Loading...

Senin, 15 Juli 2013

AL-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan (6)



Al-Qur’an Tampilan Khusus (6)
Kelalaian dan pengabaian pada sains di Dunia Islam terjadi secara luas dan meliputi semua lapisan umat, termasuk juga para elitnya. Fenomena ini terus berlangsung, seperti telah disebutkan di depan, karena ulama dan umat Islam masih berkutat dan menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan dana untuk perkara fiqih. Syair-syair dan maknanya semisal al-fiqhu anfusu syai’in (“fiqih adalah ilmu yang paling berharga”), iza matazza zu ilmin bi ilmin fa ilmul fiqhi aula bitizazin (“bila orang berilmu mulia lantaran ilmunya, maka ilmu fiqih membuatnya lebih mulia”), masih sangat dominan di masyarakat kita.

Meski hanya berjumlah seperlima dar ayat kauniyah, ayat hukum telah menyodot hampir semua energi ulama dan umat Islam. Sebaliknya, ayat-ayat kauniyah meskipun berjumlah sangat banyak, tetapi terabaikan. Sains sebagai perwujudan normatif dari ayat-ayat kauniyah seolah-olah tidak terkait dan tidak mengantar orang Islam ke surga atau neraka sehingga tidak pernah dibahas, baik di wilayah keilmuwan maupun pengajian-pengajian.

Keprihatinan dan gugatan Syaikh Thanthawi telah dilontarkan pada awal abad ke-20, tetapi memasuki milenium ketiga, keadaan sains di kalangan umat dan Dunia Islam tidak mengalami perubahan yang berarti. Umat tetap abai terhadap ayat-ayat kauniyah dan fenomena alam. Pertanyaan yang patut dikemukakan adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran bahwa Allah Swt, melalui Al-Quran telah mengingatkan betapa urgenya memahami fenomena alam fisis dan membangun sains.

Pikiran sederhana segera melintas. Jumlah 750 ayat kauniyah memang banyak, tetapi bila terselip di antara 6.236 ayat lainya bisa jadi ayat-ayat tersebut tidak terlihat dan pada giliranya tidak diperhatikan. Dus, sebaliknya ayat-ayat kauniyah tersebut ditampilkan dengan cara berbeda, misalnya dengan warna tertentu yang berbeda dari ayat-ayat lainya. Tujuanya ayat-ayat kauniyah mendapat perhatian khusus, kemudian dibicarakan, didiskusikan, dan ditindaklanjuti dengan penelitian atas kandungannya.

Dengan membaca langsung Al-Qur’an dan terjemah, kemudian mengambil ayat yang memuat istilah atau kata air, api, batu, bulan, bumi, langit, matahari, zarrah, dan seterusnya ditemukan hasil 1.108 ayat. Angka yang berbeda secara signifikan dari yang diperoleh Syaikh Thanthawi.

Selanjutnya dilakukan pemilahan atay-ayat yang merupakan “ayat kauniyah” dan menuntun kepada kontruksi ilmu kealaman dan mana yang bukan. Pertimbangan ini didasari oleh orientasi yang kuat untuk membangun sains Islam, sains dengan basis Kitab Suci. Hasilnya, tidak semua ayat yang memuat kata elemen alam seperti langit dan bumi merupakan ayat kauniyah yang membawa pada bangunan ilmu kealaman. Sebagai contoh, “Kepunyaan-Nya apa yang dilangit dan apa yang di bumi. Dan Dialah yang Mahaagung, Mahabesar. (QS, Asy-Syūrȃ [42]:4)

Langit dan bumi di dalam ayat tersebut di atas tidak memberi informasi apa-apa selain menerangkan kekayaan dan kepemilikan Allah Swt. Ayat-ayat seperti ini, meskipun memuat kata langit dan bumi, disini tetap dimasukkan sebagai ayat kauniyah sehingga tidak ditampilkan dengan warna biru. Bandingkan dengan ayat: “Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian bila Dia memanggilmu sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar. (QS Ar-Rūm [30];25).

Di dalam ayat tersebut di atas terdapat spesifikasi dari langit dan bumi yang dapat diekplorasi lebih lanjut, yakni keadaan berdirinya dengan iradah Allah Swt. Pertanyaan sederhana yang dapat diajukan adalah bagaimana poses dan mekanisme berdiri tersebut, memerlukan waktu berapa lama dan kapan, dan iradat Allah muncul dalam bentuk apa. Pertanyaan ini sengaja diarahkan pada kuantifikasi masalah. Para ilmuwan eksakta sepakat bahwa suatu ilmu belum dikatakan kukuh bila belum dirumuskan secara matematis.

Beberapa ayat yang mendeskripsikan keadaan setelah kiamat juga diambil sebagai ayat kauniyah. Sebagai contoh, “Dan di dalam surga itu mereka diberi minum segelas minuman bercampur jahe (QS Al-Insȃn [76];17).

Di sini kita tidak tertarik pada penggambaran surganya, tetapi pada jahe sebagai campuran minuman. Apa keistimewaan jahe dibanding dengan tanaman lain sehingga dipilih sebagai campuran minuman penghuni surga? Mengapa Allah Swt, tidak memilih minuman lain, misalnya kelapa muda atau jus avokad? Untuk mengetahuinya, jelas diperlukan kajian terhadap jahe dan beberapa tanaman lain yang serumpun, seperti kunyit, kencur, dan temulawak. Ayat ini diklasifikasi sebagai ayat kauniyah karena memicu dan menumbuhkan rasa ingin tahu (curiosity) dan memotivasi ahli biologi muslim untuk melakukan penelitian.

Pemilihan ini memberikan jumlah akhir ayat kauniyah sebanyak 800 ayat, dan ayat-ayat ini dan terjemahanya di tampilkan dengan warna biru di dalam Al-Qur’an ini. Meskipun demikian, harus diakui bahwa angka 800 bukanlah angka mati, tetapi juga bukan angka asal-asalan. Perbedaan tetap saja akan terjadi, tetapi tidak akan jauh dari angka tersebut, yakni bisa bertambah atau berkurang. Hal yang terpenting adalah kenyataan bahwa jumlah ayat kauniyah benar-benar banyak sehingga tidak layak diabaikan.

Islam, kita yakini bahkan sering kita dengung-dengungkan sebagai ajaran yang komprehensif dan sempurna, tetapi kita jugalah yang selama ini telah mereduksi ke satu-dua aspek tertentu sehingga misi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam hanya eksis dalam bentuk jargon. Kesempurnaan Islam, termasuk aspek sains, sudah terlalu lama diabaikan dan harus segera ditampilkan kembali. Al-Qur’an telah memberi pesan cukup lengkap tentang hal ini.  
..............

Pustaka:
Sofyan Abdul Rosyid (2011).Al-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan PT Mizan Publishing House. Bandung 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar