Senin, 31 Desember 2012

Peran Human Relation Dalam Menunjang Kinerja Public Relation


Dalam keseharian manusia selalu dituntut untuk membangun relasi antara satu dan yang lainnya. Seutuhnya secara fitrah manusia yang terkombinasi dari lintas individu, etnis, budaya, agama yang berbeda-beda. Manusia sebagai eksistensi merupakan perwujudan makhluk yang dituntut untuk selalu memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan ini sebagai tuntutan realitas dunia yang kompetitif. Untuk mewujudkan eksistensi itu manusia mencoba memrakarsai realitas sosial agar tidak terpuruk dalam ketidakmampuan. Sehingga secara manusiawi dituntut untuk memenuhi semua itu.
Human relation merupakan bentuk pola relasi yang dibangun antar individu untuk membangun interaksi timbal balik sebagai upaya persuasi satu sama lain. Human Relation menjadi unsur penting dalam membangun citra diri, kelompok, organisasi atau perusahaan sekalipun. Dalam kajian komunikasi, human relation menjadi fungsi  komunikasi antarpersonal. Karena di sini melibatkan dua atau lebih individu yang saling berinteraksi. Kalau didefenisikan secara literlek human relation merupakan sikap manusia yang terkesternalisasi dalam bentuk perilaku komunikasi kemanusiaan. Human relation atau hubungan manusiawi bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Hubungan manusiawi seperti ini berdimensi luas atau bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Kita bisa berbicara dengan orang di samping kita ketika sedang berada dalam Bus, Kereta, Kapal, Pesawat, bahkan saat nonton di Bisoskop. Pada umumnya komunikasi ini tidak terarah dan hanya mencoba membangun komunikasi interaktif dangkal.
Dalam dunia kerja yang selalu berupaya untuk meningkatkan produktifitas perusahaan, biasanya individu yang terlibat dalam dunia perusahaan itu dituntut selalu progresif dalam hal apapun. Sehingga tidak jarang kita lihat banyaknya perusahaan mencoba membangun kesepahaman antara pihak perusahaan maupun stakeholder sebagai usaha dalam membangun korelasi psikologis antara pihak yang terkait. Human Relation secara teori bukanlah bagian dari kajian sosial, akan tetapi merupakan praksis psikologi sosial dalam bentuk komunikasi antar personal. Dan manusiawi sekali ketika kita membedah tentang relasi. Apalagi relasi yang kita kaji cukup pragmatis sekali. Yaitu relasi sebagai upaya untuk memenuhi eksistensi dan daya tahan perusahaan atau organisasi sebagai wadah manusia untuk bertahan sebagai entitas yang korelatif dan saling membutuhkan.
Tidak jarang relasi manusiawi atau human relation dijadikan cara untuk mempertahankan apa yang harus dipertahankan manusia itu sendiri. Seperti perusahaan membangun relasi untuk mencoba menjaga stabilitas produksi perusahaan, dan berupaya seprogresif mungkin. Ranah praksis relasi manusiawi inilah yang menjadi bentuk strategi komunikasi organisasi yang diupayakan oleh kegiatan public relation
Public Relation dengan tujuan dasar untuk membangun dan mempertahankan citra terhadap khalayak internal maupun eksternal perusahaan tidak serta merta dibangun atas dasar komunikasi struktural dan seremonial. Karena pada umumnya selama ini masih mengedepankan langkah yang kooptatif dan diskoperatif. Langkah sentra yang dibangun seharusnya  tidak hanya secara komunal atau kelompok, tapi perlu upaya pendekatan secara individual dan kultural.
Antara human relation dan public relation mempunyai kata kunci yang sama. Yaitu sama-sama membangun relasi. Yang membedakan satu sama lain adalah human relation lebih demokratis dan cultural dan tidak terstruktur, namun sangat dalam dan menjiwa. Sedangkan public relation bentuk komunikasinya adalah perusahaan atau orang yang berkepentingan cenderung aktif dan struktural dan tidak mendalam. Human relation mempunyai peran besar untuk membantu  kinerja seorang public relation dalam mempertahankan citra perusahaan atau sebuah organisasi. Human relation tidak hanya penting bagi strategi public relation, akan tetapi human relation juga mempengaruhi daya produksi perusahaan atau organisasi. Manusia yang bekerja dalam perusahaan, dan manusia yang mempunyai kepentingan terhadap perusahaan bukanlah sebuah robot yang tanpa naluriah dan beban psikologis. Ketika karyawan merasa tidak nyaman dan terintimidasi, maka secara drastis kemampuan berfikir dan daya kerja optimal mereka hilang begitu saja. Akhirnya frustasi sosial lantaran tuntutan pekerjaan yang terlalu berlebihan dan komunikasi internal perusahaan yang agresif sehingga memungkinkan terjadinya perselisihan yang akibatnya berefek domino terhadap perusahaan.
Oleh sebab itu perlu adanya stimuli dan motivasi sebagai praktik hubungan manusiawi dengan memanusiakan manusia. Jika dalam relasi butuh kasih sayang, maka dengan kasih sayang kita bekerja. Dalam relasi kita butuh untuk saling menghargai maka pola saling menghargai kita budayakan dalam internal perusahaan dan eksternal perusahaan.
Bentuk aplikasi human relation adalah kepedulian (charity) dan tanggung-jawab (responsibility). Kegiatan Corporate Social Responsibolity yang dilakukan perusahaan merupakan langkah awal bagaimana perusahaan membangun hubungan manusiawi dengan masyarakat atau konsumen. Oleh sebab itu citra perusahaan lebih tergantung bagaimana seorang PR mampu memengaruhi persepsi khalayak. Untuk itu pada saat ini human relation merupakan bentuk strategi yang paling jitu untuk mendongkrak kinerja public relation.

sumber:
http://ekonomi.kompasiana.com/marketing/2012/12/31/peran-human-relation-dalam-menunjang-kinerja-public-relation-515342.html

Memacu Kualitas Pertumbuhan dan Kesejahteraan

Sepanjang tahun 2012 telah kita lalui dan kita segera mulai menapaki tahun 2013, dengan risiko ekonomi yang masih diselimuti oleh ancaman krisis Eropa dan Amerika. Pencapaian kinerja ekonomi tahun 2012 yang positif dengan pertumbuhan di atas 6 persen, diperkirakan masih akan berlanjut dalam tahun 2013.

Fundamental ekonomi masih akan kokoh dengan ditopang oleh dua mesin pertumbuhan yakni konsumsi rumah tangga dan investasi. Predikat sebagai negara layak investasi (investment grade) yang dicapai pada awal tahun 2012 dari dua lembaga pemeringkat internasional, yakni Fitch, yang memberi predikat dengan notasi BBB- dari BB dan Moody’s dengan Baa3 dari sebelumnya Ba1, ikut memberikan efek positif terhadap investasi asing yang masuk.

Indonesia dapat mengambil manfaat positif dengan terus memperbaiki kondisi perekonomian, terutama mendorong capital inflow dari negara-negara maju yang kini dihantam krisis. Membaiknya investment grade semakin membuka pintu bagi investor global yang hanya bisa berinvestasi di negara investment grade.

Masuknya capital inflow ini juga bisa menjadi kesempatan untuk memfasilitasi investasi ke sektor riil, terutama investasi sektor infrastruktur dan industry manufaktur. Masuknya investasi juga akan mendorong masuknya talenta-talenta berbakat dunia untuk memajukan perekonomian domestik.

Meski demikian, konsumsi domestik yang tinggi juga terus mendorong peningkatan impor sehingga menimbulkan ancaman deficit perdagangan nonmigas. Apalagi daya saing ekspor terganggu permintaan global akibat lesunya pertumbuhan ekonomi negara negara Eropa dan Amerika. Melemahnya ekspor dan naiknya impor ini perlu diwaspadai, setidaknya harus dapat dimbangi dengan masuknya investasi asing langsung maupun tidak langsung.

Meski investasi asing yang masuk cukup tinggi, tetapi tidak mampu mendorong penguatan mata uang dan nilai asset. Dana asing yang masuk seharusnya meningkatkan permintaan akan rupiah, sehingga nilai tukar rupiah akan menguat. Selain itu akan mendorong menguatnya harga saham, surat berharga dan asset-aset fisik lainnya. Namun kenyataannya hal itu tidak sepenuhnya terjadi, dimana rupiah terus merosot.
Hal ini harus menjadi tantangan tersendiri dengan terus memperbaiki kondisi usaha dan investasi, agar pertumbuhan ekonomi yang didorong investasi dan konsumsi domestik tetap berkualitas. Kondisi perekonomian Indonesia saat ini memang relatif baik, baik di lihat dari sisi pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa, inflasi maupun kinerja sektor perbankan.

Meski demikian, diperlukan kebijakan lanjutan dalam memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi yang positif untuk semain berkualitas dan mampu meningkatkan pemerataan dan kesejahteraan  rakyat.

Pertama, mempercepat terealisasinya proyek-proyek infrastruktur. Indonesia harus memperbaiki kondisi infrastrukturnya agar proses bisnis semakin efisien dan mendorong kepercayaan investor asing. Selama ini perhatian pemerintah terhadap infrastruktur masih terkendala rendahnya pembiayaan dalam APBN.

Pemerintah harus mendorong anggaran negara  menjadi lebih produktif. Saat ini APBN  terlalu berat ke biaya pegawai dan biaya subsidi. Dalam APBN 2012, belanja pegawai mencapai Rp215,73 triliun atau 22,36% dari total belanja pemerintah pusat Rp965 triliun, dan subsidi energi Rp168,5 triliun (17,47%). Adapun belanja barang Rp142,2 triliun (14,74%) dan belanja modal Rp168,2 triliun (17,44%). Pemerintah mengalokasikan dana Rp168,2 triliun dalam belanja modal di APBN 2012 dimana sebagian besar akan digunakan untuk menunjang pembangunan infrastruktur. Alokasi tersebut, naik sekitar Rp27,2 triliun atau sebesar 19,3% dibandingkan alokasi dalam APBN-P 2011.

Kedua, pemberantasan korupsi. Korupsi menjadi masalah krusial dalam pembangunan. Bahkan kini, dengan semakin terdistribusinya kekuasaan hingga daerah, ternyata mendorong pula tindakan korupsi menjadi semakin merata. Akibatnya membuat penyuapan tidak lagi memperpendek biaya transaksi karena semakin banyak orang yang harus disuap.

Hal ini menyebabkan terjadinya inefisiensi dan mahalnya biaya investasi yang tercermin dalam tingginya tingkat incremental capital output ratio (ICOR) atau perbandingan antara kebutuhan investasi dan pertumbuhan output. Salah satu penyebab ICOR kita yang cukup tinggi adalah besarnya tingkat kebocoran dalam investasi akibat korupsi atau ekonomi biaya tinggi. Investasi yang boros tersebut juga menyebabkan kualitas pertumbuhan yang kita capai menjadi kurang berkualitas dan berkesinambungan. Hal ini bisa dilihat dari setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi rata-rata hanya mampu menciptakan lapangan kerja bagi 215 ribu orang, sementara itu, menurut standar ILO setiap kenaikan pertumbuhan sebssar 1 persen seharusnya mampu menyerap tenaga kerja sebesar 450 orang.

Ketiga, mendorong penyerapan anggaran. Rendahnya penyerapan anggaran negara mempunyai implikasi serius terhadap upaya peningkatan kualitas pertumbuhan. Secara langsung, rendahnya anggaran menyebabkan rencana pembangunan tidak dapat terealisasi sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Selain itu, karena dana pembangunan tersebut sebagian juga dibiayai dari dana utang, rendahnya penyerapan juga mengakibatkan pemerintah harus membayar biaya bunga untuk dana yang tidak dipergunakan secara benar. Hal tersebut merupakan bentuk pemborosan anggaran yang seharusnya tidak perlu terjadi apabila tidak terjadi pemanfaatan anggaran yang rendah.

Keempat, perbaikan program peningkatan kesejahteraan. Pemerintah memiliki tiga skenario penguatan perlindungan kesejahteraan bagi rakyat miskin, yakni:  Pertama, memberikan bantuan dan perlindungan kepada rakyat kurang mampu melalui beras untuk rakyat miskin (Raskin), Bantuan operasional sekolah (BOS), bantuan langsung tunai, jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). Kedua melalui program nasional pemberdayaan masyarakat-mandiri (PNPM) termasuk pemberdayaan masyarakat pesisir: dan Ketiga, memberikan KUR kepada pengusaha mikro.

Program kedua dan ketiga inilah yang diharapkan bisa mendorong penguatan ekonomi rakyat secara berkelanjutan. Meski demikian, tidak kalah penting adalah bagaimana pemerintah bisa memberikan alokasi anggaran bagi terwujudnya pembiayaan yang menjangkau rakyat miskin atau kalangan pedesaan, yang selama ini tidak dilirik oleh sektor perbankan karena tidak bankable, melalui terbentuknya lembaga pembiayaan mikro seperti BMT atau koperasi. Akses masyarakat terhadap lembaga keuangan harus diperluas agar mereka dapat mengembangkan kegiatan ekonomi.

Kelima, fokus ekspor ke pasar negara-negara Asia yang terus tumbuh seperti China, India dan Korea Selatan. Selain memacu daya saing ekspor, penguatan pasar domestik terutama menjaga pasar dalam negeri dari serbuan barang-barang impor sangat penting. Pemerintah harus lebih aktif untuk melindungi industri dalam negeri dari persaingan tak sehat barang-barang impor. Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan sertifikasi dan standarisasi secara ketat terhadap produk impor, karena selama ini banyak produk impor yang dikenal murah namun kondisinya cepat rusak. Sementara produk Indonesia, meski lebih mahal tetapi ketahanan produknya lebih lama.
Menjaga pasar dalam negeri juga harus dilakukan mengingat industri manufaktur kita menghadapi ancaman masuknya barang-barang selundupan. Barang-barang impor baik legal maupun selundupan kini sangat leluasa membanjiri pasar. Kondisi ini dikhawatirkan akan berimbas pada kemampuan daya saing industri dalam penguasaan pasar domestik.

Langkah nyata dan cepat adalah upaya total memerangi penyelundupan serta penghapusan segala bentuk rintangan, yang membuat produk-produk industri tak bisa menjadi tuan di negerinya sendiri. Ruang gerak pasar domestik yang tersedia untuk menyerap produk-produk industri kecil dan menengah masih relatif sangat besar.
Keenam, kerjasama yang erat antara swAsta dan pemerintah dan koordinasi antarlembaga pemerintah. Selain itu, kualitas kebijakan, kapasitas kelembagaan dan tata kelola pemerintah perlu diperbaiki. Perbaikan kapasitas pemerintahan sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dan investor. Isu-isu nonekonomi seperti korupsi, persaingan politik menjelang pemilu dan kerusuhan di berbaga daerah, perlu diantisipasi agar tidak mengganggu kepercayaan investor. ***

Aunur Rofik
Pengamat dan Praktisi Bisnis
Ketua Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan DPP PPP
 
sumber:
http://news.okezone.com/read/2012/12/26/58/737050/memacu-kualitas-pertumbuhan-dan-kesejahteraan

Industrialisasi Perikanan dan Ekonomi Biru

Pada awal 2012 istilah "industrialisasi perikanan" sangat populer karena merupakan kata kunci dalam strategi pembangunan kelautan dan perikanan (KP).

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Soetardjo mengusung strategi tersebut sebagai respons terhadap peran ekonomi sektor KP yang belum maksimal. Sementara itu, pada penghujung 2012 istilah "ekonomi biru" (blue economy) kemudian populer sebagai "oleh-oleh" Rio+20 dan ingin dijadikan pendekatan pembangunan. Bagaimana relevansi industrialisasi dan ekonomi biru untuk pembangunan KP? Bagaimana prospeknya pada 2013?

Konseptualisasi

Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), industrialisasi perikanan merupakan proses perubahan sistem produksi hulu dan hilir untuk meningkatkan nilai tambah, produktivitas, dan skala produksi sumber daya kelautan dan perikanan.

Caranya melalui modernisasi yang didukung dengan arah kebijakan terintegrasi antara kebijakan ekonomi makro, pengembangan infrastruktur, sistem usaha dan investasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sumber daya manusia untuk kesejahteraan rakyat.

Jadi, nilai tambah, produktivitas, dan modernisasi menjadi kata kuncinya. Industrialisasi perikanan berarti mengindustrikan perikanan melalui transformasi sosial-ekonomi dan budaya perikanan dengan nilai-nilai industrial. Dengan demikian, industrialisasi perikanan tidak semata-mata unit pengolahan ikan (UPI), tetapi juga aktivitas hulu, baik penangkapan maupun budi daya.

Meski harus diakui bahwa di mana pun tumpuan industrialisasi adalah unit pengolahan karena nilai tambah akan diperoleh serta kaitan ke belakang (hulu) dan ke depan (hilir) akan semakin kuat.

Karena itu, industrialisasi perikanan yang baik adalah yang UPI-nya mampu mendorong tumbuhnya aktivitas hulu dan hilir. Lalu, apa hubungannya dengan ekonomi biru? Ekonomi biru, menurut Pauli (2010), merupakan pendekatan baru bahwa aktivitas ekonomi harus inovatif, nirlimbah (tanpa limbah), membuka banyak lapangan kerja untuk orang miskin, dan efisien dalam menggunakan sumber daya. Hal itu bisa diwujudkan bila kita mampu bekerja dengan meniru bagaimana alam bekerja.

Alam telah bekerja secara efisien. Hutan tumbuh tak perlu pupuk. Ikan di laut berkembang biak tanpa harus diberi pakan oleh manusia. Ekosistem laut memiliki cara sendiri, bagaimana membuat ikan hidup. Mekanisme kerja alam inilah yang mestinya ditiru.

Di sinilah diperlukan kreativitas dan inovasi manusia untuk menerapkan prinsip kerja alam tersebut dalam aktivitas ekonomi produktif yang menguntungkan. Dari uraian di atas terlihat bahwa sebenarnya industrialisasi perikanan merupakan strategi, dan ekonomi biru merupakan pendekatan.

Jadi, keduanya bisa dipadukan dengan industrialisasi perikanan berparadigma ekonomi biru. Paradigma baru ini penting untuk mengoreksi pola industrialisasi konvensional yang sering merusak lingkungan, boros sumber daya dan energi, dan menimbulkan kesenjangan sosial. Karena itulah, ekonomi biru diharapkan dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan perikanan secara sosial dan ekologis. Inilah pintu menuju keberlanjutan industrialisasi perikanan sebagaimana diharapkan masyarakat dunia.

Prospek 2013

Pada 2012 terdapat capaian sektor KP yang lumayan membanggakan. Menurut data pemerintah, ekspor naik dari USD3,52 miliar menjadi USD3,93 miliar, swasembada garam-konsumsi tercapai dengan produksi 2,02 juta ton, serta pertumbuhan sektor KP mencapai 6,71 persen lebih tinggi dari pertumbuhan nasional. Pertanyaannya, apakah kinerja 2013 dapat ditingkatkan dengan strategi industrialisasi perikanan berparadigma ekonomi biru?

Tentu membangun sektor KP tidak seperti membalik telapak tangan yang hanya sekejap. Apalagi ekonomi biru adalah proses jangka panjang sehingga 2013 pun sulit terlihat hasilnya. Mengapa? Karena ekonomi biru mensyaratkan kreativitas dan inovasi yang tinggi dari para pelaku ekonomi. Bagaimanapun pemerintah akan sangat bergantung pada para pelaku ekonomi. Namun, keberanian pemerintah untuk memikirkan hal-hal yang jangka panjang seperti ini patut diapresiasi.

Tentu saja harus ada langkahlangkah konkret untuk menginisiasi pendekatan baru ini. Apa saja yang kira-kira penting untuk diinisiasi pada 2013 ini? Pertama, bagaimana menciptakan aktivitas penangkapan ikan hemat bahan bakar.

Di Maroko sudah dikembangkan sistem penangkapan tanpa bahan bakar minyak berbasis fosil, melainkan berbasis energi surya, angin, dan arus. Ini penting seiring situasi akan meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) yang pasti akan membuat nelayan gelisah, sekaligus dapat menyelamatkan 2,7 juta nelayan kita.

Kedua, bagaimana mengembangkan budi daya perikanan hemat pakan. Saat ini pakan merupakan komponen besar dalam struktur biaya produksi budi daya. Dan, pakan tersebut kandungan impornya sangat tinggi. Bila ini berhasil, maka akan membantu 3,3 juta pembudi daya ikan, sekaligus menurunkan ketergantungan impor. Di Afrika Selatan sudah mulai dengan memanfaatkan maggot sebagai sumber proteinnya.

Lebih baik lagi bila dikembangkan budi daya tanpa pakan dengan memperhatikan trophic level spesies-spesies di dalamnya. Ketiga, mendorong pemanfaatan limbah UPI. Seperti, saat ini peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) sudah mulai memanfaatkan limbah industri pengolahan ikan lemuru untuk dijadikan unsur dalam pakan ayam agar melahirkan telur ayam omega-3.

Di Kagoshima, Jepang, limbah UPI sebagian dijadikan pakan ikan, dan sisa tulang ikannya dijadikan komponen untuk pupuk organik. Artinya, limbah industri menjadi bahan baku untuk industri lainnya. Keempat, pengembangan pulau-pulau kecil, baik untuk mandiri energi maupun wisata bahari prorakyat.

Hal ini mengingat banyak wisata bahari yang konflik dengan nelayan karena perebutan ruang. Begitu pula rumput laut perlu dikembangkan dengan mendorong diversifikasi vertikal melalui pengembangan industri turunannya yang bisa dikerjakan rakyat, serta konservasi mangrove yang juga menguntungkan secara ekonomi.

Tentu masih banyak lagi inovasi-inovasi yang bisa dihasilkan, dan ini memerlukan riset-riset yang diilhami spirit ekonomi biru tersebut. Tanpa riset transdisiplin yang memadai, termasuk di dalamnya rekayasa finansial, akan sulit ditemukan inovasi yang aplikatif, murah, dan ramah lingkungan.

Oleh karena itu, mindset para peneliti harus mulai digeser ke arah bagaimana memahami kerja alam, mementingkan kolaborasi riset lintas disiplin, serta berorientasi pada inovasi yang layak secara finansial. Inovasi pun tidak didominasi peneliti, juga masyarakat, apalagi ekonomi biru sangat mementingkan lokalitas sehingga peran masyarakat menjadi sentral karena mereka lebih tahu situasi lokal. Sekali lagi, ini adalah kerja mikro jangka panjang, yang suatu saat akan punya dampak makro yang signifikan.

ARIF SATRIA
Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB
(Koran SI/Koran SI/ade)

sumber:
http://economy.okezone.com/read/2012/12/31/279/739373/industrialisasi-perikanan-dan-ekonomi-biru

Rabu, 26 Desember 2012

Bumerang Kenaikan UMK yang Fantastis





Untuk menghasilkan sebuah produk/barang siap jual, beragam komponen biaya yang harus ditanggung pelaku usaha/industri (foto : doc. pribadi)
Tahun 2012 hanya tersisa 5 hari lagi. Artinya setelah 5 hari ke depan kita telah memasuki tahun 2013 yang berarti mulai diberlakukannya upah minimum baru bagi para pekerja yang bekerja di sektor formal. Lalu sejauh mana kesiapan para pengusaha /pemilik industri untuk menjalankan aturan baru tersebut? Ternyata, tak semua pengusaha sanggup menjalankannya dan berupaya mengajukan penangguhan. Kalaupun sebagian menyanggupi, tapi dengan sejumlah prasyarat dan batasan, termasuk diantaranya membatasi rekrutmen pekerja untuk level pendidikan tertentu bahkan diikuti dengan rasionalisasi/ pengurangan pekerja besar-besaran.
Sepanjang sejarah UMK, memang baru kali inilah UMK naik secara fantastis sampai 4 - 5 kali lipat dari tingkat inflasi. UMK DKI Jakarta yang pertama kali ditetapkan dan kemudian memicu tuntutan di berbagai wilayah agar UMK disetarakan dengan DKI. Untuk DKI, kenaikan UMK mencapai 44%. Di kota tempat saya bekerja, Cilegon, yang Walikotanya menetapkan UMK sama besar dengan DKI, kenaikannya mencapai 49%, nyaris 50%. Ternyata itu belum seberapa, sebab di Bogor UMK naik sampai 70% karena menyamakan dengan Jakarta. Semua kenaikan itu baru sebatas kenaikan UPAH POKOK (basic salary) saja. Artinya, ada komponen upah lain yang sudah pasti ikut naik karena perhitungannya didasarkan pada upah pokok.
Selain upah pokok sebesar UMK, biasanya pekerja mendapatkan tunjangan makan dan transport yang dihitung sesuai jumlah hari kerja (kehadiran bekerja) dalam satu bulan. Selain itu, untuk pekerja yang bekerja dalam sistem shift (pergiliran kerja), maka ada uang shift yang dihitung sesuai jumlah hari shift petang dan shift malam. Disamping itu, jika mereka bekerja lembur, maka ada upah lembur yang besarnya dihitung dengan indeks lembur dikalikan jumlah jam lembur efektif, dimana pada 1 jam pertama dikalikan 1,5 kali indeks dan jam ke-2 sampai ke-8 dikalikan 2 kali indeks, sedang jam ke-9 sampai ke-11 dikalikan 3 kali indeks. Sebagai ilustrasi, seorang pekerja yang bekerja lembur 1 hari atau riilnya 8 jam, maka konversinya dihitung sebagai 15,5 jam. Lalu dikalikan indeks upah lembur yang besarnya1/173 dari UMK. Sekedar contoh, untuk kota Cilegon yang saat ini UMKnya Rp. 1.481.000,00 maka upah lembur sehari bisa mencapai Rp. 132.700,00. Jika pada 2012 nanti UMK menjadi Rp. 2.200.000,00 makalembur sehari saja upahnya Rp. 197.110,00. Itu baru lembur pada hari biasa. Jika lembur dilakukan pada hari libur, lebih besar lagi nominalnya.







Komponen upah yang diterimakan langsung kepada pekerja maupun yang diterimakan dalam bentuk benefit atau yang dicadangkan untuk diterimakan tahunan atau di akhir masa kerja, bukan hanya UMK saja. (foto : doc. pribadi)
Selain komponen upah yang diterimakan tiap bulan kepada pekerja (UMK, uang makan, transport, shift, lembur), sesuai UU pengusaha diwajibkan mengasuransikan pekerja pada program Jamsostek, minimal untuk program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JK). Secara umum, perusahaan yang tidak memiliki program asuransi kesehatan program pensiun sendiri, maka total premi Jamsostek yang harus dibayarkan adalah sebesar 10,89% dari UMK.
Selain Jamsostek, pengusaha juga diwajibkan membayarkan THR atau tunjangan hari raya keagamaan minimal satu kali UMK. Artinya, setiap bulan pengusaha mencadangkan 1/12 x UMK. Selain itu, untuk pesangon paska kerja, biasanya juga disisihkan satu kali gaji atau 1/12 x UMKsetiap bulan. Maka, jika kenaikan UMK mencapai 49% seperti di kota kami, total konsekwensi yang harus ditanggung pengusaha lebih dari itu. Sekedar gambaran nilai rupiahnya, tahun 2013 di kota kami UMK naik sebesar Rp. 719.000,00/bulan. Jika dihitung semua kewajiban pengusaha terhadap pekerja, maka kenaikannya bisa mencapai Rp. 1,1 jutaan. Itu belum termasuk uang shift dan uang lembur lho! Juga dengan asumsi uang makan dan transport tidak ada kenaikan sama sekali.
Itu sudah semuanya? Belum! Bagi perusahaan yang mewajibkan pekerjanya menggunakan seragam kerja, mereka juga wajib menyediakan pakaian seragam kerja umumnya 2 stel per tahun. Lalu untuk pekerjaan yang memerlukan alat pelengkap perlindungan diri, pengusaha juga wajib menyediakan APD (safety equipment) seperti helm, sepatu safety, earplug, masker, sarung tangan, kacamata las, dll., yang total nilainya bisa mencapai lebih dari 1 juta dalam setahun.
Katakanlah kita hanya menghitung kenaikan UMK + premi Jamsostek + penyisihan THR + paska kerja yang saya sebut di atas, dimana nilainya Rp. 1,1 juta/orang/bulan, maka jika suatu industri mempekerjakan 1000 orang, perusahaan itu harus menyediakan dana tambahan untuk upah saja Rp. 1,1 miliar/bulan. Kalau ada 10.000 pekerja, maka tambahannya Rp. 11 miliar/bulan. Bisa dibayangkan beban yang harus ditanggung pemilik industri. Semua ilustrasi di atas baru contoh untuk kota yang mengalami kenaikan UMK 49%. Bagaimana pula jika kenaikannya 70%?!
Karena itu, pantas saja jika sejumlah perusahaan menjerit dan langsung menyatakan tak mampu membayar. Di kota kami, sebuah perusahaan yang memiliki pekerja 80.000 orang, langsung angkat tangan. Dengan perhitungan seperti di atas, konsekwensi yang harus mereka sediakan mencapai Rp. 88 M/bulan! Belum lagi uang shift dan lembur. Dengan cara apa akan menutup kebutuhan dana sebanyak itu dalam sebulan?! Menaikkan harga jual?! Kira-kira, masih logiskah kenaikan harga produknya jika didongkrak sedemikian tingginya? Apakah nanti produknya akan mampu bertahan di pasaran? Apa konsumen mau membeli produk yang harganya naik gila-gilaan? Pada industri padat karya, kenaikan upah tenaga kerja saja sudah menyentuh COGS (cost of goods sold). Ambil saja contoh pabrik rokok yang pekerjanya puluhan ribu. Akan dijual berapa rokok nanti?




Jika upah tenaga kerja sudah menyentuh titik harga jual produk, apakah bukannya alarm menanti kebangkrutan dunia usaha? Kenaikan harga yang melonjak akan melumpuhkan daya beli meski upah dinaikkan (foto : doc. pribadi)
Jika pengusaha memilih opsi kenaikan harga jual produk, maka bukan tak mungkin barang-barang buatan China dan Korea yang dikenal murah akan makin membanjiri pasar Indonesia dan produk dalam negeri akan makin kalah bersaing bahkan mati kutu di negeri sendiri. Tapi langkah apa lagi yang bisa dilakukan jika biaya tenaga kerja saja meningkat antara 44 - 70%? Padahal, dalam suatu industri yang menghasilkan dan menjual produk, biaya yang dikeluarkan bukan hanya biaya tenaga kerja (labor cost) saja. Ada biaya bahan baku dan bahan penunjang, ongkos produksi, biaya over head (listrik, air, telepon, perawatan gedung dan instalasi pabrik, administrasi, dll.), juga biaya pemasaran dan penjualan, ongkos iklan, biaya penyimpanan (pergudangan) dan biaya distribusi.
Maka sudah bisa dipastikan kenaikan UMK akan memicu kenaikan harga jual barang. Kenaikan harga produk industri tak akan sendiri, efek dominonya akan berimbas pada kenaikan harga barang dan jasa lain, termasuk harga bahan pangan. Kalau terjadi kenaikan harga, maka yang terkena dampaknya bukan hanya mereka yang bekerja di sektor formal saja, tapi semua masyarakat. Kalau sudah begini, apakah akan ada artinya kenaikan upah yang sebegitu tingginya? Bagi mereka yang bekerja di sektor formal yang upahnya naik, mungkin akan impas saja jadinya. Lalu bagaimana dengan mereka yang bekerja mandiri/wirausaha kecil-kecilan? Yang jadi tukang becak, pengojek, pemulung, jual pulsa pinggir jalan, tukang batu, pekerja serabutan, yang tidak tercover oleh UMK? Bukankah mereka makin megap-megap saja mengejar kenaikan harga kebutuhan hidup sementara penghasilannya tidak naik.
Pekerja di sektor formal pun belum tentu bisa tenang menikmati kenaikan ini. Sebab beberapa perusahaan sudah ancang-ancang melakukan penghematan dengan cara rasionalisasi pekerja alias pengurangan. Mereka akan memangkas jumlah pekerjanya terutama mereka yang dinilai kurang produktif (sering sakit, sulit di-upgrade ketrampilannya, dll.) serta yang tingkat pendidikan di bawah SMA/sederajat. Di Indonesia, jumlah pekerja tamatan SD dan SMP masih banyak, sebab angka putus sekolah masih tinggi. Perusahaan retail seperti jaringan Alfamart dan sejenisnya, bahkan sudah ancang-ancang untuk tidak lagi menerima pekerja lulusan SMA dan hanya akan merekrut lulusan sarjana saja. Kenapa begitu?
Selama ini, dengan UMK yang sekarang saja pekerja lulusan SMA take home pay-nya bisa mencapai 2 jutaan lebih per bulan. Jika nanti UMK menjadi Rp. 2,2 juta/bulan, maka penghasilannya bisa jadi hampir Rp. 3 jutaan sebulan. Ini sudah menyamai gaji sarjana. Melubernya jumlah sarjana dari banyak perguruan tinggi swasta, membuat lulusan S1 tak lagi punya posisi tawar tinggi. Jangan salah, saat ini banyak sarjana fresh graduate yang terpaksa mau digaji Rp. 2 - 2,5 juta per bulan dari pada tak dapat kerja. Kalau UMK naik, maka gaji sarjana akan “tersundul” upah buruh yang sebagian cuma lulusan SMP dan SMA/sederajat. Maka, rencana sejumlah perusahaan untuk tak lagi mempekerjakan lulusan SMA dan lebih memilih merekrut sarjana kalau harus membayar gaji sama, merupakan ancaman baru bagi kelangsungan peluang kerja lulusan SMA. Dan itu tak bisa dianggap sepele, sebab pekerja lulusan SMP dan SMA jumlahnya jutaan di Indonesia.


Sebuah komentar testimonial di forum diskusi di detik.com (screen shoot made by Ira)
Sebuah BUMN mengeluhkan, jika UMK naik, maka upah pekerja outsourcing di perusahaan mereka akan jauh mengalahkan pekerja tetap yang statusnya adalah karyawan langsung BUMN itu. Ironis sekali, sebabkenaikan upah karyawan yang sudah berstatus pegawai tetap itu hanya 5% sedang upah buruh naiknya malah 50% alias 10x lipat! Kecemburuan sosial akan makin tinggi, sebab “tuan rumah” upahnya kalah dengan buruh.
Maka, inilah bumerang yang kembali melesat ke arah pelemparnya : PHK/ pengurangan pekerja, lebih dahsyat lagi ancaman menutup usaha bagi perusahaan padat karya yang pekerjanya puluhan ribu orang, pembatasan peluang kerja bagi lulusan SMA, kenaikan harga barang dan jasa, pengangguran di mana-mana, pekerja sektor informal dan pengangguran makin miskin karena tak mampu mengejar kenaikan harga kebutuhan. Sudahkah Pemerintah - dalam hal ini Menaker dan para kepala daerah - berpikir jauh dan menimbang berbagai aspek dampak dari kebijakan ini?

Bagaimana dengan pekerja sektor informal yang upahnya tak diatur dengan UMK? Bukankah ke depan hidup akan makin berat bagi mereka? (foto : doc. pribadi)
Sebab di beberapa daerah, penetapan UMK cenderung bersifat politis karena kebijakan populis dari Walikota/Bupati/Gubernur. Semisal di Cilegon, semual KHL tahun 2013 ditetapkan Rp. 1.579.315,00 sehingga UMK 2013 yang dihitung 112% dari KHL menjadi Rp. 1.769.000,00 atau naik 20% dari UMK tahun 2012. Ternyata, entah apa pertimbangannya, Walikota menuruti begitu saja tuntutan buruh untuk menyamakan dengan UMK DKI  Rp. 2,2 juta/bulan, tanpa mempertimbangkan keberatan dari pelaku industri. Padahal, kalau industri tutup karena tak mampu bayar, bukankah pemerintah juga yang kelimpungan menghadapi kenaikan pengangguran dan tingkat kriminalitas?
Investasi pun akan mandeg, yang skala besar maupun kecil, sama-sama merasa berat. Yang skala besar mempekerjakan ribuan orang akan merasa berat karena magnitude kenaikan upah akan sangat tinggi. Yang skala kecil dan menengah akan megap-megap karena modal dan omzetnya memang tidak besar. Ambil contoh perusahaan X yang omzetnya hanya Rp. 10 M/tahun, pekerjanya hanya 100 orang. Kalau nanti mereka harus menyisihkan Rp. 3 juta/orang/bulan untuk labor cost, maka sebulan mencapai Rp. 300 juta, setahun menjadi Rp. 3,6 M. Belum biaya material dan ongkos produksi serta pemasaran dan distribusi produknya. Apa masih bisa mengantongi untung atau justru buntung? Kalau demikian, tak salah jika pelaku UKM lebih memilih mendepositokan saja modalnya yang tak seberapa, ketimbang tiap bulan harus nombok untuk membayar upah pekerja. Orang berusaha tak sekedar menyediakan lapangan kerja bagi orang lain, tapi juga ingin untung bukan?
Pekerja mandiri seperti ini yang menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri, tak akan mampu mentargetkan kenaikan penghasilan untuk mengejar laju kenaikan harga pasca kenaikan upah yang sangat tinggi (foto: doc. pribadi)
Misalkan anda punya dana Rp. 200 jutaan, lalu membuka usaha toko roti dan kue rumahan yang mempekerjakan 30-an orang dalam 2 shift kerja. Katakanlah anda cukup memanfaatkan dapur dan garasi samping rumah atau sekedar menyewa ruko kecil. Roti produksi anda dijual langsung di outlet sendiri, dititipkan di toko-toko dan dijajakan keliling komplek-komplek perumahan. Dengan UMK baru, anda harus menyediakan Rp. 90 jutaan untuk upah tenaga kerja. Sudah hampir separuh modal anda habis bukan? Lalu berapa rupiah anda akan menjual roti/kue agar usaha anda bertahan dan tidak merugi? Belum lagi kalau ada kenaikan harga tepung, gula, telur, dll. Salahkah jika akhirnya anda memilih menutup saja usaha itu atau memperkecil skalanya agar cukup hanya mempekerjakan sanak keluarga sendiri? Fenomena macam inilah yang akan mewarnai dunia usaha tahun 2013 nanti. Dampak dari sebuah kebijakan populis tanpa kajian mendalam dan mempertimbangkan banyak aspek. Bagi anda yang gajinya tak ikut naik seperti UMK, bersiaplah untuk pusing memikirkan tingginya inflasi yang bakal tak terkejar. Semoga saja masih ada jalan keluar yang masuk akal.

http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/12/27/bumerang-kenaikan-umk-yang-fantastis-519156.html








Minggu, 23 Desember 2012

Batok Kelapa Mencapai Dunia





Siapa yang tidak kenal buah kelapa, kelapa merupakan buah yang segar dan berguna untuk membantu cairan dalam tubuh. Pohon kelapa juga mempunyai banyak manfaat dari batang sampai buahnya. Negara Indonesia merupakan negara subur, sehingga pohon kelapa tumbuh begitu banyak dimana-mana. Kelapa tidak hanya digunakan sebagai makanan, tetapi dapat digunakan untuk kerajinan. Banyak masyarakat yang memanfaatkan kelapa sebagai bahan untuk membuat kerajinan, salah satunya adalah sebuah home industri yang berasal dari desa Bangun Jiwo,Sewon, Kasihan, Bantul Yogyakarta. Jika dilihat dari luar usaha ini hanya dipenuhi dengan setumpuk batok kelapa dan kayu, yang mungkin orang mengira hanya sebagai limbah. Tetapi tidak dapat disangkat bahwa usaha ini sudah sampai ke luar negeri. Usaha ini memanfaatkan limbah baik dari masyarakat, pabrik maupun pasar. Usaha ini digagas oleh seorang perantau dari Medan yang bernama lengkap Bapak Rasyid Ridho Parlindungan atau sering disebut dengan nama “Bang Ucok”. Bang Ucok merintis usaha ini sejak tahun 1997, saat dia masih mencari-cari pekerjaan di Yogyakarta.
Berawal dari perhatiannya terhadap limbah-limbah kelapa, kemudian Bang Ucok mencoba memanfaatkan batok kelapa tersebut yang ada disekitar rumahnya. Pada awalnya Bang Ucok membuat kerajinan dari batok kelapa dan kayu, yang hanya dijajalkan di sebuah kios dipinggir jalan. Kemudian pada suatu hari ada seorang wisatawan asing yang berasal dari Spanyol yang sedang berwisata ke Jogja, kemudian secara tidak sengaja turis itu melihat usaha tersebut dan menghampiri Bang Ucok, melihat kerajinan yang begitu unik, wisatawan tersebut tertarik untuk membelinya dan berniat untuk menjualnya kembali di negara asalnya. Sejak saat itu pesanan semakin banyak dan usaha Bang Ucok sedikit demi sedikit diekspor ke luar negeri. 







Home industri ini sebenarnya hanya untuk bagian produksi saja, untuk bagian ekspor Kota Kediri adalah tempat untuk penampungan kerajinan ini sebelum dikirim ke luar negeri. Jadi proses ekspor usaha ini dimulai dari proses produksi di Bantul kemudian di angkut ke Kediri, dan dikirim dengan truk kontainer lewat jalur laut sehingga sampailah ke Spanyol. Bukan hanya Spanyol Negara Australia juga pernah menjadi tujuan dari kerajinan ini. Sungguh tidak dapat disangka bahwa kerajinan tersebut dapat sampai keluar negeri. Jika ke luar negeri juga bisa, jelas ke kota-kota yang ada di Indonesia juga pasti sampai. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Kediri, Surabaya, dan ke luar pulau yaitu Sumatera menjadi tujuan dari usaha ini.











Kerajinan ini secara umum terbuat dari batok kelapa atau tempurung kelapa, bambu, kayu dan batang pohon yang sudah menjadi limbah. Bang Ucok sengaja memanfaatkan limbah darimana pun untuk dijadikan bahan untuk kerajinannya. Disamping membuat kerajinan, usaha ini juga ikut membantu menjaga lingkungan. Batok kelapa tersebut dibuat dengan berbagai bentuk seperti, bingkai foto, peralatan rumah tangga, asbak rokok, hiasan berbentuk bola, dan bisa ditempel di meja ataupun dinding. Selain itu ada beberapa kerajinan yang terbuat dari kayu seperti kursi, meja. Tidak terfikirkan sebelumnya bahwa dari sebuah batok kelapa akan menghasilkan kerajinan yang luar biasa. Bang Ucok mendapatkan ide dari mana saja, apa pun yang ide tersebut lalu dibuat, seiring waktu berjalan, idenya tersebut semakin unik dan menjadi inspirasi untuk membuat kerajinan, dia terus berinovasi untuk membuat kerajinan-kerajinan dalam bentuk lainnya.
 Bang Ucok menggunakan jasa karyawannya dari masyarakat sekitar yang ingin bekerja. Sehingga untuk mengatur kinerja karyawannya, tidak akan susah. Bang Ucok sebagai pemilik juga merasa senang karena dengan usaha tersebut dapat menghidupi karyawannya. Rasa kekeluargaan dan keterbukaan dalam usaha menjadikan karyawan menikmati usaha ini. Usaha ini patut mendapat perhatian dari pemerintah, karena dengan begitu masyarakat akan terbantu secara ekonomi dan membantu menigkatkan kesejahteraan masyarakat.

sumber:
http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2012/12/22/batok-kelapa-mencapai-dunia-513006.html
 

Senin, 03 Desember 2012

Akhirnya, PORTER Selamatkan Ekonomi Amerika


Oleh: Mathiyas Thaib
CEO Alomet And Friend

PORTER adalah guru besar ekonomi & Bisnis paling berpengaruh saat ini bagi banyak pemimpin bisnis dan kepala pemerintahan di seluruh dunia. Di umurnya yang mencapai 65 tahun, akhirnya dia bersama the “Harvard Dream Team” diminta kembali untuk menyelamatkan ekonomi Amerika.

“Saya sangat bangga dan mencintai penugasan ini, saya belum lelah dan tidak akan pernah lelah, sementara sebaliknya banyak kaum akademik yang lain di Amerika sudah menjadi sangat lelah melihat keadaan Amerika saat ini ”. Demikian komentar Porter merespon penugasannya oleh pemerintah Amerika untuk menyelamatkan ekonomi bangsanya, yang dinyatakannya di majalah Fortune edisi tgl 29 Oktober 2012.

Paragraf di atas menunjukkan bahwa sebetulnya Amerika selama ini telah salah arah dan salah jalan dalam penyelenggaraan perekonomiannya (penulis :hal ini pulalah yang telah dilakukan bangsa Indonesia selama ini sejak reformasi ), dan sebetulnya M. Porter selalu mengingatkannya, tetapi tidak pernah dihiraukan malahan justru banyak kepala pemerintah negara-negara lain yang meresponnya secara sangat positif diantaranya adalah mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Muhamad

Tidak ada pemimpin-pemimpin bisnis perusahaan global yang tidak mendiskusikan bagaimana memenangkan persaingan secara berkelanjutan (Competitive Advantage) dengan topik-topik al:

· Bagaimana cara menurunkan biaya produksi dan operasi

· Bagaimana cara membangun perusahaan yang memiliki differensiasi

· Bagaimana membuat produk atau jasa yang unik untuk pasar yang focus.

· Bagaimana mendayagunakan rantai nilai yang efisien, efektif dan produktif.

Materi-materi diskusi tersebut pasti dalam konteks merumuskan dan merencanakan strategi perusahaan dan hal ini berarti pula bahwa semua pemimpin bisnis tsb telah masuk dalam pengaruh konsep pemikiran strateginya Michael Porter.

Saat ini topik-topik di atas, kembali bergema dan didiskusikan dengan tajam di lingkungan “Dream Team”. Ekonomi Amerika yang berjumlah 14 orang yang terdiri dari guru-guru besar dan staff pengajar senior Universitas Harvard dan Massachussetts Institute Technology yang dipimpin Michael Porter.

Ironis memang, karena selama 2-3 dekade ini Amerika selalu didominasi oleh team pemikir dan perancang ekonomi yang berbasis keuangan dan berpusat di Kementerian Keuangan (Treasury) dan hasilnya kita lihat sekarang. Ekonomi Amerika tidak pernah keluar dari krisis sejak tahun 1998 karena mendayagunakan mata uang dollarnya (US$) sebagai senjata pamungkasnya. Daya saing Amerika menjadi berantakan, makin lama makin tidak berdaya terutama dalam menghadapi Cina, karena Cina mendayagunakan produk dan cara berproduksinya yang inovatif sebagai senjata pemukul.

Seperti kita ketahui bersama bahwa pada awalnya kekuatan ekonomi Amerika sebetulnya terletak pada kemajuan teknologi dan inovasinya, sehingga tidak salah kalau penulis selalu menyatakan bahwa:

13545248691304320597“Yang membangun kejayaan Amerika adalah Detroit (pusat industri mobil 1950 an) dengan inovasi produksi, dan yang mempertahankan kejayaan Amerika adalah Silicon Valley (Pusat Teknologi Informasi tahun 1970 an) dengan inovasi teknologi, dan yang menghancurkan Amerika adalah Wall-Street (Pusat Keuangan Amerika tahun 1980 an) dengan rekayasa keuangan dan derivatif”.

Sebuah Negara seperti Indonesia yang cukup memiliki sumber daya alam dan dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai 245 Juta, hanya satu jalan menuju kemakmuran, yaitu ekonomi berbasis produksi yang harus mengutamakan inovasi dan teknologi dan harus disertai dengan karakter dan kepribadian tidak ikut-ikutan, untuk itu lihat bangsa Cina.

Tetapi sayangnya apa yang telah dilakukan anak negeri, justru kebalikannya, kita telah menjalankan kehidupan ekonomi kita berbasiskan ilmu keuangan dan administrasi belaka untuk mencapai kemakmuran dengan cara berhutang dan dengan skenario orang lain pula seperti IMF, World Bank dan lembaga internasional lainnya.

Dalam 20 tahun terakhir ini sering kali kita mendengar kata-kata dari para elit ekonomi anak negeri al : “Indonesia akan menjadi pusat keuangan dunia” , “Anak saya telah menyelesaikan pendidikan Doctor-nya di bidang keuangan atau di bidang Marketing”.

….”.Makan deh tuh uang…” kata orang betawi……kalau kita mau introspeksi diri, kita telah terkelabui dan tersilaukan oleh bangsa Amerika, yang sebetulnya sedang meluncur ke bawah tingkat kehidupan dan perekonomiannya.

Oleh karena itu, sebaiknya kita jangan selalu ingin hidup Instan tanpa mau berproses atau melihat segala sesuatunya pada segala sesuatu yang sudah jadi saja, itulah salah satu kelemahan mendasar bangsa ini.

So tidaklah salah, kalau penulis dalam 10 tahun ini selalu mengatakan dan menganjurkan anak negeri untuk kembali kepada paham ekonomi yang berbasiskan management operasional dan produksi yang mengedepankan inovasi untuk memenangkan persaingan antar bangsa.

Toh… akhirnya bangsa Amerika meminta Prof. Michael Porter guru besar daya saing berbasiskan teknologi, produksi dan inovasi untuk mengembalikan jati diri bangsa Amerika..

Sumber:
Majalah FORTUNE edisi 29 oktober 2012
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/12/03/akhirnya-michael-porter-menyelamatkan-ekonomi-amerika-513819.html

Konsep Bisnis dalam Al Qur’an







Gratisan Musik


Bisnis selalu memegang peranan vital di dalam kehidupan sosial dan ekonomi manusia sepanjang masa, sehingga kepentingan bisnis akan mempengaruhi tingkah laku bagi semua tingkat individu, sosial, regional, nasional, dan internasional.
Umat Islam telah lama terlibat dalam dunia bisnis, yakni sejak empat belas abad yang silam. Fenomena tersebut bukanlah suatu hal yang aneh, karena Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan kegiatan bisnis. Rasulullah Shallullahu Alaihi wa Sallam sendiri terlibat di dalam kegiatan bisnis selaku pedagang bersama istrinya Khadijah.
Al Qur’an sebagai Kitab Suci Umat Islam bukan hanya mengatur masalah ibadah yang bersifat ritual, tetapi juga memberikan petunjuk yang sempurna (komprehensif) dan abadi (universal) bagi seluruh umat manusia. Al Qur’an mengandung prinsip-prinsip dan petunjuk-petunjuk yang fundamental untuk setiap permasalahan manusia, termasuk masalah-masalah yang berhubungan dengan dunia bisnis
Seorang ilmuwan dari Barat, C.C. Torrey dalam disertasinya yang berjudul “The Commercial Theological Terms in the Koran” menyatakan bahwa Al Qur’an menggunakan terminology bisnis sedemikian ekstensif. Ia menemukan 20 (dua puluh) macam terminology bisnis dalam Al Qur’an dan diulang sebanyak 370 kali dalam berbagai ayat. Penggunaan terminology bisnis yang sedemikian banyak itu, menunjukkan sebuah manifestasi adanya spirit yang bersifat komersial dalam Al Qur’an.
Al Qur’an mengatur kegiatan bisnis secara eksplisit dengan banyaknya instruksi yang sangat detail tentang hal yang dibolehkan dan tidak dibolehkan dalam menjalankan praktek bisnis. Para peneliti yang meneliti tentang hal-hal yang ada dalam Al Qur’an mengakui bahwa praktek perundang-undangan Al Qur’an selalu berhubungan dengan transaksi. Hal ini menandakan bahwa betapa aktivitas bisnis itu sangat penting menurut Al Qur’an.
Al Qur’an memandang bisnis sebagai pekerjaan yang menguntungkan dan menyenangkan. Kitab suci umat Islam ini dengan tandas mendorong para pedagang untuk melakukan sebuah perjalanan yang jauh dan melakukan bisnis dengan para penduduk di negeri asing. Hal itu berarti bahwa perdagangan lintas batas atau globalisasi bukanlah sesuatu yang aneh dalam Al Qur’an.
Di samping penghormatannya terhadap bisnis, Al Qur’an juga seringkali membicarakan makna kejujuran dan keadilan dalam perdagangan. Al Qur’an sangat menghargai aktivitas bisnis yang selalu menekankan kejujuran dalam hal bargaining sebagaimana yang diatur dalam Surah Al An’aam ayat 152, Surah Al Israa’ ayat 35, dan Surah Ar Rahmaan ayat 9.
Menurut Al Qur’an, bisnis yang menguntungkan adalah bukan hanya dengan melakukan ukuran yang benar dan timbangan yang tepat, tetapi juga dengan menghindarkan segala bentuk dan praktek kecurangan yang kotor dan korup sebagaimana yang diungkapkan dalam Surah Al A’raaf ayat 85 dan Surah Al Israa’ ayat 35. Al Qur’an menekankan bahwa sebuah bisnis yang kecil lewat jalan halal dan thayyib (baik), jauh lebih baik daripada bisnis besar yang dilakukan dengan cara yang haram dan khabits (jelek).
Perilaku bisnis yang benar menurut Al Qur’an adalah menepati janji dan kesepakatan, menjaga amanah dan janji, adil dan moderat dalam berhubungan dengan sesama, memiliki pandangan masa depan yang tajam untuk mengatur dan menyimpan sesuatu guna menghadapi masa-masa sulit, serta selalu ingat Allah dengan membayar zakat dan menunaikan shalat.
Al Qur’an mendeklarasikan bahwa kekayaan dan anak-anak adalah ujian krusial untuk sebuah integritas manusia, sebab jika manusia mampu berlaku baik saat mereka berada ditengah harta dan anak-anaknya, maka dia juga akan mendapatkan pahala yang baik. Hal ini dianggap sebagai sebuah perilaku baik sebagaimana yang tercantum dalam Surah At Taghaabun ayat 15.
Berdasarkan uraian di atas, dapat kita lihat, sikap Al Qur’an bukan saja mengizinkan transaksi bisnis, tetapi juga mendorong dan memotivasi hal tersebut. Namun untuk memberikan penjelasan yang lebih akurat dan jelas untuk membedakan antara bisnis yang menguntungkan dan bisnis yang menjerumuskan, perlu kiranya kita bahas lebih lanjut pada suatu pembahasan khusus.
Al Qur’an memandang kehidupan manusia sebagai sebuah proses yang berkelanjutan. Dalam pandangan Al Qur’an, kehidupan manusia dimulai sejak kelahiran dan tidak berhenti pada saat kematian. Hidup setelah mati, adalah sebuah keimanan yang sangat vital dan esensial. Tanpa keimanan pada hal yang sangat vital dan esensial, maka semua struktur dari system keimanan Al Qur’an akan rusak dan berantakan.
Manusia harus bekerja bukan hanya untuk meraih sukses di dunia, namun juga kesuksesan di akhirat. Semua hasil pekerjaan seseorang akan mengalami efek yang sedemikian besar pada diri seseorang, baik efek positif maupun negatif. Seorang penganut agama Islam harus bertanggungjawab dan memikul semua konsekuensi aksi dan transaksinya selama di dunia pada saat nanti di akhirat, yang kemudian dikenal dengan Yaumil Hisaab (Hari Perhitungan) dan Yaum al-Diin (hari Pembalasan).
Dengan demikian, konsep Al Qur’an tentang bisnis dilihat dari seluruh aspek perjalanan hidup manusia. Suatu bisnis tidak dianggap berhasil, jika hanya membawa keuntungan pada waktu tertentu saja, dan kemudian mengalami kebangkrutan atau kerugian yang diderita melampaui keuntungan yang pernah dicapai. Bisnis akan dianggap berhasil dan menguntungkan, jika apa yang didapat oleh seorang pelaku bisnis melebihi ongkos yang dikeluarkan atau melampaui kerugian yang diderita serta mempunyai manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Skala perhitungan semacam bisnis ini akan ditentukan pula di hari akhir nanti.
Al Qur’an memperingatkan dengan jelas bahwa seluruh aksi dan transaksi, bahkan niat dan delibrasi dari setiap manusia, selalu disorot dan dimonitor dengan cara yang akurat, karena Allah itu Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Tahu terhadap semua yang dilakukan dan ditransaksikan oleh manusia. Namun lebih daripada itu, banyak ayat-ayat Al Qur’an mengatakan tentang adanya catatan dan buku amal yang dengan teliti dan seksama telah dipersiapkan untuk diserahkan pada manusia pada hari akhir nanti.
Al Qur’an secara eksplisit menyatakan tentang pahala dan siksa yang akan diterima manusia pada hari akhir nanti, berdasarkan perilaku manusia selama di dunia. Akan tetapi, Al Qur’an tidak hanya mendeskripsikan masalah baik dan buruk, namun juga tentang pahala bagi perilaku yang baik dan siksa bagi perilaku yang jahat. Al Qur’an menyebutkan pahala yang melimpah bagi perilaku-perilaku yang baik yang dituangkan pada 30 ayat, dan siksaan bagi tindakan yang jahat dan keji pada 34 ayat.
Dengan pembahasan singkat di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa konsep Al Qur’an tentang bisnis sangat komprehensif dan parameter yang digunakan menyangkut urusan dunia dan akhirat. Bisnis yang sukses menurut Al Qur’an adalah bisnis yang membawa keuntungan pada pelakunya dalam dua fase kehidupan, yakni dunia dan akhirat, sehingga saat terjadi konflik diantara keduanya, maka tindakan yang bijak sangat dibutuhkan, yakni dengan meninggalkan keuntungan yang cepat namun fana, demi memperoleh keuntungan yang abadi untuk di yaumil akhir nanti.

Penulis: Merza Gamal (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)

sumber:
http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/12/03/konsep-bisnis-dalam-al-quran-508052.html