat gencar diberikan kepada masyarakat sejak dini dengan harapan kewirausahaan tersebut dapat berakar kuat dalam diri masyarakat Indonesia sehingga memunculkan banyak wirausahawan yang menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Kondisi yang sering terjadi adalah anak-anak Indonesia setelah tamat sekolah, yang terbersit dipikirannya adalah bekerja. Melihat kondisi Indonesia saat ini, dengan ketersediaan lapangan kerja yang tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja, pola pikir seperti itu tidak tepat. Mengapa? Karena pola pikir seperti itu tidak memacu kreatifitas dalam diri. Kecenderungan untuk hanya meniru lah yang akan timbul. Sesungguhnya, keterampilan untuk mencipta sesuatu ide dan gagasan barulah yang sangat diperlukan.

Kreatifitas memang sangatlah penting dan diperlukan bagi orang yang memiliki jiwa kewirausahaan. Kreatifitas itu jugalah yang menjadi dasar fenomena munculnya konsep Ekonomi Kreatif yang sekarang ini juga marak disosialisasikan, bersamaan dengan pendidikan kewirausahaan pada masyarakat indonesia.
Apakah Ekonomi Kreatif itu? Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan  ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Mengapa konsep ini bisa muncul? Di jaman moderen ini, semakin disadari bahwa ide adalah barang ekonomi yang sangat penting.

Dengan ide, produksi akan barang dan jasa menjadi tiada hentinya, selalu ada terobosan baru yang mengungguli trobosan lama. Contohnya, zaman dahulu, televisi tidak berwarna, kemudian berkembang menjadi televisi berwarna. Televisi terus berkembang. Sekarang, diciptakan televisi yang sangat tipis, menggunakan teknologi LED dengan berbagai fitur lainnya. Barang yang diciptakan semakin mengalami perkembangan teknologi yang menawarkan berbagai keuntungan bagi para konsumen sehingga orang-orang akan selalu tertarik untuk membelinya. Itu semua berawal dari ide yang menghasilkan kreatifitas dalam menciptakan, sehingga dalam suatu barang hasil produksi, yang diutamakan bukan hanya satu fungsi, tetapi menjadikan barang tersebut multifungsi. Ide tersebut tidak akan pernah habis karena selama manusia hidup, manusia akan memiliki ide-ide itu. Ide–ide kreatif membuat orang bisa menggunakan dan mengkombinasikan sumber daya fisik yang terbatas untuk tetap melakukan kegiatan ekonomi. Misalnya kemunculan berbagai pernak-pernik lucu dan unik seperti tas, tempat pensil, mainan, dll yang berasal dari daur ulang sampah. Sampah yang harusnya dibuang, bisa dimanfaatkan untuk menciptakan benda bernilai guna, yang tidak hanya memiliki fungsi tertentu, tapi juga menampilkan keindahan dan keunikan, bahkan bernilai ekonomi.

Melihat pentingnya pengembangan Ekonomi Kreatif, Instansi-instansi pemerintah seperti, Kementerian Negara dan Riset, Kementerian BUMN, Kementerian Nasional dan Kementerian Pertanian berkoordinator dalam mensosialisasikan pengembangan Ekonomi Kreatif dengan misi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Instansi-Instansi tersebut memiliki tugas-tugas tersendiri untuk menjalankan misi tersebut, sesuai dengan Inpres No.6 Tahun 2009(http://www.Indonesiakreatif.net).

Lalu,adakah hubungan pembahasan mengenai kewirausahaan dengan ekonomi kreatif? Tentu saja ada.
Dalam misi untuk mendorong masyarakat menjadi wirausahawan baru yang sukses sehingga menciptakan banyak lapangan kerja baru yang menyerap begitu membludaknya jumlah penggangguran di Indonesia, konsep ekonomi kreatif dirasa paling tepat ditanamkan pada pemikiran  masyarakat dalam memberi motivasi untuk berwirausaha karena untuk berwirausaha dengan konsep ekonomi kreatif, ide adalah modal utama. Dengan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia yang relatif rendah, konsep ini diharapkan mampu memotivasi masyarakat untuk berwirausaha walaupun dengan modal yang sangat terbatas sekalipun.

Sosialisasi untuk membudayakan kewirausahaan disertai pemanfaatan konsep ekonomi kreatif cukup efektif karena ada cukup banyak wirausahawan baru yang muncul dan menuai sukses dengan berbekal dua hal penting tersebut. Hebatnya, banyak diantara wirausahawan baru tersebut yang  masih belia. Ini adalah berita baik dimana tujuan dari pendidikan kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif yakni, mendorong munculnya wirausahaan muda dapat terealisasi.

Contohnya Suhas Gopinath. CEO Global Inc yang memulai bisnis pada usia 14 tahun. Gopinath lahir di Bengaluru, Karnataka, India, 4 Nopember 1986. Gopinath membangun Global Inc di San Jose, California, pada tahun 2000. Perusahaan teknologi informasi ini melayani software solutions, mobile, dan e-commerce dengan pendapatan jutaan dolar.  Semula dia hanya mempekerjakan enam orang karyawan dengan bayaran 15 rupee per jam atau Rp 15.000. Namun kini dia memiliki 600 karyawan yang kesemuanya berusia muda.  Atas prestasinya yang luar biasa, Gopinath sudah sering diberi penghargaan sebagai pengusaha termuda oleh berbagai instansi seperi European Parliament, World Economic Forum. (Http://adesyam.blogspot.com)

Kisah di atas bisa dijadikan motivator bagi masyarakat Indonesia, terutama generasi muda dengan tingkat kreatifitas tinggi untuk memanfaatkan kreatifitas yang dimiliki dan bekal pendidikan budaya kewirausahaan lewat berbagai media untuk membangun negeri Indonesia tercinta ini dengan menunjukkan kemampuan mencipta bukan meniru dan memakai saja.
 
Tunjukkan Kreatifitasmu! Buktikan pada dunia bahwa bangsa indonesia adalah bangsa yang berkualitas, cerdas, mandiri, kreatif, dan inovatif dengan menciptakan terobosan-terobosan baru di berbagai bidang! Jadilah pengusaha yang sukses yang tidak hanya membawa kesejahteraan bagi dirimu sendiri, melainkan bagi bangsa dan negara!

Pustaka: