Senin, 31 Desember 2012

Pegawai vs Pengusaha: Investasi


s
Seorang teman, yang sudah menikah dan punya anak, dengan sisa uang terakhirnya sebesar 11 juta, mencoba bermain trading valas melalui internet. Saya kebetulan berkunjung ke rumahnya, dan karena saya tertarik dengan hal-hal yang baru, saya pun mengamati apa yg dilakukan teman saya itu selama 3 hari berturut-turut. Hari pertama dan kedua, berjalan luar biasa, dan wow, teman saya berhasil meraup untung 1 juta per hari.. Hari ketiga, ia melakukan kesalahan fatal, dan kehilangan semua uang terakhirnya..
Teman saya yang lain, mencoba membuka usaha restoran di Jakarta.. Ia punya konsep rumah makan yang bagus, lokasi yang strategis di sebuah mall di Jakarta, harga makanan yang tidak terlalu mahal, dan berdasarkan semua perhitungan yang ia lakukan, usahanya ini seharusnya akan sukses.. Maka ia mengundurkan diri dari pekerjaannya di bank yang sudah cukup mapan, dan dengan percaya diri menginjakkan kakinya ke dunia wirausaha.. Apa yang terjadi? Restorannya sepi. Ia mencoba mempertahankannya, sambil berharap pada kata pepatah “semua akan ramai pada waktunya..” (ngarang mode on) Sayang, keuangan yang defisit terus menerus, membuat dia harus menutup restorannya di bulan ke 11, dan mulai mencari-cari pekerjaan lagi..
Teman saya bermain badminton malah menghadapi kehancuran yang lebih parah.. Dia pernah bekerja di toko komputer, dan akhirnya memutuskan untuk membuka usaha komputer sendiri.. Selama 2 tahun usahanya berjalan sangat bagus, sehingga ekonomi keluarganya meningkat dengan pesat.. Tapi, hanya karena tertipu dalam satu transaksi saja, ia pun bangkrut habis-habisan, bahkan rumah mertuanya pun harus disita untuk membayar hutang-hutangnya.. Saat ini, dia kembali bekerja, menjadi supir di sebuah perusahaan ekspedisi..
Sebenarnya, apa sih itu investasi? Kalau secara awam, mungkin bisa kita katakan, bahwa investasi adalah mengorbankan sesuatu (waktu, uang, tenaga, fikiran, dll) dengan mengharapkan sesuatu yang lebih besar.. Dari serangkaian kisah kegagalan di atas, seringkali kita menyimpulkan hal yang salah, bahwa investasi yang telah dilakukan teman-teman di atas, adalah kesia-siaan..
Yuk kita ambil contoh investasi yang nyata: sekolah. Apa kira-kira tujuan kita bersekolah? Saya rasa sebagian besar dari kita akan menjawab: “untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus, gaji yang besar, jadi kaya raya, dan mati masuk surga”. Nah, dengan harapan seperti itu, kita bersedia menginvestasikan kira-kira 18 tahun dari usia hidup kita untuk jungkir balik belajar segala macam di sekolah, dari SD sampai sarjana.. Itu baru dari segi waktu.. Berapa banyak uang yang kita habiskan untuk bersekolah? Puluhan juta? Jika dihitung dari SD sampai sarjana, saya yakin rata-rata kita sudah menghabiskan ratusan juta rupiah, bahkan mungkin milyaran rupiah, jika kita memilih sekolah-sekolah bagus dan universitas unggulan.
Pertanyaannya: setelah kita menginvestasikan belasan tahun, dan ratusan juta rupiah, berapa lama kita balik modal setelah lulus? Ada ga yang berhasil balik modal di tiga tahun pertama (jika kita tidak melalui fase pengangguran dulu)? Belum lagi jika kita menghitung pengeluaran kita selama bekerja..  Dan berapa banyak yang bekerja tidak sesuai dengan bidang yang ia pelajari di waktu kuliah? Jadi, apakah investasi kita bersekolah, menjamin kita sukses?
Nah, jika kita bersedia menginvestasikan waktu belasan tahun dan ratusan juta rupiah untuk sesuatu yang tidak pasti, kenapa kita tidak berani menginvestasikan hal yang sama untuk membuka usaha? “Buka usaha kan belum pasti berhasil mas.. Iya kalau berhasil.. Kalau gagal gimana?” Iya, betul. Tapi, memangnya ada investasi yang pasti menguntungkan? Jika memang ada, pasti semua orang akan berinvestasi di bidang itu..
Dan, sering kali kita keliru menganggap membuka usaha itu mudah: kita menginvestasikan uang, waktu dan tenaga dalam waktu setahun dua tahun, lalu uang itu akan kembali dengan sendirinya.. Kita lupa, bahwa, untuk semua bidang, kita juga harus belajar, agar bisa menjadi yang terbaik di bidang itu..
Susi Susanti, sudah diakui sebagai salah satu pemain bulu tangkis yang terbaik.. Tapi sebelum dia menjadi yang terbaik, dan telah mendapatkan banyak uang dari profesinya, apakah kita mengira dia langsung terjun ke bulu tangkis dalam waktu setahun, dengan bawa modal besar, lalu tiba-tiba jadi sukses? Kita sering lupa bahwa, Susi Susanti telah banting tulang semenjak ia kecil, latihan siang malam, menginvestasikan waktu, bahkan juga uang yang tidak sedikit, untuk belajar bermain bulutangkis.. Apakah dia sudah yakin sejak kecil bahwa dia akan jadi pebulu tangkis hebat kelak? Bahwa investasinya tidak akan sia-sia? Saya yakin tidak. Tapi dia terus berusaha, dan dia sudah memetik hasilnya..
Nah, kembali ke dunia usaha: kita juga sering menganggap usaha itu hanya butuh investasi uang. Kita kontrak bangunan, kita isi dengan barang-barang, kita rekrut pegawai, potong kambing, pasang karangan bunga, dan sim salabim: tiba-tiba kita punya pemasukan besar, dan menjadi pengusaha sukses.. Jika kemudian impian kita kandas, kita langsung menyimpulkan weton kita yang keliru, atau dukun kita kalah ama dukun toko sebelah.. Kita sering kali lupa proses belajarnya.. Untuk menjadi pengusaha yang hebat, kita harus belajar banyak..
Itulah mengapa, sering kali usaha yang diwariskan ke anak, jadi hancur berantakan.. Sang ayah sukses mendirikan usaha, dan usaha itu sudah berjalan sedemikian bagus, hingga seolah-olah akan terus maju walau pimpinan perusahaan diserahkan kepada office boynya.. Tapi ternyata begitu diserahkan ke anaknya, perusahaan itu jadi oleng, termehek-mehek, bahkan ambruk.. Sang ayah hanya mewariskan usahanya, tapi lupa mewariskan hal-hal yang lebih penting: pengetahuan tentang dunia usahanya, dan, lebih dari itu, mental wirausahanya.. Banyak sekali pengusaha yang sukses malah memanjakan anak-anaknya secara berlebihan, menjauhkan anaknya dari segala masalah, sementara pengusaha yang baik, justru muncul dari tempaan masalah yang berat..
Banyak juga dari kita yang malas belajar, hingga akhirnya tergiur iming-iming investasi di berbagai perusahaan abal-abal, yang menjanjikan keuntungan per bulan yang jauh di atas bunga bank.. Kita ingin hasilnya, tapi sering kali kita bahkan tidak mau belajar lebih rinci tentang detail bisnis yang ditawarkan, kredibilitas perusahaan yang ditawarkan, bahkan kita terlalu malas untuk belajar apakah pembagian keuntungan yang diberikan masuk akal atau tidak.. Hingga setiap tahun ada saja ribuan orang yang tertipu dengan investasi bodong, dan, herannya, ribuan orang berikutnya, tetap tidak belajar..
Akhirnya, jika kita pernah gagal membangun bisnis, dan kehilangan banyak uang, selamat: itu bagian dari pelajaran menjadi pengusaha.. Susi Susanti juga tidak menang terus menerus.. Saya ga kebayang jika Susi terus mutung dan gantung raket hanya karena kalah berturut-turut 5x di masa awal karirnya.. Kadang kita memang harus kalah dulu, agar lebih mengerti tentang dunia usaha.. Di usaha berikutnya lah, kita baru berhasil.. Maka kebangkrutanpun, bisa dipandang sebagai investasi.. Dan investasi kita itu, tidak pernah sia-sia, jika kita belajar darinya… Dan ingatlah, yang seringkali menentukan keberhasilan investasi kita bukanlah jenis usaha kita, , sestrategis apa lokasi usaha kita, atau bahkan seberapa besar modal yang kita tanam.. Keberhasilan investasi kita, justru ditentukan oleh: apakah kita juga berinvestasi ke ujung tombak usaha kita: diri kita sendiri..
Berinvestasi uang dalam bidang usaha tanpa mau belajar, sama seperti kita ingin jadi pemain basket hebat, dimana kita membeli seragam, bola basket, ring basket, bahkan lapangan basket sekaligus, tanpa pernah mau belajar bermain basket yang baik..


sumber:
http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2012/12/27/pegawai-vs-pengusaha-investasi-520121.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar