Jangan berharap anda bisa sukses menjalankan usaha tanpa bergaul dengan pengusaha yang lebih sukses ,Demikian pesan dari seorang pengusaha sukses.
Memang benar ibarat pepatah,jika anda bergaul dengan penjual ikan asin maka tubuh anda akan bau ikan asin,dan Jika anda bergaul dengan penjual minyak wangi maka tubuh anda akan ikut wangi.
Pesan saya banyaklah bergaul,J ika perlu bergaullah dengan entrepreneur sukses lain, Mereka akan dapat menjadi tempat bertanya bagi masalah-masalah yang dihadapi.
Anda bukan hanya mendapatkan keuntungan pengetahuan praktis tentang bisnis,tetapi jika mujur akan dapat peluang modal yang sangat besar.
Seandainya modal tidak dapat anda peroleh,anda berpeluang besar untuk bekerja sama dengan pengusaha sukses pada saat mengawali usaha atau mengembangkan usaha anda.
Singkat kata,modal ada dimana-mana,sebahagian besar ada di komunitas anda,untuk itu bergaullah dengan komunitas-komunitas wirausaha.
Tetapi ada sedikit pesan,bergaul juga harus pandai-pandai,jangan sampai salah bergaul dengan orang yang salah dan ditempat yang salah.
Salam entrepreneurs !!
sumber:
opini, Iskanda ST, 31/01/2013, kompasiana.
Kamis, 31 Januari 2013
Riset Ketahan Pangan (dalam Jalan Keluar)
Mengikuti acara semacam ini sungguh tanpa dipikir terlebih dahulu, hanya iseng mengisi waktu luang karena untuk sementara pengangguran sebagai mahasiswa tingkat akhir yang menunggu mulai penelitian dengan kegiatan bermanfaat. Pikirku diawal ini hanya acara seminar biasa yang disajikan pihak kemahasiswaan IPB. Pas masuk ke auditorium yang disulap menjadi studio tv agak kaget, nah loh kok banyak kamera dan orang-orang pake earphone sibuk? Dingdong… kompas TV? Lah kan (kata temen gw) di tiket ada bacaan kompas TVnya, tiketnya Cuma diambil dan disimpen sih, ga dibaca..hehe, pantesan audience diminta memakai almamater segala, terus ga nyangka lagi itu pejabat kampus ada semua dalam acara talk show, ada rector, dekan fakultas, pakar pertanian, ekonom dan lain-lain. Ternyata gw kesasar ke acara keren nih, narasumbernnya keren semua dan wawasan yang didapat pastinya berbobot.
Acar dimulai pukul 10 lewat 5 menit, sebelum acara dimulai ada sambutan dari rector IPB, menyanyikan lagu Indonesia raya dan lagu mars IPB (ga masuk TV ini mah). Setelah ritual awal (sambutan dan nyanyi) ada pengarahan dari pihak kompas TV tentang jalannya acara.
Tema yang diangkat tentang riset ketahan pangan. Tema ini jelas sangat pas dibawakan di IPB, berhubung kampus ini merupakan kampus pertanian terbesar di Indonesia yang banyak berperan dalam bidang pertanian.
Pangan merupakan hal yang sangat krusial, pangan merupakan pilar ketahanan nasional dan pembangunan untuk sector lain. Pangan juga merupakan hak asasi manusia, dan jika kebutuhan pangan tidak terpenuhi berarti ada pelanggaran hak asasi oleh negara dan ini tertuang dalam Undang-undang. Bahkan presiden RI 1 menyatakan bahwa pangan adalah soal hidup dan matinya bangsa.
Salah satu bahan pangan yang paling popular tentu saja adalah beras. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan beras, semua orang di negeri ini makan nasi. Bahkan ada guyonan bahwasannya kalau belum makan nasi itu belum makan, walaupun sudah makan roti, kue atau buah. Makan ya nasi, kalau bukan nasi ya bukan makan namanya.
Tingginya konsumsi beras dalam negeri tidak sebanding dengan ketersediaan beras dalam negeri, sehingga terjadi defisit. Konsumsi beras nasional mencapai angka 125,3kg/kapita/tahun, jumlah konsumsi yang sangat tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Ketersediaan yang kurang menimbulkan permasalah ekonomi yang cukup pelik karena otomatis akan menaikan harga beras. Rakyat menjerit karena harga beras yang tinggi. Impor menjadi solusi sementara untuk keadaan demikian, tapi tidak bisa selamannya tergantung dengan import. Pada tahun 2009 indonesia melakukan import beras sebesar 5juta ton. Konsep ketahanan pangan merujuk kepada kemandirian Indonesia dalam mencukupi kebutuhan pangan nasional. Berbagai upaya terus dilakukan untuk mecapai ketahan pangan, salah satunnya melalui riset dan teknologi. Salah satu solusi dengan melakukan diversifikasi beras dengan bahan pangan lain yang ketersediaannya melimpah seperti singkong. IPB menawarkan solusi lain berupa pembuatan beras analog yang berpotensi baik bagi kesehatan. Beras analog adalah beras yang dibuat dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar sperti singong atau sagu yang dibentuk menjadi beras dan dimasak sama seperti beras. Namun lagi-lagi masyarakat Indonesia hanya makan jika yang dimakan adalah nasi, selain itu ya bukan makan namanya.
Diskusi dimulai dengan mengidentifikasi masalah-masalah pangan mulai dari sempitnya lahan pertanian, masalah teknologi, pendanaan, infrastruktur dan masalah politik pertanian.
Setiap tahun sebanyak 1,5% lahan pertanin turun akibat pemukiman penduduk. Produktifitas padi di Indonesia (bogor) sudah mencapai 5ton/hektar, lebih tinggi dari thailand. Peningkatan produktifitas merupakan solusi untuk mencapai ketahanan pangan, disaat lahan pertanian Indonesia semakin menurun. Menurut hasil diskusi, jika Indonesia mampu meningkatkan produktifitas 6-7ton/hektar saja kondisi pangan nasional akan stabil. Peningkatan produktifitas hanya dapat dicapai dengan terus melakukan riset dan pengembangan teknologi pertanian.
Riset dilakukan agar dapat menghasilkan suatu temuan untuk meningkatkan produktifitas baik secara genetic, teknik budidaya, biotek, ataupun temuan lainnya. Persoalan riset saat ini adalah masalah keseriusan pemerintah dalam pendaan. Total anggaran riset hanya sebesar 0,07%, padahal UNESCO menyarakan anggaran sebesar 0,2% untuk riset. Sehingga perlu adannya investasi untuk keperluan riset. Sementara pemerintah enggan memeberikan dana yang besar untuk riset, swasta juga sebagai penikmat hasil-hasil riset juga tidak mau susah payah mengeluarkan dana investasi untuk keperluan riset.
Rendahnya pendanaan riset nasional untuk perguruan tinggi atau badan-badan riset lainnya disinyalir karena rendahnya gairah politik pertanian di perguruan tinggi. Hanya menerima dan di suruh dan tidak berusaha memperjuangkan anggaran dengan melobi pemerintah atau pembuat kebijakan. Dahulu, politik pertanian mungkin tidak terlalu penting karena ada pak harto (Presiden RI 1) yang senang dan focus ke pertanian, sehingga beliaulah yang memperjuangkan pertanian dan menghandle politik riset. Namun, untuk saat ini hanya sedikit orang yang peduli dan mau memperjuangkan pertanian dalam tataran kebijakan. Artinya, sector pertanian kekurangan SDM politik.
Selain persoalan pendanaan, adanya missing link juga perlu diatasi untuk mengefektifkan proses pencapaian ketahan pangan nasional. Missing link terjadi saat hasil-hasil riset entah siapa yang akan mengembangkan atau mengimplementasikannya. Banyak hasil riset yang dihasilkan perguruan tinggi, namun hasil riset tersebut hanya tersimpan rapi dalam lemari perpustakaan. Padahal riset tersebut dilakukan bukan tanpa dana dan tenaga. Pemerintah belum focus dalam menindaklanjuti (menyediakan jembatan) hasil-hasil riset yang berpotensi dapat membantu pemecahan masalah ketahanan pangan nasional. Masih belum ada...
sumber:
opini, Een nuraeni, 31/01/2003, kompasiana
penguatan perekonomi daerah
Yogyakarta bukanlah kota yang masih muda. Sejarah kota itu dimulai dengan pembangunan kerajaan setelah Perjanjian Giyanti pada 1755 dan pengangkatan Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Hamengku Buwono I.
Kendati demikian, melihat perkembangan di Kota Yogyakarta saat ini, kita sungguh patut mengacungkan jempol. Pembangunan kampus perguruan tinggi di mana-mana. Demikian juga pembangunan maupun perbaikan rumah sakit. Pembangunan hotel tidak kalah maraknya. Dewasa ini bahkan kita melihat pembangunan hotel-hotel baru baik yang berbintang maupun yang tidak.
Dengan melihat masih banyak daerah eksotis yang belum berkembang dengan baik, favorit saya adalah Gunungkidul, kita bisa melihat prospek ke depan dari perkembangan kota tersebut. Itulah sebabnya saya memiliki keyakinan kuat, berbagai sektor yang sedang dibangun tersebut pada akhirnya akan menarik investor untuk datang.
Dugaan tersebut ternyata benar. Sebuah pabrik kemasan yang besar akan membangun pabrik barunya di kota tersebut untuk mengikuti industri yang didukungnya. Industri lain (yang sayangnya saya tidak etis menyebutnya saat ini) juga mulai berdatangan.
Dengan melihat militannya para pekerja di berbagai tempat saat ini, Provinsi Jawa Tengah dan terutama Yogyakarta mulai banyak dilirik para pengusaha untuk menjadi lokasi investasi mereka. Terlebih lagi dengan selesainya jalur kereta api ganda yang sedang dibangun saat ini antara Cirebon sampai Kroya, yang tentu akan dilanjutkan lagi sampai Kutoarjo, kita bisa menyaksikan jalur transportasi yang strategis mulai menyentuh kota yang dikenal sebagai kota pelajar tersebut.
Perkembangan itu berbarengan pula dengan kota saudaranya, Solo, yang juga berkembang pesat.Kota yang dulunya dikenal bertemperatur panas dari sisi kehidupan sosial masyarakatnya berubah cepat saat dipimpin Wali Kota Jokowi dan wakilnya. Berbagai industri berdatangan di kota tersebut sehingga tampak sekali dinamisnya Kota Solo dalam beberapa tahun terakhir. Pembangunan hotel terjadi di mana-mana. Begitu juga pengembangan industrinya.
Sritex misalnya melakukan ekspansi cukup besar dengan pembangunan pabrik pemintalan yang baru (saya melihat pembangunan Spinning Unit VII sampai X yang waktu itu dibangun hampir bersamaan) maupun pabrik pakaian jadi yang mampu menarik begitu banyak tenaga kerja. Di kota itu pun pabrik farmasi Konimex juga berkembang terus-menerus.
Perkembangan kedua kota tersebut mampu menghela perkembangan daerah Jawa Tengah bagian selatan. Jika pembangunan bandara baru di Kabupaten Kulon Progo, sebelah barat Yogyakarta,dapat direalisasikan, perkembangan ini sangat mungkin akan juga mendorongpembangunandaerahdi Kutoarjo dan seterusnya. Sementara perkembangan yang sudah terjadi di daerah Purwokerto dan terutama Banjarnegara pada akhirnya juga dapat melebar ke daerah sekelilingnya.
Dengan demikian, daerah selatan Pulau Jawa yang perkembangannya lebih lambat dari daerah utara akan memperoleh momentum baru dalam pembangunan mereka. Pembangunan jalur ganda kereta api yang melalui daerah tersebut juga akan menjadi katalis baru bagi pembangunan industri di daerah tersebut. Perkembangan daerah semacam ini juga terjadi di banyak daerah di Indonesia. Sumatera Selatan misalnya yang sejak persiapan PON dahulu berkembang pesat, dewasa ini terus membangun.
Saya ingat menulis tentang daerah tersebut saat mengunjungi pembangunan Hotel Novotel yang waktu itu belum dibuka. Di tengah banyak pendapat yang mengatakan Palembang setelah PON akan kembali redup, saya justru mengatakan, Palembang akan menunjukkan perkembangan yang baru dalam perekonomiannya. Saya bersyukur, Palembang memang akhirnya berkembang pesat, bahkan setelah PON sudah lama lewat.
Dewasa ini berbagai industri yang secara pribadi saya ketahui mulai dikembangkan di daerah tersebut. Arwana, yang merupakan perusahaan keramik nomor dua di Indonesia, sedang membangun pabriknya di daerah Sumatera Selatan. Pabrik yang berukuran besar dan akan dikembangkan secara berturut-turut tersebut saat ini sudah mulai pada tahapan konstruksi sehingga tidak lama lagi akan kita lihat hasilnya.
Demikian juga dengan pembangunan pabrik bubur kertas (pulp) yang kapasitasnya sangat besar, dua juta ton, di provinsi tersebut juga pasti akan ikut mendorong pembangunan daerah tersebut. Pembangunan perkebunan tebu dan pabrik gula dewasa ini juga sedang dilakukan sebuah grup perusahaan besar. Dari berbagai cerita ini kita akan dapat melihat, Provinsi Sumatera Selatan yang perkembangan perbankannya sudah melampaui Riau beberapa tahun lalu akan semakin melesat pada tahun-tahun mendatang.
Dari berbagai contoh yang saya kemukakan di sini sangat tampak ada korelasi antara kualitas pemerintah daerahnya dengan kualitas pembangunan daerahnya. Daerah-daerah yang saya gunakan sebagai ilustrasi di artikel ini adalah daerah yang memiliki kualitas pemerintah daerah yang baik sehingga mampu mendorong perkembangan wilayahnya.
Dalam kaitan ini kita tentu harus memasukan daerah yang lain seperti Kota Surabaya, Kabupaten Bengkayang, dan Kabupaten Landak di Kalimantan Barat, Kabupaten Tabalong di Kalimantan Timur, serta banyak lagi. Saya yakin masih banyak daerah yang saya tidak kenal secara pribadi berkembang sangat dinamis.
Dalam konteks tersebut kita sungguh berharap prestasi yang sudah ditorehkan Jokowi di Kota Solo semasa kepemimpinannya akan terulang lagi di DKI Jakarta saat ini.Berbagai langkah, dari gaya blusukan maupun terobosan yang sistematis telah dilakukan Jokowi-Ahok dan tampaknya akan menuai hasil dengan cepat.
Pada saat saya sedang menunggu seorang teman di Fountain Lounge Hotel Hyatt, saya mengamati beberapa lama bus Transjakarta menyusuri dari Jalan Jenderal Sudirman, melewati Bundaran Hotel Indonesia dan berhenti di halte di depan Wisma Nusantara. Bus-bus gandeng yang baru sudah tampak beroperasi dan jumlahnya (dari frekuensi yang lewat) cukup banyak. Dengan penambahan bus yang cukup banyak, saya bisa memperkirakan, konsep busway di kota ini memperoleh momentum baru.Tidak lama lagi kita akan mendengar suatu "kejutan" baru dalam pengembangan busway ini.
Mudah-mudahan gebrakan awal ini dengan cepat menular pada pengembangan prasarana yang lain, terutama dalam mengatasi banjir, pengembangan kampung kumuh, upaya mengatasi kemacetan, dan sebagainya. Dari berbagai contoh di atas, jika kualitas pimpinan daerahnya baik, hasilnya ternyata juga sejalan dengan hal tersebut. Saya yakin akan terjadi juga di Jakarta.
Kendati demikian, melihat perkembangan di Kota Yogyakarta saat ini, kita sungguh patut mengacungkan jempol. Pembangunan kampus perguruan tinggi di mana-mana. Demikian juga pembangunan maupun perbaikan rumah sakit. Pembangunan hotel tidak kalah maraknya. Dewasa ini bahkan kita melihat pembangunan hotel-hotel baru baik yang berbintang maupun yang tidak.
Dengan melihat masih banyak daerah eksotis yang belum berkembang dengan baik, favorit saya adalah Gunungkidul, kita bisa melihat prospek ke depan dari perkembangan kota tersebut. Itulah sebabnya saya memiliki keyakinan kuat, berbagai sektor yang sedang dibangun tersebut pada akhirnya akan menarik investor untuk datang.
Dugaan tersebut ternyata benar. Sebuah pabrik kemasan yang besar akan membangun pabrik barunya di kota tersebut untuk mengikuti industri yang didukungnya. Industri lain (yang sayangnya saya tidak etis menyebutnya saat ini) juga mulai berdatangan.
Dengan melihat militannya para pekerja di berbagai tempat saat ini, Provinsi Jawa Tengah dan terutama Yogyakarta mulai banyak dilirik para pengusaha untuk menjadi lokasi investasi mereka. Terlebih lagi dengan selesainya jalur kereta api ganda yang sedang dibangun saat ini antara Cirebon sampai Kroya, yang tentu akan dilanjutkan lagi sampai Kutoarjo, kita bisa menyaksikan jalur transportasi yang strategis mulai menyentuh kota yang dikenal sebagai kota pelajar tersebut.
Perkembangan itu berbarengan pula dengan kota saudaranya, Solo, yang juga berkembang pesat.Kota yang dulunya dikenal bertemperatur panas dari sisi kehidupan sosial masyarakatnya berubah cepat saat dipimpin Wali Kota Jokowi dan wakilnya. Berbagai industri berdatangan di kota tersebut sehingga tampak sekali dinamisnya Kota Solo dalam beberapa tahun terakhir. Pembangunan hotel terjadi di mana-mana. Begitu juga pengembangan industrinya.
Sritex misalnya melakukan ekspansi cukup besar dengan pembangunan pabrik pemintalan yang baru (saya melihat pembangunan Spinning Unit VII sampai X yang waktu itu dibangun hampir bersamaan) maupun pabrik pakaian jadi yang mampu menarik begitu banyak tenaga kerja. Di kota itu pun pabrik farmasi Konimex juga berkembang terus-menerus.
Perkembangan kedua kota tersebut mampu menghela perkembangan daerah Jawa Tengah bagian selatan. Jika pembangunan bandara baru di Kabupaten Kulon Progo, sebelah barat Yogyakarta,dapat direalisasikan, perkembangan ini sangat mungkin akan juga mendorongpembangunandaerahdi Kutoarjo dan seterusnya. Sementara perkembangan yang sudah terjadi di daerah Purwokerto dan terutama Banjarnegara pada akhirnya juga dapat melebar ke daerah sekelilingnya.
Dengan demikian, daerah selatan Pulau Jawa yang perkembangannya lebih lambat dari daerah utara akan memperoleh momentum baru dalam pembangunan mereka. Pembangunan jalur ganda kereta api yang melalui daerah tersebut juga akan menjadi katalis baru bagi pembangunan industri di daerah tersebut. Perkembangan daerah semacam ini juga terjadi di banyak daerah di Indonesia. Sumatera Selatan misalnya yang sejak persiapan PON dahulu berkembang pesat, dewasa ini terus membangun.
Saya ingat menulis tentang daerah tersebut saat mengunjungi pembangunan Hotel Novotel yang waktu itu belum dibuka. Di tengah banyak pendapat yang mengatakan Palembang setelah PON akan kembali redup, saya justru mengatakan, Palembang akan menunjukkan perkembangan yang baru dalam perekonomiannya. Saya bersyukur, Palembang memang akhirnya berkembang pesat, bahkan setelah PON sudah lama lewat.
Dewasa ini berbagai industri yang secara pribadi saya ketahui mulai dikembangkan di daerah tersebut. Arwana, yang merupakan perusahaan keramik nomor dua di Indonesia, sedang membangun pabriknya di daerah Sumatera Selatan. Pabrik yang berukuran besar dan akan dikembangkan secara berturut-turut tersebut saat ini sudah mulai pada tahapan konstruksi sehingga tidak lama lagi akan kita lihat hasilnya.
Demikian juga dengan pembangunan pabrik bubur kertas (pulp) yang kapasitasnya sangat besar, dua juta ton, di provinsi tersebut juga pasti akan ikut mendorong pembangunan daerah tersebut. Pembangunan perkebunan tebu dan pabrik gula dewasa ini juga sedang dilakukan sebuah grup perusahaan besar. Dari berbagai cerita ini kita akan dapat melihat, Provinsi Sumatera Selatan yang perkembangan perbankannya sudah melampaui Riau beberapa tahun lalu akan semakin melesat pada tahun-tahun mendatang.
Dari berbagai contoh yang saya kemukakan di sini sangat tampak ada korelasi antara kualitas pemerintah daerahnya dengan kualitas pembangunan daerahnya. Daerah-daerah yang saya gunakan sebagai ilustrasi di artikel ini adalah daerah yang memiliki kualitas pemerintah daerah yang baik sehingga mampu mendorong perkembangan wilayahnya.
Dalam kaitan ini kita tentu harus memasukan daerah yang lain seperti Kota Surabaya, Kabupaten Bengkayang, dan Kabupaten Landak di Kalimantan Barat, Kabupaten Tabalong di Kalimantan Timur, serta banyak lagi. Saya yakin masih banyak daerah yang saya tidak kenal secara pribadi berkembang sangat dinamis.
Dalam konteks tersebut kita sungguh berharap prestasi yang sudah ditorehkan Jokowi di Kota Solo semasa kepemimpinannya akan terulang lagi di DKI Jakarta saat ini.Berbagai langkah, dari gaya blusukan maupun terobosan yang sistematis telah dilakukan Jokowi-Ahok dan tampaknya akan menuai hasil dengan cepat.
Pada saat saya sedang menunggu seorang teman di Fountain Lounge Hotel Hyatt, saya mengamati beberapa lama bus Transjakarta menyusuri dari Jalan Jenderal Sudirman, melewati Bundaran Hotel Indonesia dan berhenti di halte di depan Wisma Nusantara. Bus-bus gandeng yang baru sudah tampak beroperasi dan jumlahnya (dari frekuensi yang lewat) cukup banyak. Dengan penambahan bus yang cukup banyak, saya bisa memperkirakan, konsep busway di kota ini memperoleh momentum baru.Tidak lama lagi kita akan mendengar suatu "kejutan" baru dalam pengembangan busway ini.
Mudah-mudahan gebrakan awal ini dengan cepat menular pada pengembangan prasarana yang lain, terutama dalam mengatasi banjir, pengembangan kampung kumuh, upaya mengatasi kemacetan, dan sebagainya. Dari berbagai contoh di atas, jika kualitas pimpinan daerahnya baik, hasilnya ternyata juga sejalan dengan hal tersebut. Saya yakin akan terjadi juga di Jakarta.
sumber:
opini, Cyrillius Harinowo Hadiwerdoyo, 21/01/2013, ekozone
..rasamu dan rasaku..
Gratisan Musik
ada rasa jenuh
ada rasa bT
ada rasa asin
asam
manis
pahit....
nanonano
ninanina
nanana
kesemuanya..,
merupakan rasa yang KITA rasakan dalam KEHIDUPAN....
jadi..,
nikmatilah RASA itu..,!!!
.......................................dalam "racikan DOAmu malam ini...
...AMIN................................
@2013.metbobodalam rasaSAYANG...
memilih vs memilah
memiliki rasa dan kata..
cewek..
menikmati RASA..
dan, mendengarkan KATA..
apakah sikapmu :...
di RASA,.
atau,
di KATA,.
atau ..: di RASA dan di KATA
berDOA, dan BERFIKIR,lah
dalam memilih dan memilah.
selanjutnya:
berTAWAKALlah..
sambil menunggu saat-saat
KALIAN berlayar...
di dilautan samudra, TANTANGAN...
@2013,kupukupudiperahukertas..
d+o+a=o - p
"Sesungguhnya berdo'a itu merupakan ibadah".
doa, menambah (+) optimisme.
doa, mengurangi (-) pesimisme.
..(+) dan (-) = matematika doa..
kalau kita optimis berdoa..
maka, Insya Allah doa kita akan memiliki nilai tambah..
entah dalam bentuk jodoh, rezeki, keselamatan.. dll
sebaliknya,
kalau kita kurang berdoa..
maka,.. itu artinya, rasa percaya diri kita berkurang....
entah dalam bentuk resah, gelisa, rasa was- was..dll..
terkabulnya doa melalui jiwa optimis, akan menghasilkan perasaan syukur...
..............atau ++++++ = ...BERSYUKUR.....................................................................
kalau optimisme melebihi +++++++ (rajin) berdoa, tetapi, tidak menghasilkan nilai (++++),...
berarti kita harus..+++++ = ..BERSABAR.....................................................................
jadi,
harmonisasi syukur dan sabar = harmonisasi jiwa ISLAM.......................................
Islam mengajarkan kita untuk beribadah sebagai mahluk...
selanjutnya ......
Allah memberi ketetapan, apakah permohonan doa kita terkabul atau ditunda...
sebab,.......
ALLAH, pemilik kerjaan langit dan bumi....titik.
@(Q.S. Al-Mu'min : 60) 2013 doadalamlarutankopimalam.
dan SENJA..
kamu rebulan..
dan, itu = SENJA...
matahari, pemberi cahaya ..
bulan, penerima cahaya..
pemberi dan penerima..
kuberi cahaya siang..
kuserahkan dihadapan senja..
untuk bekal cahaya MALAMMU... duhaii REMBULAN...:)..
@2013akumatarahariduhairebulan
Langganan:
Postingan (Atom)





