Selasa, 19 Agustus 2014

Ekspor Kakao Sulteng Kembali Bergerak

Ekspor biji kakao kering dari Sulawesi Tengah pada April 2014 kembali bergerak dengan menyumbang devisa 330.000 dolar AS setelah Januari-Maret 2014 tidak terealisasi sama sekali.

"Bulan April 2014 ekspor biji kakao kembali bergerak dan menjadi kontributor terbesar yakni mencapai 35 persen dari total penerimaan devisa Sulteng sebesar 950.000 dolar AS," kata Kepala BPS Sulteng JB Prijono kepada pers di Palu, Senin.

Ia tidak menjelaskan mengapa ekspor biji kakao kering Sulteng yang selama ini memberikan kontribusi cukup besar dalam penghasilan devisa, tiba-tiba `menghilang` sejak Januari 2014.

Namun Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Sulawesi Tengah Bunga Elim Somba di tempat terpisah mengemukakan bahwa kemerosotan ekspor kakao ini disebabkan oleh banyaknya kebun kakao rakyat yang direhabilitasi lewat program gerakan nasional (Gernas) kakao selama tiga tahun terakhir.

"Karena banyak kebun direhabilitasi maka produksinya merosot. Kita masih harus menunggu satu sampai dua tahun ke depan baru produksi kakao ini kembali naik," kata Elim Somba yang ditemui di Hotel Mercure Palu, Minggu (1/6) malam.

Kepala BPS Sulteng Prijono selanjutnya mengemukakan bahwa selama Januari-April 2014, ekspor Sulteng hanya mampu menghasilkan devisa sebanyak 46,8 juta dolar AS, merosot dibanding periode sama 2013 yang mencapai 60,2 juta dolar AS.

Penyebab utamanya adalah terhentinya ekspor nikel (ore) sehubungan larangan ekspor mineral mentah berdasarkan UU No. 4 Tahun 2009 tentang mineral dan batu bara yang berlaku mulai 12 Januari 2014.

Komoditi andalah ekspor Sulteng saat ini setelah ekspor nikel mentah terhenti adalah biji kakao, ikan dan udang, getah damar serta kayu dan barang dari kayu.

Negara tujuan ekspor terbesar adalah Malaysia yang membeli biji kakao Sulteng dan Amerika Serikat yang membeli hasil-hasil perikanan dan udang.

Mengenai impor, Prijono mengemukakan bahwa nilai impor selama Januari-April 2014 mencapai 23,74 juta dolar AS, naik dibanding periode sama tahun sebelumnya senilai 16,44 juta dolar AS.

Ini berarti, kinerja perdagangan internasional Sulawesi Tengah masih surplus sekitar 15 juta dolar AS, ujarnya.

Barang impor Sulteng terutama mesin-mesin peralatan listrik, pesawat mekanik, dan bahan bakar mineral yang banyak dibutuhkan oleh investor yang sedang membangun kilang pengolahan nikel dan pembangkit listrik.

"Hampir 80 persen barang-barang impor itu didatangkan dari Tiongkok," ujarnya. (
sumber berita: antarasulteng.com Selasa, 3 Juni 2014 02:32 WIB)

Sulteng Tidak Ekspor Kakao Pada Mei 2014

Provinsi Sulawesi Tengah tidak mengekspor kakao pada Mei 2014, meski merupakan komoditas unggulan di daerah ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah JB Priyono di Palu, Rabu, mengatakan kakao tidak tercatat sama sekali di dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB) dan pemberitahuan impor barang (PIB) yang berasal dari Kantor Pabean Bea dan Cukai.

Selama ini ekspor kakao setiap bulannya juga cenderung menurun mengingat produksi kakao di Sulawesi Tengah juga fluktuatif.

Sementara itu kontribusi terbesar terhadap ekspor pada Mei 2014 berasal dari kelompok kayu dan barang dari kayu senilai 0,39 juta dolar AS atau 55,71 persen dari total nilai ekspor Sulawesi Tengah.

Selama Mei 2014, nilai ekspor Sulawesi Tengah senilai 0,70 juta dolar AS, turun 250 ribu dolar AS atau 26,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Selama kurun Januari hingga Mei 2014, nilai ekspor Sulawesi Tengah tercatat 47,51 juta dolar AS. Komoditas yang diekspor melalui Sulawesi Tengah sebesar 41,77 juta dolar AS dan melalui provinsi lain sebesar 5,74 juta dolar AS.

JB Priyono menyebutkan negara tujuan utama ekspor selama Mei 2014 adalah Korea Selatan senilai 250 ribu dolar AS atau 35,71 persen dari total nilai ekspor Sulawesi Tengah.

Negara tujuan berikutnya adalah Jepang senilai 0,09 juta dolar AS atau 12,86 persen. Sementara itu, nilai ekspor ke negara lainnya masing-masing kurang dari 0,09 juta dolar AS. (
sumber berita: antarasulteng.com Kamis, 3 Juli 2014 03:07 WIB)

Sulteng Berupaya Atasi Perlambatan Ekonomi



Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berupaya mengatasi perlambatan ekonomi pada awal 2014 akibat adanya larangan ekspor mineral mentah padahal sektor pertambangan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi.

Asisten Bidang Ekonomi dan Kesra Setdaprov Sulawesi Tengah, Bunga Elim Somba di Palu, Senin, mengatakan larangan ekspor mineral mentah menyebabkan ekonomi hanya tumbuh 4,57 persen pada triwulan I 2014 padahal pada triwulan I 2013 tumbuh 6,28 persen.

Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Nomor 1 tahun 2014 tentang larangan ekspor mineral mentah berdampak langsung ke Sulawesi Tengah yang selama ini banyak mengekspor bijih nikel.

Mineral baru dapat diekspor setelah dimurnikan di smelter yang berada di Indonesia.

Elim mengatakan semua dinas dan perangkat daerah harus bersinergi untuk mencari solusi mengurangi dampak perlambatan ekonomi.

Sementara itu Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Purjoko mengatakan peningkatan dan realisasi APBN dan APBD diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan II 2014.

Selain itu, produksi gas perdana dari PT Dongi Senoro di Kabupaten Banggai diharapkan juga turut mendongkrak perekonomian.

Di samping itu, katanya, peningkatan frekuensi berbagai acara berskala regional dan nasional juga bisa mendorong investasi di daerah ini.

"Selain itu, proses perijinan dan birokrasi investasi juga harus dipercepat. Jangan dipersulit," kata Purjoko.
(sumber berita: antarasulteng.com Senin, 19 Mei 2014 19:40 WIB)

Disperindagkop: Harga Komoditas Ekspor Sulteng Stabil



Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Sulawesi Tengah (Sulteng) mencatat harga sejumlah komoditas ekspor di daerah itu hingga saat ini relatif stabil dibanding sepekan sebelumnya.

"Harga komoditas ekspor masih sama seperti pekan lalu," kata Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop Sulteng, Toni Mohammad di Palu, Senin.

Ia menyebutkan harga kakao misalnya, tetap Rp32.000 per kilogram (kg), biji kopi robusta Rp27.000, kopra Rp7.200 dan cengkih Rp150.000 per kg.

Menurut dia, permintaan terhadap cengkih dan kakao cukup tinggi, namun stok yang ada di petani maupun pengumpul terbatas.

Rudi, seorang pengumpul hasil bumi di Palu mengatakan produksi kakao kali ini turun dibandingkan sebelumnya. Itu bisa dilihat dari jumlah petani yang datang menjual hasil panen kepada pedagang tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Padahal, kata Rudi, harga kakao sekarang ini terbilang paling tinggi selama beberapa tahun terakhir. Harga kakao pernah naik sampai Rp28.000 per kg pada 1998.

Tetapi sekarang ini, harga kakao di pasar lokal sudah mencapai Rp32.000 per kg atau tertinggi dibanding sebelumnya. Namun di saat harga naik, produksi petani yang kurang.

Ia mengungkapkan buah kakao banyak yang terserang hama. "Selain terserang hama, juga buahnya kurang," kata Rudi yang juga petani kakao.

Kakao merupakan komoditas ekspor unggulan Sulteng yang masih diharapkan dapat menyumbangkan devisa bagi daerah itu.

Sebagian besar petani di Sulteng menggantungkan hidup mereka dari berkebun kakao dan komoditas pertanian.
(sumber berita: antarasulteng.com Senin, 26 Mei 2014 11:48 WIB)