Sabtu, 13 Juli 2013

AL-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan (5)



Sains: Syarat Kebangkitan
Produk riil dari akal adalah sains yang terbukti sangat ampuh dan digdaya. Dalam rentang waktu pendek, Afganistan dan Irak yang terbelakang luluh lantak oleh produk sains negara-negara Barat, khususnya Amerika dan Inggris. Negara-negara maju yang menjadi kiblat peradaban saat ini  baik di Barat maupun Timur adalah mereka yang menguasai sains dan teknologinya.

Negara-negara Islam atau negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Indonesia umumnya memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Tetapi, melimpahnya sumber daya alam tersebut tidak membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat  muslim. Indonesia yang dikenal sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia justru terlilit utang dan menjadi pemasok tenaga kerja kasar. Sumber daya laut yang sedemikian besar terabaikan dan sumber daya tambang baik minyak maupun emas tidak terkelola sendiri, tetapi meminta bantuan orang asing. Sebabnya satu, kita Islam tidak menguasai ilmu pengetahuan, baik teoritis maupun praktis.

Sebagai ilustrasi, pada tahun 2000 lalu, Islamic Educational Scientifik and Cultural Organization (SESCO) melaporkan bahwa sebanyak 57 negara Islam yang tergabung dalam OKI dan memiliki sekitar 1,1 miliar penduduk atau 20 persen penduduk dunia, mendiami wilyah seluas 26,6 juta kilometer persegi, dan menyimpan 73 persen cadangan minyak dunia, memiliki GNP hanya sebesar 1,016 miliar dolar AS. Suatu angka yang sangat kecil bila dibandingkan dengan GNP negara maju seperti Prancis yang berpenduduk kurang dari 60 juta jiwa dan mendiami wilayah sekitar setengah juta kilometer persegi serta mempunyai GNP sebesar 1,293 miliar dolar AS.

Kenyataan tersebut terjadi karena negara-negara maju, termasuk Prancis, mendasarkan pertumbuhan ekonominya pada ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara negara-negara Islam hanya bergantung pada input yang bersifat kualitatif semata. Dunia Islam yang pernah  menjadi raksasa di bidang sains dan teknologi sampai abad pertengahan, kini memasuki melenium ketiga hanya tampil sebagai bangsa-bangsa pinggiran dan serpihan belaka.

Globalisasi dunia yang telah memasuki tahap tiga juga tidak dinikmati oleh mayoritas negeri berpenduduk muslim, kecuali Malaysia. Padahal, globalisasi, khususnya globalisasi tahap tiga, membuka kesempatan luas kepada setiap negara untuk bermain di dalamnya asalkan dapat memengaruhi pasar. India yang terkenal sebagai negara dengan kemiskinannya, kini mulai bisa bersaing dengan Amerika yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini terjadi setelah pada tahun 2000 India menanam investasi besar-besaran dalam bidang teknologi informasi, pemasangan kabel optik bawah laut dan satelit dengan harga komputer yang makin murah dan menjamur di mana-mana. Penemuan search engine seperti Google, penemuan perangkat lunak baru, pemakaian internet dan sistem operasi Windows yang melanda hampir seluruh bumi memungkinkan negara seperti India tumbuh dan bersaing dengan Amerika.

Orang India tidak harus pergi ke Amerika untuk dapat bekerja pada perusahaan Intel atau IBM. Ribuan orang terpilih bekerja di Bangalore untuk memenuhi order perusahaan perusahaan di bidang teknologi informasi ataupun pembuat perangkat lunak dari Eropa maupun AS. Pemberian order dapat dilakukan lewat surat elektronik (e-mail) atau telepon. Pertemuan dengan mitra kerja dapat dilakukan lewat telekonferensi tanpa haru melakukan perjalanan ke luar negeri. Orang-orang India, dengan gaji yang lebih rendah dan kualitas pekerjaan yang sama, telah mencuri lapangan kerja orang AS tanpa harus berpindah ke Amerika. Perusahan-perusahaan swasta, seperti Intel, HP, dan IBM, lebih memilih orang-orang India untuk mendapatkan untung.

Cina telah tumbuh menjadi negara pengekspor terbesar kedua setelah AS. Sebelumnya posisi ini diduduki Meksiko, tetangga terdekat AS yang menikmati keuntungan geografis dalam mengekspor barangnya. Cina telah memenuhi pasar AS dengan produk komponen komputer, komponen elektrik, tekstil, barang-barang kebutuhan olahraga, dan mainan anak-anak. Para pemain globalisasi dari Asia masih terbatas dari India, Cina, Taiwan, Korea, Singapura, dan Malaysia, yakni negara-negara yang sangat memerhatikan sains.

Cina dan India, yang sering digambarkan sebagai negeri yang kumuh karena kepadatan penduduknya, merupakan negara yang mempunyai tradisi ilmu yang kukuh. Keduanya merupakan negeri kontributor yang signifikan dalam dunia ilmu fundamental khususnya fisika. Chen Ning yang kelahiran Heffei, Cina, tahun 1922 dan Tsung Dao Lee kelahiran Saghai tahun 1926 menerima Nobel Fisika pada 1957. Sedangkan Chein-Shiung Wu yang lahir di Shanghai pada 1912 merupakan ahli fisika wanita penemu penyimpangan paritas pada peluruhan beta inti dan mendapat anugerah Wolf  pada tahun 1974. C.V. Raman adalah ahli fisika India yang mendapat hadiah Npbel fisika tahun 1930. M.K.Bose, namanya diabadikan bersama Einstein dalam fungsi distribusi statistika untuk partikel berspin bulat, yaitu statistik Bose-Einstein. Homi Jehangir Bhaba, yang lahir di Bombay pada 1909, dikenal dengan teori hamburan elektron-positron, sedangkan Saraj Narayan Gupta kelahiran Haryana dikenal di dalam teori elektrodinamika kuantum.

Perhatain negara-negara Islam terhadap sains dari pengembanganya masih sangat rendah. Merujuk data Science Citation Index 2004, 46 negara Islam memberi kontribusi 1,17 persen pada penerbitan karya ilmiah dunia. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan dengan sumbangan satu negara seperti India dan Spanyol yang masing-masing 1,66 persen dan 1,48 persen. Sebanyak 20 negara Arab menyumbang 0,55 persen dari total karya ilmiah dunia, sedangkan satu Israel saja menyumbang 0,89 persen. Sementara negara-negara maju seperti Jerman, Inggris, atau Jepang berturut-turut menyumbang 7,1 persen, 7,9 persen, dan 8,2 persen, apalagi Amerika yang 30,8

Masalah tersebut terkait dengan anggaran yang disediakan untuk kepentingan pengembangan sains dan teknologi, termasuk kegiatan riset dan pengembangan serta dukungan atas aktivitas ilmiah lainya. Negara-negara Islam hanya mengalokasikan anggaran belanja sebanyak 0,45 persen dari GNP, sedangkan negara-negara maju yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menghabiskan dana sebanyak 2,30 persen dari GNP untuk keperluan yang sama. Ketersediaan sumber daya manusia untuk mendukung kegiatan riset dan pengembangan di negara-negara Islam juga terbatas. Secara rata-rata, negara-negara Islam memiliki 8,8 ilmuwan, insinyur, dan teknisi per 1.000 penduduk, dibandingkan dengan negara-negara OECD yang memiliki 139,3 atau 40,7 di negara-negara maju di luar OECD.

Angka-angka terakhir yang juga kurang menggembirakan ini diperparah oleh kenyataan lain, yaitu terjadinya migrasi tenaga ahli (brain drain) ke negara-negara maju. Dalam tiga dekade terakhir, lebih dari 500 ribu ilmuwan dari negara-negara Dunia Ketiga berimigrasi ke Eropa, Amerika, Kanada dan Australia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 55 persen berasal dari Asia, Iran, Pakistan, dan Turki adalah tiga negara Islam di kawasan Asia yang paling banyak kehilangan ilmuwan akibat brain drain ini. Hal yang sama dialami oleh Mesir, Aljazair, dan Maroko yang mewakili kawasan Afrika. Demikian pula Suriah, Lebanon, dan Yordania yang menjadi representasi negara Arab. Dua ilmuwan muslim terkemuka, Dr.Abdus Salam dan Dr.Ahmed Zeweil, masing-masing meraih hadiah Nobel Fisika dan Kimia, setelah hijrah dari Pakistan ke Inggris dan dari Mesir ke Amerika. Mereka sebagian ilmuwan, tidak tumbuh dan berkembang di negeerinya sendiri, tetapi di negara Barat.

Singkat kata, Barat, Jepang, India, dan Cina maju karena ilmu pengetahuan. Dunia Islam masih memerlukan banyak ilmuwan dari berbagai bidang. Hanya  dengan ilmilah, selain iman, harga diri muslim dapat kembali ditegakkan.

Hai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapanngan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan bila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Mujadilah [58]; 11)

Tanpa sains, umat Islam tidak akan mampu mengelola sumber daya alam yang umumnya melimpah di negeri-negeri muslim. Tanpa sains, umat Islam hanya menjadi konsumen yang bergantung dan akhirnya mudah didikte orang lain.

.........

Pustaka:
Sofyan Abdul Rosyid (2011).Al-Qur'an dan Terjemahanya. Edisi Ilmu Pengetahuan PT Mizan Publishing House. Bandung 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar