Jumat, 29 Mei 2026

Menakar Mutu Pendidikan Sulawesi Tengah


Ketika Akses Mulai Terbuka, tetapi Ketimpangan Masih Menganga
Oleh: Sofian
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Menengah Wilayah IV Kabupaten Morowali dan Morowali Utara
Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah


Pendidikan dan Wajah Masa Depan Daerah
Di tengah geliat pembangunan kawasan industri, pertumbuhan ekonomi daerah, dan arus modernisasi yang semakin cepat di Sulawesi Tengah, sektor pendidikan justru menghadirkan ironi yang sunyi. Sebagian indikator mutu pembelajaran menunjukkan tren membaik, tetapi pada saat yang sama ribuan anak masih tercecer dari sistem pendidikan.

Rapor Pendidikan Indonesia 2025 untuk Provinsi Sulawesi Tengah memperlihatkan sebuah kenyataan penting: akses pendidikan dasar mulai menguat, namun kualitas layanan yang merata dan inklusif masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pendidikan belum sepenuhnya hadir sebagai jembatan keadilan sosial, terutama bagi anak-anak di wilayah terpencil, keluarga miskin, dan kelompok rentan seperti penyandang disabilitas.

Data dalam Rapor Pendidikan sesungguhnya bukan sekadar angka statistik administratif. Ia adalah potret kehidupan sosial masyarakat. Di balik persentase literasi, numerasi, dan angka partisipasi sekolah, terdapat cerita tentang anak yang harus membantu orang tua di kebun, remaja yang berhenti sekolah demi bekerja, hingga anak-anak disabilitas yang belum menemukan sekolah yang mampu menerima mereka.

Indeks SPM Pendidikan Dasar Sudah Bergerak, tetapi Belum Kokoh
Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2025 memperoleh skor 64,23 pada Indeks Pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan. Angka ini menempatkan Sulawesi Tengah pada kategori Tuntas Muda.

Secara administratif, capaian tersebut menunjukkan bahwa layanan dasar pendidikan telah berjalan dan menjangkau sebagian besar sasaran utama. Namun, skor ini juga mengindikasikan bahwa kualitas pelayanan belum stabil dan belum merata antardaerah.

Wilayah perkotaan seperti Kota Palu relatif memiliki akses layanan pendidikan yang lebih baik dibandingkan wilayah kepulauan dan pegunungan. Ketimpangan geografis masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi mutu pendidikan di Sulawesi Tengah.


Secara konseptual, kategori “Tuntas Muda” menggambarkan daerah yang sudah memenuhi sebagian besar layanan dasar, tetapi belum mampu menjamin kualitas layanan secara merata dan berkelanjutan.

Literasi dan Numerasi Naik Perlahan, tetapi Belum Melompat
Rapor Pendidikan 2025 menunjukkan bahwa kompetensi dasar murid di Sulawesi Tengah masih didominasi kategori Sedang.

Pada indikator literasi, jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK umum mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa intervensi pembelajaran berbasis Asesmen Nasional mulai memberikan dampak positif.

Namun, capaian tersebut belum cukup untuk disebut sebagai lompatan mutu. Mayoritas murid masih berada pada level kemampuan memahami informasi sederhana dan belum optimal dalam kemampuan berpikir kritis maupun reflektif.


Penurunan ini menunjukkan bahwa kelompok remaja yang berada di jalur pendidikan nonformal semakin rentan tertinggal secara akademik.

Dalam konteks ekonomi daerah, kondisi ini berbahaya. Sulawesi Tengah sedang memasuki era industrialisasi yang membutuhkan tenaga kerja adaptif, numeratif, dan mampu memecahkan persoalan teknis. Rendahnya kemampuan numerasi akan berdampak langsung pada daya saing sumber daya manusia lokal.

Titik Cerah di Tengah Ketimpangan
Di tengah berbagai tantangan akademik, Rapor Pendidikan justru memperlihatkan kabar baik pada aspek karakter murid.

Siswa SD dan SMP umum di Sulawesi Tengah memperoleh kategori Baik dalam penerapan nilai-nilai karakter dan Profil Pelajar Pancasila.

Hal ini mengindikasikan bahwa sekolah masih berhasil menjadi ruang sosial yang membentuk sikap gotong royong, toleransi, dan kedisiplinan.

Namun demikian, terdapat catatan penting pada kualitas pembelajaran di kelas. Interaksi komunikasi dua arah antara guru dan siswa pada jenjang SMP mengalami penurunan menuju kategori sedang.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran masih cenderung bersifat satu arah dan belum sepenuhnya mendorong partisipasi aktif siswa.

Angka Partisipasi Sekolah Remaja Menurun
Bagian paling kritis dalam Rapor Pendidikan 2025 justru muncul pada indikator Angka Partisipasi Sekolah (APS).

Data menunjukkan bahwa kelompok usia 16–18 tahun berada dalam kategori Kurang.

Artinya, banyak remaja usia SMA di Sulawesi Tengah yang tidak lagi berada di bangku sekolah.



Fenomena ini memperlihatkan bahwa program wajib belajar 9 tahun relatif berhasil, tetapi transisi menuju pendidikan menengah masih menghadapi hambatan serius.

Faktor ekonomi keluarga menjadi penyebab utama. Banyak remaja memilih bekerja dibandingkan melanjutkan sekolah. Di daerah industri seperti Morowali dan Morowali Utara, sebagian remaja bahkan tergoda masuk ke sektor kerja informal lebih cepat tanpa bekal pendidikan memadai.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, Sulawesi Tengah berisiko mengalami paradoks pembangunan: pertumbuhan ekonomi meningkat, tetapi kualitas manusianya tertinggal.

Anak Disabilitas dan Pendidikan yang Belum Sepenuhnya Inklusif
Kelompok yang paling tertinggal dalam akses pendidikan adalah anak penyandang disabilitas usia 4–18 tahun.

Kategori “Kurang” pada indikator APS disabilitas memperlihatkan bahwa sekolah inklusif belum berkembang secara optimal.

Masalahnya bukan sekadar jumlah sekolah, tetapi juga kesiapan guru, sarana pendukung, hingga stigma sosial masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus.

Banyak sekolah masih belum memiliki fasilitas dasar seperti jalur akses kursi roda, guru pendamping khusus, maupun perangkat pembelajaran adaptif.

Padahal pendidikan inklusif bukan hanya soal menerima siswa disabilitas, melainkan menghadirkan ruang belajar yang benar-benar setara.

SMK dan Dunia Industri: Link and Match yang Belum Bertemu
Sulawesi Tengah saat ini menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri nasional, terutama sektor hilirisasi tambang dan industri pengolahan nikel.

Namun ironisnya, penyerapan lulusan SMK justru berada pada kategori sedang dan mengalami penurunan.


Kondisi ini menunjukkan bahwa hubungan antara sekolah dan dunia industri belum sepenuhnya sinkron.

Kurikulum SMK di banyak daerah masih belum selaras dengan kebutuhan industri modern. Akibatnya, lulusan sekolah kejuruan sering kali tidak memiliki kompetensi teknis yang benar-benar dibutuhkan pasar kerja.

Pendidikan dan Ancaman Ketimpangan Sosial Baru
Jika dicermati lebih dalam, Rapor Pendidikan Sulawesi Tengah sesungguhnya sedang memperlihatkan ancaman ketimpangan sosial baru.

Anak-anak di wilayah perkotaan dan keluarga ekonomi mapan memiliki peluang pendidikan lebih besar dibandingkan anak-anak di daerah terpencil dan keluarga miskin.

Ketika pendidikan tidak mampu menjadi alat mobilitas sosial, maka ketimpangan ekonomi akan diwariskan lintas generasi.

Inilah sebabnya pendidikan tidak boleh dipahami sekadar urusan sekolah. Ia adalah fondasi masa depan daerah.

Jalan Panjang Menuju Pendidikan Bermutu
Rapor Pendidikan 2025 seharusnya tidak dipandang sebagai dokumen administratif tahunan semata. Ia harus dibaca sebagai peta arah pembangunan manusia Sulawesi Tengah.

Terdapat beberapa agenda besar yang mendesak dilakukan: 
  1. Penguatan akses pendidikan usia dini dan pendidikan menengah atas. 
  2. Perluasan sekolah inklusif dan layanan pendidikan disabilitas.
  3. Revitalisasi SMK berbasis kebutuhan industri daerah.
  4. Penguatan kualitas guru dalam pembelajaran interaktif.
  5. Pemerataan sarana pendidikan di daerah terpencil dan kepulauan.
Pendidikan yang bermutu tidak lahir hanya dari pembangunan gedung sekolah. Ia lahir dari keberpihakan kebijakan, keberanian anggaran, dan kesadaran kolektif bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk bermimpi.

Di tengah transformasi ekonomi Sulawesi Tengah yang terus bergerak cepat, pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah pendidikan mampu berjalan secepat pembangunan?

Jika jawabannya belum, maka Rapor Pendidikan 2025 sesungguhnya sedang memberi peringatan kepada kita semua.

Sumber Bacaan
  1. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Rapor Pendidikan Indonesia Tahun 2025. Jakarta: Kemendikdasmen.
  2. Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah. (2025). Sulawesi Tengah Dalam Angka 2025. Palu: BPS Sulawesi Tengah.
  3. UNESCO. (2024). Global Education Monitoring Report 2024. Paris: UNESCO.
  4. OECD. (2023). PISA 2022 Results: The State of Learning and Equity in Education. Paris: OECD Publishing.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar