Loading...

Selasa, 30 Juli 2013

AL-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan (14)


Filsafat Ilmu dalam Perspektif  Al-Qur’an
Apa itu Ilmu ? Al-Qur’an telah dipandang oleh kaum Muslimin sebagai kitab induk segala ilmu, karena prinsip-prinsip segala ilmu telah dicanangkan di dalamnya. Demikian juga kalau kita teliti, Al-Qur’an telah memuat prinsip-prinsip utama filsafat ilmu (epistemologi), yang kalau kita elaborasi bisa menghasilkan sebuah teori ilmu yang komprehensif. Sekalipun tulisan ini dimaksudkan sebagai pengantar, tetapi Insya Allah saya akan berusaha mengelaborasi semaksimal mungkin aspek-aspek penting dari epistemologi Qur’an. Di bagian ini akan didiskusikan pengertian atau definisi dari yang kita sebut ilmu ini, baik menurut para ilmuwan Muslim maupun Al-Qur’an sendiri.

Arti harfiah ilmu (‘ilm) adalah pengetahuan, dari kata dasar ‘alima yang berarti “mengetahui.” Namun dalam tradisi ilmiah Islam, ilmu bukanlah sembarang pengetahuan, tetapi pengetahuan yang real. Salah satu definisi ilmu yang diberikan oleh  para ilmuwan Muslim adalah “pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya” (ma’rifat al-syay’ ‘ala mȃ huwa bihi). Kata “sebagaimana adanya” ini mengandung pengertian “sesuai dengan kenyataan atau realitasnya.” Jadi sebuah pengetahuan baru dikatakan ilmiah, apabila ia “berkorespondensi” dengan kebenaran atau realitasnya. Ini penting dikemukakan di sini, karena banyak pengetahuan yang kita yakini, tapi ternyata belum mencapai tingkat ilmiah, yakni belum sebagaimana adanya. Seperti ungkapan “bintang kecil, dilangit yang biru,” belum bisa dikatakan sebagaimana adanya, karena ternyata bintang tidak kecil dan langit pun tidak biru. Bahwa bintang memang terlihat kecil ya, tapi sesungguhnya ia sangat besar, langit hanya terlihat biru karena bias atmosfir yang memantukan sinar matahari. Ketika matahari tak nampak, maka bias pun hilang dan langit akan terlihat hitam. Jadi kesan indrawi kita belum tentu melaporkan sesuatu sebagaimana adanya. Oleh karena itu, ilmu harus dibedakan dengam kesan.

Itu sebabnya para ilmuwan Muslim, mengkontraskan ilmu dengan opini (ra’y), dimana opini adalah pengetahuan yang didasarkan bukan pada realitas objeknya, tetapi pada informasi-informasi yang belum teruji kebenarannya. Istilah yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukan fenomena ini adalah dugaan, perkiraan, sangkaan (zann). Zann menurut Al-Qur’an tidak akan membawa atau memberi kita suatu kebenaran, sedangkan ilmu akan membawa kita kepada kebenaran. “Mereka tidak punya ilmu tentang itu, tetapi hanya mengikuti prasangka belaka, padahal sesungguhnya prasangka itu tidak akan berfaeda apa pun terhadap kebenaran” (53;28). Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk menghindarkan banyak prasangka, karena sebagian prasangka itu nista. “Hindarilah banyak berprasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.” (49;12).

Definisi ilmu sebagaimana dikemukakan di atas ini sangat penting kita pahami, karena perintah menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban. “Menuntut atau mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu Muslim, laki-laki maupun perempuan,” demikian Nabi kita menyampaikan pesannya buat kita. Perintah ini menurut saya sama dengan perintah untuk mencari kebenaran, karena ilmu tidak lain daripada kebenaran, yakni kebenaran dari sebuah objek yang sedang kita teliti. Namun, sayang kebanyakan motivasi para pelajar kita dalam menuntut ilmu, kebanyakan bukanlah mencari kebenaran, tetapi yang lain (semisal ijazah, diploma, naik pangkat, atau mencari pekerjaan)

Tipologi Ilmu. Mencari ilmu sama dengan mencari kebenaran, namun kita juga tahu bahwa Kebenaran Terakhir (the Ultimat Truth) adalah Allah sendiri, yang sering dinamai al-Haqq, sang Kebenaran. Karena itu, mencari ilmu akan sama dengan mencari kebenaran, dan mencari kebenaran akan sama dengan mencari Allah. Namun dalam tradisi Islam, karena keunikan Allah, yang tidak sama dengan suatu apa pun (42:11), maka  dzat atau esensi Allah tidak bisa kita kenal. Dalam sebuah hadits Qudsi, yang sering digunakan oleh para Sufi, Allah digambarkan sebagai “Harta Terpendam (Kanz Makhfiyy),” yang berarti tersembunyi (makhfiyy) dan karena itu hadits yang sama Allah menyatakan bahwa Ia ingin dikenal, lalu Dia menciptakan alam semesta, lewat mana kita bisa mengenal-Nya. Ada sebuah hadits yang mengingatkan kita akan hal ini. “Pikirkanlah olehmu alam ciptaan Allah, tapi jangan memikirkan zat (esensi) Nya, niscaya engkau akan binasa.”

Dalam perspektif Al-Qur-an alam semesta adalah ayat atau tanda-tanda kekuasaan, kebesaran dan keberadaan Allah. Al-Qur’an menyatakan bahwa “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan bergantinya siang dan malam, ada tanda-tanda (keberadaan Allah) bagi mereka yang berakal.” (3:190). Dengan demikian, alam adalah sarana lewat mana kita diharapkan bisa mengenal sang Kebenaran, Allah Swt, dengan cara mempelajarinya. Dari mempelajari alam semesta ini, muncullah ilmu-ilmu alam, baik yang berkenaan dengan langit dan alam semesta, maupun tentang bumi yang kita huni ini, atau apa yang ada di antara keduanya. Inilah yang kita sebut sebagai ilmu-ilmu umum. Selain alam semesta, Allah Swt, juga menurunkan kitab suci Al-Qur’an sebagai ayat-ayat Allah jenis lain dalam bentuk bacaan atau ucapan. Ayat-ayat ini diturunkan sebagai bukti kebenaran kenabian Muhammad Saw, dan juga untuk menambah keimanan seseorang. “Apabila dibacakan ayat-ayatnya, maka bertambahlah iman mereka” (8;2), jelas “ayat-ayat yang dibacakan” tersebut adalah ayat-ayat Al-Qur’an.

Dengan ini, jelaslah bagi kita bahwa Allah Swt, menyajikan kepada kita dua macam ayat, sebagi sarana bagi kita untuk mengenal-Nya, satu ayat-ayat kawniyyah berupa alam, dan yang lain adalah ayat-ayat kawliyyah berupa Al-Qur’an. Dan melalui pengkajian yang intensif terhadap kedua macam ayat tersebut, muncullah dua macam ilmu, yang kita kenal dengan istilah ilmu-ilmu agama (syar’iyyah atau naliyyah) dan ilmu-ilmu umum (ghyr syar’iyyah atau ‘aqliyyah). Ilmu-ilmu agama muncul sebagai hasil kajian yang mendalam terhadap Al-Qur’an sebagai ayat qawliyyah, sedangkan ilmu-ilmu umum muncul sebagai hasil kajian yang mendalam terhadap alam sebagai ayat qawniyyah.

Pembagian ilmu ke dalam ilmu-ilmu agama dan umum, sebenarnya kurang tepat. Karena sepertinya ilmu-ilmu umum tersebut tidak punya nilai keagamaan. Sebenarnya kedua jenis ilmu diatas sama-sama memiliki nilai keagamaan, kalau saja dalam mempelajari alam semesta kita mengkajinya sebagai ayat-ayat Allah. Al-Jȃhizh dalam pengantar buku zoologinya, Kitȃb al-Hayawȃn, mengatakan bahwa zoologi (ilmu hewan) merupakan cabang dari ilmu agama, karena tujuan utama pengkajiannya adalah untuk menunjukan kebesaran Allah sebagaimana terlihat pada hewan. Namun, karena kebanyakan ahli ilmu sekarang tidak lagi membaca alam semesta yang dijadikan objek kajiannya sebagai ayat Allah, maka tidak lagi terkandung nilai-nilai keagamaannya, karena ilmu-ilmu modern sudah mengalami proses sekularisasi. Kalau kita kembali membaca alam sebagai ayat Allah, sebagaimana kita membaca Al-Qur’an, maka baik dalam ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum akan terlihat jelas nilai-nilai keislamannya.

Objek-objek Ilmu. Yang saya maksud dengan objek-objek ilmu adalah semua hal (entitas) yang menjadi sasaran penelitian atau pengkajian seorang ilmuwan. Pertanyaannya adalah apa saja yang boleh menjadi objek ilmu dalam pandangan Al-Qur’an? Pada prinsipnya, semua ciptaan Allah, yang dipahami sebagai ayat-ayat Allah, menurut Al-Qur’an boleh menjadi objek-objek ilmu. Maka Allah, menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya (sebagai ayat-ayat-Nya) dengan hak (46:3) Allah Swt, akan menunjukan tanda tanda kebesaran-Nya yang terlihat di cakrawala (al-ȃfȃq) dan dalam diri manusia sendiri (fi anfusihim) (4:53) sebagai objek ilmu atau perenungan manusia. Kita juga dihimbau untuk memperhatikan langit, bagaimana ia ditinggikan (88;17), diciptakan dan ditinggikan tanpa tiang (31:10;13:2), memperhatikan burung-burung yang terbang di angkasa dengan mudah (16:79), matahari sebagai pelita yang terang benderang (17:16), awan-awan yang bergerak berarak-arak dan dengan tersusun rapi (24:43), bumi bergerak antara langit dan bumi (2:164), serts bintang-bintang yang diciptakan Allah sebagai hiasan langit (37:6).

Selain benda-benda yang terlihat di langit dan di angkasa Allah Swt, juga menjadikan benda-benda yang ada di bumi sebagai objek-objek yang patut manusia renungkan. Apakah tidak engkau perhatikan bagiamana unta diciptkan, langit ditinggikan bagaimana gunung dipancangkan dan bagaimana bumi dihamparkan (88:17). Demikian juga pantas untuk dijadikan objek pengkajian manusia bagimana bumi yang mati (tandus), kemudian dengan air hujan yang jatuh dari langit Allah hidupkan kembali dengan cara menumbuhkan biji-bijian yang hasilnya kita makan.  Demikian juga dengan kebun-kebun yang tumbuh di permukaan bumi setelah disuburkan dengan air yang memancar dari mata air-mata air yang ada di sana, sehingga banyak buah dihasilkan sebagai bahan pangan manusia (36;33-35). Begitupun kita diminta untuk memperhatikan perkembangan janin dalam rahim ibu (23;14) dan bagaimana Allah membentuknya sebagaimana yang ia suka (3;6), dan banyak lagi objek ilmu yang dapat kita temukan di bumi ini. Pendek kata, semua objek ilmu yang ada didalamnya dari mulai benda-benda mineral, tumbuhan, hewan dan manusia, semuanya adalah objek yang sah dari ilmu pengetahuan kita.

Selain objek alamiah yang kasat mata, Al-Qur’an juga meminta kita untuk merenungkan apa-apa yang ada di balik fenomena alam, atau objek-objek metafisik. Kita diminta untuk merenungkan siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi? (14;19), siapakah yang telah menggiring awan hujan dan menyusunya bertumpuk-tumpuk? (24;43), siapakah yang mengisi sumur-sumur kitasetelah mereka kering? (67;30), dan siapa yang menundukan matahari dan bulan untuk kepentingan manusia (14;33) dan banyak lagi ayat serupa itu. Semuanya bahan perenungan dan penellitian kita. Tentu saja ayat-ayat tersebut di atas menunjukan dengan jelas kepada kita bahwa di balik fenomena alam yang sangat mengagumkan itu, ada “aktor agung” yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi di alam ini, yang kita sebut Allah, Tuhan semesta alam.

Selain Allah, Al-Qur’an juga menyingkapkan adanya makhluk-makhluk hidup yang ada bukan saja di bumi ini, tetapi juga makhluk-makhluk yang ada dilangit, yang semuanya dikatakan “bertasbih kepada-Nya.” (22;18), seperti malaikat, yang selalu bertasbih dan mensucikan Allah (2;30), jin yang diciptakan dari lidah api (55;15) dan juga “Setan yang diutus Allah kepada orang-orang kafir.” (19;83) tentang “roh (ruh) manusia yang dihidupkan Tuhan pada manusia,” yang tentunya adalah gaib bagi manusia dan digambarkan tidak akan musnah dengan kematian bahkan akan terus hidup untuk mepertanggung jawabkan perbuatan-perbuatannya selama di dunia ini. Maka sebesar apa pun kebaikan kita pasti akan diperlihatkan, demikian juga sebesar apa pun kejahatan kita akan diperlihatkan di sana (99;7-8); tentang alam akhirat yang tentunya ghaib bagi manusia, lengkap dengan “sorga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai,” (3;15) yang luasnya sebesar langit dan bumi dan dijanjikan untuk orang-oranng yang bertakwa” (3;133) dan neraka yang baranya terdiri dari manusia dan batu-batuan,” yang dijanjikan bagi orang-orang kafir” (2;24). Yang menarik juga adalah pernyataan Al-Qur’an yang menyatakan bahwa bukan hanya makhluk-makhluk yang hidup saja yang mampu bertasbih, tetapi juga entitas-entitas yang biasa kita sebut sebagai makhluk mati (inorganik). Ini berarti bahwa di balik semua benda-benda alami, ada kekuatan spritual yang bertanggung jawab atas semua aktivitasnya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan Al-Qur’an, objek-objek pengetahuan mannusia tidak terbatas hanya pada objek-objek fisik saja – yang membentang dari alam semesta sampai diri manusia – tetapi juga entitas –entitas metafisik, yang tak nampak pada mata kita, tetapi yang telah bertanggung jawab atas segala apa yang terjadi pada entitas-entitas fisik yang dapat kita jumpai di alam semesta.

Selain objek-objek yang telah disinggung di atas, Al-Qur’an juga meminta kita untuk memperhatikan apa yang terjadi pada bangsa-bangsa yang telah mendahului kita. Dengan kata lain, kita diajak Al-Qur’an untuk memperhatikan sejarah, sebagai pelajaran. Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat dari orang-orang sebelum mereka, padahal mereka lebih dahsyat kekuatannya (30:9; 35:44; 40:21). Menurut Al-Qur’an, sejarah perlu kita jadikan objek penelitian kita, karena di dalamnya ada pelajaran (‘ibrah) dan petunjuk (hidayah) bagi kita yang hidup sesudahnya. Menurut Sayyed Hossein Nasr, pengkajian sejarah yang disebutkan dalam Al-Qur’an bukan semata-mata ceritera masa lalu saja, tetapi merupakan peringatan agar hal serupa tidak terjadi pada diri kita, karena kalau kita lengah, maka sifat-sifat buruk orang seperti Fir’aun tidak mustahil akan menjadi milik kita, dan nasib yang menimpa mereka juga akan menimpa diri kita. Sementara itu Al-Qur’an menanyakan, “tidakkah mereka jadikan petunjuk betapa banyak umat sebelum mereka yang Kami binasakan?” (32:26)

Alat-alat Ilmu. Sejauh ini kita baru berbicara tentang objek-objek pengetahuan kita. Pertanyaan berikutnya dengan apa kita bisa mengetahui objek-objek tersebut? Seperti telah kita singgung diatas, manusia diminta untuk merenungkan beegitu banyak objek ilmu, tetapi objek ilmu yang begitu banyak dan beragam tersebut tidak mungkin dapat kita ketahui kalau kita tidak punya (atau diberi) alat-alat untuk mengetahuinya. Maka pertanyaannya sekarang adalah alat-alat apakah yang Allah berikan kepada kita, menurut perspektif Al-Qur’an. Dalam salah satu ayat dinyatakan bahwa “manusia terlahir dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apa pun, maka (agar manusia mengetahui sesuatu Allah menciptakan bagi manusia pendengaran (al-sam’), penglihatan (al-abŝar) dan pengertian (al-af’idah)” (16;78). Tentu saja pendengaran adalah kemampuan untuk mendengar yang harus direalisasikan dengan alat indera telinga (uźun/ȃźȃn), penglihatan dengan mata (‘ayn/a’yun), dan pengertian dengan hati (qalbi/qulub). Ini adalah tiga alat yang seringkali disinggung dalam Al-Qur’an, dengan mana manusia dimungkinkan untuk mengetahui alam sekitarnya (melalui pendengaran dan penglihatan) dan alam-alam yang lebih tinggi yang dapat diketahui lewat hati (qalb).

Dengan penglihatan, kita bisa mengetahui keberadaan dari hampir semua benda-benda fisik, dari mulai langit dan alam semesta yang luas, sampai kepada makhluk-makhluk kecil yang ada di hadapannya. Dengan mata yang diciptakan sebagai alat penglihatan, manusia tealh melakukan pengamatan (observasi) yang seksama tentang alam fisik ini, dan terciptalah berbagai disiplin ilmu fisika, dari mulai astrofisika (hasil pengamatan terhadap langit, dan bintang gemintan), metodologi (hasil pengamatan terhadap objek-objek yang ada antara langit dan bumi), kimia (hasil pengamatan terhadap unsur-unsur materi), fisika (hasil pengamatan terhadap materi, bentuk, ruang, waktu, dan gerak) mineralogi (hasil pengamatan terhadap batu-batuan, logam, dan benda-benda cair), botani (hasil pengamatan terhadap hewan), anatomi (hasil pengamatan terhadap tubuh manusia) dan psikologi (hasil pengamatan terhadap aktivitas mental manusia).

Melalui teling, kita bisa memperoleh informasi yang penting yang tidak bisa diperoleh lewat penglihatan. Kalau dengan melalui penglihatan kita bisa mengerti ayat-ayat kawniyyah, maka melalui pendengaran inilah maka kita bisa mengerti dan memahami ayat-ayat qawliyyah, berupa ayat-ayat Al-Qur’an, hadits dan kitab-kitab penting lainnya. Kalau tulisan bisa diserap melalui penglihatan, maka kata-kata bisa diserap lewat pendengaran, pernyataan-pernyataan Nabi tentu dapat ditangkap melalui pendengaran demikian juga kuliah-kuliah seorang guru dapat ditangkap melalui pendengaran.

Kalau mata bisa mengamati objek-objek fisik, dan telinga untuk mencerap makna kata-kata, maka dengan alat apakah kita bisa memahami objek-objek metafisik? Seperti dikemukakan di atas, bahwa agar manusia bisa memahami objek-objek ilmu, maka Allah menciptakan indera (disimbolkan dengan penglihatan dan pnedengaran)5 dan hati (disimbolkan dengan  fuȃd dan qalb).6 Sementara jelas, bahwa indera dimaksudkan untuk menangkap objek-objek indrawi, maka hati tampaknya dimaksudkan untuk menangkap objek-objek yang non fisik. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa salah satu fungsi hati (qalb) adalah untuk melakukan penalaran (ya’qilūn)7 (22;46) yakni penalaran logis, yang intinya “mengambil kesimpulan tentang yang belum diketahui dari yang sudah diketahui.” Misalnya mengamati fenomena alam untuk kemudian menyimpulkan adanya sang Pencipta di balik itu semua (14;19), atau setelah merenungkan betapa langit dibangun tanpa tiang, (31;10) maka kita menyimpulkan pastilah ada yang maha kuasa yang telah melakukannya.

Di tempat lain, Al-Qur’an juga menyinggung fungsi lain dari qalb yaitu untuk memahami (yafqahu). Memahami bisa berarti tertaangkapnya maksud dari sebuah ungkapan atau kalimat, yang tentunya tidak bisa semata-mata ditangkap oleh mata atau telinga. Mata bisa melihat, tetapi yang mampu memahami bukanlah mata itu sendiri, melainkan hati. Dalam tradisi Islam, kata “fiqh” berarti pemahaman, yakni pemahaman tentang agama, seperti tercermin dalam kata “tafaqqahu fi al-din,” yakni memahami ajaran agama. Demikian juga bukan pendengaran yang sebenarnya bisa memahami makna sebuah ungkapan atau kalimat, melainkan hati (qalb).

Selain itu, hati juga berfungsi untuk melakukan perenungan (tadabbur). “Al-Qur’an menyatakan: “mereka punya hati untuk melakukan perenungan” (22;46). Dengan ini, kkita mengerti bahwa salah satu fungsi hati adalah melakukan perenungan (refleksi) misalnya terhadap ayat-ayat Allah, sehingga dengan itu hati kita bisa melihat dan memahami apa yang tidak bisa diserap melalui indera. Dengan ini saya melihat bahwa hati berfungsi ganda bisa sebagai akal, yang melakukan penalaran, bisa juga sebagai intuisi yang bisa menembus misteri alam menuju sang Kebenaran.

Selain melakukan penalaran logis, hati manusia juga bisa menangkap hal-hal lalin yang lebih bersifat spritual  atau immaterial daripada yang bisa dilakukan oleh nalar dan pikiran.  Menurut Al-Qur’an, hati dapat digunakan untuk berzikir kepada Allah, seperti dinyatakan Al-Qur’an, “tidaklah mampu orang yang Kami kunci hatinya untuk  mengingat Kami (‘an zkrina),” (18;28), untuk menerima hidayah, seperti pernyataannya “barangsiapa beriman maka Allah memberi petunjuk kepada hatinya” (64;11), dan bahkan untuk menjadi tempat bagi malaikat Jibril (al-Rūh al-Amin) ketika menyampaikan wahyu dari Allah, seperti diungkapkan Al-Qur’an, “Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan Allah, Tuhan selluruh alam, yang dibawa turun oleh al-rūh al-amìn (Jibril), ke dalam hatimu agar engaku termasuk orang yang diberi peringatan (26;192-4). Inilah alat-alat ilmu yang diberikan Allah kepada manusia yang disinggung dalam Al-Qur’an: telinga, mata dan hati,8  dengan mana manusia dibimbing ke aarah menemukan sang Kebenaran.   

Metode Ilmiah. Setelah bicaara tentang objek-objek ilmu dan alat-alat yang dipakai untuk meneliti dan memahami objek-objek tersebut, maka pertanyaannya berikutnya adalah bagaimana alat-alat tersebut mampu menjalankan fungsinya tersebut. Adalah menarik untuk menyimak perrnataan Al-Qur’an yang berulang-ulang menyatakan, “mereka punya mata, tetapi mereka tidak melihat; mereka punya telinga, tapi mereka tidak mendengar, mereka memiliki hati (qulūb), tapi tidak melakukan penalaran (7;179). Menurut saya ayat-ayat tersebut bukan hanya sebagai kritik, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa yang dimaksud mendengar (yasma’ūn), melihat (yubsirūn) dan menalar (ya’qilūn) bukanlah asal mendengar, melihat dan berfikir. Karena selama telinga, mata dan hati itu sehat, maka pastilah kita semua melakukannya.

Ketika Al-Qur’an mengatakan “mereka punya telinga tetapi tak mendengar, punya mata tetapi tidak melihat,” maksudnya adalah tidak melihat dan mendengar dengan sungguh-sungguh atau sebagaimana mestinya, yakni dengan cara/metode yang benar. Al-Qur’an seringkali menggunakan kata “yanzuru” ketika kita diperintah untuk melihat dengan sungguh-sungguh atau merenung, seperti dalam ayat’ “apakah engkau tidak perhatikan bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, gunung-gunung dipancangkan dan bumi dihamparkan.” (17;20).

Tetapi, Al-Qur’an menggunakan kata “tara” ketika kita diminta memperlihatkan apa yang ada dibalik fenomena alam. “Tidakkah engkau lihat (a lam tara), siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan untukmu hujan dari langit?” (27;60). “Tidakkah engkau lihat bahwasanya Allah adalah pencipta langit dan bumi,” (14;19), “Apakah tidak kau llihat (renungkan) ketika sumurmu menjadi kering di waktu pagi, siapakah yang menjadikannya melimpah?” (67;30).

Jadi, yang dimaksud melihat di sini adalah “melihat dengan penuh perhatian,” sehingga tidak ada yang terluput dari pengamatan kita. Dalam tradisi ilmiah Islam, cara melihat seperti ini disebut metode observasi atau metode eksperimen (tajribì). Dan metode ini digunakan secara luas dalam pengamatan mereka terhadap fenomena alam baik yang menyangkut bidang astronomi, fisika, biologi, psikologi, dan sebagainya. Al-Qur’an menanyakan siapakah yang telah menggeser bayang-bayang, ketika Allah bisa membuatnya diam kalau Ia mau” (25;45).

Adapun hati (qalb atau fu’ȃd) merupakan organ ilmu yang bersifat spritual. Kalau dillihat bahwa salah satu fungsi hati adalah penalaran, maka saya cenderung mengatakan bahwa hati sebagai alat untuk berpikir penalaran (ya’qilūn) bisa disebut akal, walaupun
Al-Qur’an sendiri tidak pernah menggunakan kata “akal” dalam bentuk kata benda.9 Adapun cara kerja akal adalah dengan melakukan penalaran logis (logical reasoning) yakni menarik dari fakta (misalnya fenomena alam yang menakjubkan) atau pernyataan-pernyataan (premis) yang telah diketahui, sebuah kesimpulan yang sebelumnya tidak diketahui.  Misalnya, setelah memperhatikan “penciptaan langit dan bumi dan turunnya hujan dari langit” (29;44) yang kita amati melalui indera (terutama mata), maka kita menyimpulkan bahwa di sana (di balik fenomena tersebut) mesti ada suatu Dzat yang maha Tinggi yang telah menciptakan (khalaqa) dan membuat (ja’ala) hal itu terjadi. Atau setelah menyimak pertanyaan “ketika sumurmu kering diwaktu pagi, siapakah yang telah membuatnya melimpah? (67;30), maka kita menyimpulkan bahwa mesti ada Wujud yang Maha Kuasa yang telah melakukan itu semua, yang kita sebut Tuhan. Banyak contoh dalam Al-Qur’an di mana kita bisa melakukan penalaran akal. “Demikianlah allah menghidupkan yang mati dan menunjukkan tanda-tanda kekuasaan (ayat-ayat)-Nya agar kamu berpikir/melakukan penalaran (la’allakum ta’qilūn) (2;73), Mengapa engkau menyuruh orang lain berbuat baik, sedangkan kamu sendiri melupakan dirimu... mengapa tak aku renungkan (afalȃ ta’qilun)?” (2;44), dan “sungguh telah Kami jelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Ku agar kamu renungkan” (57;17)

Fungsi lain dari akal (hati yang melakukan penalaran) adalah “berpikir” atau mennurut istilah Al-Qur’an tafakkur, yang cara kerjanya mirip sekali dengan melakukan penalaran (ya’qilun), misalnya ayat yang mengatakan: “demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat Allah agar kamu bertafakkur” (la’allakum tatafakkarūn) (2;219), dan “Apakah sama (keadaan) orang yang buta dan orang yang melek, tidakkah kamu pikirkan?” (6;50). Jelas “tafakkur” di sini bukan sembarang berpikir tetapi berpikir berdasarkan penalaran. Metode (cara) penalaran yang seperti ini dalam tradisi Islam disebut “metode demonstratif” (burhȃnì).10

Itu adalah cara-cara bekerja hati, sedangkan fungsi utama hati adalah mendapat petunjuk (hidȃyah). Adapun cara hati untuk memperoleh “hidayah” berbeda dari cara indera dan akal, karena cara hati memperoleh “hidayah” berbeda dari cara indera dan akal, karena cara hati memperoleh hidayah ini akan melibatkan amal-amal spritual, seperti berzikir (13:28) dan membersihkan hati dari macam-macam penyakit (marad) yang akan menghalangi datangnya hidayah ke dalam hati. Dengan demikian hati kita menjadi sehat (al-qalb al-salim) (26:89;37:84;50:33).

Dalam perkara pengetahuan inti (intuisi), tampaknya pelaku utama bukanlah manusia tapi Allah Swt. Di dalam Al-Qur’an banyak pernyataan yang mengatakan bahwa Allah sang pemberi hidayah. Al-Qur’an bertanya, “siapakah yang akan memberi petunnjuk selain Allah; tidakkah kau diberi peringatan?” (45:23), “siapakah yang bisa memberi petunjuk kepada seseorang yang telah Allah sesatkan?” (30:29), jawabnya tidak ada, kecuali Allah. “Allah menyesatkan orang yang Ia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada orang yang Ia kehendaki; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (14:4) dan “sesunggunya bbukan engkau (ya Muhammad) yang memberi petunjuk kepada siapa yang engkau cintai, tapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Ia kehendaki.” (28:56). Di sini tampaknya, tugas utama mannusia hanyalah mempersiapkan diri (isti’dȃd) melalui dzikir dan pembersihan diri.

Meskipun pada hakikatnya memberi petunjuk atau menyesatkan manusia adalah hak istimewa Allah, tetapi tidak berarti manusia tidak punya andil atau pilihan apa pun. Karena dalam Al-Qur’an Allah memberi indikasi-indikasi siapa-siapa saja yang akan Ia beri petunjuk, dan siapa yang tidak. Sebagai contoh, di satu sisi dikatakan bahwa Allah tidak akan memberi petunjuk pada “orang-orang yang fasik” (2:62;63:6), “orang-orang yang zhalim” (2:25;3:86), “orang-orang kafir” (2:264;5:76), “orang-orang berkhianat” (12:52), “para pendusta” (39:3;40:28), dan lain-lain. Tapi di sisi lain, Allah juga mengatakan akan memberi petunjuk kepada “orang yang mengikuti dan mencari ridha-Nya ke jalan yang selamat,” (5:16), “oarang-orang yang telah diberi ilmu,” (34:6), “orang-orang yang bertaubat” (42:13) dan “orang-orang yang beriman dan mengikuti agama” (64:11;4:175).

Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa hidayah tidak akan diberikan kepada orang-orang yang di dalam hatinya terdapat sifat-sifat “buruk” yang tersebut diatas: fasik, kufr, zhalim, khianat, dan dusta, yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai penyakit (marad) (2:10). Sifat-sifat buruk ini pada gilirannya bisa dipicu oleh hal-hal lain, seperti “kecintaan yang berlebihan terhadap dunnia dibanding akhirat” (16:107), “mengikuti hawa nafsu” (28:50), “kesombongan (mutakabbir) dan “kesewenang-wenangan” (jabbȃr) (40:35), dan sifat-sifat lainnya, seperti kemunafikan (nifȃq) dan sifat ragu-ragu ( rayb) di hati mereka.

Dengan ini, jelaslah bahwa tugas manusia dalam memperoleh hidayah ini adalah melakukan persiapan (isti’dȃd) dengan cara membersihkan hati dan jiwa mereka dari segala penyait, yang disebut dalam Al-Qur’an tatahhur al-qulūb) (5:41) atau yang dikenal dalam tasawuf dengan tazkiyat al-nafs. Selanjtunya kita dianjurkan untuk melakukan hal-hal yang mendorong diberikannya hidayah, seperti bertaubat, mencari keridhaan Allah, menuntut ilmu dan mempertebal iman. Barulah, setelah itu serahkan semuanya kepada kehendak Allah. Kalau Ia berkenan maka mudah bagi Allah untuk memberi hidayah kepada siapa uyang Ia kehendaki.

Begitulah kemudian hidayah datang sebagai penyingkapan kepada hati (mukȃsyafah), dalam berbagai bentuknya seperti “percakapan” Allah langsung seorang hamba, seperti dalam kasus Nabi Musa a.s, (4:164)), “pengajaran langsung dari Allah,” seperti dalam kasus Nabi Adam a.s, (2:31), atu turunya malaikat (al-rūh al-amìn) ke dalam hati, seperti dalam kasus Nabi Muhammad Saw. (2:97;26:194).

Metode yang diperikan di atas – pembersihan hati dan pembinaan mental dengan amal-amal yang terpuji sampai datangnya petunjuk atau ilmu ke dalam hati seseorang dalam bentuk mukȃsyafah – dalam tradisi ilmiah Islam lazimnya disebut metode intuitif (irfȃni).

.......

5 Dalam tradisi ilmiah Islam (terutama Ibn sina) indera dibagi ke dalam dua bagian, yang pertama indera lahir, yaitu: mata, teling, hidung, lidah dan kulit dan indera batin, yaitu fantasia, representasi, imajinasi, estimasi, dan memori. Lihat Ibn Sinȃ, Avicenne’s Psychology, ter, Fazhur Rahman, London, Oxford University Press, 1952, hal: 25-28.
6 Menurut Hakim al-Turmudzi, qalb dan fu’ad adalah sama-sama hati, namun fu’ad adalah lapisan hati yang lebih dalam, sedangkan lapisan paling dalamnya adalh lubb, dan lapisan paling luar adalah shadr (suduūr).
7 Ya’qilu, tentu dapat diasosiasikan, dengan kata akal (‘aql), namun ternyata kata akal tidak terdapat dalam Al-Qur’an melainkan kata kerja ya’qilu, sehingga banyak ulama, seperti Ibn Hazm, Ibn Taymiyya dan Ibn Qayyim, yang mengatakan bahwa akal itu bukan sebuah entitas tetapi adalah fungsi dari akal.
8 Ada uraian yang lebih lengkap tentang alat-alat ilmu yang didiskusikan oleh al-Ghazali dalam bukunya Misykat al-Anwȃr, sebagai penafsiran sufistik terhadap surat al-nur ayat 35. Setidaknya ada lima alat ilmu tersebut yaitu Indera, yang disimbolkan dengan misykȃt, akal (yang disimbolkan dengan mishbȃh), imaginasi (zujȃjȃh), daya pikir (syajarah mubȃrakah) dan hati (zaytunah).
9 Oleh  karena itu, sarjana seperti Ibn Hazm, Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim tidak mau memandang akal sebagai substansi immaterial, tetapi sebagai salah satu fungsi hati.
10Selain metode demonstratif, sebenarnya ada banyak metode logis yang telah dibicarakan oleh para filosof Muslim (falasifah), seperti dialektik (jadali), rhetorik (khithȃbì) dan poetik (syi’ri). Tetapi yang dipandang paling baik dan akurat, adalah metode burhani. Selanjutnya lihat Mulyadhi Kartenegara, Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, Jakarta: Baitul Ihsan (BI), 2006, bab terakhir metode ilmiah.
......
Pustaka:
Sofyan Abdul Rosyid (2011).Al-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan PT Mizan Publishing House. Bandung 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar