Selasa, 29 Januari 2013

CATATAN: terkait matematika ekonomi

1. Deret
Materi Deret Hitung dan Deret Ukur Bagian 1 [Download]
Materi Deret Hitung dan Deret Ukur Bagian 2 [Download]
Materi Penerapan Deret dalm Bidang Ekonomi [Download]

2. Fungsi Linear
Materi Fungsi Linear [Download]
Materi Penerapan Fungsi Linear dalam Bidang Ekonomi [Download]

3. Fungsi Non-Linear
Materi Fungsi Non-Linear (Fungsi Kuadrat) [Download]
Materi Fungsi Non-Linear (Fungsi Kubik) [Download]
Materi Penerapan Fungsi Non-Linear dalam Bidang Ekonomi [Download]

4. Diferensial
Materi Diferensial Fungsi Sederhana [Download]
Materi Penerapan Diferensial dalam Bidang Ekonomi (Elastisitas) [Download]
Materi Penerapan Diferensial dalam Bidang Ekonomi (Utilitas) [Download]

4. Integral
Materi Integral [Download] 
SUMBER:  http://dewikusumawardani.blogspot.com/p/materi-kuliah.html

Kamis, 03 Januari 2013

Sukses: 20% skill, 80% attitude!


Dalam suatu kesempatan di Nagoya, Jepang saya sempat bertemu salah satu executive Toyota Corp. Ketika saya bertanya, apakah yang paling anda perhatikan dalam menerima atau mempromosikan karyawan anda? Dengan lugas dia menjawab, “pertama Attitude, kedua, attitude, ketiga, attitude!” “kemudian baru skill”.  Jelasnya lebih lanjut. Saya agak surprise juga dengan jawabannya.  Kenapa attitude begitu penting?

Banyak lulusan baru (universitas) yang menyamakan antara “skill” mereka dengan gelar atau kualifikasi yang mereka miliki. Memang benar, apa yang anda telah pelajari dan apa yang dapat anda lakukan adalah berhubungan, tetapi ini tidak sama.

Suatu “skill” adalah kapasitas yang berkembang, kemampuan untuk memutuskan, kombinasi antara know-how, praktik, pengetahuan, dan kecerdasan.
Jangan menginterpretasikan skill secara sempit berdasarkan disiplin ilmu anda. Berpikirlah dalam kerangka transferrable skill atau multi-skill. Bagaimana ilmu pengetahuan dan kompetensi yang anda peroleh dari universitas bisa diterapkan ditempat kerja?

Skill seperti apakah yang diperlukan oleh perusahaan-perusahaan asing dalam menerima calon karyawan mereka? Walaupun sebenarnya hal ini bervariasi dari satu industri ke industri lain, atau satu pekerjaan dengan pekerjaan lain, tetapi ada beberapa nilai-nilai yang sama yang diinginkan oleh parusahaan ini terhadap karyawan mereka. Nilai akademis memang penting, tetapi itu bukan segalanya.


Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga piawai dalam aspek soft skillnya. Dunia pendidikanpun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill.

Pada proses recruitment karyawan, kompetensi teknis dan akademis (hard skill) lebih mudah diseleksi. Kompetensi ini dapat langsung dilihat pada daftar riwayat hidup, pengalaman kerja, indeks prestasi dan ketrampilan yang dikuasai. Sedangkan untuk soft skill biasanya dievaluasi oleh psikolog melalui psikotes dan wawancara mendalam. Interpretasi hasil psikotes, meskipun tidak dijamin 100% benar namun sangat membantu perusahaan dalam menempatkan ‘the right person in the right place’.

Hampir semua perusahaan dewasa ini mensyaratkan adanya kombinasi yang sesuai antara hard skill dan soft skill, apapun posisi karyawannya. Di kalangan para praktisi SDM, pendekatan ala hard skill saja kini sudah ditinggalkan. Percuma jika hard skill oke, tetapi soft skill-nya buruk. Hal ini bisa dilihat pada iklan-iklan lowongan kerja berbagai perusahaan yang juga mensyaratkan kemampuan soft skill, seperi team work, kemampuan komunikasi, dan interpersonal relationship, dalam job requirement-nya. Saat menerima karyawan, perusahaan cenderung memilih calon yang memiliki kepribadian lebih baik meskipun hard skill-nya lebih rendah. Alasannya sederhana : memberikan pelatihan ketrampilan jauh lebih mudah daripada pembentukan karakter. Bahkan kemudian muncul tren dalam strategi rekrutmen „ Recruit for Attitude, Train for Skill“.

Hal tersebut menunjukkan bahwa: hard skill merupakan faktor penting dalam bekerja, namun keberhasilan seseorang dalam bekerja biasanya lebih ditentukan oleh soft skill-nya yang baik.

Psikolog kawakan, David McClelland bahkan berani berkata bahwa faktor utama keberhasilan para eksekutif muda dunia adalah kepercayaan diri, daya adaptasi, kepemimpinan dan kemampuan mempengaruhi orang lain. Yang tak lain dan tak bukan merupakan soft skill.***


sumber:
kompasiana, opini..2013

Rabu, 02 Januari 2013

Ekonomi Hijau dan Tata Kelola Lingkungan Berkelanjutan

Indonesia menetapkan konsep green economy (ekonomi hijau) dalam upaya pengentasan kemiskinan dan pembangunan berkelanjutan. Konsep green economy dilaksanakan untuk mendukung pembangunan nasional yang bersifat pro-poor, pro-growth, pro-job dan pro-environmental. Konsep ini dipandang paling ideal dalam meningkatkan kesejahteraan masayrakat dengan tetap menyelamatkan lingkungan. Pembangunan ekonomi yang kurang memperhatikan kelestarian lingungan bukan saja telah memberikan kerusakan yang merugikan tetapi juga berdampak negatif untuk masa yang akan datang.
Konsep ekonomi hijau meliputi cakupan yang luas dan merupakan paradigma baru dalam pembangunan ekonomi yang menggantikan kebijakan-kebijakan lingkungan yang pada masa lalu kerap difokuskan pada solusi jangka pendek. Pendekatan ekonomi hijau merupakan win-win solution dalam mengakhiri perdebatan para penentu kebijakan yang tidak ada habis-habisnya seputar “pelestarian lingkungan” dan “pertumbuhan ekonomi”. Atau dengan kata lain, Ekonomi Hijau adalah model pembangunan ekonomi berbasiskan pengetahuan terhadap ecological economic dan green economic yang bertujuan untuk menjawab saling ketergantungan antara ekonomi dan ekosistem serta dampak negatif akibat aktivitas ekonomi termasuk perubahan iklim dan pamanasan global.
Bercermin pada kondisi Indonesia saat ini, bahwa model pembangunan ekonomi yang dikembangkan telah menggerakkan pembangunan ekonomi yang cenderung ekstraktif dan berjangka pendek. Tanpa menafikan adanya perbaikan kualitas sumber daya dan lingkungan, namun secara umum dapat dikatakan bahwa upaya mempertahankan fungsi lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari masih jauh dari yang diharapkan. Sementara itu, sinyal indikator pertumbuhan ekonomi seperti Produk Domestik Bruto/Produk Domestik Regional Bruto (PDB/PDRB), dan tingkat inflasi tidak diiringi dengan informasi tentang nilai susutnya sumber daya alam (deplesi) dan rusaknya serta tercemarnya lingkungan (degradasi).
Pendekatan Ekonomi Hijau (Green economy approach) dapat dijadikan sebagai suatu model pendekatan pembangunan ekonomi yang tidak lagi mengandalkan pembangunan ekonomi berbasis eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan yang berlebihan. Ekonomi hijau merupakan suatu lompatan besar meninggalkan praktik-praktik ekonomi yang mementingkan keuntungan jangka pendek yang telah mewariskan berbagai permasalahan yang mendesak untuk ditangani termasuk menggerakkan perekonomian yang rendah karbon (low carbon economy).
Eksekutif UNEP, Achim Steiner memuji inisiatif Indonesia dalam bidang green economy untuk mencapai target pertumbuhan berkelanjutan sebesar tujuh persen dan penurunan emisi karbon 26-40 persen pada tahun 2020. Beberepa isu penting yang menjadi fokus pemerintah terkait isu lingkungan dan pembangunan ekonomi hijau seperti penanganan dan pengeloalaan bahan kimia dan limbah berbahaya, pengelolaan limbah dan penanganan masalah e-waste (sampah dari produk/alat elektronik), pengembangan keragaman hayati, pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.
Konfrensi Internasional Pemuda yang pernah dilaksanakan di Yogyakarta pada tahun 2011 bertema “Youth Awarness on Climate Change” dan dihadiri oleh pemuda dari 37 negara, menghasilkan sejumlah rekomendasi penanganan perubahan iklim dan lingkungan, yang dituangkan dalam “Yogyakarta Youth Declaration”. Sejumlah rekomendasi penting yang dikeluarkan berkaitan tata kelola lingkungan hidup dan pembangunan ekonomi hijau, yaitu mendesak setiap negara mengembangkan sumber energi berkelanjutan dan mempromosikan penggunaan energi terbarukan, seperti energi surya, panas bumi, dan energi angin,” meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu-isu lingkungan melalui media, kurikulum pendidikan, dan kegiatan pemuda dalam mendukung kepedulian pada lingkungan.
Selain itu pemerintah perlu mendukung proyek-proyek konservasi berbasis masyarakat, sumber daya alam, pembangunan daerah, teknologi hijau, energi bersih, dan memberikan alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat yang paling rentan akibat perubahan iklim, pengembangan kebijakan konservasi yang memperhitungkan kebutuhan masyarakat miskin dan terpinggirkan.
Pemerintah juga diharapkan untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah dan swasta, melakukan pengelolaan hutan lestari dalam rangka melestarikan sumber daya hutan dengan mempertimbangkan peran hutan untuk kesejahteraan umat manusia. Hal itu dilakukan melalui mitigasi, beradaptasi dengan perubahan iklim, dan membuat kerangka hukum yang memperhatikan masyarakat adat dan kearifan masyarakat lokal, mempromosikan pertukaran pengetahuan dan pengalaman tentang mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dengan membangun jaringan kelembagaan yang ada, baik lembaga pendidikan, organisasi masyarakat sipil, media, sektor swasta, lembaga pemerintahan maupun lembaga agama.
Sektor swasta disarankan untuk mengembangkan lebih banyak produk ramah lingkungan dan berinvestasi untuk program yang ramah lingkungan, seperti mengurangi emisi bahan kimia, racun, dan limbah berbahaya dan gas rumah kaca. “Swasta harus mendorong pengembangan produk penghematan energi dan mempromosikan gaya hidup lestari.
Kerusakan alam dan lingkungan adalah akibat ulah tangan manusia itu sendiri, menjadi kewajiban kita bersama dalam melakukan berbagai macam aktivitas ekonomi dan gaya/kebiasaan hidup sehari-hari untuk selalu memperhatikan aspek lingkungan hidup. Kita harus mewariskan alam yang lestari, sumberdaya alam yang berkelanjutan bagi generasi-gerasi mendatang. (***)

sumber:
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2013/01/03/ekonomi-hijau-dan-tata-kelola-lingkungan-berkelanjutan-521045.html

Pembangunan Inklusif

Tidak perlu pula kita menutup mata bahwa dalam satu dekade terakhir pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dan stabil telah membawa Indonesia masuk ke peringkat negara berpendapatan menengah dengan ciri-ciri penghasilan USD3.000 per kepala.

Masih perlu syarat untuk memenuhi negara berpendapatan menengah atas (USD3.000-USD6.000). Indikator lainnya, juga seiring dengan kenaikan penghasilan masyarakat, di antaranya menurunnya angka pengangguran terbuka mendekati enam persen dari semula sekira sembilan persen di 2000, berkurangnya angka kemiskinan mendekati 12 persen yang semula sekira 16 persen pada 2000. Memang banyak juga yang menyangsikan dampak dari kenaikan penghasilan masyarakat tidak diiringi dengan pemerataan penghasilan.

Dalam rentang waktu yang sama angka ketimpangan pendapatan masyarakat dari ukuran indeks gini naik dari sekira 0,3 menjadi 0,4 pada 2012. Ketimpangan pembangunan daerah juga meningkat jika diukur melalui Indeks Williamson. Ketimpangan infrastruktur ekonomi dan kemajuan sumber daya manusia antara Jawa dengan luar Jawa. Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian masih jauh tertinggal. Tapi ketimpangan juga terlihat di dalam pulau-pulau utama.Di Sumatera, terpusat kemajuan pembangunan pada daerah timur Sumatera dibandingkan dengan wilayah barat Sumatera.

Kalimantan Timur jauh meninggalkan daerah Kalimantan lainnya. Daerah dan rumah tangga yang tertinggal dari segala segi membutuhkan pembangunan inklusif. Kemajuan capaian hasil-hasil pembangunan lambat, terutama pada rumah tangga marginal serta penduduk yang tinggal pada daerah yang secara geografis tidak beruntung, di antaranya daerah tertinggal, terpencil, perbatasan (Galciltas), serta pulau-pulau dan pesisir.

Dalam konsepsi pembangunan inklusif, selain pembangunan infrastruktur, ekonomi, pembangunan kesehatan dan pendidikan memerlukan strategi khas. Strategi yang dapat menjamin keterjangkauan yang dirasakan oleh kelompok rumah tangga yang tinggal di daerah itu. Agenda yang mesti mendapatkan perhatian khusus menjelang berakhirnya target capaian Millennium Develompment Goals(MDGs). Banyak bukti yang menunjukkan bahwa tidak selalu ketertinggalan disebabkan soal keuangan.

Propinsi NAD dan Papua,dua contoh provinsi yang di dalamnya dana alokasi khusus (DAK) dan penambahan daerah otonomi khusus (DOK) yang relatif lebih banyak ternyata digunakan untuk kepentingan memenuhi biaya rutin dan recurrent cost, di samping tingkat korupsi yang juga tinggi.

Pembiayaan yang begitu besar selama lima tahun terakhir untuk daerah yang selama ini tertinggal tidak saja mudah untuk mengatasi ketertinggalan, tetapi juga catching up dengan daerah lain mengingat desain dari pembangunan dan prioritas mesti disesuaikan dengan persoalan pembangunan daerah setempat sehingga format pembangunan mesti dilakukan berbeda dengan daerah yang selama ini bercirikan normal.

Format Pembangunan Inklusif

Pembangunan inklusif membutuhkan upaya untuk mendeteksi akar masalah yang tidak dapat digeneralisasi sama dengan daerah lain dalam kondisi normal. Wilayah dan rumah tangga yang mendiami daerah yang berkarakter tertinggal, terpencil, perbatasan, pulau-pulau di pesisir memerlukan restorasi dari akar masalah tematik yang ditemukan.

Setidaknya pembangunan inklusif yang lebih terfokus untuk mengatasi ketertinggalan dapat ditujukan pada pembangunan pendidikan, kesehatan, kependudukan, dan ekonomi. Pertama, pada bidang pendidikan persoalan utama ditemukan pada sulitnya mencapai akses akan pelayanan pendidikan, apalagi peningkatan kualitas. Pembangunan pendidikan selama ini sebaiknya dikoreksi dengan lebih mendayagunakan sumber daya yang ada dengan mempertajam penyediaan pendidikan layanan khusus (Mudjito, Harizal dan Elfindri, 2012).

Diperlukan penanganan khusus agar keberlangsungan pendidikan anak-anak yang mendiami daerah tematik disesuaikan pula dengan menyiapkan masa depan agar dengan pendidikan mereka mampu semakin mandiri. Kedua, pada bidang kesehatan, penyediaan layanan kesehatan pada daerah tematik mestilah meramu tiga hal. Meningkatkan keterjangkauan layanan dan teknologi kesehatan, saat bersamaan meningkatkan akses akan input kesehatan dan kampanye tingkah laku yang kondusif terhadap hidup bersih dan gizi seimbang.

Jika selama ini penyediaan layanan kesehatan pada puskesmas serta unit pelayanan lebih rendah pada tingkat komunitas, pada pembangunan inklusif kesehatan diperlukan pula pelayanan yang terintegrasi antara pendidikan dan pelayanan kesehatan. Ketiga, apalagi pada aspek kependudukan, angka kelahiran relatif masih tinggi. Selain pasangan usia subur (PUS) memiliki pendidikan rendah, capaian ekonomi rendah,angka ketidakterjangkauan PUS yang ingin mengatasi kelahiran masih cukup tinggi di kisaran 11-12 persen, konfirmasi dari hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012.

Jangkauan akan kepastian program Keluarga Berencana pada daerah sulit adalah suatu yang besar manfaatnya dalam jangka panjang. Keempat, infrastruktur desa, seperti pasar dan jalan, juga perlu dilakukan pemetaan saat bersamaan dengan pembangunan ekonomi. Sudah saatnya penataan pembangunan ekonomi pada daerah terbelakang dilakukan secara terfokus. Desentralisasi dan pemekaran daerah baru tampaknya belum prima menjangkau daerah tematik, kecuali program yang secara terpusat dilahirkan.

Hingga kini belum terdata seberapa banyak daerah yang secara geografis tidak layak dipertahankan untuk hidup penduduk, khusus jika dilihat dari efisiensi penyediaan infrastruktur seperti pendidikan, kesehatan dan infrastruktur ekonomi. Pengosongan daerah yang tidak layak dengan sistem transmigrasi lokal masih memungkinkan untuk diusulkan ulang. Pembangunan inklusif dengan terobosan-terobosan khas memerlukan renungan, rumusan, dan tindakan yang progresif hendaknya.

ELFINDRI
Guru Besar Ekonomi SDM Universitas Andalas (Koran SI/Koran SI/ade) 
sumber:
http://economy.okezone.com/read/2013/01/02/279/740087/pembangunan-inklusif

Kepemimpinan Adalah Visi

Leadership is vision, there is no more to say. Tak ada kata lain, kepemimpinan adalah visi. Demikian kata pakar manajemen modern Peter F. Drucker. Pemimpin juga meniupkan nafas yang menghidupkan dalam organisasi. Tak mudah untuk menjadi pemimpin yang sesuai dengan kebutuhan jaman, tapi tentu saja bukan berarti tidak ada dan tidak bisa. Pertanyaannya adalah berapa kadar takaran kepemimpinan yang dimiliki.

Banyak yang mempunyai syahwat tinggi ingin menjadi pemimpin. Baik pemimpin politik, pemimpin birokrasi, pemimpin perusahaan, pemimpin lembaga pendidikan, pemimpin keagamaan, pemimpin perempuan, pemimpin kepemudaan, pemimpin organisasi paguyuban, bahkan untuk skala pemimpin informal tak jarang sering terjadi rebutan. Hampir setiap hari kita melihat ada musyawarah organisasi silih berganti, ada pelantikan pengurus baru yang kerap terjadi, ada promosi dan mutasi. Ironisnya tidak semua musyawarah organisasi, pelantikan pengurus atau mutasi dan promosi berjalan mulus.

Ada yang menimbulkan kegaduhan, kadang meningggalkan konflik bekepanjangan atau membentuk organisasi tandingan. Kasak- kusuk dan agitasi, melakukan serangan fajar dan serangan siang bolong, kampanye yang berlebih-lebihan, yang berjanji setinggi gunung dan macam-macam upaya dilakukan. Hanya untuk menjuju disatu titik merengkuh jabatan sebagai pemimpin.

Kenapa, menjadi pemimpin sangat obsesi atau mungkin ambisi banyak orang. Konon katanya setiap pemimpin akan melekat minimal tiga hal yaitu, kebanggaan, kehormatan dan fasilitas. Padahal orang bijak mengingatkan bahwa pemimpin itu kepercayaan, amanah dan tanggung jawab.

Terlepas dari kenapa banyak orang ingin menjadi pemimpin dan itu sah saja dan hak azasi setiap orang yang harus dihargai, yang terpenting adalah setiap pemimpin harus mampu memikul kepercayaan, amanah dan tanggung jawab. Karena hal itu menyangkut nasib banyak orang, hajat hidup orang banyak, kemaslahatan masa kini dan juga kepentingan generasi mendatang. Pimpinan yang memberi kepercayaan atau pemilih yang menghibahkan suaranya tentu menggantungkan banyak harapan kepada sang “pemimpin”.

Menjadi pemimpin dituntut tidak hanya mampu melaksanakan rutinitas organisasi tetapi juga harus mampu keluar dari kotak pandora yang mencerahkan melalui learning organization dan learning commitment. Mempunyai inovasi dan kreatifitas serta mampu membangkitkan harapan pengikut organisasi.

Tanggung jawab melayani, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, kemampuan menyelesaikan permasalahan yang muncul dalam organisasi dan dampak sosial serta tanggung jawab terhadap generasi yang akan datang. Pemimpin yang mempunyai tanggung jawab yang tinggi akan melahirkan komitmen yang kokoh serta melahirkan ide-ide baru dengan visi jauh kedepan seperti dinasehati Drucker tersebut diatas.

Tak salah memang apa yang dikatakan orang bijak tadi. Manakala seorang pemimpin mampu mewujudkan kepemimpinannya dengan penuh kepercayaan, amanah dan tanggung jawab, maka tentu saja akan dihormati dan dibanggakan serta layak mendapat fasilitas karena kepemimpinannya. Atau sebaliknya karena tidak amanah dan tidak bertanggung jawab maka wajar jika kemudian pengikut organisasi bahkan masyarakat tidak menghormatinya apalagi membanggakan para pemimpin(***)

sumber:
http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2013/01/02/kepemimpinan-adalah-visi-520854.html

Ambisi, Obsesi, Impian: Keliru Budaya atau Keliru Bahasa?

Umumnya orang Indonesia paling alergi jika ditanyakan mengenai ambisi mereka. Ketika saya memberikan kuliah umum Strategic Management di Kelas S2 sebuah Universitas beberapa waktu yang lalu, saya bertanya kepada 2 orang mahasiswa yang juga Entrepreneur UKM, apa ambisi mereka atas perusahaan yang mereka miliki dalam 5 tahun mendatang. “Boro-boro ambisi, bu, bayar karyawan saja masih berdarah-darah”, jawab salah seorang diantaranya sambil tertawa-tawa, menghindari keseriusan dalam menjawab pertanyaaan saya. Yang kedua malah hanya menyeringai, lelet berpikir.
Delapan dari sepuluh kandidat Manager yang pernah saya interview dalam proses rekrutmen selalu gelagapan jika saya tanyakan apa ambisi pribadi mereka dalam 5 tahun mendatang. Apalagi jika bahasa Inggris mereka amburadul, lebih double lah enggak mudengnya akan makna kata “ambisi” yang berasal dari bahasa Inggris “ambition” itu. Biasanya mereka akan menjawab sambil cengengesan: “Saya tidak punya ambisi yang muluk-muluk, jadi go with the flow saja”. Rasanya kepingin saya jewer kupingnya. Terasa sekali resistensi atas pertanyaan itu. Jika si kandidat kelihatan cerdas dan asertif, saya dengan suka rela akan menerangkan makna kata “ambisi” dan mengkuliahinya sedikit dengan encouragement bahwa setiap orang apalagi seorang manager profesional harus punya komponen ambisi dalam benak mereka. Kalau kandidat yang saya interview kelihatannya klemar-klemer, biasanya langsung saya eliminir saja dari list interview saya. Klemar-klemer dan tidak punya ambisi adalah sebuah kombinasi yang teramat buruk bagi seorang manager profesional. Seorang manager yang hebat harus selalu memiliki ambisi-ambisi untuk mencapai target yang ditetapkan atasannya.
Kata “ambisi” telanjur berkonotasi negatif atau lebih sering dipakai untuk menggambarkan situasi yang negatif dan sarkastik sebagi pengejaran atas kemahsyuran,  kekuasaan serta pencapaian tertentu. Entah “keliru Budaya” atau “keliru Bahasa” kah ini namanya? Keliru Budaya disini saya artikan sebagai terkukungnya kita dalam budaya “being humble” yang sempit, yang lebih dekat pada faham “kacungisme”; artinya menjadi asertif atau mengungkapkan ambisi-ambisi pribadi secara terbuka adalah hal yang tabu dan “tidak timur”. Keliru Bahasa saya artikan sebagai ke-salah-kaprah-an dalam menggunakan atau mengartikan sebuah makna kata yang nota bene berasal dari bahasa asing.
Jadi, bolehkah dikatakan si Ahmad yang Office Boy itu berambisi menjadi supervisor OB, yang artinya bercita-cita mencapai “level of fame and power” sebagai Supervisor OB bahkan mungkin Manager House Keeping sebuah Hotel berbintang 5? Bolehkah saya berambisi menurunkan berat badan saya 10 kg dalam 6 bulan ke depan? Burukkah jika saya berambisi ntuk memperbaiki departemen yang saya pimpin?
Anehnya, orang Indonesia senang sekali dengan kata “Obsesi”. Sesekali coba anda lihat di TV khususnya infotainment. Media infotainment yang sering memulai keliru budaya dan bahasa, dengan ringan bertanya pada seorang artis muda berusia 16 tahun: “Obsesi apa yang ingin anda capai dalam 5 tahun ke depan?”. Si Artis pasti akan dengan lancar menjawab pertanyaan itu, “Saya kepingin umroh, kepingin kawin muda, kepingin main layar lebar” dsb. Orang Indonesia lebih nyaman dengan kata obsesi dari pada ambisi.
Let’s just open The Webster’s Dictionary! Kita buka saja kamus bahasa Inggris!
Definisi “ambition” atau “ambisi’ menurut Webster:
  • A goal or objective that somebody is trying to achieve (Arah atau tujuan tertentu yang seseorang sedang coba capai)
  • A desire for success: a strong feeling of wanting to be successful in life and achieve great thing (Keinginan yang kuat untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan mencapai hal-hal besar atau baik yang diinginkan)
  • Desire for exertion or activity; energy: (Keinginan yang kuat untuk melakukan aktivitas tertentu, semisal: Ambisi untuk diet, mendaki Himalaya, atau kembali kuliah)
  • An eager or strong desire to achieve something, such as fame or power.(Keinginan atau hasrat yang kuat untuk mencapai tingkat kemahsyuran dan kekuasaan tertentu)
Definisi “obsession” atau “obsesi” menurut Webster;
  • Compulsive preoccupation with a fixed idea or an unwanted feeling or emotion, often accompanied by symptoms of anxiety. (Penguasaan pikiran yang didorong oleh perasaan dan emosi yang memaksa atas ide/keinginan tertentu yang sering kali disertai dengan tanda-tanda kecemasan)
  • A compulsive, often unreasonable idea or emotion.(Hasrat /keinginan/ dorongan yang memaksa, kerap kali dengan keinginan atau emosi yang tidak beralasan)
  • An unwelcome, uncontrollable, and persistent idea, thought, image, or emotion that a person cannot help thinking even though it creates significant distress or anxiety. (Keinginan/ide/pikiran/bayangan/emosi yang tidak terkendali, sering datang dengan tidak dikehendaki atau mendesak masuk dalam pikiran seseorang yang mengakibatkan rasa tertekan dan cemas)
So, jika keinginan-keinginan anda masih berupa ide-ide yang mengawang-awang di kepala, masih keluar dalam bentuk “saya kepingin ini”, “saya kepingin anu”, itu berarti anda baru berada pada tahap memiliki impian
Jika impian-impian itu sudah masuk dalam usaha untuk mewujudkannya secara real, jika anda melakukan perencanaan yang terstruktur atas impian-impian itu dan sedang berjalan memfokuskan energi dan pikiran anda untuk mencapainya, berarti anda sudah berada di tahap memiliki ambisi
Jika keinginan-keinginan atau impian-impian anda itu sudah sangat mendominasi pikiran anda, sudah membuat tingkat emosional anda meluap-luap, sudah menguasai pikiran anda tanpa terkendalikan sampai anda kadang gugup memikirkannya, bahkan kadang dengan pengejaran membabi buta, berarti anda sudah terobsesi dengan keinginan-keinginan atau impian-impian itu. Disitu anda sudah berada di tahap memiliki obsesi.
Jadi, semua berawal dari impian. Jangan pernah takut dengan kata “ambisi”, jangan pernah ragu menyusun dan mengungkapkan ambisi anda, dan sebaiknya berhati-hati menggunakan kata “obsesi”. Salah-salah anda malah sedang memperlihatkan sisi gelap psikopat anda!
“Intelligence without ambition is a bird without wings.”― Salvador DalĂ­

sumber:
http://edukasi.kompasiana.com/2013/01/02/ambisi-obsesi-impian-keliru-budaya-atau-keliru-bahasa-515792.html

Selasa, 01 Januari 2013

Contoh Perhitungan Bisnis :

Dalam memulai sebuah bisnis lebih baik kita punya panduan dalam bisnis yang berupa hitung-hitungan bisnis yang mau kita bikin. Panduan berupa hitung-hitungan itu bisa kita bikin sendiri berdasarkan pengamatan yang kita lakukan sendiri, bisa juga dari mencontek dari hitungan bisnis yang sudah ada atau bisa juga dengan cara minta dibikinin hitungan sama orang yang memang jago menghitung.

Hitungan bisnis itu boleh akurat boleh juga nggak akurat, memang yang terbaik adalah jika kita punya hitungan yang akurat tapi kalo nggak punya juga nggak apa-apa sebab pada kenyataannya sebuah bisnis yang sama, jika dikerjakan oleh orang yang berbeda-beda hasilnya juga nggak sama. Tapi mending punya panduan hitungan daripada nggak punya panduan sama sekali kan.

Seperti ini kira-kira contoh dari perhitungan bisnis Warnet dan Laundry:

1. Contoh Perhitungan Warnet :
Jam Operasional : 09.00 - 12.00 (15 jam)
Komputer Warnet : 10 unit
Pegawai : 2 orang dengan gaji 400 ribu/orang
Tarif sewa : Rp 3.000,- /jam

Jam Operasional x Unit Warnet x Tarif Sewa x 30 hari x 60% = Omset/bulan
15 x 10 x 3.000 x 30 x 60% = 2.700.000

Omset : Rp. 2.700.000,-
Gaji : Rp. 800.000,-
Listrik : Rp. 500.000,-
Speedy : Rp. 750.000,-
————————– (-)
LABA : Rp. 650.000,-

Dalam perhitungan ini, memang masih belum dihitung biaya perawatan dan biaya penyusutannya.

2. Contoh Perhitungan Laundry :
Jumlah Mesin Cuci : 3 unit
Biaya Cuci/Kg : Rp. 6.000,-
Biaya Listrik : Rp. 1.000.000,-
Biaya Gaji Pegawai : Rp. 2.000.000,- (4 orang)

Mesin x Omset/hari x Tarif Cuci x 30 hari x 60% = Omset/bulan

Kalau setiap hari kita mendapatkan 100kg/mesin maka :
3 x 100 x 6.000 x 30 x 60% = Rp. 54.000.000,-

Omset/bulan : Rp. 32.400.000,-
Biaya Listrik : Rp. 1.000.000,-
Biaya Gaji : Rp. 2.000.000,-
Softener/Deterjen : Rp. 4.000.000,-
Biaya Penyusutan Alat 5% : Rp. 2.700.000,-
——————————————- (-)
LABA Rp. 22.700.000,-

Beginilah contoh perhitungan kedua bisnis itu berdasarkan dan menurut perhitungan bisnis yang dibuat oleh kawan senior saya….

Apakah perhitungan ini benar atau salah? Ataukah perhitungan ini akurat atau tidak?

Sepertinya nggak ada yang tau sebelum kita membuka kedua bisnis ini sendiri atau diberitahu oleh para pelaku kedua bisnis ini. Sebab hanya para pelaku kedua bisnis saja yang tahu, tapi apapun hasilnya minimal kita punya panduan perhitungan, daripada nggak punya sama sekali kan, mendingan punya korek api yang bisa dinyalakan daripada meraba-raba dalam gelapkan…

@sa_murai
samurai jagoan.com
wenmit.com
fb = samurai jagoan

sumber:
http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2013/01/01/contoh-perhitungan-bisnis--515620.html